
Dengan jantung yang berdebar sangat kencang, Jeffry menunggu Valery di perusahaannya. Mobilnya ia parkir kan tepat di samping mobil Valery. Jeffry serasa tak bisa bernafas di dalam mobilnya. Berkali kali Jefrry menghela nafasnya dan membuang udara tersebut dari dalam mulutnya dengan keras. Tangannya terus mengetuk ngetuk stir mobilnya. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.
Ya Tuhan, bantulah aku agar menjadi pria yang berani. Aku tak pernah takut pada siapapun, tapi mengapa Valery membuatku seperti ini. Sialan... gumamnya sendiri.
Ia kembali menatap pintu perusahaan. Hari semakin sore, ia tahu sebentar lagi wanita itu keluar dari perusahaannya. Dan benar saja, sosoknya langsung terlihat memukau diantara beberapa karyawan yang keluar masuk disana. Perut Jeffry serasa mual akibat ketegangan yang ia rasakan. Wanita itu semakin dekat, terus dekat mendekati lapangan parkir.
Jeff...ayolah...kau berhadapan dengan wanita cantik bukan pembunuh. Mengapa kau setakut ini. gumamnya lagi.
Wanita itu mendekati mobilnya. Jeffry segera keluar dari mobilnya.
"Vale..." sapanya ragu.
Valery terkejut dan menengok. "Jecko." jawabnya. Tapi wanita itu segera masuk ke mobilnya.
Jeffry mengejarnya dan memukul jendela mobilnya. "Vale, buka pintunya...tunggu Vale, aku mau menjelaskan semuanya."
Valery tidak mendengarkan. Wanita itu terlihat sangat marah padanya.
"Vale...dengarkan aku dulu. Aku mohon." teriak Jeffry. Jeffry berusaha menghadang mobil Valery agar berhenti.
Apa yang dilakukan Jeffry justru menambah kemarahannya, wanita itu menekan klakson sampai memekakkan telinga Jeffry. Dan ia teringat kejadian saat mobilnya mogok. Suara klakson ini tak asing bagi Jeffry.
"Minggirlah Jeck, aku tak ingin bicara lagi denganmu." teriak Valery.
Jeffry seperti merasakan de ja vu, ia mengenali suara wanita ini saat meneriakinya waktu itu. Lamunan Jeffry dibuyarkan dengan suara klaksonnya lagi.
"Minggirlah Jeck, atau aku akan menabrakmu." ancam Valery.
"Lakukan Vale, silahkan...asal kau mau memaafkan aku dan mendengarkan semua penjelasanku. Aku mohon, aku tak tahu harus bagaimana lagi. Aku perlu bantuanmu Vale." ujar Jeffry sedih.
__ADS_1
Valery mendengar nada suara pria itu yang sangat putus asa. Ia menghela nafasnya, apa perlu ia mendengarkannya. Tapi ia harus memberi kesempatan. "Baiklah, masuk ke mobil. Kita cari tempat yang tenang untuk bicara." ujar Valery.
Jeffry menghela nafasnya. Ia sangat lega mendengar Valery yang mau memberinya kesempatan. "Aku membawa mobilku, aku akan mengikutimu Vale." jawab Jeffry.
Valery menyipitkan matanya, supirnya membawa mobil sendiri. Ia memperhatikan Jeffry masuk ke mobil mewahnya.
Apakah ia bekerja untuk orang lain lagi. Secepat itu ia mendapat pekerjaan, padahal ia masih bekerja denganku. gumamnya kesal.
Tapi nanti saja, ia harus mendengarkan apa yang mau dijelaskan pria itu. Valery membawa Jeffry di sebuah cafe. Ia memesan tempat duduk privasi, agar mereka bisa berbicara dengan tenang. Beberapa jam kemudian, keduanya sudah saling berhadapan.
Wajah Jeffry sangat lelah, pria ini memiliki segudang masalah yang Valery belum tahu.
"Katakanlah, aku lelah Jeck..." ujar Valery.
"Vale maafkan apa yang telah aku perbuat, dari awal sampai akhir." jawab Jeffry. "Ada banyak sekali kebohongan yang telah aku lakukan Vale."
"Banyak kebohongan? Aku akan berusaha mendengarkan." jawab Valery.
"Wow...bravo...sangat banyak kebohongan yang kau lakukan Jeck. Tidak... Mungkin namamu bukan Jecko." jawab Valery.
"Aku mohon dengarkan aku dulu Vale. Aku akan menjelaskan satu per satu padamu." ujar Jeffry. Valery hanya mengangkat bahunya dengan malas.
"Aku pertama kali bertemu denganmu saat menghadiri pameran berlian di mall, aku melihatmu tersenyum dan tertawa. Dan hari itu saja sudah mengubah duniaku. Aku Jeffry Sean pemilik PT. Sean Permata. Jangan kau potong." ujar Jeffry saat Valery ingin membuka mulutnya. "Aku menyukaimu sejak hari itu Vale, aku bingung harus bagaimana aku bisa mendekatimu. Lalu iklan supir pribadi itu memberiku ide agar aku bisa mendekatimu. Dan Tuhan bersamaku, kau menerimaku sebagai supirmu. Aku tak bercanda saat aku bilang menyukai dan menginginkanmu. Bahkan bukan hanya itu Vale, aku benar benar mencintaimu. Saat malam kita ingin bercinta, aku menerima telpon dari asistenku Ramon. Kau pasti sudah tahu tentangnya, malam itu adikku satu satunya kecelakaan dan sampai saat ini belum sadarkan diri. Itulah mengapa aku menghilang darimu. Banyak sekali masalah yang harus aku hadapi, dan aku perlu bertemu denganmu. Aku tak bisa memberitahu semuanya lewat ponsel." kata Jeffry.
Valery terkesiap dan menutup mulutnya. Wanita itu tidak berbicara apapun, ia terus saja menatap wajah Jeffry.
Jeffry menarik tangannya. "Vale, percayalah apa yang aku katakan semuanya sekarang, tidak ada kebohongan lagi. Aku menyesal atas semuanya. Tapi jangan terus menghukumku Vale. Aku benar benar mencintaimu."
Air mata Valery akhirnya keluar. Ia sangat bingung dengan semua ini, bahkan pengakuan Jeffry yang sangat mendadak, membuatnya takut akan bertindak apa. Haruskah ia mempercayai pria itu.
__ADS_1
"Vale, jangan menangis sayang. Aku tahu, aku sangat salah. Percayalah padaku, aku sama sekali tak ada maksud apapun. Jangan kau berpikir ini tentang perusahaan Vale, walau aku dan kau berada di bidang yang sama. Tapi aku pembisnis yang jujur. Aku tak pernah melakukan hal kotor untuk mendapatkan kolega bisnis atau apapun itu. Jadilah teman dalam hidupku Vale, aku ingin hari hariku selalu ada dirimu." kata Jeffry berusaha meyakinkan Valery.
Valery teringat dengan berlian merah yang membuat Ramon tiba tiba mundur. "Mengapa hari itu kau lakukan Jeff, aku tak perlu belas kasihanmu." ujar Valery membuat Jeffry terkejut.
"Hari itu? Apa maksudmu?" tanya Jeffry.
"Jangan pura pura bodoh Jeff. Ini tentang berlian merah. Hari itu Ramon menghubungimu kan dan kau menyuruhnya mundur agar perusahaanku mendapatkannya. Kau takut setelah kemenanganmu dengan berlian hijau, kau akan mengalahkanku lagi." jawab Valery.
Jeffry membelalakkan matanya, pernyataan Valery memang benar. Tapi semua yang ia lakukan bukan karena kasihan. "Vale, aku memang melakukannya. Tapi aku lakukan karena mencintaimu, aku tak mau kau bersedih. Bukan karena kasihan yang katakan itu."
"Kita ke rumah sakit, aku ingin melihat adikmu." ujar Valery tiba tiba. "Aku belum memaafkanmu Jeff." sambungnya.
Jeffry tersenyum, Valery walau masih marah tapi ia memberinya lampu hijau. "Aku akan membawamu ke rumah sakit, tapi dengan syarat."
"Syarat? Kau gila." jawab Valery.
"Aku memang gila, aku akan mengikutimu ke rumahmu. Aku akan menunggumu berganti pakaian, lalu kau akan ke rumah sakit bersamaku. Tidak menggunakan mobil masing masing seperti ini." ujar Jeffry.
Valery menghela nafasnya. "Baiklah, aku setuju." jawabnya. "Sampai kapan kau memegang tanganku seperti ini." tanya Valery.
Jeffry terkejut, ia tak sadar sejak tadi sudah menggenggam tangan lembut Valery. "Maafkan aku." jawabnya.
Valery memanggil pelayan untuk membayar minumannya. "Biar aku saja." ujar Jeffry. Valery mengangguk dan membiarkan seorang pria yang mentraktirnya. Pria yang penuh kejutan, penuh rahasia, dan tentu saja yang mencintainya. Valery tersenyum saat menuju mobilnya.
Keduanya bersamaan menuju rumah Valery. Valery mengganti pakaiannya sebelum berangkat ke rumah sakit melihat keadaan adik Jeffry Sean. Pria kaya dan tampan itu.
Sedangkan Jeffry berpikir akan menceritakan tentang ibunya setelah Valery melihat adiknya Paul Sean.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘😘😘
Dukung, like n komen terus ya para readerku...