
Keesokan harinya, Jeffry dan Valery sampai di rumah sakit. Dokter yang menangani Paul mengatakan sore ini Paul sudah bisa pulang ke rumah. Susi sama sekali tak pernah meninggalkan putranya itu, sedangkan Ana lebih memilih menjauhi Paul sampai ia bisa mengingatnya. Jeffry memahami apa yang Ana rasakan, jadi ia mengizinkan Ana untuk fokus pada pekerjaannya saja.
"Bu, besok aku akan menikahi Valery." ujar Jeffry tiba tiba.
Susi terkejut. "Mengapa terburu buru Jeff, persiapan pernikahan itu harus matang." jawab Susi.
"Jeffry hanya ingin mengambil sakralnya dulu bu, baru kita adakan resepsi setelah Paul sembuh." kata Jeffry.
"Tapi nak, bagaimana pun Valery adalah wanita yang ingin dinikahi secara terencana, bukan dadakan seperti ini." ujar Susi.
"Tapi Vale setuju bu." jawab Valery.
Susi terkejut kembali, ia menatap keduanya secara bergantian. Susi akhirnya menyerah.
Mereka sepertinya sudah melakukan hubungan terlarang sebelum menikah. pikir Susi.
"Baiklah, tapi tidak besok Jeff. Walaupun hanya acara di gereja, tapi kita harus mempersiapkannya dengan matang." ujar Susi.
Jeffry memeluk ibunya. "Ibu tenang saja, persiapannya sudah semua. Aku sudah membayar WO terbaik. Jadi besok tinggal hadir saja, bahkan baju pengantin dan pendamping pun sudah Jeffry siapkan." jawab Jeffry.
"Kapan kau menyiapkannya?" tanya Valery karena ia pun tak tahu tentang semua itu.
"Tadi pagi pagi sekali sayang, aku juga meminta bantuan Ramon dan istrinya." jawab Jeffry. "Kau percaya saja padaku." sambungnya.
Valery hanya mengangguk, Susi pun tak bisa berkata apa apa lagi. Ini sudah menjadi pilihan putranya. Melihat Susi terdiam, Jeffry menggenggam tangannya.
"Percayalah apa yang Jeffry lakukan bu, bukan karena tak mempercayai ibu." ujar Jeffry.
Susi mengangguk lalu memeluk putranya. "Ibu percaya padamu nak. Lakukanlah yang terbaik buat kalian berdua." jawabnya.
Jeffry dan Valery mengangguk. Keduanya pamit kembali ke kantor masing masing.
*****
Ramon mengunjungi kantor Jeffry, selain persiapan pernikahan yang sudah matang, ia juga membawa kabar tentang Samuel.
"Jeff, apa kau sibuk?" tanya Ramon.
"Masuklah Mon, kau tidak seperti biasanya saja." jawab Jeffry.
Ramon masuk dan tertawa. "Yah, aku pikir kau membawa calon istrimu kemari." goda Ramon.
__ADS_1
"Kau gila, Vale juga punya perusahaan yang harus diurus. Bagaimana persiapannya?" tanya Jeffry.
"Sudah hampir selesai Jeff, istriku yang terbaik dalam segalanya." jawab Ramon.
"Terima kasih, kalian sangat membantuku." ujar Jeffry.
"Aku memiliki kabar baik, tapi kabar ini justru membuatku takut mengganggu pernikahan kalian. Jadi akan aku katakan setelah kalian menikah saja." ujar Ramon.
"Sialan, kau mengejekku Mon. Kau kan tahu aku paling tidak suka penasaran." ujar Jeffry.
Ramon tertawa lagi. "Ini tentang Samuel dan wanita yang tergila gila padamu." jawab Ramon.
"Maksudmu Sassy? Apa hubungan keduanya?" tanya Jeffry.
"Santai bro, kau terburu buru." jawab Ramon.
Jeffry menutup dokumennya dan menatap tajam Ramon. "Kau banyak basa basi Mon. Cepat katakan." perintahnya.
"Samuel memiliki hubungan dengan Sassy. Aku melihat Sassy masuk ke dalam hotel bersama Samuel." jawab Ramon.
Jeffry terbelalak. "Kau yakin tidak salah lihat kan Mon? Kapan mereka saling mengenal?" tanya Jeffry bingung.
"Sialan, aku cekik kau Mon. Aku sedang serius." bentak Jeffry.
"Oke... Oke... Maaf. Baiklah aku jelaskan. Sepertinya ada sesuatu diantara mereka berdua. Melihat dari penyelidikanku, keduanya baru saja saling mengenal Jeff. Tapi sepertinya Samuel tak membiarkannya begitu saja, kau tahu lah bagaimana pria ******** wanita itu. Mereka pasti tidur bersama, mengingat orang yang aku suruh menunggunya disana mengatakan wanita itu keluar dari kamar itu terburu buru dengan rambut basah dan sudah jam dini hari. Tapi aku belum mendapat jawaban atas hubungan mereka. Entah mengapa aku memiliki firasat jika ini ada hubungannya dengan kecelakaan orangtua Vale." ujar Ramon panjang lebar.
"Maksudmu diantara mereka ada pelaku tabrak lari?" tanya Jeffry.
Ramon mengangguk. "Sassy sangat menginginkanmu Jeff, tak mungkin hanya dalam satu hari ia berpaling pada pria lain. Ini pasti ada sesuatu." jawab Ramon.
"Sassy pelakunya? Itu maksud ucapanmu?" tanya Jeffry lagi.
Ramon kembali mengangguk. "Tapi jangan cepat mengambil kesimpulan Jeff. Kita harus selidiki secara teliti tentang masalah ini." jawab Ramon lagi.
"Baiklah, kerja bagus Mon. Aku tunggu kabar baiknya. Jika memang Sassy benar benar pelakunya, maka aku tak akan membuatnya bebas begitu saja. Aku akan meminta pertanggungjawabannya di mata hukum." ujar Jeffry.
"Baiklah, sudah saatnya aku kembali bekerja lagi. Proyek berlian Malaysia hampir mencapai kesepakatan Jeff. Aku harap kau bisa hadir saat penandatanganan kontrak bulan depan." ujar Ramon.
"Tentu saja aku akan hadir, itu proyek terbesar kita selanjutnya Mon." jawab Jeffry.
Ramon mengangguk dan pamit kembali ke ruang kantornya.
__ADS_1
*****
Keadaan Sassy semakin memprihatinkan, wanita itu dalam keadaan koma sekarang. Samuel merasa bersalah atas kejadian tersebut, menurut investigasi kepolisian Sassy sengaja menabrakkan mobilnya ke truk dengan kecepatan tinggi.
Kabar tersebut membuat semuanya syok terutama Marina, bahkan wanita paruh baya itu harus menjalani perawatan karena penyakitnya kambuh. Samuel bingung harus apa, ia terus disalahkan Petter.
"Kau lihat kan akibat ulahmu." bentak Petter.
"Aku sama sekali tak berbuat apapun, kami hanya bertemu dan mencari kesepakatan." jawab Samuel.
Petter kembali menarik kerah Samuel. "Kau menodai putriku kan? Aku tahu seperti apa pria sepertimu." ujarnya.
Samuel hanya terdiam sampai Petter kembali melepaskannya.
"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada putriku. Aku yakin Sassy ingin bunuh diri karena ancamanmu. Ia sangat takut masuk penjara." bentak Petter lagi.
Samuel tersenyum sinis. "Kau menutupi kejahatan putrimu sendiri, ia membunuh 2 orang di jalan. Mengapa kau malah membelanya." ujar Samuel.
Petter naik pitam, ia memukul wajah Samuel hingga tersungkur. "Kau tak pernah merasakan menjadi orangtua, Sassy putriku satu satunya, apapun akan aku lakukan termasuk melindunginya." bentak Petter.
"Melindunginya dari kejahatannya sendiri, orangtua macam apa itu." teriak Samuel.
Petter ingin memukulnya lagi, beruntung suster melerai mereka.
"Hentikan, ini rumah sakit. Tolong jaga prilaku kalian atau keluar dari sini." teriak suster.
Petter melepaskan Samuel. Ia meninggalkannya menuju ruang rawat istrinya. Sementara Samuel meringis memegang wajahnya yang kesakitan.
Sialan, aku di depan pria itu seperti pecundang. Lihat saja pembalasanku. gumam Samuel.
******
Sementara orang suruhan Ramon tersenyum, ia mendapatkan informasi dengan cepat. Selain Sassy kecelakaan dan koma, wanita itu ternyata penyebab kecelakaan. Pria itu segera menghubungi Ramon dan memberitahu semua kebenarannya.
*****
Bagaimana kisah selanjutnya, akankah Valery memaafkan Sassy karena wanita itu sedang koma? Atau Valery tetap melanjutkan kasusnya karena penyebab kematian orangtuanya sudah ditemukan.
Tunggu up selanjutnya ya...
Happy Reading All...😘
__ADS_1