AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 25


__ADS_3

Valery menghentikan pekerjaannya sebelum jam 5 sore, ia akan kembali ke rumahnya dan mengambil mobilnya. Ia akan menjemput ibu Susi.


Semoga saja Jeffry tak marah padaku, ini aku lakukan untuk membantu mereka berdua. Walaupun aku belum tahu cerita yang sebenarnya, tapi aku yakin dengan perasaanku bahwa ibunya memiliki alasan yang kuat di balik semua ini. pikir Valery.


Ia keluar dari kantornya setelah urusan selesai. "Tara, aku pulang lebih awal. Jika kau sudah selesai kau juga boleh pulang." ujar Valery pada Tara.


"Bu Vale buru buru ingin melakukan kencan ya?" tanya Tara ingin tahu.


Valery menggeleng. "Sayangnya ini lebih penting dari kencan Tara. Aku memiliki urusan lain." jawab Valery.


Tara bingung urusan seperti apa yang Tara tidak tahu, karena selama ini Valery pasti bercerita padanya. Tapi ia tidak bisa mencampuri urusan atasannya. Tara hanya mengangguk. "Hati hati di jalan bu Vale." ujar Tara.


"Terima kasih Tara." jawab Valery seraya meninggalkan kantornya.


Valery memesan taksi menuju rumahnya, satu jam kemudian ia sampai. Ia mengganti pakaiannya dan segera pergi lagi.


"Loh...non...mau kemana lagi?" tanya mbok Karmi.


Valery mendekati mbok Karmi dan membisikkan sesuatu. "Jaga rahasia ini ya mbok."


Mbok Karmi terkejut dengan penuturan Valery. "Non yakin, den ganteng tidak akan marah?" tanya mbok Karmi lagi.


"Makanya aku bilang ini rahasia." jawab Valery. "Ya sudah, tolong siapkan kamar dan makanannya ya mbok. Aku akan kembali mungkin saat jam makan malam." sambungnya.


"Baik non, hati hati di jalan." jawab mbok Karmi.


Valery hanya mengangguk, dan berangkat menuju hotel Sheraton.


*****


Di hotel Valery segera mencari keberadaan bu Susi tapi ternyata wanita itu sudah menunggunya di lobi. Jadi Valery tak perlu menuju kamarnya.


"Bu..." sapa Valery sambil mencium punggung tangannya.


"Nak Vale, cepat sekali kau tiba." jawab Susi.

__ADS_1


"Aku pulang lebih awal dari perusahaan, ibu sudah check out?" tanya Valery.


Susi mengangguk. "Ibu tak mau kau mencari ibu dan menunggu, jadi lebih baik ibu yang menunggumu. Tapi ternyata kau lebih cepat padahal ibu baru saja check out." ujarnya.


Valery tersenyum. "Ayo...kita berangkat sekarang, Jeffry sangat mencemaskanku. Aku takut tiba tiba ia ke rumah saat kita belum sampai." kata Valery.


Susi mengangguk dan mengikuti Valery. Valery membawakan kopernya walaupun tadi Susi sempat menolaknya.


Saat dalam perjalanan, Susi tak henti hentinya menatap wajah Valery. Valery merasakan tatapan itu, membuatnya jadi canggung. Valery sekali sekali memberikan senyum terbaiknya pada Susi. Wanita yang akan menjadi mertuanya nanti.


"Jeffry sangat beruntung memilikimu. Kau sangat cantik nak, dan hatimu tak kalah cantiknya dengan wajahmu." ujar Susi.


"Ibu berlebihan, aku memang sangat sering menolong sesama. Itulah yang selalu diajarkan orang tuaku sebelum mereka meninggal. Dan ibu adalah pengganti ibuku. Aku bahagia bisa merasakan kenyamanan di dekat ibu." jawab Valery.


"Ibu sangat senang bisa memiliki seorang putri sekarang setelah ibu hanya mampu melahirkan 2 orang putra. Dan harus ibu tinggalkan." ujar Susi sedih.


Valery tersenyum. "Akan ada waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Aku yakin, pasti ada jalan keluar buat masalah kalian. Aku ingin kalian bisa berkumpul kembali. Dan ibu harus tahu, sebenarnya Jeffry sangat merindukanmu." kata Valery.


Susi menangis mendengar kata kata Valery. "Jika itu benar, betapa bahagianya ibu nak."


"Jangan menangis ibu, Vale tidak mau kau selalu bersedih." ujar Valery.


"Mbok Karmi, tolong bawa ibu ke dalam kamarnya. Aku mau menghubungi Jeffry terlebih dahulu." pinta Valery.


Mbok Karmi mengangguk dan membawa ibu Susi ke kamarnya untuk beristirahat.


*****


"Halo sayang, ya Tuhan...kau lihat ponselmu, berapa kali aku menghubungimu tapi tak kau angkat. Kau tahu seberapa khawatirnya aku padamu." ujar Jeffry marah.


"Maaf sayang, aku tadi dijalan. Aku baru saja sampai di rumah." jawab Valery.


"Urusan seperti apa sih sampai kau tak bisa mengabariku sama sekali." tanya Jeffry.


"Aku mengendarai mobil sayang, urusanku hanya sebentar tapi kau kan tahu seperti apa jalanan macetnya." jawab Valery. Ia tak bisa memberitahukan apapun pada Jeffry.

__ADS_1


"Baiklah, setidaknya kau sekarang ada di rumah. Kau sudah makan malam atau belum? Aku tak bisa ke rumahmu malam ini. Pekerjaan menuntutku untuk lembur malam ini." ujar Jeffry.


"Sebentar lagi aku akan makan malam, kau juga harus makan Jeff. Tidak apa apa kau tidak bisa menemaniku tapi kau tidak boleh lembur sampai pagi lagi." pinta Valery.


"Iya sayang, aku tak akan sampai pagi. Aku juga harus ke rumah sakit untuk menemani Paul." jawabnya.


"Baiklah...sampai jumpa besok Jeff. Good night." ujar Valery seraya mematikan ponselnya.


Valery menghela nafasnya, untung saja Jeffry tak curiga padanya. Ia masuk kedalam menemui bu Susi. Ia ke kamarnya namun wanita tua itu tak ada, Valery terkejut saat melihatnya di dapur bersama mbok Karmi.


"Ya Tuhan, apa yang ibu lakukan disini?" tanya Valery.


Susi tersenyum. "Pertanyaanmu sangat aneh nak, tentu saja ibu memasak." jawabnya.


"Aku tahu dapur tempat memasak, tapi mengapa ibu melakukannya. Ada mbok Karmi." ujar Valery.


"Maaf non, mbok tak bisa melarang nyonya." ujar mbok Karmi.


"Si mbok panggil bu Susi saja." kata Susi, tapi mbok Karmi tetap menggeleng.


"Ibu lebih baik istirahat, aku tak menyuruh ibu kemari untuk melakukan ini." kata Valery.


"Tidak apa apa nak, lebih baik kau mandi. Ibu tahu kau langsung menjemput ibu tadi." ujar Susi.


Akhirnya Valery mengalah. Ia menghela nafasnya dan meninggalkan mereka di dapur.


*****


Jeffry Sean meminta Ramon mengecek ibunya di hotel Sheraton, tapi ternyata Susi sudah check out tadi sore. Jeffry sangat terkejut dimana ibunya berada, apa wanita itu meninggalkannya kembali. Jeffry kembali menyuruh Ramon mengecek bandara untuk mencari nama Susi di penerbangan ke Kanada. Jeffry sedikit lega, karena wanita itu tak ada di dalam daftar. Artinya ibunya masih di Indonesia.


Entah mengapa sejak kejadian tadi siang ia merasa bersalah pada ibunya. Seburuk apapun wanita itu, ia tetap ibu kandung yang melahirkannya. Saat mata wanita itu terlihat kesedihan yang mendalam, Jeffry justru merasa ada yang salah diantara mereka.


Jeffry membuka laptopnya. Ia membuka email ibunya kembali, ia berkali kali membaca ulang isi email tersebut. Jeffry memejamkan matanya beberapa menit. 2 hari lagi akhir pekan, ia harus menyelesaikan ini semua dengan menemui ibunya. Jeffry membuka matanya, lalu menulis balasan. Ia mengirimkan alamat rumahnya pada Susi. Sudah seharusnya, masalah mereka selama puluhan tahun diselesaikan.


Setelah ia mengirim balasan itu, perasaan Jeffry justru sangat lega. Siap ataupun tidak ia harus menemui wanita itu. Ia menutup laptopnya. Lalu ia bergegas menuju rumah sakit.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...😘😘


__ADS_2