AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 6


__ADS_3

Bunyi alarm memekakkan telinga Jeffry, ia melihat jamnya lalu terbangun. Hari ini ia terbangun lebih pagi karena harus ke rumah Valery Arnold. Pagi ini ia mulai menyamar menjadi Jecko, supir pribadinya. Jeffry segera masuk ke kamar mandi dan berganti pakaian, ia mencari kemeja dan celana yang tak terlalu bagus. Tapi tetap saja semua miliknya bermerek.


"Paul..." teriak Jeffry. "Kau sudah bangun apa belum sih."


Tapi teriakan Jeffry tak mendapat jawaban. Jeffry menghampiri kamar adiknya dibawah. "Paul...bangun...aku membutuhkan sesuatu." teriak Jeffry lagi sambil menggedor pintu kamar adiknya.


"Ini masih sangat pagi bang, ada apa sih." jawab Paul.


"Cepat buka pintunya atau aku dobrak pintu ini." ancam Jeffry.


"Iya...iya...sebentar." jawab Paul kesal lalu pintu kamar terbuka. "Pagi pagi abang seperti kebakaran jenggot. Ada apaan sih?" tanyanya.


"Aku tak punya baju kaos. Semua bajuku kemeja." jawab Jeffry.


"Kan abang memang tidak suka kaos. Makanya dari dulu abang beli kemeja." ujar Paul.


"Makanya aku membangunkanmu." Jeffry masuk ke kamar adiknya langsung membuka lemari Paul.


"Abang mau apa sih?" tanya Paul lagi.


Tapi Jeffry malah mengambil beberapa kaos milik Paul. "Ini aku pinta." jawabnya. Ia mengambil beberapa lembar uang kertas dari dompetnya. "Kau beli yang baru." sambil memberikan uang itu. "Mulai hari ini, mobilku untukmu. Dan motor itu buatku." sambungnya.


Paul membelalakkan matanya, mulutnya melongo. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang Jeffry lakukan. "Abang sehat kan, masih waras kan?" tanya Paul.


Jeffry menjentikkan jarinya ke dahi Paul. "Jangan banyak tanya, kau ikuti saja mau ku. Mana STNK nya, cepat nanti aku terlambat." ujarnya.


"Ini masih sangat pagi bang." ujar Paul tapi ia tetap memberikan STNK nya.


"Kau ingat ya, kita hanya tukar pakai kendaraan sementara. Awas saja kalau mobilku lecet dan rusak. Aku akan mengirimmu keluar negri." ancam Jeffry.


"Iya oke." jawab Paul.


Jeffry meninggalkan adiknya yang masih kebingungan. Ia segera mengeluarkan motornya dari garasi. Lalu langsung berangkat menuju alamat rumah yang dikirimkan Valery semalam.


*****


Valery melihat jam dindingnya, setengah jam lagi ia berangkat bekerja. Tapi supir barunya belum menampakkan batang hidungnya sama sekali. Pintu gerbang sudah dibuka lebar agar Jecko tak perlu menekan bel nya lagi. Tiba tiba suara deruman motor besar terdengar di halaman. Valery mengintip lewat jendela. Ia sangat terkejut melihat Jecko menggunakan motor besar itu. Pria itu luar biasa tampan dan keren dengan kacamata hitamnya.


Valery menggelengkan kepalanya agar ia segera sadar. Ingat Vale, pria itu supirmu. pikirnya.

__ADS_1


Jecko mengetuk pintu rumahnya. "Permisi, Vale...nona Vale...aku Jecko." ujar Jeffry.


"Iya sebentar." jawab Valery pura pura tak tahu.


Valery membuka pintunya. Dan disitulah pria tampannya berdiri di depannya. Bukan tapi supir pribadinya.


"Selamat pagi nona Vale." sapa Jeffry.


"Selamat pagi pak Jecko, Vale saja jangan pakai nona." jawab Valery.


"Kalau begitu Jecko saja jangan pakai pak, aku terlihat semakin tua." ujar Jeffry.


"Baiklah. Sudah saatnya berangkat, aku tak ingin terlambat. Ini kunci mobil dan STNK nya, mulai sekarang aku percayakan padamu. Oh iya, kita mampir ke mini market terdekat ya." pinta Valery.


Jeffry mengangguk. Ia membukakan pintu mobil bagian penumpang. Tapi Valery menggeleng. "Aku di depan saja." ujarnya.


Jeffry menyipitkan matanya. Ia bisa hilang konsentrasi jika berada sampingan dengan wanita itu. "Tidak Vale, aku supir anda, tentu saja kau harus duduk di kursi penumpang." jawab Jeffry.


"Maaf aku lupa, karena dari dulu aku tak pernah duduk di belakang." ujar Valery lalu masuk kedalam mobilnya.


Jeffry segera memundurkan mobilnya dan berputar melaju ke arah kantor Valery. Sepanjang perjalanan, wanita itu sama sekali tak mengajaknya bicara, ia malah sibuk membuka laptopnya. Jeffry sekali sekali mengintip lewat kaca. Wanita itu benar benar cantik. Kulitnya putih bersih dan bibirnya ya Tuhan, membuat jantung Jeffry bergejolak. Beberapa menit kemudian Jeffry menepikan mobilnya di depan mini market.


"Vale...katanya kau ingin ke mini market?" tanya Jeffry.


"Aku biasa minum kopi hitam." jawab Jeffry.


"Baiklah, tunggu sebentar." ujar Valery seraya turun dari mobil tanpa menunggu Jeffry membukakan pintunya.


Jeffry menunggunya dan akhirnya wanita itu kembali dengan kopi dan sandwich ditangannya. Jeffry segera membukakan pintu mobil.


"Ini..." ujar Valery sambil memberikan kopi dan sandwichnya.


"Aku tak biasa sarapan. Hanya kopi saja." jawab Jeffry.


"Ambilah Jecko, mulai hari ini kau harus sarapan, itu perintahku." ujar Valery tegas.


Jeffry memperhatikan raut wajah Valery. Wanita ini serius dan sepertinya tak bisa dibantah. Jeffry mengambil makanan dan minuman itu dari tangan Valery. "Terima kasih Vale."


"Makanlah dan minum kopi mu, baru kita berangkat lagi." perintahnya.

__ADS_1


Jeffry mengikuti keinginan Valery, ia menggigit sedikit demi sedikit sandwichnya dan meminum kopinya. Sambil memperhatikan Valery yang melakukan hal yang sama. "Apa kau selalu sarapan seperti ini?" tanya Jeffry.


Valery menggeleng. "Kebetulan pembantuku sakit jadi tak bisa membuat sarapan." jawabnya.


"Mengapa kau tak mengatakannya tadi, aku bisa membuat sarapan walaupun rasanya mungkin tidak enak." jawab Jeffry padahal ia sama sekali tak bisa memasak.


Valery tertawa. "Kau supir, bukan chef. Aku tak mau membayarmu 2 kali lipat."


Jeffry memperhatikan wajah Valery. Wanita itu sangat sangat cantik saat tertawa. Ada sesuatu yang mendorong hati Jeffry untuk menarik wanita itu dan menciumnya. Namun cepat cepat Jeffry mengenyahkan pikirannya.


"Ada apa? Kau sangat serius. Tadi aku bercanda Jecko. Lain kali aku ingin mencicipi masakanmu." sambung Valery sambil memperhatikan raut wajah Jeffry.


"Tidak apa apa, aku hanya melihat bidadari yang sangat cantik tertawa tadi." goda Jeffry.


"Kau suka merayu wanita ya? Tapi rayuan seperti itu sudah sangat kebal buatku." ujar Valery.


"Ini pertama kalinya aku merayu wanita, dan wanita itu atasanku. Maaf aku telah lancang. Kita berangkat sekarang?" tanya Jeffry.


Valery mengangguk. Jeffry membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tak ingin memberi kesan yang jelek pada wanita itu.


Beberapa jam kemudian, mereka sampai di perusahaan Valery. Jeffry membukakan pintu mobilnya. "Terima kasih Jecko. Hari ini aku akan meeting diluar jam 10 pagi. Kau boleh menungguku di dalam." ujar Valery.


Jeffry melihat jam tangan mahalnya. "Masih jam 8 pagi, jika aku ke kantor terlebih dahulu tidak sempat. Baiklah lebih baik aku menunggu". pikirnya.


Valery memperhatikan Jecko dengan seksama, jam rolex mahal ditangannya. Penampilan yang keren. "Apa mungkin ia hanya lulusan SMA dan bekerja sebagai supir". gumam Valery dalam hati.


"Ada apa?" tanya Valery.


Jeffry menggeleng. "Aku akan memarkir mobilnya terlebih dahulu."


"Ruanganku sebelah kanan dari tempat kau interview kemarin. Disana ada sofa tunggu." ujar Valery.


"Baik Vale." jawab Jeffry. Ia masuk ke mobil dan memarkirkan mobil Valery. Sedangkan Valery lebih dahulu masuk ke kantornya.


*****


Happy Reading All...😘😘😘


Maaf atas keterlambatan up...

__ADS_1


Author akhir pekan selalu sibuk...


Terima kasih atas kesabaran kalian...


__ADS_2