AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 7


__ADS_3

Di parkiran Jeffry menghubungi sahabat sekaligus asistennya. "Aku tak bisa kekantor hari ini, bisakah kau handle pekerjaan?" tanya Jeffry.


"Tentu saja Jeff, kau tenang saja." jawab Ramon.


"Mon...adikku sepertinya akan banyak tanya padamu. Aku harap kau bisa menjaga rahasia ini." ujiar Jeffry.


"Oke...aku akan memastikan kau aman." jawab Ramon lagi.


"Terima kasih Mon." ujar Jeffry seraya mematikan ponselnya. Ia segera masuk kedalam kantor. Security menyapanya namun tak bertanya, kemungkinan ia sudah tahu siapa Jeffry.


Jeffry menuju kantor Valery. Ia disapa oleh seorang wanita yang selalu disamping Valery. "Halo selamat pagi pak Jecko. Aku Tara, sekertaris bu Valery. Salam kenal ya." ujar Tara sambil mengulurkan tangannya.


"Halo selamat pagi juga, aku Jecko." jawab Jeffry.


"Silahkan anda tunggu disini, 2 jam lagi kita berangkat." kata Tara.


Jeffry hanya mengangguk dan duduk di sofa tunggu. Ia membuka majalah dan mulai membacanya.


Tara memperhatikan Jeffry yang ada didepannya. "Ya Tuhan, mengapa seorang supir begitu keren dan tampan. Penampilannya sangat elegan. Kaos yang terlihat ketat di tubuhnya memperlihatkan otot dadanya yang besar". pikir Tara sambil menelan ludahnya.


Tara kembali ke laptopnya, ia tak ingin merasa terganggu dengan kehadiran Jeffry.


*****


Beberapa jam kemudian Valery keluar dari ruangannya. "Tara sudah siap semuanya?" tanya Valery, Jeffry memperhatikan gerak gerik wanita cantik itu.


"Sudah bu, siap berangkat." jawab Tara.


"Jecko, kau pasti lelah menunggu. Ayo kita berangkat." ujar Valery.


Jeffry mengangguk dan bangkit dari kursinya mengikuti Valery dan Tara masuk ke lift.


"Tunggu sebentar, aku akan mengambil mobil." ujar Jeffry dan mendapat anggukan dari Valery.


"Ya Tuhan bu, aku tak tahan melihatnya. Sangat menggemaskan." ujar Tara setelah Jeffry meninggalkan mereka.


"Kau sangat genit Tara." jawab Valery.


"Aku serius, melihat dari gayanya berpakaian, aku hampir lupa ia seorang supir. Sangat keren." ujar Tara lagi.


Valery hanya tersenyum menanggapinya. Karena Valery juga berpikiran yang sama dengan Tara. Tak lama mobilnya sudah di depan mereka. Jeffry membuka pintu penumpang untuk Valery. Sedangkan Tara masuk dan duduk di depan. Mereka menuju hotel Factory tempat mereka mengadakan meeting dengan perusahaan berlian violet.


Perjalanan cukup memakan waktu karena jalanan sangat macet. Jeffry sekali sekali melihat kaca mobilnya. Ia sama sekali tak bosan menatap Valery. Tapi ternyata Tara memperhatikan gerak gerik Jeffry.


"Pak Jecko, anda suka atasanku?" bisik Tara.


Jeffry membelalakkan matanya. Wajahnya berubah pucat karena ketahuan. Jeffry cepat cepat menggeleng. "Hanya kagum saja." jawabnya.

__ADS_1


Tara terkekeh. "Kalau saja kau memiliki pekerjaan lebih baik, kalian berdua sangat cocok." ujar Tara pelan.


Valery berdeham. Ia sedikit mendengar kata kata Tara. "Siapa yang cocok Tara?" tanya Valery.


"Tidak ada bu Vale." jawab Tara.


Jeffry tersenyum melihat kegugupan Tara. Sampailah mereka di hotel Factory. Jeffry seperti biasa membukakan pintu Valery. "Mungkin meetingku akan lama Jecko, kau boleh makan siang. Jemput kami jam 3 sore." perintah Valery.


Jeffry mengangguk. "Ini kesempatanku kembali ke perusahaan". pikir Jeffry.


Kebetulan jarak hotel tersebut ke kantornya sangat dekat. Sekarang masih jam setengah 12, masih banyak waktu buat Jeffry ke perusaahan. Ia menancap gas mobilnya menuju perusahaannya. Sebelum masuk ia mengenakan kemejanya yang ia bawa dalam tas selempangnya.


*****


"Siang pak Jeff, bukankah anda absen hari ini." tanya Ana.


"Siang juga Ana, adakah pekerjaan yang mendesak?" tanya Jeffry tanpa menjawab pertanyaan Ana tadi.


"Tidak ada pak, semua meeting sudah di handle pak Ramon." jawab Ana.


"Dimana pak Ramon sekarang?" tanya Jeffry lagi.


"Di hotel Factory bertemu klien berlian sederhana." jawab Ana lagi.


"Apa??? Hotel Factory??? Sejak kapan???" ujar Jeffry.


"Sekitar sejam yang lalu pak.". jawab Ana.


Jeffry beranjak dari kursinya. Baru saja ingin keluar Ramon ada didepannya. "Aku tadi mendapat kabar kalau kau disini dari jam 12, kenapa kau tak menyusulku di hotel Factory. Klien sangat ingin bertemu denganmu." ujar Ramon.


"Kau gila, aku mengantar Valery meeting disana, lalu aku jadi Jeffry Sean juga disana." jawab Jeffry.


Ramon tertawa. "Suatu kebetulan. Pantas kau tidak menyusulku." ujar Ramon.


"Yah ini semua idemu Mon, aku harus menjadi Jecko entah sampai kapan." kata Jeffry.


"Itu tergantung seberapa lama kau bisa mendapatkan hatinya Jeff. Gunakanlah daya tarikmu. Aku saja sangat tertarik padamu." jawab Ramon.


Jeffry bergidik. "Jangan sampai kau naksir padaku Mon. Aku ngeri mendengarnya."


Ramon tertawa lepas sampai Ana memperhatikan keduanya, karena mereka berbincang di depan pintu kantor Jeffry. "Aku masih sehat Jeff, aku mencintai istriku. Kau berlebihan."


"Sudahlah, sudah waktunya aku menjemput nyonyaku. Jika selesai nanti sore, aku akan kembali kesini. Ada suatu hal yang mau aku bicarakan juga padamu." ujar Jeffry.


Ramon mengangguk dan menepuk pundak Jeffry seraya berbisik. "Berjuanglah...lebih cepat lebih baik." ujarnya.


Jeffry menendang kaki Ramon dan meninggalkannya. "Ana aku keluar lagi, jika ada telpon penting buatku, segera hubungi aku." perintahnya.

__ADS_1


"Baik pak." jawab Ana.


Jeffry meninggalkan kantornya menuju hotel Factory. Sebelum berangkat, ia melepas kemejanya. "Sialan...merepotkan sekali". gumamnya.


*****


Setengah jam Jeffry menunggu diparkiran, akhirnya Valery menghubunginya. "Jecko, kami sudah di depan hotel." ujarnya.


"Baik, aku akan segera kesana." jawab Jeffry seraya menutup teleponnya.


Ia menjemput Valery dan Tara. Setelah keduanya masuk ke mobil. Jeffry menancap gasnya menuju perusahaan Valery.


"Aku ada perlu diluar. Antarkan Tara ke kantor terlebih dahulu." pinta Valery.


"Baik Vale." jawab Jeffry.


Jam 5 mereka sampai di perusahaan. Tara turun dari mobil. "Tara, kerjakan berkas tadi. Kalau sudah selesai kau boleh pulang." perintah Valery.


"Baik bu Vale, hati hati di jalan. Sampai jumpa pak Jecko." ujar Tara.


Jeffry mengangguk. Dan mengendarai mobilnya lagi. "Kemana kita akan berangkat?" tanya Jeffry.


"Kelab malam Golden Dragon. Aku ingin bertemu seseorang." jawab Valery.


Jeffry menyipitkan matanya. "Apa tidak berbahaya kau sendiri?" tanyanya.


"Entahlah, pria ini mengetahui sesuatu tentang kecelakaan yang terjadi pada orang tuaku 12 tahun yang lalu. Aku penasaran ada apa sebenarnya." jawab Valery.


Jeffry terkejut dengan ucapan Valery. "Orangtuamu kecelakaan? Lalu apa yang terjadi pada mereka?" tanya Jeffry penasaran.


"Mereka sudah di surga. Aku menjadi sebatang kara 12 tahun yang lalu, dan membuatku harus mencari nafkahku sendiri dan akhirnya hasil kerja kerasku selama 10 tahun berhasil. Ya Tuhan, kenapa aku menceritakannya padamu." ujar Valery.


"Aku bersedia mendengarkannya Vale, apapun yang ingin kau ceritakan, katakanlah padaku. Aku siap menjadi temanmu." jawab Jeffry. "Jadi maksudmu, kecelakaan itu disengaja dan dilakukan oleh orang yang tak bertanggungjawab?" tanya Jeffry lagi.


"Aku tak tahu itu sengaja atau tidak. Tapi yang jelas pelakunya sampai saat ini belum tertangkap." jawab Valery.


"Bolehkah aku menemanimu kedalam kelab. Aku khawatir ia hanya ingin memanfaatkanmu, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu." ujar Jeffry.


"Terima kasih atas perhatianmu Jecko, tapi tidak perlu. Pria itu tak ingin aku ada yang menemani." jawab Valery.


"Pria? Jadi ia seorang pria, aku semakin khawatir". pikir Jeffry.


"Baiklah...Aku akan menunggumu diparkiran. Segera hubungi aku, jika ada sesuatu yang mencurigakan." ujar Jeffry.


"Tentu saja, terima kasih Jecko." jawab Valery.


Jeffry membuka pintu mobilnya dan membiarkan Valery masuk ke dalam kelab.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2