
Selama satu minggu mereka berbulan madu di Korea. Banyak sekali kejutan kejutan yang dilakukan Jeffry untuk Valery. Bahkan hadiah demi hadiah diberikan oleh Jeffry. Dan saatnya mereka kembali ke Indonesia. Valery sangat puas dan bahagia selama di Korea Selatan, pagi, malam dan terkadang siang yang panas terus dilakukan Jeffry tanpa henti. Hingga Valery lebih merasa kelelahan melayani keinginan suaminya.
Jeffry akan langsung mengajaknya ke rumah sakit menemui dokter Fransiska, suaminya ingin tahu bagaimana kesehatan anaknya setelah mereka berbulan madu. Padahal Valery sangat enggan melakukannya dan mengatakan ia baik baik saja. Tetapi keinginan Jeffry sangat sulit dibantah. Ia hanya akan malu pada dokter Fransiska.
"Kau kenapa?" tanya Jeffry.
"Apa tidak sebaiknya kita bertemu dokter besok saja Jeff. Aku sangat lelah dan hanya ingin kembali ke rumah." jawab Valery.
"Maaf sayang aku membuatmu kelelahan, tapi tidak ada kata besok. Aku tak ingin kau dan anak kita sakit." ujar Jeffry.
"Aku malu Jeff, aku yakin dokter Fransiska akan menggoda kita." ujar Valery.
Jeffry tertawa. "Kita sudah hampir sampai di rumah sakit, jangan banyak alasan. Kau butuh pemeriksaan dan USG kembali itu sangat penting." jawab Jeffry.
Valery tak bisa berdebat, jika sudah keinginannya seperti itu, Valery hanya bisa menurutinya. Mereka sampai di rumah sakit dan langsung menemui dokter Fransiska karena sudah membuat janji. Dan benar saja saat Valery diperiksa, dokter Fransiska terus menggoda mereka.
"Kalian menghabiskan seminggu berbulan madu diranjang sepertinya." goda dokter Fransiska. "Jangan terus menyiksa istri anda tuan Sean. nyonya Sean kelelahan dan itu juga tidak baik buat anak kalian." sambungnya.
Jeffry hanya tertawa mendengarnya. "Dokter kan tahu bagaimana udara di Korea Selatan." jawab Jeffry. Valery menginjak kakinya. "Sakit sayang." ujarnya.
"Maaf dok, sepertinya suamiku ini harus di suntik agar pikirannya tidak selalu kotor." jawab Valery.
Dokter Fransiska ikut tertawa. "Tidak apa apa, aku memahami pengantin baru. Kalian memang cepat dikaruniai anak anak. Jaga kesehatanmu nyonya Sean, kalau bisa jangan lakukan perjalanan lagi untuk sementara." pesannya.
Valery dan Jeffry mengangguk, namun baru sadar saat kata anak anak keluar dari mulut dokter Fransiska. "Anak anak apa maksud dokter?" tanya Valery.
"Lihat dari hasil USG, kemungkinan besar nyonya Vale mengandung baby twins." jawab dokter Fransiska.
Tentu saja kabar tersebut membuat keduanya sangat bahagia. "Terima kasih banyak dok." ujar Jeffry lalu memberikan oleh oleh pada dokter Fransiska.
"Apa ini?" tanya dokter.
"Sedikit oleh oleh dari liburan kami, terima kasih dok sudah membantu istriku." jawab Jeffry.
"Kalian mengingatku, terima kasih. Bulan depan kita bertemu lagi nyonya Sean untuk memastikan apa benar itu baby twins." ujar dokter.
"Itu sudah pasti dok, kami pamit dulu." ujar Valery dan mereka meninggalkan ruangan dokter menuju rumah mereka.
*****
Susi, Paul dan Ana ternyata sudah menunggu kedatangan mereka. Tentu saja Susi memberi omelan omelannya karena Jeffry dan Valery tak menghubunginya selama berbulan madu.
"Kalian tahu tidak, telingaku hampir mau pecah mendengar ibu mengomel setia hari karena kalian tak memberi kabar." ujar Paul.
"Ibu hanya khawatir pada menantu dan calon cucu ibu." jawab Susi.
__ADS_1
"Maaf bu, kami memang sengaja mematikan ponsel karena kami tak ingin diganggu siapapun selama berbulan madu. Kami baik baik saja, keadaan cucu cucu ibu juga sangat baik." ujar Jeffry.
"Sudah tak apa, sebaiknya kalian beristirahat. Cucu cucu ibu?" tanya Susi terkejut.
Valery mengangguk dan langsung menuju kamarnya karena lelah. Sedangkan Jeffry menjelaskan kabar tersebut pada ibunya dan ia ingin berbicara pada Ana.
"Ya Tuhan, aku sangat bahagia bisa memiliki 2 cucu sekaligus. Kau juga perlu beristirahat Jeff, soal pekerjaan bisa besok lagi." ujar Susi.
Jeffry menggeleng. "Aku baik baik saja bu. Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan perusahaan." jawab Jeffry.
"Nanti saja setelah makan malam Jeff, ibu tahu kalian sangat lelah." perintah Susi.
"Baiklah, kau jangan pulang dulu Ana. Selain pekerjaan ada hal lain juga yang akan aku katakan." ujar Jeffry.
"Baik bang." jawab Ana.
Jeffry ikut masuk ke kamar, ia mandi dan siap siap untuk makan malam. Valery terlelap, Jeffry mencium keningnya.
"Kau pasti sangat lelah sayang, maafkan aku." bisik Jeffry. Istrinya hanya bergumam tidak jelas membuat Jeffry tersenyum lalu meninggalkannya untuk makan malam.
Di ruang makan, mereka semua sudah menunggu. "Dimana Vale?" tanya Susi.
"Ia sangat lelah bu, ia masih tertidur jadi aku membiarkannya saja. Nanti akan aku bawakan makan malamnya ke kamar." jawab Jeffry.
"Tunggu aku di ruang kerjaku Ana." perintah Jeffry sebelum melangkah menuju kamarnya.
Jeffry membangunkan Valery agar ia bisa makan malam. Tapi Valery tak menginginkannya.
"Taruh saja nampannya sayang, aku masih ingin tidur sebentar lagi. Kepalaku sangat sakit." gumam Valery.
"Baiklah, kalau ada apa apa panggil aku ya sayang, aku di ruang kerjaku." ujar Jeffry, Valery hanya mengangguk.
Jeffry meninggalkan kamar menuju ruang kerjanya.
*****
"Bagaimana perusahaan selama satu minggu ini Ana?" tanya Jeffry.
"Perusahaan berjalan dengan baik. Pak Ramon sangat baik menanganinya. Tapi ada kontrak yang belum bisa ditangani karena mereka menginginkan bertemu langsung dengan pak Jeffry." jawab Ana.
"Ini di rumah, panggil saja aku abang. Terima kasih kau sudah membantu perusahaan selama aku tak ada. Aku akan membutuhkanmu karena lusa Ramon dan Paul akan membantu ibu ke Kanada." ujar Jeffry.
Ana mengangguk. "Aku sudah tahu bang, Tara juga sangat membantu perusahaan. Sekertaris kak Vale sangat cerdas." ujar Ana.
"Tentu saja, aku juga mengenal Tara dengan baik. Kita akan mulai pekerjaan lagi besok. Sekarang aku ingin bertanya soal hubunganmu dengan adikku Paul." kata Jeffry.
__ADS_1
Ana menegang karena ia tak tahu apa yang ingin Jeffry ketahui. "Kami baik baik saja bang." jawab Ana.
"Bukan itu maksudku Ana. Aku ingin kalian menikah setelah Paul wisuda, aku ingin ada yang merawat Paul. Apa kau masih belum bersedia. Kalian ingin menunggu apa lagi." tanya Jeffry.
"Tapi bang, Paul ingin 2 tahun lagi. Dan aku harus menyetujuinya. Aku tak ingin memaksanya jika ia belum siap." jawab Ana.
"Omong kosong, aku akan bicara padanya. Aku tak ingin kalian menunggu lebih lama lagi. Paul masih labil, aku tak ingin ia berubah pikiran dan akan mempersulitmu." ujar Jeffry.
"Abang tak percaya padaku? Aku sangat mencintai Ana." ujar Paul tiba tiba masuk.
"Cinta tak cukup untuk mempertahankan hubungan Paul, kau harus siap berkomitmen." jawab Jeffry.
"Abang lupa saat abang menikah di umur berapa." jawab Paul.
"Kau tak bisa menyamakan aku denganmu. Aku sibuk bekerja untuk kehidupanmu sampai aku tak memikirkan pasangan. Kau berbeda, kau sudah memiliki segalanya. Kau tinggal masuk ke perusahaan membantuku. Dan kau harus diurus oleh Ana. Ana sangat tepat buatmu." bentak Jeffry.
Paul menunduk, ia telah melakukan kesalahan. Tentu saja Jeffry telah mengorbankan masa mudanya untuk Paul. "Maafkan aku bang, aku tak bermaksud." jawab Paul.
"Ana sudah cukup umur untuk menikah Paul, setelah kau masuk perusahaan nanti, abang ingin kau segera melamar Ana." ujar Jeffry.
Paul menatap Ana. "Maafkan aku Ana, aku akan serius padamu. Aku akan mengikuti saran bang Jeff untuk menikahimu segera." ujar Paul.
Ana terisak, ia tak tahu harus berkata apa. Ia mencintai Paul sehingga ia bersedia menunggu kapanpun Paul bersedia menikahinya. Tapi sekarang Paul ingin menikahinya dengan adanya paksaan dari kakaknya.
Ana menggeleng. "Aku tak ingin menikahi pria yang dipaksa menikah bang." ujar Ana.
"Kalian bicarakan saja berdua. Aku akan beristirahat sekarang." ujar Jeffry seraya meninggalkan mereka berdua.
*****
"Dengar Ana, aku tidak terpaksa menikahimu. Aku benar benar mencintaimu. Apa kata bang Jeffry benar, aku harus belajar bertanggungjawab atas dirimu. Aku juga membutuhkanmu untuk merawatku." ujar Paul.
Paul tiba tiba berlutut di depan Ana lalu mengeluarkan kotak perhiasan. "Ana Tamora, ini sudah lama aku siapkan. Hanya saja aku belum menemukan waktu yang tepat. Tapi sekarang sepertinya sudah saatnya aku mengatakannya. "Ana Tamora, will you marry me?" tanyanya.
Ana terbelalak saat melihat cincin berlian yang indah yang disodorkan oleh Paul. "Kau yakin melakukan ini?" tanya Ana.
Paul tersenyum lalu mengambil cincinnya, ia menarik tangan Ana dan menyematkan cincin itu pada jarinya. "Aku tak menerima penolakan, jadi aku anggap kau setuju." ujar Paul.
Ana kembali menangis lalu memeluk Paul. Tentu saja ia mengangguk menerima lamaran dari Paul Sean. Akhirnya keduanya akan menikah setelah Paul Sean lulus kuliah dan masuk ke perusahaan Jeffry. Dan itu tak akan lama lagi karena di perkirakan Paul lulus saat Valery melahirkan 8 bulan lagi.
*****
Happy Reading All...😘
Satu Part lagi Author akan mengakhiri cerita ini. Dukung, like n komen terus ya...
__ADS_1