AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 23


__ADS_3

Jeffry mengajak Valery makan siang di sebuah restoran mewah dekat perusahaannya. Restoran dengan suasana romantis.


"Kapan kau memesan tempat ini, restoran ini hanya menerima reservasi seminggu sebelumnya kan?" tanya Valery.


Jeffry tersenyum, ia menunjukkan kartu gold pelanggan vip restoran. "Kapanpun aku ingin kemari, selalu siap satu meja untukku makan." jawab Jeffry.


"Apa kau selalu melakukannya karena kau seorang pengusaha?" tanya Valery lagi.


Jeffry mengangguk. "Bukan karena aku sombong, tapi aku hanya mempermudah segalanya sayang, aku kan sering meeting bersama klien diluar juga. Aku tak ingin membawa klienku bertemu ditempat yang ramai dan fasilitas yang tidak memadai. Kepuasan klien adalah kebanggaanku sebagai seorang Jeffry Sean yang menyembunyikan identitasnya. Tempat privasi adalah tujuan utamaku." ujar Jeffry.


"Aku akan mencoba memahamimu pelan pelan Jeff. Aku sangat bebas dimanapun, mungkin sangat berbeda denganmu." kata Valery.


"Aku akan mengumumkan ke publik siapa aku sebenarnya ketika kita bertunangan nanti. Aku akan menunjukkan siapa diriku saat berada di sampingmu Vale. Percayalah, aku tak akan selamanya menyembunyikan identitasku." jawab Jeffry.


Valery tersenyum. "Apakah kau pikir aku membutuhkan semua itu? Aku hanya ingin kau selalu ada disampingku Jeff, itu sudah cukup. Jika identitasmu harus kau sembunyikan selamanya, aku tak mempermasalahkannya."


Jeffry memegang tangan Valery. "Ini pertama kalinya aku bersama kekasihku makan disini. Tanpa makanan pun aku sangat kenyang sekarang."


Valery terkekeh. "Dasar pria gombal. Mana pelayannya? Aku sudah lapar." tanya Valery.


"Kita tak perlu memanggil pelayan, mereka sudah tahu apa yang akan aku makan bersamamu." jawab Jeffry.


Valery mengerutkan keningnya. "Apa kau tahu aku ingin makan apa?" tanyanya.


Jeffry menggeleng. "Tapi mereka akan menyediakan menu utama restoran disini. Jadi kau pasti menyukainya." jawabnya.


"Lihat saja nanti, apa menu restoran ini cocok dengan seleraku." ujar Valery.


Beberapa menit kemudian, pelayan menyiapkan makanan yang memenuhi meja mereka. Valery membelalakkan matanya, ia terkejut melihat makanan tersebut.


"Sayang, ini terlalu banyak." bisik Valery. "Kau akan mengubahku menjadi seekor babi yang jelek."


Jeffry tertawa. "Itu tak akan mengubah perasaanku sayang, aku tetap menyukaimu walaupun kau menjadi gemuk." jawabnya.


Valery menghela nafasnya, mereka menikmati makan siang mereka tanpa suara. Setelah makan mereka selesai, keduanya menikmati dessert. "Ya Tuhan aku kenyang sekali Jeff." ujar Valery.


"Nikmatilah dessert nya." ujar Jeffry.

__ADS_1


"Ini sangat manis, aku benar benar akan gemuk Jeff." jawab Valery.


"Habiskan sayang, kau terlalu kurus." kata Jeffry.


Akhirnya Valery mengalah. Sedikit demi sedikit Valery memasukkan makanan penutup tersebut.


"Jeff, apa kau sudah menghubungi ibumu?" tanya Valery.


Jeffry berhenti mengunyah, ia memandang Valery dan menggeleng.


"Selesaikanlah sayang, aku yakin ibumu menantikan jawaban secepatnya." ujar Valery.


Jeffry sangat malas membahas tentang wanita itu. "Paul masih belum bangun juga Vale, aku sangat mengkhawatirkan keadaannya." ujar Jeffry mengalihkan pembicaraan.


Valery sangat tahu, mengapa Jeffry enggan membahas ibunya. "Lihat keadaan adikmu seminggu lagi, jika masih tak sadar. Lebih baik kau kirim ke rumah sakit Singapura atau dimanapun yang memiliki pengobatan lebih baik Jeff."


Jeffry mengangguk. "Itulah yang aku pikirkan sayang, tapi siapa yang akan menjaganya. Aku sangat sibuk dengan pekerjaanku." jawab Jeffry.


"Kau benar, akan sulit mengatur waktu. Itulah mengapa aku membahas ibumu. Mungkin saja ibumu bisa membantu." ujar Valery.


Valery berdiri. "Selalu saja menunjukkan sikap yang egois. Kau sangat tak masuk akal Jeff. Aku tak memaksamu, tapi setidaknya segera selesaikan masalahmu dengan ibumu. Aku yakin, ada kesalahpahaman diantara kalian berdua." bentak Valery. "Kau tak perlu mengantarku, aku bisa naik taksi." ujarnya.


Valery melangkah keluar restoran. Jeffry mengejarnya, ia menarik tangan Valery. "Sayang, maaf." ujarnya. "Aku mohon maafkan aku, kau harus tahu seberapa dalam luka yang ada di hatiku, aku sangat sensitif jika membahas wanita itu."


Valery menatapnya tajam. "Kau sangat keras kepala, aku hanya berusaha membantumu. Aku tak ingin kau memiliki masalah yang berlarut larut Jeff. Tapi kau selalu saja marah jika aku berbicara." ujar Valery.


Jeffry menarik tubuh Valery ke pelukannya. "Maafkan aku, jangan marah lagi. Aku salah, kau pulang bersamaku. Aku ingin kita ke rumah sakit sebelum aku mengantarmu ke perusahaan lagi."


Valery menghela nafasnya dan mengangguk. "Jangan buat aku kesal Jeff."


"Aku janji sayang, aku tak akan mengulanginya. Aku akan mendengarkan semua kata katamu. Maafkan aku ya." Jeffry memohon.


Valery tersenyum. "Ayo...aku ada meeting jam 2 nanti, aku masih memiliki waktu sejam menemanimu." ujarnya.


Jeffry lega, ia takut sekali melihat kemarahan Valery tadi. Jeffry mencium keningnya, lalu menggandengnya menuju parkiran. Keduanya menuju rumah sakit tempat Paul Sean dirawat.


*****

__ADS_1


Susi menangis dihadapan Paul Sean. Ia mencari rumah sakit terbaik untuk mencari Paul. Dan benar saja, ia menemukannya langsung.


"Paul, kau sudah dewasa nak. Apa kau masih mengingat wajah ibumu ini. Ini ibu yang telah meninggalkanmu saat kau masih sangat kecil nak, mengapa kau seperti ini." ujarnya sambil menangis.


Susi terus menggenggam tangan Paul. "Nak, bagaimana cara ibu menjelaskan semuanya pada kalian. Kakakmu Jeffry masih sangat marah pada ibu, ia bahkan tak pernah membalas email dari ibu. Bantulah ibu Paul, dulu ibu meninggalkan kalian karena terpaksa nak. Bagaimana ibu mengatakan alasannya. Apakah kalian akan mempercayai alasan ibu selama ini meninggalkan kalian? Paul wajahmu sangat mirip dengan mendiang ayahmu. Ibu sangat merindukan ayah kalian." ujar Susi masih menangis tersedu sedu.


Pintu ruangan terbuka, Jeffry membelalakkan matanya. Tubuhnya bergetar hebat dan hampir terjatuh jika Valery tak menahan tubuhnya yang besar itu. Mulutnya terbuka lebar karena tak mempercayai penglihatannya, wanita paruh baya yang ada di depannya sekarang adalah wanita yang meninggalkannya puluhan tahun yang lalu.


"Aaapppaaa yang kkkaaauu lakukan?" tanya Jeffry tergagap.


Susi terkesiap seraya berdiri, ia menatap putra sulungnya yang sangat marah padanya. "Kau Jeffry Sean putraku." ujar Susi ingin mendekati Jeffry.


Jeffry mundur. "Jangan coba coba mendekatiku, berani sekali kau datang kemari. Keluarlah...!!!" bentak Jeffry.


"Jeff... Tenanglah..." ujar Valery.


"Tidak, aku tak ingin melihat wajahnya. Suruh ia keluar Vale." teriak Jeffry.


"Bu, maaf...bisakah anda keluar terlebih dahulu." pinta Valery.


Dengan airmata yang sudah mengalir deras, Susi akhirnya mengangguk. Padahal ia ingin sekali memeluk putra sulungnya itu.


"Jeff, tenanglah...kau duduklah terlebih dahulu. Aku akan keluar menemuinya." ujar Valery.


Jeffry menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan. Ia memegang kepalanya, rasa frustasi dan keterkejutannya bercampur aduk di kepalanya. Ingin sekali ia mencekik wanita itu, namun hatinya berkata lain. Ia justru memiliki keinginan kuat untuk memeluk ibunya yang semakin tua.


Valery meninggalkan Jeffry dan menghampiri Susi. Valery melihat wanita tua itu terus menerus mengusap airmatanya. Valery sangat ragu untuk mendekatinya. Tapi ia juga sangat kasihan melihat wanita itu, matanya tadi terlihat sangat memendam rasa rindu terhadap putra putranya. Valery merasa ada sesuatu yang tidak beres dibalik kepergian wanita itu saat meninggalkan putra putranya dulu.


*****


Hai para Reader, masih setia menunggu kelanjutan kisah ini kan...


Happy Reading All...😘


Eps. ini dan selanjutnya akan banyak menguras airmata kalian, siap siap tissue ya...


😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2