
Valery keluar ruangan menghampiri suaminya di kursi tunggu. Pria itu benar benar terlihat sangat marah, ia tak bisa menutupi rasa cemburunya.
"Sayang, kau sedang apa disini?" tanya Valery.
Jeffry menatapnya tajam. "Menurutmu, apa yang aku lakukan?" tanyanya.
Valery menyenderkan kepalanya di pundak Jeffry dan menggenggam tangan suaminya. "Jangan marah lagi Jeff, aku kesal melihat wajahmu seperti itu." ujarnya.
Jeffry menghela nafasnya dan mengelus pipi istrinya. "Maafkan aku sayang, hanya saja aku cemburu saat kau tersenyum senyum setelah bertemu sahabatmu itu." jawabnya.
Valery terkekeh. "Ada sesuatu yang membuatku bahagia Jeff, tentu saja berhubungan denganmu. Dokter Andrew menggodaku terus setelah aku menikah denganmu, jadi tadi aku terbawa saja. Dokter Andrew memiliki keluarga yang sangat bahagia, tidak seharusnya kau cemburu padanya." ujar Valery.
Jeffry mencium puncak kepala Valery. "Aku hanya takut kehilangan istriku yang cantik." godanya.
"Dan itu tidak akan terjadi sayang." jawab Valery. "Bisakah kau membelikan aku hamburger?" bisiknya.
Jeffry menatap Valery dengan teliti. "Kau yakin ingin makan lagi di tengah malam seperti ini?" tanyanya.
Valery mengangguk. "Jika kau tak mau, aku tak memaksa." jawabnya.
Jeffry tertawa. "Tentu saja aku akan membelinya di restoran 24 jam, aku hanya takut kau bercanda saja." ujarnya.
Valery menggeleng dan tersenyum. "Belilah beberapa porsi untuk ibu dan juga Ana, aku takut mereka kelaparan juga." ujarnya.
"Itu hanya dirimu saja Vale, mereka tak mungkin makan di tengah malam." ejek Jeffry. "Ya sudah masuklah, aku akan segera kembali." sambungnya.
Valery mengangguk dan membiarkan suaminya pergi untuk membeli makanan yang ia minta. Valery kembali ke ruangan lagi.
*****
Tepat pukul satu dini hari, Paul tersadar dan menatap sekeliling ruangan. Ia terkejut saat melihat Ana tertidur di sampingnya, ada ibu paruh baya yang tertidur di sofa juga. Paul mengingat ingat ia adalah ibu Susi yang mengaku sebagai ibu kandungnya. Paul menatap wanita cantik yang baru keluar dari kamar mandi. Kekasih abangnya Valery Arnold.
Tidak bukan kekasih abangku, tetapi wanita itu sudah menjadi istri abangku dan juga kakak iparku. pikir Paul.
Paul terus mengingat potongan potongan baru pada pikirannya, semuanya sudah sangat jelas baginya.
Valery terkejut saat adik iparnya sudah membuka matanya, ia segera menghampiri Paul. "Paul, kau baik baik saja kan?" tanyanya pelan.
Paul mengangguk. "Kak Vale dimana bang Jeffry?" tanyanya.
"Kau ingat padaku?" tanya Valery.
"Tentu saja, siapa yang akan melupakan wanita cantik seperti kak Vale." jawab Paul tersenyum.
Valery terkekeh. "Kau bisa saja, syukurlah kau sudah baik baik saja. Ana bangun, Paul sudah tersadar." ujar Valery membangunkan Ana.
Ana mengerjapkan matanya lalu menatap Paul. "Kau sudah bangun, dimana yang sakit? Katakan padaku Pau." ujar Ana panik.
__ADS_1
Paul tertawa. "Apa kau tidak marah padaku?" tanyanya.
Ana memeluk kekasihnya. "Jangan lakukan ini lagi Pau. Aku sangat khawatir dan ketakutan." ujarnya.
Paul membalas pelukan Ana. "Maaf untuk semuanya, jadi bang Jeff sudah tahu tentang hubungan kita? Ia tidak marah?" tanya Paul lagi.
"Aku akan marah jika kau terus merahasiakannya anak nakal." ujar Jeffry masuk ke ruangan sambil menenteng makanan pesanan Valery.
"Bang Jeff, maaf." jawab Paul.
Sedangkan Valery tentu saja mengejar makanannya dan tanpa menawarkan pada mereka, ia langsung membuka dan melahap makanan tersebut. Semuanya menatap Valery namun wanita itu tak perduli. Ana tersenyum melihat wanita hamil yang tak bisa menahan laparnya. Sudah beberapa gigitan, Valery baru sadar jika semuanya menatapnya. Ia tersedak membuat Jeffry segera menghampiri dan memberinya minum.
"Pelan pelan saja sayang, aku membelinya banyak. Kau sampai tak menawari kami." ujar Jeffry.
"Maaf, aku hanya merasa lapar, dan baunya membuatku lupa diri." jawab Valery.
"Lanjutkan kak, makanlah yang banyak." ujar Paul.
"Iya makan saja bu Vale." sambung Ana.
"Oh ayolah Ana, panggil aku kakak seperti Paul memanggilku." jawab Valery.
Susi terbangun mendengar keributan itu. "Apa Paul baik baik saja?" tanyanya panik.
"Ya Tuhan, maaf bu aku membangunkanmu." jawab Valery.
Susi menggeleng dan menatap pasien yang tentu saja sedang menatapnya. Susi sangat ragu tapi Jeffry menghampirinya dan membawanya mendekati Paul.
"Jadi benar ia ibu kandung kita? Buat apa ia masuk di kehidupan kita lagi bang." tanya Paul.
Susi sangat sedih mendengar ucapan putranya itu, air matanya merebak keluar. "Maaf." ujarnya sambil terisak.
"Dengarkan abang Paul, selama ini kita salah paham pada ibu. Ia bukan wanita jahat Paul, ia melakukan semua demi kita." ujar Jeffry lalu ia menjelaskan semua cerita keseluruhannya membuat Ana ikut terkejut. Valery pun berhenti makan saat cerita itu terulang kembali. Paul tak bisa mempercayai ucapan abangnya, tapi ia sudah menangis mendengarnya. "Jadi itulah yang sebenarnya Paul. Abang yang berdosa membuat ibu dan kau menderita selama ini." ujar Jeffry sedih. Valery mendekati suaminya dan menggenggam tangannya.
"Mengapa jadi seperti ini bang, kau begitu yakin jika ibu sangat jahat. Aku bahkan membencinya selama bertahun tahun." ujar Paul seraya menangis.
Suasana ruangan terasa sangat mencekam karena tangis haru semuanya. Paul yang memulai menarik ibunya lalu memeluknya. "Maafkan Paul bu, Paul salah." ujarnya.
Susi menangis di pelukan Paul. "Ya Tuhan, terima kasih telah mengembalikan putra putraku." ujarnya.
Tangis kesedihan berubah menjadi tangis bahagia bagi semuanya. Valery kembali ke sofa dan meja makanan.
"Ayo kita makan, hamburgernya tidak enak jika dingin." ujar Valery membuat semuanya tertawa lepas. Jeffry hanya menggeleng menatap keanehan pada istrinya yang terus menerus makan.
"Ayo semuanya makan, kecuali Paul." ujar Jeffry.
"Aku tidak sakit, aku sudah sembuh. Aku juga mau hamburger." ujar Paul membuat semuanya kembali tertawa.
__ADS_1
Akhirnya semuanya makan di tengah malam kecuali Jeffry karena jatahnya di makan oleh istrinya.
Ana membisikkan sesuatu pada Susi. Wanita itu tersedak. "Benarkah?" tanyanya sambil menatap Valery.
Valery terbelalak, ia tak ingin gagal dengan kejutannya.
"Ada apa bu?" tanya Jeffry.
"Kita harus segera merencanakan hari resepsi pernikahan kalian, bagaimanapun Paul sudah sembuh." jawab Susi.
"Iya bang, aku sudah baik baik saja. Kalian harus adakan resepsi semegah mungkin." ujar Paul.
Jeffry menatap Valery lalu tersenyum. "Bagaimana jika minggu depan sayang?" tanya Jeffry pada istrinya.
"Itu terlalu cepat, persiapan harus benar benar matang." jawab Valery.
"Kau lupa saat saat kita menikah. Semuanya berjalan dengan baik, serahkan padaku. Istri Ramon pasti akan senang WO nya kembali di pakai kita. Melihat dari persiapan pernikahan kita yang sempurna, aku pikir resepsi pun akan sempurna ditangannya." ujar Jeffry.
Valery menatap ibu mertuanya dan mendapat persetujuan. "Baiklah, aku ingin persiapan ini sangat megah. Dan sekaligus pengumuman tentang penyatuan perusahaan kita Jeff. Tamu dari pihakku saja bisa mencapai ribuan, jadi kita harus mencari gedung yang sangat luas. Aku pikir pesta taman lebih pas buat acara kita." ujarnya.
"Ide yang sangat bagus sayang, baiklah kita akan melakukan pesta taman. Aku akan mengatakannya pada Ramon soal tempat yang pas. Lebih cepat lebih baik, dan aku ingin memilihkan gaun pengantin yang cantik untukmu Vale. Bagaimana menurut kalian?" tanya Jeffry.
Semuanya sangat setuju dengan keputusan Jeffry Sean. Tentu saja Paul sudah bisa kembali besok pagi, mengingat keadaannya semakin stabil dan juga hubungan semuanya sudah membaik.
"Setelah kami selesai, tinggal pernikahan kalian dipercepat juga." ujar Jeffry pada Paul dan Ana.
Keduanya terkejut dan saling pandang pandangan. "Aku rasa, kami harus menunda 2 tahun lagi." ujar Ana dan Paul mengangguk.
"Untuk apa kalian menunggu selama itu?" tanya Susi.
"Kami belum siap membangun rumah tangga. Kami masih ingin bersenang senang di luar." ujar Paul.
Jeffry memukul pundaknya. "Kau anak nakal, umurmu lebih muda dari Ana. Kau tak memikirkan kekasihmu." ujarnya.
"Tapi aku setuju usul Paul bang, aku juga belum siap." ujar Ana.
Jeffry terkejut mendengar ucapan Ana.
"Jeff, biarkan mereka menikmati masa mudanya. Kau lupa kita menikah di umur yang sangat tua." ujar Valery.
Istrinya benar, ia juga baru siap setelah umurnya kepala tiga. "Baiklah, aku hanya menyarankan saja. Jaga hubungan kalian, dan jangan melakukan hal yang akan membuat keluarga malu. Jika kalian sudah siap menikahlah." ujar Jeffry.
Keduanya mengangguk dan Susi pun menyetujui keputusan mereka. Sekarang ia hanya fokus pada menantunya yang sedang hamil muda. Susi sangat bahagia dan berkali kali memberi makanan pada Valery dan mulai memanjakan menantunya tersebut membuat Jeffry kebingungan.
*****
Happy Reading All...😘
__ADS_1
Beberapa langkah lagi akan Tamat...
Terus dukung, like n komen ya....🙏