Aku dia & kita

Aku dia & kita
Kedatangan Sintia


__ADS_3

"Hey" Sapa seorang gadis cantik berjalan cepat mendekati Lia, kedua gadis cantik itu berpelukan untuk melepas rindu setelah lama tak bertemu


"Gimana kabar kakak?, dengar dengar udah ketemu yang pas, kapan nih jalanya, jangan jalan di tempat terus, kelamaan nanti di ambil orang loh" Ucapnya dengan nada mengejek, yah gadis yang berdiri di depan Lia saat ini adalah saudara kandungnya yang baru saja sampai di jakarta, karena memiliki beberapa urusan di kota ini dan seperti biasa karena memiliki keperluan maka akan tinggal bersama sang adik


"Belum tua tua amat kalo, masih dua puluhan" Seperti biasa saat kedua bersaudara berjumpa maka akan melemparkan kata kata mengejek sebagai sapaan untuk mengungkapkan kerinduan


"Udah di ujung banget masih PD banget lagi ngaku ngaku dua puluhan"


"Baru juga 29 masih muda, belom kepikiran kesana, yang terpenting kerja dan bahagiain orang tua dulu"


"Terserah kakak aja deh, mana baiknya" Ucapnya dengan nada malas "Dengar dengar kakak baru aja pulang kampung, gimana kabar ibu sama ayah?" Ucapnya lagi


"Oo Ibu dan Ayah, Alhamdulilah baik kok, yah sakit, sakit dikit biasalah faktor usia" Ucap Sintia dengan nada lembut, ia memiliki beberapa pekerjaan dia Sumatra dan tentu saja ia akan menggunakan kesempatan ini untuk menjenguk kedua orang tuanya, sudah terhitung lima tahun ia bertugas di Makasar, dan setelah ini ia bisa kembali ke Sumatra untuk menemani ibu dan ayahnya dan tentu saja akan bekerja di Sumatra saja


Dua saudara ini memang terlihat mirip bagaikan pinang di belah dua, banyak orang yang mengira keduanya terlahir sebagai kembar, namun itu salah besar, nyatanya mereka terpaut usia cukup jauh, dan yang menjadi pembeda adalah Lia menggunakan kerudung dan Sintia memilih untuk membiarkan rambut indahnya terurai

__ADS_1


"Syukur deh kalo gitu, ayo aku bantu bawain barang" Ucapnya menghela nafas pelan, dan membantu sang kakak membawakan taxi online yang telah menunggunya di luar sana


"Hm ni adek baik baikin ada maunya ni" Ucap Sintia menggoda Lia, dan hanya di balas dengan anggukan dan senyum lembut dari Lia, mereka meninggalkan bandara dan mobil berjalan menuju kosan yang di tempati lia.


Semenjak kedatangan kakaknya tadi Lia di paksa untuk bergadang menemani Sintia yang memiliki segudang topik pembicaraan dan cerita, kehidupan keduanya sangat rukun dan saling memahami, bahkan banyak saudara yang iri dengan keakraban keduanya, di masa muda mereka terbiasa hidup bersama namun saat dewasa keduanya harus menerima realita sebuah kehidupan, menjalani kehidupan sendiri dan menghadapi masalah sendiri


Lia saat menghela nafasnya, ia perlahan memejamkan matanya, tubuhnya benar benar lelah, urusan kampus, di tambah lagi ingat kenangan masa lalu yang sungguh menguras tenaga dan pikirannya, lima tahun berlalu namun Lia masih mengunci rapat hatinya, tak membiarkan siapapun mendekatinya, ia tak ingin kembali terluka, cukup sudah, cukup sudah ia merasakan bahagianya cinta dan sakitnya perpisahan, ia tak ingin mengulang hal yang sama, ia berharap semoga di masa depan ia bisa menemukan pasangan yang bisa menerima keadaanya, menerima kenyataan jika ia memiliki ruangan khusus untuk Leo di hatinya, lagi lagi ia menghela nafas pelan, tubuhnya sudah lelah baik lah ia akan segera beristirahat saat hampir memasuki dunia mimpi,  ponselnya berdering keras, mau tak mau Lia kembali terjaga, dengan malas Lia meraih ponselnya dan sebuah nama terlihat jelas


"Ngapain sih nelpon tengah malam gini" Ucapnya dengan malas, dengan enggan ia menggetarkan tombol hijau itu dan telfon tersambung


"Waalaikumsalam" Suara itu terdengar pelan,


"Ada apa?" Ucapnya dengan mata yang masih terpejam, ia merasa sangat kelelahan dengan kegiatan minggu ini, suasana seketika hening


"Hallo, ada apa nelpon saya?" Ucapnya namun masih hening, hal ini tentu saja membuatnya hanya bisa menghela nafas pelan, ia ingin mengumpat dan melempar pria ke langit, ia tentu saja kesal, matanya baru saja terpejam namun harus kembali terbuka oleh telfon dari Arya, menyebalkan, ia fikir terjadi hal buruk pada Alif ternyata hanya menggangu tidurnya saja, jika kalian berfikir yang menelpon adalah Arya maka kalian sangat tepat, entah angin apa yang membuat Arya menelponnya di tengah malam begini

__ADS_1


"Ada yang ingin saya jelaskan pada anda" Ucap arya dengan suara yang serius, namun berbeda dengan Lia yang merasa jengkel karena tidurnya di usik


"Hm cepat katakan, saya ngantuk" Ucapnya dengan nasa lemas, ia sangat mengantuk, tolong mengertilah, jika tak ada hal yang penting tak perlu menelponnya, atau setidaknya tau waktu, jika ingin menelpon bisakah di waktu yang lebih layak, ini sudah sangat malam


"Hm gimana ya hm, sebenarnya hm semua ngak seperti yang kamu bayangkan" Ucap Arya yang malah gelagapan dan menjadi linglung , bak remaja yang baru kasmaran, Arya merutuki mulutnya yang gelagapan ini, sejak kapan ia merasa canggung?, selama ini ia berinteraksi dengan begitu banyak orang, dan wanita namun ia tak pernah merasa canggung apa lagi takut, lalu kenapa sekarang ia merasa takut dan cemas,


"Hm jika tidak ada hal yang terdesak kita bahas besok saja, maaf jika saya terkesan tidak sopan" Ucap Lia pelan, hey ini bukan jam untuk menerima telpon, ini adalah waktu tidur, masih banyak tugas yang akan menunggu Lia besok, ia butuh istirahat ia bukan robot,


"Besok saya tunggu di kafe dekat kampus, dan maaf telah menggangu waktu istirahat anda" Ucap Arya pelan, setelah berfikir akan lebih baik menjelaskan secara langsung, Arya sendiri tak tau mengapa ia menjadi seperti ini?, ia tak pernah seperti ini sebelumnya, apa yang terjadi pada Arya?, ini tidak mungkin cinta kan?.


"Hm baik lah" Ucap Lia pelan, ia sedikit kesal, tidurnya terganggu hanya karena sebuah telfon yang ngak penting, Satu kata untuk semua ini MENYEBALKAN.


"Hm ya sudah, segera beristirahat, dan selamat malam, semoga mimpi indah" Ucap Arya, setelah sadar dengan ucapannya Arya segera mengucapkan salam dan setelahnya tentu saja langsung memutuskan sambungan telpon, hey apakah ia tak salah?, ia sendiri lupa kapan terakhir ia mengatakan selamat malam pada seseorang wanita, kisah cintanya berakhir kurang baik, dan hal itu membuatnya memilih untuk menutup rapat pintu hatinya, bahkan ia tak ingat bagai mana rasa jatuh cinta itu, yah cinta nya berakhir di usia belasan, dan sampai sekarang ia hanya dapat mengenai masa indah yang berujung sakit itu,


Lia menaikan alisnya, semoga mimpi indah?, apakah ia tak salah dengar?, Lia menaikan bahunya, bodo amat lah, ia tak perduli sama sekali, lia kembali memeluk guling dan melanjutkan tidur yang sempat tertunda itu, tak butuh waktu lama, Lia sudah mulai berlayar di perahu kapas, melupakan segala beban pikiran yang memusingkan ini.

__ADS_1


__ADS_2