
Jeffry mengetuk ngetuk meja dengan penanya di ruang kantor pabrik tersebut. Ia ingin segera menyelesaikan masalah ini. Beberapa menit kemudian Ramon membawa pria tersebut. Bodohnya pria itu masih bekerja di perusahaan Jeffry Sean.
"Siapa namamu?" tanya Jeffry masih tenang. Namun ketenangan Jeffry malah menambah kepucatan pada wajah pegawainya.
"Joko pak." jawabnya.
"Joko, apa kau tahu mengapa aku memanggilmu kemari?" tanya Jeffry lagi.
Joko menggeleng. Ia berpura pura tidak tahu apa apa.
"Jadi kau ingin menutupinya. Jangan membuatku hilang kesabaran Joko, siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" tanya Jeffry menyelidik.
Wajah Joko semakin memucat. Tubuhnya gemetar. Jeffry terus memperhatikannya. "Kau tahu kerugianku mencapai miliaran rupiah akibat ulahmu. Aku akan mengampunimu jika kau mengatakan yang sebenarnya." ujar Jeffry.
Joko langsung berlutut lalu menangis. "Ampuni saya pak. Saya salah, saya membutuhkan uang buat operasi anak saya. Saya melakukannya demi anak saya pak." jawab Joko.
"Apakah aku ini kurang menggaji karyawan pabrik? Jika kau butuh uang mengapa kau tak mengajukan pinjaman perusahaan." bentak Jeffry. "Siapa yang membayarmu. Katakan..." teriak Jeffry.
"Pak...pak...Sam...Samuel." jawab Joko tergagap.
Jeffry dan Ramon membelalakkan matanya. Mereka tak menduga ini perbuatan Samuel.
"Pria brengsek. Ramon hancurkan semua yang berkaitan dengan perusahaan pria brengsek itu. Buat pria sialan itu memohon padaku. Dan kau beruntung tidak aku jebloskan kedalam penjara. Tapi kau aku pecat." bentak Jeffry.
"Saya mohon pak, jangan pecat saya. Bagaimana dengan keluarga saya." pinta Joko.
Jefrry tak memperdulikan permohonan Joko, ia memang sangat membenci orang yang mengkhianatinya. Jeffry meninggalkan Joko yang berlutut. Ramon mengikutinya.
"Buat perusahaan Samuel hancur Mon. Biarkan ia bisa merasakan kerugian melebihi kerugian yang aku rasakan sekarang." pinta Jeffry.
"Tenang saja, aku tahu apa yang akan aku lakukan Jeff. Turunkan aku dipersimpangan jalan. Kau akan menjemput Valery kan?" ujar Ramon.
"Ya Tuhan, aku hampir lupa." jawab Jeffry. Jeffry menurunkan Ramon dipersimpangan jalan. "Kau yakin turun disini?" tanya Jeffry sebelum pergi.
"Aku bukan anak TK lagi, tentu saja aku bisa naik taksi. Hati hatilah di jalan." jawab Ramon.
"Oke terima kasih Mon." kata Jeffry lalu meninggalkan Ramon.
*****
Jeffry sampai di perusahaan Valery jam 4 sore. Ia menghela nafasnya. "Syukurlah aku tak terlambat." gumamnya. Tak lama Valery menghubunginya.
"Jeck, aku ingin ke suatu tempat. Apa kau sudah di perusahaan?" tanya Valery.
"Sudah, aku diparkiran Vale." jawab Jeffry.
"Baiklah aku segera turun." ujar Valery seraya menutup teleponnya.
__ADS_1
Jeffry membawa mobilnya hingga ke pintu masuk perusahaan. Ia menunggu Valery disana. Saat wanita itu keluar, ia segera membuka pintu mobilnya. Ternyata Tara ikut bersamanya.
"Panti asuhan San Maria dekat gedung pajak." ujar Valery.
Jeffry mengangguk dan segera menuju alamat yang dimaksud. Sesampainya disana Tara dan Valery segera masuk kedalam. Jeffry menunggu mereka diparkiran. Ada pesan masuk dari Ramon. Jeffry tersenyum, Ramon sangat cepat bertidak. Perusahaan Jeffry mampu membeli saham perusahaan Samuel hingga 30%.
Ramon :
Kita sudah mendapatkan 30%. Ada 3 perusahaan pemilik saham terbesar, aku sedang menanganinya. Jika kita berhasil maka kita bisa memiliki saham hingga 60%. Dan itu cukup membuat Samuel kebakaran jenggot.
Itulah isi pesan dari Ramon.
Ia menatap keluar jendela mobilnya. Ia memperhatikan Valery yang berjabat tangan dengan wanita paruh baya. Sepertinya wanita itu pemilik panti. Valery melambaikan tangannya ke arah Jeffry. Jeffry segera membawa mobilnya ke arah Valery.
"Sudah selesai?" tanya Jeffry.
"Sudah Jeck. Terima kasih mau menunggu." jawab Valery. Valery mendapat bisikkan dari wanita itu lalu ia menggeleng. Jeffry sangat penasaran, apa yang dikatakannya. Tapi ia tak bisa menanyakan keingintahuannya.
Jeffry mengantarkan Tara pulang kerumahnya, lalu menuju rumah Valery.
"Jeck, apa kau mau makan malam denganku?" tanya Valery saat mereka sudah sampai.
Jeffry menggeleng. "Tidak Vale terima kasih." jawabnya.
"Baiklah, sampai jumpa besok." ujar Valery.
Jeffry hanya mengangguk dan mengambil motornya. Ia segera ke perusahaan karena masih banyak yang harus ia kerjakan. Terutama soal kerugian berlian hijau.
*****
"Aku masih disini, oke." jawab Ramon.
Jeffry mematikan ponselnya dan segera menuju perusahaan.
Setengah jam kemudian...
"Ini laporannya Jeff." ujar Ramon sambil memberikan laporan kerugian perusahaannya.
Jeffry membuka map itu lalu membacanya dengan seksama. "Sialan, besar sekali sampai 50 M." jawab Jeffry.
"Masalahnya, bahan itu hampir setengah pecahan batu. Jadi kau ingin apa dengan Samuel?" tanya Ramon.
"Aku ingin pria brengsek itu datang kemari, memohon dan mengembalikan kerugianku. Jika ia tak bersedia, maka ambil semua sahamnya. Tendang ia dari perusahaannya." jawab Jeffry.
"Kau kan tahu kita beda bidang dengan perusahaannya. Apa kau bisa menangani perusahaan itu?" tanya Ramon lagi.
"Sejak kapan kau meragukan kemampuanku Mon, kau tahu bisnis adalah hidupku. Bidang apapun pasti bisa aku tangani." ujar Jeffry.
__ADS_1
"Bukan maksudku meragukanmu Jeff, kau bukan hanya mengurus bisnis tapi kau juga sedang mengejar cintamu. Bagaimana kau bisa menanganinya sekaligus." kata Ramon.
"Apa kau tak mau membantuku?" tanya Jeffry.
Ramon tertawa. "Tentu saja aku akan selalu membantumu. Sialan kau Jeff, aku tak pernah bisa menolak."
Jeffry akhirnya tertawa menghilangkan ketegangannya. "Kau sahabat sekaligus rekan kerja terbaikku Mon."
"Terima kasih, ini semakin malam Jeff. Apa yang mau kau kerjakan disini." ujar Ramon.
"Tentu saja aku mau pulang." jawab Jeffry.
"Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Valery?" tanya Ramon ingin tahu.
"Hanya sekedar bos dan supir." jawab Jeffry datar.
Ramon tertawa terbahak bahak. "Sialan pria lajang, tak bisakah kau lebih dekat dengannya. Kau akan didahului pria lain Jeff. Wanita itu sangat cantik, jika aku belum memiliki istri, mungkin aku yang akan mendekatinya."
"Ciiiih...kau bilang sangat mencintai istrimu." ujar Jeffry.
"Memang itu benar. Aku berandai andai kalau belum memiliki istri." jawab Ramon.
"Sudahlah aku tak ingin diejek terus denganmu. Aku dekat dengannya saja sudah sangat senang Mon. Bagaimana Paul? Apa ia pernah bertanya sesuatu padamu?" tanya Jeffry.
"Sampai saat ini, adikmu sangat pendiam. Aku tak pernah mendapatkan telpon darinya. Kemungkinan ia senang karena mendapatkan mobilmu. Jadi untuk apa mencari tahu tentang apa yang kau lakukan." jawab Ramon.
"Dasar anak nakal, jika saja ia tak ugal ugalan saat SMA dulu dan menyebabkan kecelakaan, aku tak mungkin menjual mobilnya." kata Jeffry.
"Saat itu ia masih labil Jeff, Paul sekarang semakin dewasa. Beri ia kebebasan sedikit, aku yakin ia akan bertanggungjawab apapun yang akan ia lakukan. Dan ingat kau itu satu satunya pelindungnya disini. Kau memiliki ibu tapi...ya sudahlah aku tak ingin membahasnya." ujar Ramon.
"Aku dan Paul tak memiliki ibu lagi sejak ia meninggalkan kami dengan menikahi pria bule. Padahal ayah meninggal saja belum sampai satu tahun." jawab Jeffry, kata katanya berubah menjadi dingin.
Ramon menghela nafasnya. "Sudahlah Jeff, sampai kapan kau tak mau memaafkannya. Kalian sudah dewasa. Mungkin saja ibumu memiliki alasan yang kuat mengapa melakukan hal itu."
Jeffry tertawa sinis. "Sampai aku matipun, aku tak ingin melihatnya apalagi memaafkannya." Jeffry berdiri dari tempat duduknya. "Sudah saatnya pulang Mon, aku lelah hari ini."
Ramon mengangguk dan membiarkan Jeffry keluar terlebih dahulu.
"Ana, sudah waktunya pulang." ujar Jeffry pada sekertarisnya.
"Silahkan pak, hati hati. Aku sebentar lagi setelah pekerjaan selesai." jawab Ana.
"Baiklah." jawab Jeffry dan meninggalkan Ana.
Jeffry kembali kerumahnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang.
*****
__ADS_1
Maaf atas keterlambatan up...
Happy Reading All...😘😘