
Suasana hangat antara keduanya seketika terusik oleh kedatangan sosok yang saat ini berdiri di ambang pintu, seorang pria tampan yang menggunakan stelan formal, wajah tampannya di tutupi oleh wajah panik, si pria berjalan cepat mendekati Alif dan dengan cepat menarik Alif ke dalam pelukanya, setelah beberapa saat ia melepaskannya, si pria terbelalak kaget dan segera menarik tangan Alif yang baru saja di obati Lia, Alif meringis pelan menahan rasa perihnya
"Ayah" Rengek Alif dengan nada pelan, ayahnya menakan luka yang Baru saja di obati, dan dapat di pastikan jika darah kembali keluar dari luka itu
"Apakah anda bisa sedikit lebih lembut, lihatlah Alif kesakitan, apakah anda tidak lihat kalo Alif sedang tidak baik baik saja" Ucap Lia dengan nada nan begitu tajam, apa apaan pria ini, datang datang langsung membuat Alif menjadi kesakitan, Alif sudah menjalani kehidupan yang sulit, mengapa malah di tambah dengan kekerasan seperti ini
Sebagai seorang bunda tentu saja tak akan bisa menerima jika putranya di perlakukan dengan kasar seperti ini, ia tau jika pria ini panik dan mencemaskan Alif, namun?, tentu saja harus tau akan keadaan, lihatlah apa yang ia lakukan, luka yang sudah di obati itu kembali terbuka, hal ini di tandakan dengan kain kasa yang berada di bahu Alif bahkan sudah kembali memerah
"Apa yang anda lakukan dengan anak saya, saya bakalan laporin anda ke polisi jika berani macam macam dengan anda saya" Ucap Arya menatap Lia dengan tatapan tajam, Lia menaikan alisnya, loh kenapa dia yang kena?, ia sudah berbaik hati membantu, namun ini lah balasan yang ia dapat
"Tuan?, anda tak senag bermimpi kan?, siapa yang membuat luka Alif terbuka, dan siapa yang datang nyelonong dan dengan begitu mudah menyalahkan orang lain" Ucap Lia tak terima, apa katanya melaporkannya ke polisi?, yang benar saja, pria berpendidikan ini bahkan mengancamnya
"Ayah, bunda ngak ngapa ngapain Alif kok, malahan bunda yang ngobatin alif, jadi ayah jangan marah ya sama bunda" Ucap Alif dengan nada pelan, mendengar ucapan Alif Arya sontak menatapnya dengan tatapan lekat
__ADS_1
"Trus siapa yang bikin tangan Alif memar gini?, apa masih sakit?" Ucap Arya dengan nada nan begitu khawatir sembari meniup pelan luka memar di tangan Alif, luka luka ini benar benar mengerikan, ia bahkan bergidik ngeri membayangkan apa yang sudah terjadi pada putra kecilnya ini
"Ayah jangan kahwatir dan marahin bunda, luka Alif udah ngak sakit lagi kok, tadi udah di obati sama bunda dan sekarang Alif udah sembuh" Ucap Alif dengan nada pelan, ia tentu saja tak akan membiarkan siapapun memarahi bundanya, meskipun itu ayahnya sendi
"Trus bagai mana tanda tanda memar ini datang?, Alif, kamu jangan bercanda sayang, ayok kerumah sakit" Ucap Arya dengan panik, keadaan seperti ini bagaimana bisa di katakan baik baik saja, luka luka memar ini bagai mana bisa ia percaya jika luka ini sudah sembuh
"Ngak yah, Alif udah sembuh, udah di obati dan udah di tiup sama bunda" Jawab Alif yang bahkan bersikeras, ia hanya perlu perawatan dari sang bunda, toh juga ini luka bisa
"Sekarang Alif bilang siapa yang ngelakuin ini, Alif harus jujur, karena Tuhan ngak suka sama anak yang pembohong"
"Sekarang bilang siapa yang udah jahatin kamu?" Ucap Arya lagi, bagai manapun ia harus mengetahui siapa yang membuat putra kecilnya seperti ini, ia berjanji akan memberikan hukuman yang setimpal pada orang yang bakan berani mengusiknya
"Bi Asih yang mukul, bik asih bilang Alif nakal" Ucap Alif tertunduk takut, selama ini bik asih mengatakan jika ia akan di pukul sampai mati jika Bernai mengadukan hal ini pada sang ayah, dan karena itulah sampai saat ini Alif diam membisu sampai kejadian ini datang
__ADS_1
"Maaf, maaf kalo Alif nakal" Ucap Alif pelan, bik asih selalu mengatakan jika dirinya nakal, hal ini jelas saja membuatnya menjadi sedih, ia suah berusaha menjadi anak baik, tak bertengkar dan patuh, Tapi mengapa bik asih mengatakan jika dirinya adalah anak nakal, dan karena kenakalannya lah tuhan marah dan mengambil bundanya
Arya menarik nafas panjang, ia tidak salah dengar kan?, selama ini Arya sangat percaya pada Asih, ia selalu memperlakukanĀ Alif dengan baik, dan itu di hadapan Arya, sedangkan di belakang hanya Tuhanlah yang tau
"Hm yaudah kalo gitu Alif udah ketemu ayah juga kan, sekarang bunda pamit dulu ya, bunda masih punya beberapa urusan" Ucap Lia dengan nada, ia baru saja mendapat telfon, dan yah seseorang sudah menunggu kedatanganya di sana
"Bunda mau kemana?, apa kita bisa ketemu lagi setelah ini" Ucap Alif menatap Lia dengan tatapan sayu, mereka baru saja bertemu, tapi kenapa bundanya ingin segera pergi meninggalnya
"Iya dong, pasti kita bakalan ketemu lagi, yaudah bunda pamit dulu ya, Alif harus jaga diri baik baik, dan satu lagi, Alif harus ingat kalo Alif itu anak baik, dan bunda sayang banget sama Alif" Ucap Lia dengan nada nan begitu lembut, setelah mengecup kening Alif lia berjalan menuju pintu utama
"Tunggu" Ucap Arya dengan nada pelan, langkah Lia seketika berhenti, lia berbalik, ia melihat arya yang sedang berdiri tak jauh darinya
"Maaf kan saya, saya terlalu kahwatir" Ucap Arya dengan rasa bersalah, ia sudah salah menilai gadis yang berada di hadapannya ini
__ADS_1
"Saya mengerti, lain kali lebih seleksi dalam memilih pekerja dan luangkan sedikit waktu untuk menemani Alif bermain agar ia tak merasa kehilangan kasih sayang, ah iya, luka Alif sedikit dalam, akan lebih baik segera membawanya ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan yang lebih baik dari dokter" Ucap Lia tersenyum kecil, setelah mengucapkan salam Ia beranjak meninggalkan gedung mewah itu menuju kosan temanya untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal.
"Sekarang kita pulang ya" Ucap Arya dengan nada pelan, Alif mengguk pelan, dengan cepat Arya mengangkat Alif dan menggendongnya menuju lantai dasar dan tentunya untuk segera ke rumah sakit untuk mengobati luka Alif, dan setelahnya tentu saja ia akan mengurus perihal ini, ia tidak bisa diam mengenai hal ini, Asih bersalah maka asih akan di hukum sesuai dengan perbuatanya, berani berbuat berani bertanggung jawab