
Jeffry kembali ke rumah sakit, ia berharap tidak bertemu wanita sialan itu lagi, Jeffry mirip sekali maling. Ia melihat kanan kiri dan sekitar rumah sakit agar tak bertemu Sassy. Jeffry bisa bernafas lega karena sampai juga di ruangan rawat adiknya tanpa bertemu Sassy.
"Jeff, ada apa nak? Kau seperti dikejar penjahat." tanya Susi saat melihat Jeffry masuk dengan nafas yang tidak tenang.
"Ini lebih dari penjahat bu, seperti dikejar ular berbisa." jawab Jeffry.
"Di rumah sakit sebersih ini ada ular berbisa? Dimana?" tanya Ana.
Jeffry tertawa. "Sassy." jawab Jeffry datar, lalu mengundang tawa Ana.
Ana sudah tahu siapa Sassy, mengingat kehebohan yang terjadi di perusahaan.
"Siapa itu Sassy?" tanya Susi.
"Wanita gila." jawab Jeffry malas.
Susi kebingungan. "Dimana Vale?" tanyanya lagi.
Jeffry menghela nafasnya. "Gara gara wanita gila itu, Vale marah padaku bu. Ia kembali ke rumahnya. Aku harus menyelesaikannya malam ini juga. Vale salah paham." ujar Jeffry. "Ini makan malam kalian, aku akan ke rumah Vale." sambungnya. Susi masih kebingungan.
"Ibu aku tak ada waktu menjelaskannya. Ana bisakah kau ceritakan pada ibu siapa wanita gila itu?" tanya Jeffry.
Ana mengangguk. "Tentu saja bang, aku akan menceritakannya." jawab Ana.
Jeffry mencium pipi ibunya. "Kalian harus makan, mungkin aku tak kemari lagi. Ibu menginap disini kan?" tanya Jeffry.
Susi mengangguk. "Ibu akan bersama Paul sampai ia sadar disini." jawab Susi.
"Terima kasih bu. Aku berangkat sekarang." jawab Jeffry.
"Jangan buat Vale selalu kesal Jeff." pesan ibunya. Jeffry mengangguk seraya meninggalkan rumah sakit.
*****
__ADS_1
Jeffry belum makan malam sama sekali, ia tak nafsu makan karena masalahnya dengan Valery. Ia berharap Valery bisa membukakan pintu rumahnya. Setengah jam perjalanan menuju rumah kekasihnya terasa sangat lama bagi Jeffry. Pintu gerbang tertutup rapat. Jeffry menekan klaksonnya. Ia menunggu lama, namun wanita itu tak kunjung membuka gerbangnya.
Jeffry menghela nafasnya, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Valery.
"Aku tak ingin bertemu denganmu." bentak Valery setelah ia mengangkat ponselnya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau mau mendengarkanku sayang?" tanya Jeffry.
"Kau selesaikan dulu urusanmu dengan kekasihmu itu." jawab Valery.
"Demi Tuhan Vale, aku tak memiliki hubungan apapun dengan wanita itu. Aku tak bisa menjelaskannya lewat telpon. Aku harus berbicara denganmu langsung." ujar Jeffry.
Terjadi keheningan beberapa saat. "Mengapa wanita itu memanggilmu sayang dan memelukmu juga mengatakan terakhir kali kau marah padanya. Tak mungkin kalian tak saling mengenal kan, kau membohongiku. Apa wanita itu salah satu teman ranjangmu?" tanya Valery.
"Bukalah pintu gerbangnya atau aku akan menabrakkan mobilku ke pintu ini." ancam Jeffry.
"Kau sudah gila Jeff." bentak Valery.
"Ya...kau benar, aku memang gila sekarang. Aku gila karena kekasihku marah padaku." jawab Jeffry sambil berteriak. "Ayolah sayang, kesabaranku mulai habis." ujarnya.
"Aku juga marah karena kau tak mau mendengarkanku." balas Jeffry. "Oh ayolah sayang, maafkan aku. Aku tak ingin kita seperti ini. Baru saja aku menemukan kebahagiaanku lagi dengan ibu." sambungnya melembut.
Pintu gerbang terbuka, Jeffry bernafas lega. Ia mematikan ponselnya dan memasukkan mobilnya lalu memarkirkannya di garasi. Jeffry turun dari mobilnya dan segera masuk ke rumah Valery. Pintu sudah tak terkunci.
"Dimana kau sayang?" tanya Jeffry.
"Masuklah, aku mau makan malam. Aku tahu kau belum makan." teriak Valery.
Jeffry tersenyum mendengar suaranya. Ia menuju meja makan, wanita cantik itu sedang menunggunya. Tapi wajahnya masih ditekuk. Jeffry menghampirinya dan mengecup puncak kepalanya.
"Makanlah, setelah itu baru bahas yang lain." ujar Valery dingin.
"Aku tak ingin makan jika wajahmu masih seperti itu sayang." jawab Jeffry.
__ADS_1
"Terserah, yang lapar juga nanti kau." jawab Valery.
Jeffry menghela nafasnya, ternyata Valery memiliki sikap yang keras. Terpaksa Jeffry ikut makan bersamanya. Dengan susah payah, ia menelan makanannya. Sebenarnya Jeffry masih enggan makan, tapi ia tak ingin menambah kemarahan Valery. Keheningan benar benar terasa di meja makan. Hanya suara dentingan sendok sekali sekali terdengar.
Setelah keduanya selesai, Valery berdiri tanpa sepatah kata pun. Jeffry sudah tak tahan lagi, ia ikut berdiri dan memeluk Valery dari belakang. "Hentikan kemarahanmu, aku tak sanggup menerimanya. Sungguh kau menyiksaku Vale." ujar Jeffry.
"Lepaskan Jeff, kau perlu menjelaskan semuanya." ujar Valery.
Jeffry mengecup leher dan pundak Valery. Valery menahannya. Jeffry mencium titik sensitifnya. "Aku akan menjelaskannya tapi maafkan aku dulu." jawab Jeffry.
Valery melepaskan pelukannya. "Tergantung penjelasanmu." jawabnya seraya melangkah menuju ruang santai.
Jeffry mengikutinya dan duduk berhadapan dengannya. "Aku memang mengenal wanita itu Vale, namanya Sassy. Ia teman SMA ku. Dulu aku memang pernah menyukainya, aku pikir ia adalah cinta pertamaku sebelum bertemu denganmu. Tapi saat aku bertemu dengannya lagi. Entah mengapa perasaanku sudah hilang. Dan aku baru sadar bahwa ia bukan cinta pertamaku, tapi tergolong cinta monyet." ujar Jeffry.
Valery menaikkan alisnya. Ia masih tak menerima penjelasan Jeffry. "Belum menjelaskan semuanya, aku masih tak terima." ujar Valery.
"Aku belum selesai sayang, dengarkan aku. Kau masih ingat saat kau dirawat di rumah sakit. Itulah pertama kali aku bertemu dengannya lagi. Ia menghinaku karena aku hanya seorang supir pribadi. Lalu entah ia tahu darimana aku pemilik perusahaan, ia terus mengejarku, menggangguku sampai di perusahaan. Bahkan ia memaksaku untuk menerimanya sebagai kekasihnya walaupun aku seorang supir. Aku berusaha menghindarinya sayang, aku berniat memberitahumu tapi malah terjadi hal gila di rumah sakit." ujar Jeffry lagi. "Aku baru sadar kalau cinta pertamaku adalah Valery Arnold. Memang terlambat untukku jatuh cinta, tapi itulah kenyataannya. Aku tak ingin kau marah atau membenciku. Aku mencintaimu Vale, hanya dirimu." sambungnya.
"Entahlah aku harus percaya atau tidak, bahkan kau menanggapinya saat di rumah sakit. Kau tak mengejarku saat aku berlari. Aku cukup lama menunggumu di depan rumah sakit. Tapi kau memilih wanita itu." jawab Valery.
"Dengar Vale, saat aku melepaskan pelukannya. Sassy terjatuh dan aku membangunkannya, karena aku pria Vale. Aku harus menjadi gentleman. Aku tak akan menyakiti wanita, itu pengecut. Saat aku ingin mengejarmu, ia sangat erat menahan tanganku. Dan saat aku berhasil lepas darinya dan meninggalkannya saat menangis. Aku sudah kehilanganmu. Aku mencarimu di seluruh area rumah sakit. Bahkan aku pikir kau mau menungguku di taman." kata Jeffry.
Jeffry bersimpuh di depan Valery dan menggenggam tangannya. "Sayang, maafkan aku. Aku salah karena tak menceritakannya terlebih dahulu." ujarnya.
"Apa kau tahu seberapa marah dan cemburunya aku saat wanita itu memelukmu? Aku memintamu hanya mencintaiku, tapi malah ada wanita lain yang memanggilmu sayang." ujar Valery.
Jeffry bangun lalu memeluk Valery. "Aku hanya mencintaimu, saat ini dan selamanya. Aku janji tak ada wanita lain selain dirimu Vale. Mungkin ini tidak tepat." Jeffry kembali berlutut dan mengeluarkan cincin dari sakunya. "Valery Arnold, will you marry me?" tanya Jeffry.
Valery terbelalak. Lamarannya memang tak romantis tapi pria ini benar benar serius padanya. Valery berdiri dan menatap Jeffry.
*****
Akankah Valery menerima lamaran Jeffry.
__ADS_1
Nantikan eps berikutnya.
Happy Reading All...😘