
Keesokan harinya, seperti biasa Jeffry menjemput Valery di rumahnya.
"Kau ingin sarapan Jeff?" tanya Valery.
Jeffry menggeleng. "Aku sudah sarapan di rumah sakit. Sudah siap, ayo kita berangkat. Aku ada meeting pagi ini." jawab Jeffry.
"Sebentar lagi ya, kau mau masuk dulu." tanya Valery. Ia hanya basa basi karena dibalik jendela ruang tamu Susi sedang melihatnya.
Jeffry menggeleng. "Kau siap siap saja, aku menunggu di mobil." jawab Jeffry.
"Jeff, kau baik baik saja kan sayang. Kau terlihat sangat lelah." kata Valery sambil memegang pipi Jeffry.
Jeffry menggenggam tangan Valery. Ia mencium keningnya. "Aku baik baik saja sayang. Kau pengobat rasa lelahku." jawabnya.
Valery tersenyum. "Tunggulah disini, aku ambil tas dulu."
Jeffry mengangguk dan membiarkan Valery masuk. Jeffry daritadi merasa ada yang aneh padanya. Ia merasa ada yang terus memperhatikannya. Jeffry melihat sekitarnya, tak ada orang satu pun. Ia melihat jendela Valery, ia melihat gorden jendela tertutup tiba tiba. Sepertinya ada orang disana. pikirnya.
Jeffry ingin melangkah mendekati tapi Valery sudah keluar. "Ada apa? Kau seperti melihat hantu." tanya Valery.
"Selain dirimu, ada siapa lagi di dalam?" tanya Jeffry. "Aku sekilas melihat seseorang di balik jendelamu." sambungnya.
Deg... Gawat... pikir Valery.
Valery menggeleng. "Mbok Karmi sedang beres beres di dalam." jawabnya berbohong.
"Oh baiklah, ayo kita berangkat." ujar Jeffry.
Valery mengangguk, ia bisa bernafas lega. Hampir saja ia ketahuan. Valery mengikutinya sampai kedalam mobil dan mereka pun berangkat ke perusahaannya. Di perjalanan Jeffry mengajaknya berbicara.
"Vale..." panggil Jeffry.
"Ya." jawab Valery.
"Aku...aku takut Vale." ujar Jeffry.
"Kenapa seorang Jeffry Sean merasa takut?" tanya Valery.
"Aku semalaman mencari keberadaan ibuku, tapi aku kehilangannya lagi. Bagaimana jika aku ditinggalkannya lagi." kata Jeffry sedih.
Valery membelalakkan matanya. Ia terkejut dan merasa bersalah. "Mengapa kau mencari ibumu? Apa kau sudah siap bertemu dengannya?" tanyanya.
__ADS_1
Jeffry mengangguk. "Siap atau tidak, aku harus tahu apa yang sebenarnya alasan dibalik semua ini. Tapi emailku pun tak ia baca Vale. Apa ia marah karena sikapku di rumah sakit?" jawab Jeffry.
Valery menelan ludahnya, ia bingung harus menjawab apa. "Aku yakin ibumu sekarang berada di tempat yang aman Jeff, mungkin ia belum sempat membaca email balasanmu. Aku yakin ibumu tak akan meninggalkanmu lagi. Tapi apa isi dari emailmu?" tanya Valery penasaran.
"Aku ingin menemuinya besok di akhir pekan, aku juga sudah mengirim alamatku padanya." jawab Jeffry.
"Benarkah, kalau begitu aku yang akan mengantarnya ke rumahmu." ujar Valery tanpa sadar. Seketika itu juga iya menutup mulutnya.
Jeffry mengerem mendadak. "Apa maksudmu? Kau tahu dimana ibuku?" tanyanya.
Valery menggeleng dengan cepat. "Bukan itu maksudku Jeff, aku akan mencarinya dan mengantarkannya ke rumahmu. Itu maksudku." jawab Valery gugup.
Jeffry menyipitkan matanya. Ia masih tak percaya jawaban Valery. "Sepertinya kau merahasiakan sesuatu dariku Vale. Jika aku tahu kau melakukannya. Maka aku akan menghukummu. Lihat saja nanti." ancam Jeffry seraya menekan gas mobilnya lagi.
"Aku tidak berani sayang, jadi apa hukumannya buatku?" tanya Valery.
"Itu rahasiaku. Kau lihat saja nanti." jawab Jeffry.
Kali ini, Valery selamat. Bodoh sekali ia hampir mengatakannya. Ia tidak siap menerima kemarahan Jeffry, pria itu selalu saja merajuk.
"Apa kau membutuhkan kehadiranku saat kau menemui ibumu?" tanya Valery.
Jeffry mengangguk dengan cepat. "Jangan ditanya sayang, saat itu aku membutuhkan kekuatan darimu." jawab Jeffry.
Keduanya sudah sampai di perusahaan Valery. Ia turun dan melambaikan tangannya saat Jeffry meninggalkannya.
*****
Sassy menunggu kedatangan Jeffry Sean kembali, tapi kali ini ia menunggu di pintu masuk perusahaan. Ia akan menghadang mobil pria itu. Ia hanya ingin memastikan siapa Jeffry Sean pemilik perusahaan PT. Sean Permata ini. Satu jam sudah berlalu, ia menunggu memang lebih pagi. Ia tak perduli seberapa lama ia akan menunggu.
Setengah jam berikutnya, akhirnya ia bisa melihat kedatangan mobil tersebut dari kejauhan. Sassy segera turun dari mobilnya dan menghadang mobil tersebut.
Jeffry mengerem sekuat tenaga. "Ya Tuhan, apa yang kau lakukan?" teriaknya.
Jeffry membuka kaca mobilnya dan terkejut saat melihat Sassy di depannya. "Kau...apa sudah gila." bentaknya.
"Sudah kuduga, kau benar benar pemilik perusahaan ini Jeff." jawab Sassy.
"Aku? Kau bermimpi. Aku hanya supir pribadi pemilik perusahaan ini. Kau berlebihan Sassy dan sok tahu Sassy." ujar Jeffry.
"Jangan berpura pura lagi Jeff, kau yang bernama Jeffry Sean, tak ada lagi selain dirimu." ujar Sassy.
__ADS_1
"Apa Jeffry Sean pemilik perusahaan ini menunjukkan wajahnya di media atau dimanapun? Itu karena atasan yang asli menggunakan namaku. Ia tak ingin orang lain tahu identitasnya. Dan sebenarnya apa urusanmu dengan pemilik perusahaan? Pria itu sudah memiliki istri yang sedang mengandung." kata Jeffry, yang ia ceritakan adalah asistennya Ramon Jacob.
"Tidak ada, aku hanya penasaran. Tapi semuanya tidak penting lagi Jeff. Aku menyukaimu, bisakah kita menjadi lebih dekat. Aku tak mungkin salah dengar saat SMA, aku cinta pertamamu kan? Kita mulai dari awal saja ya, aku tak perduli walaupun kau supir. Kau tetap tampan Jeff." jawab Sassy.
"Kau semakin gila Sassy, minggirlah. Aku harus mengantarkan dokumen pada atasanku." bentak Jeffry.
"Beri aku kesempatan Jeff, aku tak ingin dengan siapapun. Aku sekarang hanya ingin bersamamu." rayu Sassy.
Jeffry menekan klaksonnya dengan keras, hingga keamanan datang menghampirinya. Mereka menyeret Sassy dan memberi jalan pada Jeffry untuk masuk ke perusahaannya. Jeffry segera masuk ke perusahaan.
"Pagi pak." sapa Ana.
"Pagi Ana, panggil kepala keamanan kemari." perintahnya dengan marah.
"Baik pak." jawab Ana. Ia melihat wajah atasannya hari ini kurang baik. Ana segera menghubungi kepala keamanan. Beberapa menit kemudian kepala keamanan datang dan masuk ke ruangan Jeffry.
"Kau tahu kan, kenapa aku panggil kau kesini?" tanya Jeffry.
Kepala keamanan itu mengangguk. "Kami akan melakukan pengusiran terhadap wanita itu pak. Maaf atas ketidaknyamanan anda." jawabnya.
"Wanita itu lebih gila dari bayanganku. Aku memang mengenalnya saat SMA, tapi aku merasa terganggu dengan kehadirannya." jawab Jeffry. "Lakukanlah yang terbaik, aku tak ingin kejadian tadi terulang lagi. Atau kau akan aku pecat." ancam Jeffry.
Ramon tiba tiba masuk dan tertawa. "Sang pangeran dikejar oleh dayang dayang." ejeknya.
Kepala keamanan pamit keluar. Jeffry mengangguk.
"Sialan kau Mon, Sassy semakin gila. Aku takut Valery tahu tentang wanita gila itu, lalu salah paham. Masalahku dengan ibuku saja belum selesai, sekarang bertambah masalah baru." ujar Jeffry.
"Kau katakan pada Valery semuanya Jeff. Vale sangat cerdas, wanita itu pasti mempercayaimu bukan Sassy." kata Ramon. "Kau akhir akhir ini memanggil bu Susi dengan sebutan ibuku, apa kau sudah memaafkannya?" tanya Ramon.
Jeffry terkejut, ia tak sadar sudah bisa memanggil Susi dengan ibuku. "Jangan tanyakan macam macam Mon, akhir pekan ini aku akan mendapat jawabannya. Tunggu saat itu tiba kau akan tahu segalanya." jawab Jeffry.
Ramon mengangguk. Ia mulai membicarakan meeting pagi ini dan pekerjaan mereka yang lain.
Di sisi lain, Susi membaca email dari Jeffry sambil menangis. Ia dihubungi Valery agar segera membaca balasan dari putranya. Ia tak menyangka akhirnya putranya mau menemuinya akhir pekan ini. Apapun yang akan terjadi nanti, ia harus siap menerimanya.
*****
Seperti apa sih alasan utama Susi meninggalkan kedua anaknya. Apakah Jeffry bisa memaafkan wanita tersebut. Nantikan ceritanya besok...
See you next time...
__ADS_1
Happy Reading All...😘