
Setelah selesai mengerjakan sholat magrib Lia dan Riana memilih mencari rumah makan terdekat untuk makan malam, mereka sudah beraktivitas seharian, dan sudah semestinya mereka memberikan makan pada perutnya yang sudah mulai mendemo
"Bang, ayam penyetnya dua, sama es teh manis" Ucap Riana pada si Abang Abang yang kerja di tempat ini
"Ok mbak, di tunggu ya" Ucap si Abang abang, dan setelahnya segera kembali untuk menyiapkan makanan
"Capek banget tau ngak" Riana mulai berceloteh sembari menuangkan air putih ke dalam gelas, mereka tentu saja mengobrol sembari menunggu makanan siap di sajikan
"Lumayan sih" Jawab Lia dengan nada pelan sembari mengeluarkan ponsel dari sakunya
"Untung aja kali ini ngak repot repot amat" Riana nampak benar banar lega karena sudah menyelesaikan ini, dan ia hanya perlu mempelajarinya dan setelah itu mempresentasikannya deh Minggu depan
"Ya gitu"
"Lo emang keberuntungan gue Li, kalo gue ke sana sendirian kebayang kan mau ngapain gue" Ucap Riana pelan, setelah mengobrol cukup lama makanan pun datang, keduanya menyantap makanannya dengan begitu nikmat.
"Lia" Ucap Riana dengan nada pelan, sedangkan Lia masih sibuk menyesap minumannya
__ADS_1
"Hmm" Jawab Lia dengan nada pelan
"Gimana?" Ucap Riana dengan nada pelan
"Apanya?" Jawab Lia dengan nada tanya?,
"Lo sama si Ardy" Ucap riana yang tiba tiba memakai wajah serius, Lia meraih gelas dan meneguk air putih di hadapannya, uh untung saja ini suapan terakhir, sejak kecil Lia sangat tak suka bicara saat makan, dan itu adalah hasil dari didikan orang tuanya
"Seperti yang Lo liat" Ucapnya dengan nada nan begitu santai, hubungannya dengan pria bernama Ardy bahkan hanya seperti yang terlihat mata, tak ada perkembangan sedikitpun, karena Lia sendiri terlalu enggan untuk mengambangkannya.
Ardy adalah orang yang paling Riana cintai di masa lalu, orang yang selalu menemani dan menjaganya sejak berada di masa SMA, setelah menyelesaikan sekolah keduanya berjanji untuk masuk ke Universitas yang sama agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk bersama
Riana sendiri mengetahui mengenai kenapa ia di tinggalkan, ia bahkan tak menyangka jika Ardy berubah secepat itu mereka telah lama selama bertahun tahun namun dalam sekejap Ardy berubah dan berpaling pada seorang Gadis bernama Auliya sahabat Riana sendiri, ia benar benar tak menyangka jika hal seperti ini akan terjadi, kenyataan menamparnya dengan begitu kejam, selama ini ia berfikir jika Ardy adalah pria yang sangat mencintainya dan akan menjadi pendampingnya seumur hidup, namun kenyataanya?, semua usai dengan begitu kejam, Riana tak menyesali sebuah pertemuan ini, biarkan Ardy menjadi cerita baginya dan di masa depan akan ada pria yang bisa menjaga dan menerimanya.
Di tempatkan dalam posisi seperti ini tengu saja membuat Lia menjadi begitu tak nyaman, bagai manapun ia harus menjaga perasaan Riana, Ia menolak Ardy dengan berbagai alasan dan cara, ia bahkan tak berminat untuk kembali menjalin sebuah hubungan asmara karena lukanya di masa lalu, ia memang tak berhak putus asa namun ia memiliki hak untuk mengunci hatinya, ia tak ingin kembali berharap pada hal yang berakhir hanya akan menyakitkan hatinya, biarkan Leo menjadi cerita terindah dalam hidupnya.
"Kenapa lo ngk pernah mencoba untuk menerimanya Dia baik banget kok" Ucap Riana dengan nada pelan
__ADS_1
"Lo kan tau gue gimana, gue ngak mungkin buka hati dengan embel embel coba coba, gue ngak bisa, gue ngak bisa Ri gue ngak bisa jadiin orang lain sebagai kelinci percobaan gue" Ucapnya dengan nada putus asa, ia benar benar tak ingin menyakiti siapapun
"Gue tau, tapi apa salahnya dicoba dulu Li" Ucap Riana dengan nada pelan yang bahkan masih berusaha untuk membujuk, salama ini ia bahkan selalu membujuk Lia untuk membuka pintu hatinya, namun?, Lia dengan bersikeras untuk tetap mempertahankan prinsipnya
"Gue ngak bisa Ri, gue takut mimpi buruk itu terulang kembali, gue ngak mau di sakit lagi, gue ngak sanggup di tingga lagi" Ucap Lia dengan nada lirih
"Lo harus berusaha untuk Li, Lo berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Leo, semua udah selesai tiga tahun yang lalu, Tuhan sayang sama Leo dan Leo pasti sedih liat lo gini" Ucap Riana menepuk pundak Lia dengan pelan
"Gue ngak bisa Ri, gue benar benar ngak bisa Ri, gue ngak mau ngulangin rasa sakit yang sama" Ucapnya dengan nada nan begitu lirih,
Bayangan masa lalu kembali menghantuinya, Leo pergi hanya untuk menyelamatkannya, andai waktu itu ia tidak membuat masalah dengan geng bermotor itu, Leo masih hidup dan mereka akan menghabiskan waktu bersama sampai sekarang, di balik sifat lembut dan sopan Seornag Auliya, ia memiliki masalalu yang terbilang, hidup menjadi bocah berandalan dan menghabiskan waktu di jalanan adalah hal yang wajar saat baru menginjak remaja, andai saat itu ia tak membuat masalah Leo pasti tak akan menjadi buruan para musuhnya, semua sudah benar benar terlambat, Leo sudah pergi dan itu karena kesalahannya
"Gue khawatir sama masa depan lo Lia, lo harus bisa berdamai dengan masa lalu, lo ngak bisa gini terus Li, bagai manapun lo adalah gadis normal, dan Lo akan pasti menikah, bagai manapun Lo butuh sosok yang bakalan jagain Lo Li" Ucap Riana yang sangat prihatin dengan keadaan sahabatnya ini
"Gue ngak yakin bisa ikhlasin itu Ri, gue ngak yakin bisa damai begitu aja, semua ngak mudah, butuh waktu lama gue perbaiki diri" Ucap Lia sembari tersenyum getir
"Lo jangan selalu ngeliat ke belakang, di depan sana udah ada Ardy yang udah ngejar² lo semenjak 3 tahun yang lalu bahkan sampai sekarang" Ucap Riana dengan nada pelan, di depan sana sudah ada Ardy yang dengan setia menunggu Lia, di depan sana sudah ada Ardy yang menunggu Lia
__ADS_1
"Gue terlalu takut untuk mengambil resiko, gue ngak pernah yakin dengan Ardy, gue ngak mau kejadian lalu terulang lagi, hati manusia itu mudah banget berubah, sekarang Ardy ngejar ngejar gue cuma karena dia merasa penasaran karena belum dapetin gue, dia cuma ngerasa penasaran karena ia belum bisa meluluhkan hati gue, Lo tau gue takut saat gue jatuh cinta eh akhirnya dia malah ninggalin gue, dia buang gue karena ketemu cewek yang jauh lebih baik dari gue, jadi gue mohon banget Ri jangan maksain gue buat Nerima Ardy lagi karena gue benar benar ngak bakalan bisa, hm yaudah gue capek, ayo pulang" Ucap Lia dan setelahnya melangkah meninggalkan tempat ini, Riana hanya bisa menghela nafas panjang, masalalu yang pahit memang sangat sulit untuk di lupakan.