AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 15


__ADS_3

Seminggu setelah kepulangan Valery dari rumah sakit, Jeffry semakin dekat dengannya. Bahkan saat pertemuan maupun pesta bisnis. Valery mengajak Jeffry sebagai pasangannya. Untunglah tidak ada yang mengenali Jeffry sebagai pemilik PT. Sean Permata, karena Valery mengenalkannya sebagai Jecko. Dan juga Jeffry memang tak pernah menunjukkan identitas aslinya pada rekan bisnis manapun. Jeffry selalu berada di belakang Ramon sebagai asisten sekaligus juru bicaranya.


"Terima kasih untuk hari ini Jeck, kau benar benar terlihat tampan menggunakan jas itu." ujar Valery saat keduanya selesai menghadiri pesta dan menuju rumah Valery.


"Kembali kasih Vale, kau yang membuatku seperti ini. Dan aku rasa kau akan malu jika mereka mengetahui pasangan pestamu adalah supir pribadi." jawab Jeffry.


"Aku tak perduli Jeck, aku nyaman bersamamu. Jadi pekerjaan apapun yang kau lakukan, jika masih dijalan yang baik untuk apa aku malu." kata Valery.


Jeffry tersenyum mendengar ucapannya. "Kau jangan terlalu lelah bekerja Vale, ingat seminggu yang lalu saat kau dirawat."


Valery mengangguk. "Kau selalu memperhatikanku, terima kasih."


Tak terasa keduanya sudah sampai di rumah Valery. Valery menatap wajah Jeffry. Tiba tiba ia mencium pipi Jeffry. "Sekali lagi terima kasih untuk malam ini."


Jeffry membelalakkan matanya. Ia ingin sekali mencium wanita itu. Jeffry menatap wajah Valery yang memerah karena malu atas perbuatannya. Jeffry membuka sitbelt nya, dan mencondongkan tubuhnya mendekati Valery. "Jika kau sangat berterima kasih, maka jangan marah jika aku melakukan ini."


Jeffry menarik tengkuk leher Valery lalu mencium bibirnya. Valery yang tadinya terkejut akhirnya menerima ciuman itu, ia memejamkan matanya dan menikmati setiap sentuhan Jeffry. Bibir Valery memang tak pernah tersentuh pria manapun. Dan inilah ciuman pertama bagi Valery. Suara nafas wanita itu semakin memburu.


Jeffry terus menciumnya sampai akhirnya pria itu kembali sadar dan segera menghentikannya, jika tidak ia bisa menodai Valery di dalam mobilnya.


Jeffry memang tak memiliki kekasih sejak lulus sekolah, tapi permainannya di ranjang tidak bisa diragukan lagi. Ia sangat sering melampiaskannya pada wanita penghibur, namun sudah hampir satu tahun ia tak pernah menyentuh wanita lagi karena semakin sibuk bekerja.


Jeffry menempelkan keningnya dengan kening Valery, keduanya masih mengatur nafas masing masing.


"Maafkan aku Vale, aku terbawa suasana." ujar Jeffry.


Valery masih terdiam, ia masih tak mempercayai apa yang barusan ia lakukan, ini ciuman pertamanya dan supir pribadinya yang mengambilnya. Parahnya lagi ia menikmatinya tanpa menolak sedikitpun. Valery membuka pintu mobilnya, ia segera keluar. Ia takut perasaannya kali ini tak terbalas, ia mulai menyukai Jeffry. Dan pria itu mungkin hanya melampiaskan hasratnya.


Jeffry mengejarnya. "Tunggu Vale, kita perlu bicara." teriak Jeffry.


"Tidak Jecko, aku lelah. Kau hati hati dijalan." jawab Valery, ia segera membuka pintu rumahnya. Namun Jeffry tak membiarkannya, ia menarik tangan Valery.

__ADS_1


"Jangan kau hukum aku seperti ini, maaf atas apa yang aku lakukan tadi Vale. Dengarkan aku." Jeffry memegang kedua bahu Valery, matanya menatap mata Valery dengan lekat. "Tadi bukan sebuah kesalahan, tapi tadi aku sangat menginginkannya. Aku menginginkanmu, aku menyukaimu Vale. Pikirkan kata kataku, jika kau tak mau menerima perasaanku, maka kau boleh memecatku." ujar Jeffry.


Akhirnya ia bisa mengungkapkan semua isi hatinya. Mata Valery tiba tiba berkaca kaca, wanita itu menangis lalu memeluk Jeffry dengan sangat erat. Jeffry bingung mengapa Valery menangis. Ia mengelus punggung wanita itu yang terbuka karena gaunnya yang rendah. Kulitnya sangat lembut, membuat Jeffry semakin menginginkannya.


"Ya Tuhan, aku tak bisa menahannya Vale." ujarnya seraya membopong tubuh Valery dan membawanya masuk.


Jeffry menendang pintu kamar Valery, dan merebahkan wanita itu di ranjangnya. "Jangan menangis, kau percaya kan denganku."


Valery mengangguk, ia juga menginginkan Jeffry saat ini. Jeffry menyukainya dan Valery juga memiliki perasaan yang sama pada pria itu. Walaupun mereka kenal baru setengah bulan, namun Valery sangat nyaman dengannya.


Jeffry menciumnya lagi dan merebahkan tubuh Valery keatas ranjangnya, pria itu berada diatas tubuh Valery. Valery terkejut namun ia membiarkannya karena menginginkannya juga. Jeffry meraba punggung Valery, ia mencari riseleting gaunnya.


Jeffry membuka riseleting tersebut, dan meraba punggung Valery yang terbuka. Jeffry mulai memberanikan diri melakukan hal lain. Tapi tiba tiba ponselnya berdering.


"Sialan..." gumamnya. Ia mengabaikan ponsel tersebut, tapi suara ponselnya terus berdering.


"Jeck...angkatlah...aku bisa menunggu." ujar Valery yang masih mengatur nafasnya.


"Jeff, Paul kecelakaan. Ia menabrak bahu jalan di tol Cipali. Keadaannya sangat parah, kau bisa ke rumah sakit pertamina sekarang." ujar Ramon.


Jeffry menjatuhkan ponselnya. Melihat hal itu, Valery membungkus tubuhnya dengan selimut dan mendekati Jeffry.


"Ada apa Jeck?" tanya Valery.


"Maafkan aku Vale, aku harus segera pulang." jawab Jeffry. Ia mencium kening Valery lalu segera meninggalkannya tanpa menengok ke belakang.


Valery merasa dihina karena Jeffry memperlakukannya seperti wanita murahan yang seenaknya saja ditinggalkan dalam keadaan nyaris telanjang.


*****


Jeffry memacu sepeda motornya menuju rumah sakit, ia semakin menggila mendengar adiknya kembali kecelakaan. Ia tak memperdulikan jalanan yang ramai. Klaksonnya terus dibunyikannya. Bagaimana ia bisa menghadapi semua ini. Satu jam kemudian, ia sampai di rumah sakit. Ia segera menuju UGD.

__ADS_1


"Dimana pasien kecelakaan Paul Sean?" tanyanya pada suster sambil ngos ngosan.


"Kami sudah memindahkan ke ruang ICU pak." jawab suster itu.


Jeffry segera menuju ruang ICU, disana sudah ada Ramon dan sekertarisnya Ana. Bagaimana sekertarisnya ada disana, Jeffry tidak memikirkannya lebih jauh lagi.


"Mon, bagaimana Paul?" tanya Jeffry.


"Bersabarlah, dokter sedang melakukan operasi." jawab Ramon.


"Operasi apa maksudmu Mon." bentak Jeffry.


"Luka di kepalanya sangat parah Jeff, kau tenanglah. Polisi sedang menyelidiki apa yang terjadi di TKP. Mereka juga sedang memeriksa keadaan mobilmu Jeff." ujar Ramon.


"Bagaimana Paul bisa berada di tol Cipali? Apa yang ia lakukan disana Mon?" teriak Jeffry.


"Maafkan aku pak, ini salahku. Aku penyebab Paul kecelakaan." jawab Ana.


Jeffry bingung dengan perkataan Ana. "Kau penyebabnya, aku semakin tak mengerti."


"Tenanglah Jeff, ini rumah sakit. Aku akan menceritakan semuanya jika kita sudah tahu keadaan Paul." ujar Ramon.


Jeffry menghempaskan tubuhnya di kursi tunggu, ia memegang kepalanya yang semakin sakit. Ia juga memikirkan bagaimana perasaan Valery yang ditinggalkannya begitu saja.


"Ya Tuhan, semuanya kacau. Sekarang ada fakta baru tentang sekertaris dan adiknya". pikiran Jeffry berkecamuk.


Ruang ICU masih tertutup rapat. Ia terus menatap lampu operasi yang berwarna merah. Ia juga menatap Ana yang tak berhenti menangis. Ada hubungan apa antara Ana dan Paul, mengapa ia sama sekali tidak mengetahuinya. Umur Ana lebih tua 2 tahun dari Paul. Jeffry memejamkan matanya, ia berusaha terus tenang sambil menunggu keadaan adiknya.


*****


Happy Reading All...😘😘😘

__ADS_1


Dukung, Like n Komen terus ya...


__ADS_2