
Mentari kembali muncul dari ufuk timur, memberikan semangat baru dan harapan bagi setiap manusia, dengan enggan Lia bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi, setelah menyelesaikan ritual mandi ia segera bersiap siap dan keluar dari kamar, di meja makan Sintia menunggu adik kecilnya dengan beberapa makana rumahan yang sudah tersaji di meja makan, selain cantik, cerdas Sintia juga pandai memasak, huh sungguh kakak terbaik
"Masih sering ke kampus ya?, kan udah hampir semester akhir, masih keseringan ke kampus, emang belum kelar ya" Ucap Sintia pelan, ia berlahan duduk di meja makan, Sedangan Sintia menyiapkan sarapan untuk adiknya
"Nemuin dosen, biasa lah masih ada beberapa hal yang belom kelar, kayak ngak pernah kuliah aja" Ucapnya dengan nada malas sembari menyantap sarapannya dengan begitu nikmat, waktu berlalu begitu cepat dan ia bahkan sudah begitu lama l tak memakan masakan sang kakak dan masakan Sintia memang tak pernah mengecewakan nya benar benar enak membuatnya merasa jika ia sedang berada bersama ibunya.
Sintia hanya menatap sang adik dengan senyuman tipis di bibir indahnya, Ia tak menyangka adik manjanya sudah tumbuh menjadi gadis yang sama cantik, bahkan mengalahkan dirinya sendiri, dan perihal kampus yah memang seperti itulah, hidup penuh akan drama, dan dunia pendidikan pun tak akan bisa lepas darinya, drama antara mahasiswa semester akhir memang sudah begitu lumrah dan sangat sering di temukan di universitas manapun
"Hmm yaudah kak, Lia ke kampus dulu, assalamualaikum" Ucapnya sembari menciumi punggung tangan sang kakak dan di balas dengan senyuman oleh Sintia
"Wassalamu'alaikum, motor jangan ngebut ngebut ya, Ingat belum kawin, jangan sampe nyium aspal duluan" Ucap Sintia yang hanya di balas dengan acungan jempol oleh sang adik, seperti biasanya Sintia akan begitu berisik, namun meskipun begitu ia bahkan tak merasa keberatan, ia tau jika segala Omelan sang kakak adalah sebuah kasih sayang yang tak bisa ia ungkapkan dengan perasaan terbuka
"Siap" Ucapnya pelan, dan setelahnya tentu saja segera keluar dari kosan untuk mengambil motor di garasi, dan setelahnya?, tentu saja bergabung dengan segala aktifitas jalan raya yang begitu padat ini, begitulah Jakarta, jika tidak macet maka akan terlihat cukup aneh bukan?
Motor baru saja memasuki gerbang, dan seperti biasa Lia akan menikmati acara berkendara, namun ia di paksa berhenti saat orang yang bahkan tak pernah ia kenal jadi mengomentari pakaiannya, bukankah itu sangat aneh
"Siapa ya?" Ucap Lia dengan nada pelan, saat ini motor sudah berhenti di pinggir jalan dan pengemudi mobil bahkan dengan gaya angkuh keluar dari mobil, Lia?, bahkan ia tak merasa terusik sama sekali, toh memang begini cara orang kaya hidup, selalu haus akan pujian dan merasa serakah dengan sebuah perhatian
"Gue Rita calon istri Arya, dan Lo babu jangan mimpi buat sama dengan calon suami gue" Ucap Rita yang bahkan berdiri dengan angkuh di hadapan Lia, ia melipat tangannya di dada bak penguasa dunia, saat Rita menujukan segala kemampuannya Lia bahkan hanya terkekeh pelan menatap gadis malang itu dengan tatapan malas
"O" Ucapnya, setelah ia pikir kembali ia baru ingat jika gadis ini adalah gadis yang ia temui semalam, gadis cantik yang berpenampilan begitu modis, penampilan seperti itu hanya akan membuatnya menjadi lebih buruk paling
"Kurang ajar Lo ya" Bentak Rita yang merasa di remehkan oleh lia, ia tak terima, ia suah memperingatkan cewek tidak tau diri ini, dan lihatlah bagai mana respon Lia dengan omongan ya, benar benar membuat Lia menjadi geli sendiri
"Sorry sebelumnya saya fikir kita tidak pernah memiliki masalah dan juga tidak saling mengenal, jika tidak ada penting maka saya akan pergi karena banyak urusan yang bahkan jauh lebih penting dari pada meladeni Seornag yang sedang cemburu buta" Ucapnya dengan pelan, ia terlalu enggan untuk ribut dengan seseorang, pikirannya kacau, ia bermasalah dengan dosen, dan hal itu membuat proposalnya harus tertunda, biarkan Lia tenang sebentar saja, ia sudah terlalu malas berurusan dengan masalah cinta yang rumit ini, ia sudah melewati hal ini saat muda dan ia sudah sangat lelah.
"Lo ngak tau siapa gue?, gue bisa aja bikin Lo mati hari ini"
"Nyawa udah ada yang ngatur, tak perlu merepotkan anda untuk membantu mengambilnya"
"Lo ngak takut kalo gue bakalan ngelakuin hal yang bahkan lebih gila dari sebelumnya"
"Sampai saat ini orang yang bikin saya takut itu belum ada, dan nona Rita, bukankah lebih baik anda kembali ke habitat anda, kampus ini
hanya akan membuat suasana hati anda memburuk"
__ADS_1
"Eh lo gue blom selesai ngomong ya" Teriak Rita dan segera masuk ke mobil untuk mengejar Lia yang sudah meninggalkan si wanita, hey yang benar saja, ribut di depan gerbang kampus, jika Lia meladeni maka ini akan menjadi hal terkonyol dalam hidupnya
'Ni orang maunya apa sih ngak jelas banget tau ngak' Batinnya mulai kesal dengan tingkah gadis kaya ini, dan lihatlah bahkan Rita belum menyerah, masih bersikeras untuk memperingatkannya yang jelas tak ada hubungan apapun dengan urusan percintaan mereka
"Duduk sini, hm Saya rasa kita tak punya maslah sebelumnya, dan saya fikir nona Rita orang yang tidak berfikiran sempit, kita bisa membicarakannya jika memang di butuhkan" Ucapnya dengan nada pelan, meskipun tak mengetahui akar masalah ia hanya perlu mendengar apa yang akan di katakan Rita,
"Lo jagan macam macam sama gue, gue ingatin sekali lagi, Arya itu punya gue dan selamanya bakalan tetap punya gue" Ucap Rita menunjuk Lia
"Iya"
"Dan Lo, cewek kampung ngak pantas buat dia"
"Ok"
"Lo ngeledek gue?"
"Ngak, saya hanya mendengarkan apa yang anda katakan, lagi pula jika memiliki maslah maka selesaikan dengan tenang, saya fikir anda sudah cukup dewasa dan terdidik, anda juga bisa membicarakannya dengan pasangan anda dan tak perlu menyeret orang lain dalam masalah anda" Ucap Lia pelan
"Lo masalah gue, dasar cewek kampungan, ****** murahan" Ucap Rita dengan begitu menggebu, ia tak Terima jika ada wanita lain yang mendekati Arya
"Mau kemana lo hah" Ucap Rita mencekal tangannya, hal ini membuatnya hanya menghela nafas pelan, mengapa orang angat suka dengan kekerasan?
"Anda jangan menguji kesabaran saya, saya memiliki hal yang jauh lebih penting dari sekedar meladeni anda" Ucapnya masih dengan wajah tenangnya, ia ingin melepaskan cekalan Rita tapi nyatanya Rita tak mau melepaskan, mau tak mau Lia harus menarik tangannya dengan sedikit keras
"Www berani ya lo cari gara gara sama gue" Teriak Rita memegangi tangannya yang terasa sakit akibat hentakan keras dari Lia
Lia menarik nafas pelan, kini ia sudah menjadi tonton gratis oleh anak anak kampus
"Menyebalkan benar benar menyebabkan" Batin Lia, ia hanya ingin segera keruangan dosen meminta tandatangan dan setelahnya melanjutkan aktivitas lain, mengapa wanita ini tak melepaskannya
"Lo bakal nyesel udah bikin perkara sama gue" Teriak Rita , Lia hanya tersenyum kecil dan perlahan mendekatkan kepalanya ke telinga Rita dan kemudian berbisik
"Saya kan sudah bilang kalau ngak ada hal yang penting jangan menganggu saya, saya sibuk dan ngak ada waktu untuk meladeni orang stress seperti anda" Ucapnya pelan
"Gue ingatin ya, jangan berani berani lo dekati Arya lagi kalo lo masih ingin hidup dengan tenang, Arya milik gue, jadi jangan mimpi buat dapatin dia, jangan pernah lo temuin dia lagi kalo lo ngk mau menyesal, dasar cewek kampungan, ngak berkelas," Ucap Rita dan berlalu pergi Lia hanya tersenyum kecil
__ADS_1
Menatap kepergian Rita,
'Masih ada yah cewek yang gituan' batinnya sembari menggeleng pelan
"Cewek zaman sekarang, selalu main kasar"
"Kenapa tu cewek, sensi aja bawaannya?" Ucap Riana yang kini berdiri di hadapan lia
"Abaikan saja, ayo kita segera menemui dosen" Ucap Lia pelan dan berjalan menuju motor, setelah memarkirkan motor dengan aman
Keduanya berjalan beriringan menuju ruang dosen, tak lama kemudian merekapun keluar karena telah menyelesaikan urusannya di sana
"Aduh udah siang lagi, mana HP gue mati lagi" Ucap Lia sembari melihat arlojinya,
Saat lia sibuk dengan segala pikirannya malah terdengar suara isakan dari belakang, yah mereka baru menuju parkir dan belum sampai di parkir
"Apa" Ucap Riana air matanya mengalir deras setelah mengangkat telpon, Lia menatapnya dalam diam,
"Kenapa?" Ucap Lia pelan
"Bokap gue Li" Ucap riana memeluk Lia dan menangis di dalam pelukan sahabatnya ini
"Bokap lo kenapa?" Ucap Lia mengelus punggung sahabatnya, menari membisikan beberapa kata penenang
"Gue harus segera ke rumah sakit" Ucap riana yang kini mulai panik ia harus cepat, baru saja ia mendapat kabar jika ayahnya mengalami kecelakaan ia sangat cemas,
"Lo tenang dulu, kalo Lo panik gini bisa bisa lo yang celaka" Ucap Lia memeluk dan mengelus kepala riana memberi ketenangan pada sahabatnya ini, sesuatu tidak akan berakhir baik jika di lakukan dengan kepanikan
"Gue harus Pulang li, gue cemas banget dengan bokap gue" Ucap riana yang masih terisak pelan
"Iya iya, tapi lo harus tenang dulu" Ucap Lia melepaskan pelukannya, setelah cukup tenang lia mengulurkan sebotol air mineral pada riana
"Ya sudah gue antar ya," Ucap lia pelan Lia takut terjadi apa apa pada riana karena jarak pusat kota menuju rumah riana cukup jauh menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam Perjalanan, itupun jika tidak macet, dan sejak kapan pula jakarta tidak macet?
"Gue ngak mau ngerepotin lo" ucap riana pelan, kini ia sudah sedikit lebih tenang dari sebelumnya
__ADS_1
"Ngak ada yang di repot kan kok kita kan sahabat, jadi lo jangan sungkan gitu sama gue, ayo harus segera berangkat, kalo lo pergi sendiri gue khawatir" Ucap Lia dan perlahan naik ke motor, tak mungkin meninggalkan sahabatnya dengan keadaan seperti ini, lagi pula menggunakan motor adalah jalan yang sangat efektif untuk menghindari kemacetan kota jakarta yang padat ini.