AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 28


__ADS_3

Jeffry dan Valery menghampiri Susi, wanita tua itu terus menunduk. Tangannya saling menggenggam tanda bahwa ia sangat takut dan gugup. Valery mendekati Susi, ia duduk disamping Susi.


"Bu, tenanglah. Sudah saatnya kalian berdua berbicara." ujar Valery.


"Dan aku ingin kau menatapku." bentak Jeffry. Valery memelototinya agar lebih lembut.


Susi mendongak, ia langsung menatap putranya, matanya terlihat sangat sedih. "Apa kabar nak, kau tumbuh semakin tampan persis seperti mendiang ayahmu." ujar Susi memulai pembicaraannya.


"Seperti yang kau lihat, aku baik baik saja. Kami hidup dengan layak tanpamu. Aku juga tak pernah menyentuh sepeserpun uang yang kau kirimkan padaku." jawab Jeffry, ia merogoh sakunya dan melemparkan buku rekening ke meja. "Itu uangmu dan suami barumu." sambungnya.


Susi terbelalak, ia menatap buku rekening yang dilemparkan Jeffry. Ia mengambil buku rekening tersebut dan melihat jumlahnya yang begitu banyak, putranya benar benar tak menyentuh pemberiannya. Airmatanya mengalir dengan sendirinya. "Jika kau tak menyentuh uangku, bagaimana kau bisa hidup dengan adikmu nak. Mengapa kau tak mau menggunakan uang yang aku kirimkan padamu." tanya Susi di sela tangisnya.


"Aku pernah menjadi pengamen, bahkan aku pernah mengemis di jalanan. Lebih baik kami kelaparan daripada menyentuh uangmu itu." bentak Jeffry.


"Jeff, tenanglah." ujar Valery.


"Kami pernah kelaparan, bahkan Paul pernah hampir mati karena demam. Aku hanya mengharapkan belas kasihan orang. Itulah yang terjadi setelah kau tinggalkan kami." ujar Jeffry lagi.


Tangisan Susi semakin pecah saat mendengar penjelasan dari putranya. "Ya Tuhan, aku berkorban demi kehidupan kalian, aku melakukan itu semua agar kalian bisa hidup dengan layak. Tapi mengapa malah kau tak menggunakan uang ibu sepeserpun nak. Hati ibu sangat sakit mendengarnya." ujarnya.


Jeffry tertawa. "Meninggalkan anak anakmu yang masih kecil demi kebahagiaan kami. Demi Tuhan ibu macam apa yang bisa melakukan itu." bentak Jeffry.

__ADS_1


Suara tangisnya terdengar sangat memilukan. "Ibu benar benar melakukannya demi kalian berdua, ibu sangat mencintai ayah kalian. Seminggu setelah ayahmu meninggal, pihak bank datang menagih hutang ayah kalian. Ibu menjual perusahaan sampai aset aset yang lain pada bank untuk menutupi hutangnya. Ibu pikir masalahnya selesai sampai disana, tapi ada pihak lain datang. Ternyata ayah kalian hutang lebih besar pada perusahaan asing tersebut. Ibu tak bisa menjual apapun lagi, dan ancamannya adalah penjara. Ibu akan dipenjara dan membuat kalian hidup dengan kesengsaraan." Susi menghentikan penjelasannya karena tak kuat menahan tangisnya.


Valery menenangkannya dengan terus menepuk pundaknya. Jeffry terkejut dengan penjelasan ibunya. Ia tak bisa berkata apapun. Susi menarik nafasnya kembali. Ia mulai menjelaskannya lagi.


"Saat itu atasannya adalah orang Kanada, pria itu menyukai ibu saat ibu menghadapnya, ibu diberi pilihan kedua. Ibu menikahinya dan ikut dengannya ke Kanada tanpa kalian berdua. Ia akan memberi nafkah buat kalian setiap bulan agar kalian hidup dengan layak. Saat itu hanya itu pilihan terbaik buat kalian berdua, dengan terpaksa ibu mengorbankan diri ibu menikahi pria asing yang sama sekali tak ibu cintai disaat ayah kalian baru saja meninggal. Ibu mencintai kalian berdua, ibu tak ingin kalian hidup susah. Itulah mengapa ibu melakukannya nak." ujarnya kembali menangis.


"Ibu tak diizinkan menemui kalian atau menghubungi kalian, ibu meminum pil KB tanpa sepengetahuannya agar ibu tak memiliki anak darinya. Pria itu tak menyalahkan ibu karena ia pikir ia lah yang mandul. Setiap hari ibu berdoa agar ia segera dipanggil Tuhan agar ibu bisa menemui kalian. Tapi Tuhan tetap memberinya umur panjang sampai puluhan tahun ibu meninggalkan kalian, setiap hari ibu menangis karena ingin mengetahui kabar kalian. Ibu pernah di pukulnya sampai ibu masuk rumah sakit karena mencuri ponselnya untuk menghubungi kalian." sambungnya ia semakin terisak.


Valery terbelalak mendengar ceritanya. Ia pun tak kuasa menahan tangisnya. Jeffry terbangun dari duduknya. Kakinya sangat lemah seperti tak menapak ke lantai.


"Ceritamu bohong kan? Kau tak mungkin melakukan itu demi kami, kau hanya mengarang kan?" tanya Jeffry suaranya bergetar hebat.


Susi menggeleng. "Itulah kenyataannya nak, ibu melakukan ini semua demi kalian. Tapi ya Tuhan, apa yang kau lakukan Jeff. Kau membuat perjuangan ibu sia sia, kau tak menggunakan uang itu karena kau tak membaca surat yang ibu tinggalkan di balik foto ayahmu." ujarnya.


Jeffry segera membuka pas fotonya. Dan ia membelalakkan matanya saat menemukan sepucuk surat tersebut. Jeffry membuka dan membacanya.


#Anakku Jeffry, ibu berharap kau bisa membaca surat ini sayang. Ibu mohon jaga dan besarkan adikmu Paul. Ibu akan mengirimkan uang setiap bulan buat kalian hidup dengan layak. Kau jangan marah pada ibu, ibu melakukan ini demi kalian berdua. Ibu terpaksa meninggalkan kalian berdua untuk melunasi hutang ayah kalian. Ibu mencintai kalian berdua, ibu akan kembali jika pria yang memaksa ibu menikah mengizinkannya. Jeffry berbahagialah bersama adikmu.


Ibu yang menyayangi kalian. Susi Sean#


Jeffry berteriak histeris, ia menangis sekeras mungkin. Selama ini ia membenci wanita yang berkorban demi ia dan Paul. Jeffry terus memukul kepalanya sambil menangis. Ia begitu bodoh, mengapa ia tak mengerti saat ibunya memberikan foto itu padanya. Rasa sakit dihatinya semakin sakit terasa saat mengetahui kenyataannya.

__ADS_1


Valery mendengar teriakan Jeffry yang terus menerus histeris. Valery menghampirinya di kamar. "Ya Tuhan Jeff, apa yang kau lakukan sayang." ujarnya sambil memeluk Jeffry. Jeffry menangis di pelukan Valery.


"Apa yang telah aku lakukan pada ibuku Vale, mengapa aku sejahat itu padanya. Aku berdosa terhadapnya." ujarnya histeris.


Ini pertama kalinya Jeffry menangis sampai meraung seperti ini. "Belum terlambat sayang, ibumu masih disini. Kau bisa menebus kesalahanmu." ujarnya.


"Aku tak memiliki wajah lagi bertemu dengannya. Aku anak yang tidak berguna, aku menyiksanya, aku membencinya. Ya Tuhan, apa yang telah aku perbuat." teriaknya lagi.


"Jeff, sadarlah sayang. Ini semua karena kesalahpahaman bukan karena kesalahanmu." ujar Valery.


Valery terus memeluknya agar tenang, pria itu tak bisa menghentikan tangisannya. Tiba tiba Susi masuk, Valery mengangguk agar Susi menghampiri putranya. Susi pelan pelan menghampiri Jeffry yang masih menangis di lantai kamar di pelukan Valery.


Susi menepuk pundak putranya. "Ibu sangat merindukanmu nak." ujarnya.


Jeffry mendongak seketika itu juga pelukannya beralih pada ibunya, keduanya menangis dengan keras. Keduanya saling melepaskan kerinduannya masing masing. Valery mundur, membiarkan keduanya memiliki privasi namun tangannya tak dilepaskan Jeffry, pria itu ingin Valery tetap berada di dekatnya. Valery kembali duduk diantara mereka. Memperhatikan keduanya menangis. Valery pun tak mampu menahan tangisnya.


*****


Hayooo siapa yang baper...


Silahkan komen...

__ADS_1


Happy Reading All...😘


__ADS_2