AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 38


__ADS_3

Sassy meninggalkan hotel secara diam diam dengan perasaan yang sakit begitu dalam. Pria itu masih tertidur dengan lelap saat Sassy pergi. Sassy sekarang sudah tidak perduli lagi apa ia masuk penjara atau tidak. Karena ia merasa dipermainkan oleh Samuel.


Mereka berkali kali melakukannya dalam semalam tanpa pengaman, Sassy yakin sudah ada benih yang tertanam dalam rahimnya. Air matanya mengalir dengan deras saat ia mengendarai mobilnya. Dan saat itu terlintas untuknya bunuh diri, ia menekan pedal gasnya dengan keras. Menambah kecepatan yang tinggi, ia sudah tidak ingin hidup lagi. Tepat sudah di depan mobilnya ada mobil truk besar.


Sassy menambah kecepatannya lagi dan mengambil jalur kanan.


Braaaaakkkk.... suara benturan keras terdengar, kecelakaan pun terjadi membuat mobilnya ringsek.


*****


Samuel terbangun dari tidurnya dan mendapati sudah tidak ada wanita itu lagi, Samuel segera keluar dan mencarinya namun sudah tak ada lagi.


Sialan dimana wanita itu. gumamnya.


Samuel mengambil kunci mobilnya dan menelusuri jalan mencari keberadaan Sassy, lalu terkejut saat melihat ada kecelakaan hebat di depannya. Samuel menepikan mobilnya dan menghampiri kerumunan tersebut. Kakinya berubah lemas saat melihat siapa yang sedang ditandu menuju mobil ambulan.


"Sassy..." teriak Samuel. "Apa yang terjadi, bangunlah." teriaknya lagi membuat semua orang terkejut melihatnya. Wanita itu sudah berlumuran darah. "Tidak, tidak mungkin...Sassy..." teriak Samuel.


Samuel mengikuti mobil ambulan menuju rumah sakit, ia ingin tahu keadaan wanita itu sebenarnya. Sassy dibawa keruang UGD.


Ya Tuhan, apa ini? Kami baru saja menghabiskan malam bersama, lalu mengapa terjadi kecelakaan ini. Aku baru menyadari, aku menyukai wanita itu. gumam Samuel.


Ada beberapa polisi menghampirinya. "Selamat malam pak, apakah anda keluarga korban kecelakaan." tanya polisi itu.


Samuel menggeleng. "Aku bukan keluarganya, aku hanya temannya." jawabnya.


"Lalu apa anda tahu dimana keluarganya?" tanya polisi lagi, Samuel kembali menggeleng. "Bagaimana anda bisa berada di lokasi kejadian?" tanya polisi lagi.


"Wanita itu mengunjungi hotel tempatku menginap. Ia pamit pulang tapi perasaanku tidak enak, jadi aku mengejarnya. Tapi malah terjadi seperti ini." jawab Samuel tidak sepenuhnya berbohong.


"Baiklah, kami akan menghubungi keluarganya. Tapi kami harap anda tetap disini sampai keluarganya datang." pinta polisi.


Samuel mengangguk tanda setuju. Ia memejamkan matanya dan mengusap rambutnya karena frustasi.


*****


Satu jam kemudian, pria dan wanita paruh baya datang bersama menghampiri Samuel. Pria itu mencengkram kerah Samuel.

__ADS_1


"Jadi kau penyebab kecelakaan ini?" bentak Petter sedangkan Marina sudah menangis. "Kau kan pria yang mengancam putriku." sambungnya.


Samuel berusaha melepaskan cengkraman tangan pria itu. "Aku tak melakukan apapun pada putrimu." jawab Samuel.


Marina melerai mereka. "Kalian hentikan, ini rumah sakit dan Sassy masih ditangani." bentaknya.


Petter melepaskan cengkramannya. "Kau jangan coba coba kabur dari sini sampai putriku sadar. Jika tidak, kau akan menerima akibatnya." ancamnya.


Sialan semua rencanaku mengapa jadi berantakan seperti ini, jika saja perasaanku tidak tiba tiba muncul. Aku sudah meninggalkan wanita itu. Sassy malah mengadu pada orang tuanya, bagaimana aku bisa mengancamnya. gumam Samuel.


Semuanya menunggu keadaan Sassy di rumah sakit dengan cemas.


*****


Jeffry sampai di rumah Valery lagi, ia segera masuk dan kembali ke kamar kekasihnya. Valery terlelap, wanita itu sangat menggemaskan bagi Jeffry. Jeffry mendekatinya dan mengelus pipinya lalu mencium keningnya.


"Selamat tidur sayang." bisik Jeffry lalu ia ikut naik diatas ranjang tersebut dan tertidur sambil memeluk Valery.


Jangan tinggalkan Vale, bagaimana Vale bisa hidup tanpa kalian, ayah ibu Vale mohon bangunlah... Vale membutuhkan kalian berdua. Ayah...Ibu...teriak Valery.


"Sayang, bangunlah. Kau bermimpi buruk, Vale bangunlah sayang." ujar Jeffry.


Valery terbangun, nafasnya tak beraturan. Setelah ia sadar ada Jeffry, wanita itu memeluknya dengan erat sambil menangis.


"Ssssttt... Aku disini sayang, kau hanya mimpi buruk." ujar Jeffry menenangkan.


"Apa ayah dan ibu marah karena aku tak memikirkan mereka, aku hanya bersenang senang denganmu." tanya Valery sambil menangis.


"Hei, siapa yang bilang kau tidak memikirkan mereka. Aku janji padamu sayang, sebentar lagi kita akan mengetahui siapa pelakunya. Kau tenang saja." ujar Jeffry.


Valery mengangguk. "Kapan kau kembali?" tanyanya.


"Sekitar 2 jam yang lalu, ayo kita tidur lagi. Ini masih jam 4 pagi sayang." perintah Jeffry.


"Bagaimana keadaan Paul?" tanya Valery lagi.


"Aku kasihan pada ibu dan Ana. Paul hanya mengenaliku dan hanya mengingat masa kecilnya." jawab Jeffry.

__ADS_1


Valery terkejut. "Maksudmu, Paul mengalami amnesia?" ujarnya.


Jeffry mengangguk. "Bukankah semalam aku sudah mengatakannya. Tapi itu bersifat sementara sampai trauma akibat kecelakaannya hilang." jawabnya, lalu menggenggam tangan Valery dan menatapnya. "Vale, maukah kau menunggu pernikahan kita sampai Paul sembuh." pintanya.


"Ya Tuhan, tentu saja sayang kita harus melakukannya setelah Paul sembuh, aku tak keberatan jika aku menundanya walaupun aku hamil nanti. Dan semalam mungkin aku tak terlalu ingat kalau kau mengatakan Paul amnesia." jawab Valery.


Jeffry terbelalak, ia lupa akan konsekuensi perbuatan mereka. "Kalau begitu tidak ada penundaan sayang, kita akan menikah dan mendaftarkan pernikahan kita secepatnya. Yang akan kita tunda adalah resepsinya." ujar Jeffry berubah pikiran.


"Tapi Jeff." jawab Valery.


"Tidak ada kata tapi, kita akan melakukan pernikahan sakral bersama keluarga dekat saja lusa. Aku tak ingin mengambil resiko kau hamil di luar nikah." kata Jeffry.


Mendengar perkataan Jeffry seperti itu membuat hati Valery bahagia. Ia memeluk Jeffry dengan sangat erat. "Kau selalu memikirkan segalanya Jeff." ujarnya.


"Tentu saja sayang, akan aku lakukan apapun untukmu. Maafkan aku tadi tidak memikirkan kemungkian kau hamil karena percintaan kita." jawab Jeffry.


Valery hanya mengangguk. "Lebih baik pagi ini kita ke rumah sakit terlebih dahulu. Aku tak ada meeting pagi ini." ujarnya.


"Bukankah kau selalu menunjukkan kedisiplinan pada karyawanmu?" goda Jeffry.


"Ada pengecualian setelah aku mengenalmu Jeff. Bahkan aku sudah menyerahkan kesucianku yang aku jaga selama bertahun tahun." jawab Valery.


Jeffry memegangi pipinya dan menciumi wajah Valery. "Aku menginginkanmu terus sayang, tapi aku tak ingin menyakitimu lagi malam ini. Kita akan melakukannya setelah kita menikah. Dan jangan harap kau bisa turun dari ranjang." goda Jeffry lagi.


"Ya Tuhan Jeff, kau gila." ujar Valery sambil tertawa.


Jeffry mencium bibir Valery. "Besok kita ke rumah sakit, sekarang kita tidur lagi. Masih ada waktu untuk beristirahat. Dan kau jangan memikirkan apapun soal Samuel, aku yang akan mengurusnya." ujar Jeffry.


Valery tersenyum dan mengangguk. Ia merebahkan tubuhnya di pelukan Jeffry dan mulai terlelap kembali.


*****


Happy Reading All...😘


Maaf atas keterlambatan up. Author sibuk mempersiapkan natal dan tahun baru.


Author juga tak bisa up banyak dalam sehari. Mohon untuk pengertian kalian...🙏

__ADS_1


__ADS_2