
Sudah berhari hari Sassy tak kunjung terbangun dari komanya. Samuel masih tidak bisa kemana mana karena ia terus diawasi oleh Petter. Bahkan ia tak bisa meninggalkan rumah sakit.
Sialan, aku harus bertanggung jawab atas semuanya. Sassy adalah wanita bodoh yang pernah aku temui. Mengapa ia mencoba bunuh diri setelah malam yang kita habiskan bersama. Apa aku terlalu menakutkan baginya. pikir Samuel.
Samuel terus menatap pintu ruang ICU, ia berharap wanita itu segera tersadar agar ia bisa terbebas dari Petter. Pria yang arogan dan menakutkan bagi Samuel.
Samuel menghubungi anak buahnya untuk mengantarkan bukti bukti kecelakaan yang terjadi puluhan tahun yang lalu. Ia akan menggunakan itu agar terbebas dari kekangan Petter.
Beberapa jam kemudian, anak buahnya datang dan membawa semua buktinya. Ia menatap Petter yang terus mengawasinya. Samuel berdiri dan menghampiri pria itu. Ia menyerahkan bukti bukti yang memberatkan Sassy.
"Apa ini?" bentak Petter.
"Kau lihat saja sendiri." jawab Samuel.
Petter membuka amplop coklat dan dokumen itu, ia terbelalak melihat foto foto dimana Sassy menabrak dan meninggalkan lokasi kejadian, bahkan plat mobilnya terlihat dengan jelas.
"Apa maksud semua ini? Apa maumu?" tanya Petter.
"Tentu saja aku ingin bebas, kau menahanku disini padahal kecelakaan itu bukan salahku." jawab Samuel.
"Bagaimana bisa bukan salahmu." Petter meradang. "Putriku kecelakaan setelah menemuimu, ia berusaha bunuh diri dan dari hasil pemeriksaan ada cairan ** di kelaminnya, itu milikmu kan? Bukankah kau telah memanfaatkan keadaannya." bentaknya sambil menarik kerah baju Samuel lagi.
"Hentikan... Kalian selalu saja berkelahi, tak bisakah kalian tenang sampai Sassy sadar dan menjelaskan semuanya. Sam, jadilah pria yang gentle. Bertanggung jawablah atas perbuatanmu." ujar Marina seraya menangis.
"Aku tak akan lari, hanya saja jangan perlakukan aku seperti seorang tahanan seperti ini. Aku juga memiliki pekerjaan. Jika kalian tak membebaskanku, maka aku terpaksa mengirim bukti itu ke kantor polisi." ancam Samuel.
Petter melepaskan Samuel, wajahnya memerah karena emosi. "Jangan coba coba melakukannya." ujar Petter.
"Kau tak perlu repot repot Samuel. Aku sudah melaporkannya pada kepolisian." ujar Ramon tiba tiba.
Ramon datang bersama anggota kepolisian, ia diberi perintah oleh Jeffry untuk menanganinya segera. Semuanya terkejut mendengarnya, polisi segera mengambil bukti itu ditangan Petter. Marina pingsan, sedangkan Samuel hanya terpaku di tempatnya.
__ADS_1
"Kau pikir, gerak gerikmu tidak sedang diawasi Jeffry Sean." ujar Ramon lagi sambil tertawa.
"Apa yang kau lakukan, putriku sedang sekarat. Ia tidak bersalah." teriak Petter sambil berusaha membangunkan istrinya.
"Kami yang akan mengambil alih kasus ini pak, anda tak bisa menghalangi kami. Pasien sekarang adalah tahanan." ujar salah satu polisi yang dibawa Ramon. "Dan anda juga kami tahan atas penggelapan dana perusahaan dan perlindungan tersangka kecelakaan." sambungnya pada Samuel.
Polisi yang lain memborgol Samuel dan menggiringnya keluar rumah sakit menuju kantor polisi.
"Kau dan Sean akan menyesal." teriak Samuel sambil memberontak.
Ramon menghela nafasnya. "Aku percayakan kasus ini pada kalian, aku akan kembali bekerja sekarang. Tuan dan nyonya Sean akan mengurus semuanya." ujar Ramon pada polisi tersebut lalu meninggalkan rumah sakit juga.
*****
"Apa yang kau lakukan Jeff, kau baru bercerita tentang semuanya. Tapi kau sudah bertindak." ujar Valery saat suaminya menjelaskan semuanya.
"Karena aku tahu sayang, kau berhati lembut. Kau akan mengampuni Sassy karena ia koma." jawab Jeffry.
Suaminya benar, ia akan membiarkan kasus ini berlalu begitu saja mengingat Tuhan sudah menghukum wanita itu.
"Apa kau lupa dengan yang kau alami saat itu?" tanya Jeffry. "Aku tak bisa membayangkan saat kau tiba tiba menjadi yatim piatu Vale. Ini hukuman buat wanita yang tidak bertanggung jawab. Percayakan saja padaku dan kepolisian." ujarnya.
Valery tak bisa berpikir, puluhan tahun yang lalu ia memang sangat terpukul. Bahkan sampai sekarang ia masih mencari pelaku. Tapi setelah semuanya sudah terungkap, ia merasa harus mengampuni wanita itu.
"Jeff, aku tahu mungkin Sassy sangat ketakutan saat itu. Ia masih sekolah dan menabrak orang dijalan. Kasus itu sudah lama sekali, bukankah..."
"Tidak...!!!" potong Jeffry. "Kasus ini harus dimulai kembali sayang, orang tuamu ingin tenang. Setelah semuanya terungkap, mereka pasti sedang tersenyum sekarang." sambungnya.
Percuma bagi Valery berdebat dengan suaminya. Ia pasti bersikeras menghukum wanita itu.
"Sayang, dengarkan aku... Kau harus melanjutkan kasus ini. Beri efek jera pada Sassy, itu sangat berguna untuknya agar lebih bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan nanti." ujar Jeffry menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Kau kan tahu, Sassy berusaha bunuh diri karena ketakutannya tertangkap polisi. Jika ia masuk penjara setelah sembuh, apa kau pikir ia tidak akan melakukan hal bodoh lagi dengan melukai dirinya sendiri." jawab Valery.
"Kau memang istriku yang berhati lembut Vale, kau masih memikirkan penjahat. Tapi kau tenang saja, Sassy hari ini akan dipindahkan ke rumah sakit Bhayangkara. Ia akan menjadi tahanan disana, dan penjagaannya sangat ketat. Tak mungkin wanita itu melakukan kebodohan lagi." kata Jeffry.
Valery akhirnya mengangguk dan memeluk suaminya. "Terima kasih, kau sudah membantuku menemukan tersangka. Aku tahu kau akan menjadi pelindungku." ujarnya.
Jeffry membalas pelukan Valery. "Sampai maut memisahkan kita, itulah janjiku dihadapan Tuhan sayang." jawabnya.
"Jeff, bagaimana perusahaanku?" tanya Valery tiba tiba.
Jeffry menatap wajah istrinya. "Aku tak akan memaksamu sayang, tapi aku ingin kita menyatukan perusahaan dan mengubah namanya menjadi PT. Berlian Permata Sean. Tapi aku kembalikan keputusan ini padamu. Aku hanya ingin mengelolanya bersamamu, aku tak ingin kita sibuk masing masing dengan pekerjaan Vale." jawab Jeffry.
Valery mengangguk. "Aku setuju dengan rencana besarmu ini, aku serahkan perusahaanku padamu." ujar Valery.
Jeffry terbelalak dengan keputusan istrinya yang begitu cepat, ia sangat senang lalu memeluk Valery dengan erat. "Aku janji tidak akan mengecewakanmu, kita kembangkan perusahaan bersama, agar anak dan cucu kita nanti tinggal menikmati hasilnya." janji Jeffry.
Valery tersenyum, ia merasa lega dengan keputusannya sendiri. Awalnya ia takut dengan permintaan Jeffry. Tapi setelah ia meyakinkan hatinya, entah mengapa ia justru lebih tenang sekarang.
"Kau tahu, aku menginginkanmu lagi." bisik Jeffry.
"Sayang, ibu dan Paul pasti mencari kita. Sudah siang begini aku masih di kamar. Dan aku tak ingin menjadi menantu pemalas." ujarnya seraya bangun.
"Kau mau lari kemana?" tanya Jeffry sambil menarik istrinya.
"Jeff, hentikan." jawab Valery.
Namun Jeffry terus menciumi Valery, hingga akhirnya Valery menyerah. Mereka kembali melakukan permainan ranjang yang panas. Jeffry sama sekali tak perduli keadaan rumahnya. Yang ia inginkan hanya istrinya dan menyatukan miliknya dalam tubuh Valery.
*****
Happy Reading All...😘
__ADS_1
Dukung, like n komen terus ya. Jangan lupa klik foto/profilku untuk membaca karya karya novelku yang lain...
🙏🙏🙏