
Keesokan harinya Jeffry menjemput Valery. Ia akan kembali menjadi supir pribadi wanita itu, supir cinta menurut Jeffry. Semalaman ia menunggu Paul Sean di rumah sakit. Adiknya masih tak sadarkan diri. Jeffry sangat takut kehilangan adik satu satunya. Saat yang bersamaan email masuk dari Susi.
Putraku, ibu sudah berada di hotel Sheraton. Tolong beritahu ibu dimana kau tinggal dan dimana adikmu dirawat?
Emailnya sangat singkat. Tapi Jeffry masih enggan membalasnya, ia harus bertanya pada Valery. Dimana sebaiknya mereka bertemu.
"Pagi Jeff, kau melamun." ujar Valery.
"Pagi juga sayang, aku tidak melamun. Hanya sedang memikirkan sesuatu." jawab Jeffry.
"Apa bedanya? Kau sudah sarapan?" tanya Valery.
Jeffry menggeleng. "Aku dari rumah sakit langsung kemari Vale. Kau sendiri apa sudah sarapan?"
Valery juga menggeleng. "Ayo masuk, kita sarapan bersama. Kebetulan aku sudah buat nasi goreng."
"Kau sendiri? Dimana mbok Karmi?" tanya Jeffry.
"Si mbok sedang belanja, jangan kau hina masakanku ya." ujar Valery.
"Seperti apapun rasanya jika berhadapan denganmu, semuanya terasa enak sayang." goda Jeffry.
"Kau selalu saja menggoda." Valery memberinya piring dan mengambil nasi gorengnya. "Banyak atau sedikit?" tanyanya.
"Sedikit dulu Vale, jika enak aku akan menghabiskan semuanya." jawabnya sambil terkekeh.
Valery memberinya sedikit. "Selamat menikmati."
Jeffry mengangguk dan mulai menikmati makanan yang dibuat Valery. Wanita itu bukan hanya cantik, tapi ia juga pintar memasak. "Hem...sangat lezat sayang." ujarnya.
"Kau hanya membuatku senang." jawab Valery.
Jeffry menggeleng, ia melahap nasinya dan mengambil lagi. "Ini benar benar sangat enak."
"Makan pelan pelan Jeff." ujar Valery sambil tertawa melihatnya.
Jeffry benar benar menghabiskan nasi goreng itu. Valery terus menggelengkan kepalanya. "Apa nanti kau tak sakit perut sayang?" tanya Valery.
"Kan ada kau, jadi jika sakit perut maka aku akan meminta bantuanmu." jawab Jeffry.
__ADS_1
"Kau ini, jika kau sakit perut maka aku akan menyuruh mbok Karmi melukis punggungmu dengan uang koin (kerokan)." goda Valery.
Jeffry tertawa. "Maka aku akan menyuruhmu yang melakukannya. Tapi setelah itu kau akan tahu akibatnya." godanya.
Valery membelalakkan matanya. "Pikiranmu sangat kotor Jeff, ayo kita berangkat."
Jeffry mengangguk dan mengantarkan Valery ke perusahaannya.
"Vale, dimana sebaiknya aku menemui ibuku?" tanya Jeffry serius.
"Bawa ia ke rumahmu Jeff. Perasaanku kalian akan menemui titik dimana kesalahpahaman itu bisa diperbaiki. Rumahmu adalah yang lebih tepat." jawab Valery.
"Tidak, aku tak ingin rumahku dikotori oleh jejak kakinya." kata Jeffry kasar.
"Jeff, kau tak bisa seperti ini. Kau bisa mencaci maki ibumu jika semua penjelasannya tidak masuk akal. Dan kau beruntung Jeff masih memiliki seorang ibu." ujar Valery sedih.
Jeffry menghela nafasnya. "Maafkan aku sayang, aku hanya belum siap."
"Kalau seperti itu katakanlah terus terang pada ibumu, jika kau belum siap menemuinya. Biarkan ibumu menunggu, tapi setidaknya izinkan ia melihat Paul. Bagaimanapun ia seorang ibu." kata Valery.
"Ibu macam apa yang meninggalkan anak kandungnya yang masih kecil kecil Vale." jawab Jeffry.
"Ibuku memang sangat baik sebelum ia meninggalkan kami. Aku menyerah, aku tak mau berdebat denganmu. Lebih baik kita bicarakan hal tentang kita saja." ujar Jeffry. "Apakah perusahaan kita bisa bekerjasama? Aku pikir lebih baik kita menyatukan 2 perusahaan yang sama sama kuat."
Valery terkejut dengan pernyataan Jeffry. "Aku sangat senang Jeff, tapi tidak sekarang."
"Kenapa?" tanya Jeffry.
"Karena aku tak ingin membebanimu Jeff, biarkan perusahaanku berdiri sendiri dulu." jawab Valery.
"Baiklah sayang, aku tak akan memaksamu. Tapi kapanpun kau butuh bantuan dariku, aku mohon jangan sungkan sungkan mengatakannya. Dan jika kita menikah nanti, aku ingin kau tak bekerja. Serahkan semuanya padaku." ujar Jeffry.
"Bagaimana mungkin aku meninggalkan perusahaan yang aku bangun selama puluhan tahun Jeff." jawab Valery.
"Jadi kau akan terus bekerja walaupun suamimu sudah cukup memberimu nafkah? Kalau begitu jangan menikah, hiduplah terus seperti ini." kata Jeffry kesal.
Valery menghela nafasnya, ia sama sekali belum pernah menata masa depannya. Jadi ia sendiri masih ragu apa yang ingin ia lakukan nanti.
Keduanya sudah sampai di perusahaan Valery. Jeffry membukakan pintu Valery, tapi ia langsung meninggalkannya tanpa mengatakan apapun. Jeffry sangat marah pada sikap Valery.
__ADS_1
Maafkan aku Jeff, aku akan memikirkannya. Aku mohon beri aku waktu. gumam Valery saat melihat mobil Jeffry yang semakin menghilang.
*****
Sassy sedang menunggu kedua orangtuanya melakukan check up terakhir karena hari ini ibunya akan kembali ke rumah. Ia sudah mencari cari alamat Jeffry Sean, tapi justru yang terlihat di media alamat Jeffry Sean pengusaha kaya, tanpa foto satu pun. Sassy sama sekali tak bisa menemukan alamat Jeffry yang hanya seorang supir.
"Nama yang kebetulan sama atau orang yang sama?" tanya Sassy pada diri sendiri. "Tak ada profil pribadi apapun, disini hanya penjelasan kesuksesannya saja. Aku jadi penasaran. Haruskah aku ke perusahaan ini, dan menemukan jawabannya. Tapi saat terakhir aku bertemu dengan Jeffry, penampilan pria itu memang sangat mahal, tak mungkin jika ia hanya seorang supir. Baiklah aku akan membuktikannya sendiri." sambungnya.
"Apa yang kau gumamkan sayang?" tanya Marina.
"Tidak ada mi, mami sudah selesai? Apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Sassy balik.
Kedua orangtuanya mengangguk. "Syukurlah, terima kasih Tuhan." ujar Sassy bersyukur.
Akhirnya ketiganya kembali ke rumah mereka. Di perjalanan Sassy menanyakan banyak hal pada ayahnya.
"Pi, apa papi tahu PT. Sean Permata?" tanya Sassy.
"Tentu saja papi tahu, perusahaan terbesar di Jakarta. Mengapa kau menanyakannya?" tanya Petter.
"Apa papi pernah melihat pemiliknya, Jeffry Sean?" tanyanya lagi.
Petter menggeleng. "Siapapun tak akan tahu siapa itu Jeffry Sean. Pria itu penuh misteri Sassy. Jangan pernah berurusan dengannya. Papi dengar pria itu akan merusak reputasi dan menghancurkan bisnis siapapun yang berani mengganggunya."
Sassy bergidik tapi ia sangat penasaran siapa sebenarnya Jeffry Sean. "Menurut papi mungkinkah ada dua atau lebih nama orang di Jakarta ini yang sama persis?"
Petter mengedikkan bahunya. "Mungkin saja Sassy, namamu saja banyak sekali diluaran."
"Teman SMA Sassy namanya Jeffry Sean pi, tapi saat di rumah sakit katanya ia seorang supir pribadi. Apa itu benar, sedangkan penampilannya sangat mahal." ujar Sassy.
"Jika supir ya supir, mengapa tiba tiba menjadi pria pemilik perusahaan, mami rasa hanya kebetulan namanya sama saja." ujar Marina.
Sassy mengangguk anggukkan kepalanya. Apa ia bisa menemui pria itu di perusahaannya. Melihat profil yang begitu ketat, tak mungkin semudah itu ia bisa menemuinya. Ia akan mencari tahu dengan cara apapun untuk menemukan Jeffry Sean.
*****
Happy Reading All...😘😘
See you next time...
__ADS_1