
Malam kini telah menyapa, saat ini Alif masih terdiam di meja belajarnya, ia masih tak ingin berbicara dengan Arya, ia berfikir jika ayah nyalah yang menjadi penyebab sang bunda kembali pergi, bundanya pasti marah dan sedih karena tante jahat itu, teman ayahnya yang jahat menghancurkan suasana bahagia mereka, Alif terisak dengan pandangan yang tertuju pada sebuah foto yang berada di dalam pelukanya ini
"Alif jangan nangis lagi dong, Ayah minta maaf, maafin ayah" Ucap Arya perlahan duduk di samping putra kecilnya, sejak kedatangan Lia Alif menjadi menjadi lebih mudah mengekpresikan diri, ia akan menagis saat kesal dan akan tertawa saat merasakan sebuah kebahagiaan, hal ini jelas saja jauh berbeda dari dirinya masa lalu ia bahkan memilih untuk terdiam dan menjadi murung
"Ini salah ayah, bunda udah ngak mau ngangkat telpon Alif, bunda udah ninggalin Alif, bunda bakalan ninggalin Alif lagi Yah" Ucapnya sembari menepis air mata dan memeluk erat fotonya bersama sang bunda, ia sudah berusaha menelfon namun bahkan tak di angkat dan tak memiliki respon apapun
"Ayah minta maaf sayang, bunda pasti sedang sibuk, Ayah yakin kok bunda ngak bakalan ninggalin Alif, bunda sayang banget sama Alif Alif ngak boleh nangis lagi, kalo bunda tau Alif uring uringan gini pasti bunda bakalan marah" Ucap Arya dengan nada pelan, ia segera menarik Alif dalam pelukan
"Hm lebih baik Arif tidur ya, biar besok bisa sekolah dengan tenang" Ucap Arya dengan pelan sembari menggendong Alif untuk segera naik ke kasur
"Yah, Alif ngak bisa tidur, ngak bisa tidur yah, Alif mau bunda" Ucapnya dengan isakan pelan, bundanya menghilang begitu saja, tak mengangkat telpon atau membalas pesannya, demi apapun ia sangat takut jika harus kembali merasakan pedihnya sebuah kehilangan
"Yah, apa bunda bakalan ninggalin Alif lagi, Alif anak nakal ya yah?, kenapa ya bunda ngak mau ngangkat telpon Alif, atau bunda ngak mau ketemu Alif lagi?, bunda udah ngak sayang lagi sama Alif ya yah" Ucapnya dengan nada nan begitu lirih, mendengar ucapan sang anak Arya bahkan hanya menarik nafas berat dengan penuh penyesalan, namun tak beberapa lama ia merebahkan tubuhnya di kasur sembari memeluk erat putra kecilnya ini
"Alif tidur ya" Ucap Arya mengelus pucuk kepala Alif
"Alif mau bunda Yah, Alif mau bunda" Rengeknya
"Besok ayah cari bunda ya, sekarang Alif istirahat biar bisa fresh kesekolah" Ucap Arya pelan sambil mengelus pucuk kepala anaknya ini, bahkan Alif langsung kehilangan senyumnya setelah kejadian semalam, bahkan ia merasa cemas dan sedih saat Lia tak mengabarinya sejak semalam
"Beneran yah? Ayah ngak bohong kan sama Alif?, kalo Ayah bohong lagi Alif ngak akan mau ngomong sama ayah lagi" Ucapnya di sela isak
"Iya ayah janji, sekarang Alif istirahat ya" Ucapnya sembari menarik selimut untuk menyelimuti putranya, perlahan mata Alif terpejam, tak butuh waktu lama bocah kecil itu telah tertidur dengan lelap, Arya menghela nafas pelan menatap anaknya dalam keheningan, tampa terasa semua berjalan begitu cepat, bahkan Arya sendiri merasa ada yang hilang saat Lia tak ada bersama mereka, selama ini ketiganya selalu menghabiskan waktu bersama, melakukan banyak hal bersama hingga akhirnya malah menimbulkan rasa nyaman di antara satu dan lainya
"Maafin ayah, ini semua salah ayah" Ucapnya mengelus rambut pelan, Arya mengambil foto yang sejak tadi di peluk oleh Alif,
__ADS_1
Arya perlahan keluar dari kamar Alif menuju kursi panjang di taman depan rumah, tangan Arya seperti bergerak dan dengan sendirinya menelfon Lia, bahkan ia tak bisa tampa Lia walau sehari,
"Hallo assalamu'alaikum" Ucap Lia pelan, telpon baru saja tersambung
"Hm, ada apa dengan anda?" Ucap Arya cepat, ia tak boleh tergagap, ia begitu cemas dengan Lia yang bahkan hilang kontak begitu saja, sudah dua hari berlalu sejak hari itu, ia tak menyangka jika akan menjadi seperti ini
"Maksud anda?" Ucapnya sembari menjengit pelan, pertanyaan yang sedikit ambigu berhasil membuat seorang Auliya bingung
"Kenapa anda tidak datang?" Ucap Arya lagi, ada rasa khawatir dan bersalah saat Lia tak menemunya tadi siang, mereka sudah membuat janji namun lihatlah bahkan Lia tak datang membuatnya menjadi semakin merasa bersalah
"Maafkan saya, saya memiliki urusan yang sangat mendesak" Ucap Lia bangkit dari duduknya, ia lupa jika memiliki janji bertemu, selain kabar perihal bokap Riana ponselnya juga mati dan sampai saat ini ia bahkan lupa untuk mengabari
"Apakah lebih penting dari Alif?, jika memiliki hal setidaknya beri kabar, jangan buat kami semua menjadi kahwatir" Ucap Arya dengan nada nan begitu putus asa
"Apakah anda tau?, Alif bersikeras menunggu sampai malam" Ucapnya lagi, Alif bahkan begitu bersemangat untuk kembali menemui sang bunda, namun bahkan semangatnya menjadi luntur saat yang di tunggu bahkan tak memiliki tanda untuk menujukan diri
"Maaf, kemarin Hp saya mati, lalu bagai mana keadaan Alif sekarang, baik baik aja kan?" Ucapnya lagi, ia jelas tau bagai mana Alif, ia pasti akan berfikir jika Lia sudah tak menginginkannya lagi
"Ia tertidur setelah menagis"
"Hm syukur deh kalo sudah beristirahat"
"Sekarang katakan masalah apa yang membuat anda sampai lupa mengangkat telfon dari Alif, apa anda tau Alif menelfon anda sedari tadi, Alif bahkan juga mengirimkan begitu banyak pesan suara"
"Ayah Riana kecelakaan, dan kami harus segera ke Bogor untuk melihat keadaannya, Riana sangat cemas, bahkan kami tak sempat kembali ke kosan apa lagi ngurusi hp, sekarang keadaan Ayah Riana udah lebih baik dan hp pun baru saja di charger " Ucap Lia pelan, keadaan Ayah Riana sedang sekarat saat itu bagai mana mungkin ia memiliki waktu untuk memikirkan ponsel
__ADS_1
"Jadi anda ngak di jakarta?"
"Ya, saya masih di bogor, mungkin Alif menelfon saat di jalan tadi" Ucap Lia pelan
"Lalu kapan anda kembali?, tolong jangan menghilang lagi, saya khawatir" Ucap Arya pelan
"ini keadaan ayah Riana sudah mulai membaik dan mungkin akan kembali besok atau lusa" Jawabnya dengan nada pelan,
"Hmm baiklah, kembali dengan selamat, ah ia apakah besok anda bisa video call dengan Alif?, ia tak akan bisa tenang sebelum memastikan jika anda baik baik saja" Ucap Arya pelan, Ia tak dapat memaksakan kehendaknya pada Lia, karena ia tau dengan jelas di mana posisinya, kepergian Lia yang seperti ini membuatnya begitu cemas, namun setelah mengetahui hal ini ia merasa jauh lebih baik, setidaknya ia tau jika Lia baik baik saja
"Baik lah" Ucap Lia pelan, setelah mengucap salam telfon di putus.
Lia menarik nafas pelan menatap ke keheningan langit malam yang nampak sangat gelap, bulan sedang kesepian tampa ada bintang yang menemani, sapaan angin malam pun kini sudah terasa begitu dingin menusuk tulang, perlahan Lia menutup jendela beranjak menuju tempat tidur, disana sudah ada Riana yang sibuk dengan ponselnya
"Siapa?" Ucap Riana pelan,
"Arya"
"Ada apa?"
"Alif nangis seharian karena aku lupa ngasih kabar kita ke Bogor" Ucap Lia sembari merebahkan tubuhnya di atas kasur
"Wajar sih, kemaren lo pergi dengan raut wajah yang agak kesal, pasti Alif merasa bersalah karena pacar ayahnya menghina lo, dan apa lo tau?, setalah lo pergi Alif jadi diem, dan bahkan acuh banget sama ayahnya, tu anak kayanya sayang banget sama lo, kalo gue liat sih lo cocok kalo lo jadi ibu sambungnya Alif" Ucap Riana pelan
"Jangan ngaco, udah tidur," Ucap Lia menarik selimut dan perlahan terlelap
__ADS_1