
Valery tak menyangka akan dilamar kekasihnya dengan cara seperti ini. Padahal ia masih kesal dengan pria itu. Valery berdiri dan menatap Jeffry.
"Bangunlah Jeff, kau tak perlu berlutut seperti itu. Aku sudah memaafkanmu, tapi untuk lamaranmu. Aku tak bisa menerimanya." jawab Valery.
Jeffry terbelalak. "Tapi kenapa sayang? Aku serius dengan hubungan kita." ujarnya.
"Aku juga sangat serius Jeff. Tapi aku belum siap, aku harus mengenalmu lebih lama lagi. Aku ingin masalah masalah kita bisa selesai satu per satu. Kau dengan wanita itu dan aku dengan Samuel." jawab Valery.
"Demi Tuhan Vale, aku tak ada apa apa dengan Sassy. Jadi tak ada yang harus aku selesaikan. Dan soal Samuel, aku sedang berusaha membantumu sayang. Kita bisa menyelesaikannya setelah kita menikah." kata Jeffry lagi.
Valery menggeleng. "Aku tak ingin kita menghadapi banyak masalah setelah kita menikah. Jadi bersabarlah sampai saat itu tiba Jeff." jawab Valery lagi.
Jeffry menghela nafasnya. Ia tak menyangka Valery akan menolaknya. "Setidaknya kita bisa adakan acara pertunangan terlebih dahulu." pinta Jeffry.
Valery tetap menolak dengan menggelengkan kepalanya. Jeffry akhirnya kembali emosi melihat tanggapan kekasihnya.
"Aku tak tahu apa yang kau pikirkan Vale, kau sangat keras kepala. Lebih baik aku pulang sekarang." bentak Jeffry seraya meninggalkan Valery.
Valery menghempaskan tubuhnya di sofa setelah Jeffry meninggalkannya. Ia tahu pria itu saat ini pasti sangat marah. Tapi ia benar benar tak ingin melakukan kesalahan. Ia ingin menikah sekali dalam seumur hidupnya. Hubungannya dengan Jeffry belum cukup lama untuk meyakinkan hatinya.
*****
Jeffry berkali kali memukul stir mobilnya. Rasa marah atas penolakan Valery terus bergelayut di hatinya. Bagaimana bisa kekasihnya menolak ajakannya menikah.
Ini semua gara gara wanita sialan itu. Ia selalu muncul saat aku mulai bisa melupakannya. gumam Jeffry.
Jeffry tak langsung kembali ke rumahnya tapi ia mampir di kelab malam seperti biasa, ia ingin menghabiskan malamnya di kelab tersebut.
Setelah sampai di kelab, ia memesan minumannya. Dan seperti biasa wanita penghibur menghampirinya.
"Tuan Sean, lagi lagi kau sendirian." ujar Miska, wanita penghibur kelab tersebut.
"Lagi lagi kau Miska, apa kau belum mendapat pelanggan?" ejek Jeffry.
Miska cemberut. "Sialan, aku bukannya tak mendapat pelanggan. Tapi kau tahu lah seleraku adalah kau Jeff." jawabnya.
Jeffry tertawa. "Aku hanya bercanda, kau cepat sekali merajuk. Tapi bisakah kau tinggalkan aku? Aku sedang tidak mood malam ini." ujarnya.
Miska menghela nafasnya. "Aku bisa menghiburmu diatas. Aku merindukanmu Jeff." jawab Miska, diatas kelab adalah tempat pelanggan menghabiskan malam mereka dengan wanita penghibur.
__ADS_1
"Miska... Apa kau tak dengar perkataanku?" tanya Jeffry.
"Dasar pria jahat." jawab Miska sambil meninggalkan Jeffry.
Jeffry menyesap minumannya dan menghubungi Ramon. "Kau dimana?" tanyanya.
"Aku di rumah, ingin tidur Jeff. Aku hari ini menemani istriku seharian jadi sangat lelah." jawab Ramon.
"Baiklah, aku tak akan mengganggumu." ujar Jeffry.
"Tunggu, kau di kelab malam kan? Suara musik sangat keras." tanya Ramon.
Jeffry hanya tertawa seraya mematikan ponselnya.
Jeffry kembali menikmati minumannya, jika ia mabuk maka ia akan meminta supir pengganti untuk mengantarnya pulang. Satu jam sudah berlalu, Jeffry semakin mabuk di kelab tersebut.
"Ya Tuhan, ada apalagi Jeff. Sialan kau tak bisa membuatku tidur nyenyak." ujar Ramon.
Jeffry tertawa. "Kau sedang apa kemari? Pulanglah." usir Jeffry.
"Pria brengsek. Aku kemari karena kau bodoh. Tak bisakah kau menyelesaikan masalah dengan cara lain." bentak Ramon.
Ramon terkejut. "Bukankah kalian saling mencintai? Bagaimana bisa Vale menolakmu Jeff?" tanya Ramon.
"Sassy, wanita itu harus aku apakan Mon?" tanya Jeffry.
Ramon terkejut kembali. "Maksudmu ini semua gara gara Sassy?"
Jeffry mengangguk dan mulai memesan minumannya lagi. Tapi Ramon menghentikannya.
"Kita pulang sekarang Jeff." pinta Ramon.
Jeffry menggeleng. "Aku akan mabuk sampai pagi Mon." jawabnya.
"Tidak bodoh, kau harus menjemput Vale. Dan ya Tuhan, karena ditolak kau seperti ini. Mana Jeffry Sean yang aku kenal." ujar Ramon.
"Aku tak mau menjemputnya. Aku tak ingin bertemu dengannya." jawab Jeffry.
"Ya Tuhan Jeff, wanita itu harus terus kau dekati bukannya kau jauhi. Jika kau lakukan itu, kesempatanmu akan semakin menipis." ujar Ramon lagi.
__ADS_1
Jeffry tertawa. "Vale akan memikirkan hubungan kita saat wanita itu menemukan penabrak orangtuanya, dan juga saat aku membereskan Sassy." ujarnya.
"Aku sedang membantumu Jeff. Samuel sebentar lagi tak akan berkutik dengan perusahaannya. Dan ia juga akan memberitahu siapa yang mencelakakan orang tua Vale. Bersabarlah, tapi jangan kau jauhi Vale." jawab Ramon. "Ayo kita pulang, kau gila selalu melakukan ini." sambungnya seraya menarik Jeffry dari bar dan mengantarkannya pulang.
Ramon membiarkan Jeffry tertidur di kursi penumpang. "Dasar pria lajang bodoh, kau malah melakukan hal tak penting. Untuk mengejar cintamu, kau harus berjuang Jeff." ujar Ramon.
Sesampainya di rumah Jeffry, Ramon membawanya ke kamar. "Jeff, besok Paul tak bisa membangunkanmu. Jadi kau harus bangun sendiri. Jemput kekasihmu, terus kejar Vale. Kau dengar itu Jeff." ujar Ramon.
Jeffry menjawab dengan gumaman yang tidak jelas. Ramon hanya menghela nafasnya seraya meninggalkan rumahnya.
*****
Samuel sedang menikmati sentuhan wanita penghibur di ranjangnya, tapi tak seperti biasanya. Ia tak bersemangat sama sekali, ia terus terusan memikirkan wanita cantik itu. Valery sangat sulit di dekati.
Bagaimana caraku bernegosiasi dengan Valery? pikirnya.
Samuel melepaskan wanita penghibur itu. "Hentikan, aku sedang tidak bersemangat. Ini uangmu, keluarlah dari kamarku." usirnya.
"Sialan, pria brengsek." jawab wanita itu seraya meninggalkan kamar Samuel.
Samuel tidak perduli saat wanita itu marah, pikirannya masih saja berkecamuk. Satu satunya cara adalah menjauhkan Jeffry Sean darinya. Baru ia bisa masuk dalam kehidupan Valery.
Samuel menuang minumannya dan menikmatinya. Lalu tiba tiba ide terlintas dari pikirannya. "Aku harus mencari wanita itu, aku yakin jika aku mengancamnya karena melihatnya menabrak orangtua Valery, maka wanita itu bisa bekerjasama denganku. Wanita itu menghilang dari Indonesia sejak ia melakukan kesalahan. Aku mencari pemilik mobil tersebut saat baru lulus SMA dan aku mengetahuinya, Sassy. Aku akan membuat Sassy mendekati Jeffry, dan menghancurkan hubungan mereka." gumamnya sambil tersenyum licik.
Samuel kembali menyesap minumannya. Valery bisa membuat moodnya di ranjang menjadi jelek. Padahal ia tak pernah merasakan hal tersebut, ia bisa melakukan malam panas dengan 3 wanita yang berbeda setiap malam tapi malam ini satu wanita pun ia tak menginginkannya. Samuel menggenggam gelasnya dengan erat lalu melemparkannya ke dinding kamarnya hingga terdengar suara pecahan yang sangat keras.
*****
Akankah Samuel dan Sassy bisa memisahkan hubungan Valery dan Jeffry?
Ikuti terus kelanjutannya...
Maaf atas keterlambatan up...
Happy Reading All...😘
Jangan lupa baca novel terbaruku yang berjudul "Chef Cantik Pilihanku."
Terima kasih...🙏🙏🙏
__ADS_1