AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 46


__ADS_3

Jeffry sampai di perusahaannya, Ana segera masuk ke kantornya dan menyerahkan berkas yang sudah di revisi. Ia sangat malu menghadapi atasan sekaligus kakak dari kekasihnya itu.


"Kau kenapa?" tanya Jeffry.


Ana menggeleng. "Tidak apa apa pak." jawabnya. "Aku permisi keluar pak." sambungnya.


"Silahkan, setengah jam lagi kita menemui Paul. Kau jangan menolak, ini perintah sebagai atasan dan calon abangmu." ujar Jeffry membuat Ana semakin malu.


Ana mengangguk lalu keluar dari kantornya. Jeffry membaca dengan detil setiap berkas yang dibuat Ana, ia tak ingin melakukan kesalahan untuk istrinya. Dan Jeffry sangat puas dengan hasil yang dibuat sekertarisnya itu. Ia menghubungi Ramon untuk segera menemuinya.


Sepuluh menit kemudian, Ramon masuk ke kantornya. "Ini berkas untuk rapat besok di perusahaan Valery. Bacalah...!!!" perintahnya.


Ramon mulai membaca berkas tersebut lalu mengangguk. "Cukup bagus, hanya saja aku akan memperbaikinya sedikit agar lebih sempurna pak." ujar Ramon.


"Itulah mengapa aku memanggilmu Mon, ada satu hal lagi yang ingin aku katakan. Setelah penyatuan perusahaan kita selesai, aku ingin kau menjadi Direktur di perusahaan istriku. Aku ingin kau yang memegang perusahaan itu." ujar Jeffry.


Ramon terbelalak, ia tak menyangka akan menjadi seorang Direktur disana. "Kau tidak salah makan kan pak?" tanya Ramon masih tidak percaya.


Jeffry tertawa. "Kau orang yang paling aku percaya Mon, dan aku yakin kau bisa menanganinya. Aku masih membutuhkanmu." ujarnya.


"Tentu saja aku akan menjaga kepercayaanmu pak Jeffry. Ini adalah kado buat istriku yang sebentar lagi akan melahirkan. Terima kasih banyak pak Jeff." ujar Ramon.


Jeffry kembali tertawa. "Entah mengapa aku sangat canggung saat kau memanggilku pak Jeffry." ujarnya.


Ramon tertawa. "Aku tak ingin mencampur adukkan persahabatan kita dengan pekerjaan pak, aku akan memanggil anda pak Jeffry selama bekerja." jawabnya.


"Baiklah, kurasa sudah cukup. Aku dan Ana akan pulang lebih cepat hari ini. Aku ingin Ana menemui Paul. Aku ingin adik nakalku itu segera mengingat semuanya. Dan aku bisa mengadakan acara resepsi sungguhan. Aku tak ingin Valery kecewa atas pernikahannya. Aku serahkan kantor hari ini padamu Mon." ujar Jeffry.


Ramon mengangguk. "Tentu saja, kau tak perlu khawatir. Aku juga berharap Paul segera ingat semuanya." jawab Ramon, ia pamit keluar dan Jeffry bersiap siap juga untuk pulang.


Jeffry menghampiri Ana. "Sudah siapkah?" tanyanya.


Ana mengangguk lalu mengikuti langkah Jeffry menuju lift dan keluar perusahaan menuju rumah besar Jeffry Sean untuk menemui Paul Sean kekasihnya yang sudah lama ia hindari.


*****


Dua jam yang melelahkan bagi keduanya untuk sampai di rumah Jeffry, kemacetan ibukota semakin parah membuat Jeffry sangat kesal.


Keduanya turun dan masuk kedalam, wajah Ana berubah menjadi pucat. Jeffry memperhatikan itu.


"Ana, kau bisa tenang kan. Paul pasti mengenalimu, ia mulai mengingat sedikit sedikit." ujar Jeffry.


Ana mengangguk, ia melihat Susi sedang duduk di ruang santai. Saat Susi melihat Ana, ia langsung memeluk wanita itu.


"Ya Tuhan sayang, kau semakin kurus. Mengapa baru datang sekarang?" tanya Susi.


"Aku belum siap bertemu Paul lagi bu." jawab Ana.


"Kalian mengobrol lah, aku akan memanggil Paul." ujar Jeffry dan keduanya mengangguk.


Jeffry memanggil adiknya di kamar. Paul lebih banyak di kamar setelah kehilangan ingatannya. Ia terus berusaha mengingat ingat setiap kejadian yang ia alami.

__ADS_1


"Jangan berpikir terlalu keras Paul. Itu akan membuatmu sakit kepala." ujar Jeffry.


Paul mendongak. "Tumben sekali abang sudah pulang." jawab Paul.


"Aku membawa seseorang yang ingin sekali bertemu denganmu." kata Jeffry.


Paul terkejut. "Siapa? Dimana?" tanyanya.


Jeffry tertawa. "Dasar anak nakal, ayo keluar. Ia sedang berbicara dengan bu Susi." jawabnya.


Paul bangun dan mengikuti Jeffry keluar, ia terkejut saat melihat sosok yang ada di depan matanya.


"Ana..." panggil Paul.


Semuanya sangat terkejut saat Paul menyebut nama wanita itu.


"Bang Jeff, bagaimana bisa kau membawa Ana kemari?" tanya Paul.


"Kau mengenal Ana?" tanya Jeffry.


"Tentu saja, ia teman sekolahku, tepatnya kakak kelas. Aku sering meminta bantuannya untuk mengerjakan tugas. Kapan abang mengenalnya?" tanya Paul lagi.


Jeffry menghela nafasnya, ternyata adiknya mengingat hanya sebatas ia saat sekolah saja. Jeffry menatap Ana yang sedang tersenyum walau matanya mengatakan sebaliknya.


"Aku secara kebetulan bertemu dengannya dan katanya Ana ingin bertemu denganmu." jawab Jeffry. "Kalian bicaralah." perintahnya.


Paul mengangguk lalu menarik Ana kedalam kamarnya. Ana menatap Jeffry minta persetujuan. Jeffry dan Susi mengangguk bersamaan. Saat keduanya menghilang ke kamar, Jeffry menghela nafasnya lalu duduk di sofa bersama ibunya.


Susi menggeleng. "Tidak nak, hanya saja ia terus bertanya apakah aku benar benar ibu kandung yang meninggalkannya. Maafkan ibu, ini semua salah ibu." jawab Susi sedih.


Jeffry memeluk pundak ibunya. "Aku sudah mengatakannya, ini semua salahku bu. Kau terus berada di samping kami sekarang ini saja, membuat kami sangat bahagia." ujar Jeffry.


"Jika Paul sudah kembali seperti semula dan kau bersama Vale sudah mengadakan acara resepsi. Ibu meminta waktu selama kurang lebih sebulan untuk kembali ke Kanada." ujar Susi.


Jeffry terbelalak. "Untuk apa? Apa ibu ingin meninggalkan kami lagi?" tanyanya kesal.


"Tenanglah Jeff, ibu hanya ingin mengurus penjualan warisan disana. Ibu akan menjual semua aset dan perusahaan yang ditinggalkan suami ibu, apa kau lupa ibu pernah mengatakannya padamu saat itu." jawab Susi.


"Oh ya Tuhan, Jeffry melupakannya. Tapi apa ibu perlu menjualnya. Suatu saat kita akan liburan kesana, dan kita tak perlu menyewa tempat jika masih ada aset aset ibu." ujar Jeffry.


Susi menggeleng. "Ibu hanya ingin melupakan semua kenangan yang menyakitkan di Kanada nak, sampai ibu menutup mata, ibu tak ingin kembali ke Kanada. Kau kan tahu itu." jawabnya sedih.


Jeffry menggenggam tangan ibunya. "Baiklah, apapun keputusan ibu yang akan membuat ibu senang, aku akan mendukungnya. Tapi saat itu tiba, Paul dan Ramon akan ikut bersama ibu ke Kanada untuk mengurus semuanya. Kami tak ingin ibu sendirian disana." ujar Jeffry.


Susi tersenyum, ia sangat senang dengan ucapan putranya sekarang. Susi mengangguk anggukkan kepalanya. Keduanya menunggu Paul dan Ana keluar dari kamarnya.


*****


"Maaf aku belum bisa ke sekolah, bang Jeffry bilang aku harus cuti setahun Ana. Kau bagaimana di sekolah, tapi kau berdandan jadi makin cantik." ujar Paul.


Ana bingung harus jawab apa, Paul masih merasa ia masih sekolah. Ya Tuhan, sampai kapan Paul akan seperti ini.

__ADS_1


"Aku baik di sekolah." jawab Ana.


"Ana, kau ingat kan aku pernah mengajakmu berpacaran tanpa sepengetahuan bang Jeffry karena kau lebih tua dariku. Apa kau mau menerimaku?" tanya Paul.


Jantung Ana kembali berdetak dengan keras, Paul lupa tentangnya tapi ia tak melupakan perasaannya. Ana tersenyum senang dan mengangguk. Paul memeluknya dan menciumnya Ana, ia berhenti lalu menatap Ana lagi.


"Aku seperti pernah melakukan ini, tapi dimana?" tanya Paul kebingungan.


Ana takut akan membuat Paul sakit. "Kau jangan berpikir terlalu keras, aku akan menunggumu sampai kau ingat semuanya. Jadi pelan pelan saja." ujar Ana.


"Apa kita sudah pacaran sejak lama? Jika benar aku terlihat sangat bodoh sekarang." tanya Paul lagi.


Ana tertawa. "Sudahlah, kau berpikir terlalu keras Pau." jawab Ana.


Paul kembali mengingat beberapa keping yang hilang saat Ana memanggilnya Pau. "Kau panggil aku apa?" tanya Paul.


"Pau... Aku memanggilmu dengan panggilan sayangku Pau." ujar Ana.


Paul terbelalak, Ia mengingat kembali beberapa potongan kecil ingatannya tersebut. "Bukankah saat itu aku sudah lulus sekolah? Kau datang dari kampusmu dan memanggilku Pau." tanyanya.


Ana menelan ludahnya. "Ayo kita keluar, bu Susi dan bang Jeffry sedang menunggu kita." ujar Ana, ia takut terjadi sesuatu pada Paul.


Paul mengangguk dan mengikuti Ana keluar, tapi ia langsung bertanya pada abangnya. "Jawab pertanyaanku dengan jujur, aku sudah lulus sekolah kan bang?" tanyanya.


Jeffry terkejut dan menatap Ana, tapi Ana menggeleng. "Apa maksudmu Paul?" tanya Jeffry.


"Setelah berbincang dengan Ana, aku merasa aku bukan anak sekolah." jawab Paul.


Jeffry tertawa. "Jadi kau merasa dewasa di depan Ana, dasar anak nakal." ejek Jeffry membuat semuanya ikut tertawa.


"Bang, aku boleh ya pinjam mobilmu untuk mengantar Ana pulang." ujar Paul.


Jeffry terbelalak lalu menggeleng. "Tidak, biar aku yang mengantarnya." jawab Jeffry.


"Oh ayolah bang, aku akan berhati hati. Aku janji tidak akan mengebut." rayu Paul.


Jeffry menimbang nimbang, ia ingin Paul segera mengingat semuanya. Tapi ia juga khawatir keselamatan adiknya. Jeffry menatap ibunya minta pendapat. Susi mengangguk.


"Percayalah pada adikmu Jeff." ujar Susi.


"Baiklah, tapi langsung pulang kemari. Aku akan menjemput kakak Vale. Dan kau harus pelan pelan saja." ujar Jeffry.


"Yes of course." jawab Paul. Ia menarik Ana. "Ayo aku antarkan pulang." ujarnya.


Ana pamit pada semuanya dan mengikuti Paul. Paul mengantarkan Ana pulang ke rumahnya.


*****


Happy Reading All...😘


Eps. selanjutnya Paul akan mengingat semuanya. Ditunggu next time...

__ADS_1


__ADS_2