
Jeffry kembali ke rumah sakit setelah ia mengantri di restoran cepat saji. Ia membawa makan malamnya ke ruangan karena ingin menemani Valery makan malam.
"Sudah waktunya makan malam Vale." ujar Jeffry saat masuk keruangan rawatnya.
"Kau darimana saja? Kau keluar sangat lama." tanya Valery.
"Aku membeli baju ganti dan mengantri untuk mendapatkan makanan ini." jawab Jeffry berbohong tentang bajunya.
"Apa yang kau beli? Apa aku boleh makan itu?" tanya Valery.
Jeffry menggeleng. "Ini makan malamku. Kau tetap makan bubur malam ini."
"Tidak enak." jawab Valery datar.
Jeffry hanya tersenyum, ia mengambil nampan dan mulai menyuapi Valery. "Makanlah yang banyak. Setelah itu tidur. Aku akan makan malam setelah kau tidur. Walaupun tidak enak, tapi inilah yang harus kau makan sementara ini." jawab Jeffry.
"Kau pulanglah ke rumah, ini bukan pekerjaanmu Jeck. Aku hanya merepotkanmu saja." ujar Valery.
"Lagi lagi kau mengatakannya. Aku tak punya pekerjaan apapun, jadi aku akan menemanimu sampai kau sembuh. Jadi jangan kau pikirkan itu." kata Jeffry.
Valery mengangguk, ia sangat beruntung bisa ditemani oleh Jeffry, pria tampan yang hanya supir pribadinya sangat perhatian seperti seorang kekasih. Valery penasaran apakah Jeffry sudah punya kekasih.
"Jecko aku boleh bertanya." kata Valery.
"Tentu saja, apa yang ingin kau tanyakan." jawab Jeffry.
"Ini masalah pribadi, apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya Valery.
Jeffry tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Kenapa kau ingin tahu?"
"Umurmu sudah kepala 3 Jeck, seharusnya kau bahkan sudah memiliki seorang istri." jawab Valery.
Jeffry tertawa. "Lalu bagaimana denganmu?"
__ADS_1
"Aku? Tentu saja aku ingin tapi belum." jawab Valery.
"Ingin tapi belum? Jawabanmu sangat lucu Vale. Aku belum memiliki kekasih, aku sedang mencari yang cocok. Lalu apa maksud kata katamu tadi?" tanya Jeffry.
"Ya aku ingin, tapi belum ada yang cocok juga." jawab Valery.
"Pria seperti apa yang kau inginkan? Tentu saja bukan supir pribadi kan?" sindir Jeffry.
Valery menyipitkan matanya. "Aku sudah memiliki segalanya, jadi buat apa kekasih yang kaya."
Jeffry mengembalikan nampan makanannya ke meja. Lalu ia mendekati Valery, saatnya ia memberanikan dirinya. "Ehem...jadi...apa aku punya kesempatan?" tanya Jeffry.
Valery terkejut dengan pertanyaannya. "Apa maksudmu?"
"Tidak, lupakan saja Vale. Aku mulai meracau." jawab Jeffry. Ia masih takut jika Valery marah dan memecatnya. Kesempatan ia dekat dengan Valery akan hancur, padahal ia baru bekerja selama 3 hari. "Sekarang tidurlah, kau harus banyak istirahat jika ingin segera keluar dari rumah sakit."
Valery mengangguk dan mulai merebahkan tubuhnya di ranjang. Tapi pikirannya masih pada kata kata Jeffry tadi.
Apa aku salah dengar? Tapi tadi ia bilang kesempatan. Apa Jecko menyukaiku? Jika benar, apa aku akan menerima supirku sebagai kekasihku. Dari penampilan, pria itu memang tak memalukan. Tapi bagaimana jika pegawaiku tahu jika aku berpacaran dengan supirku sendiri. Bukannya aku yang tak mau, karena jujur aku juga mulai menyukainya. Pria itu sangat baik, perhatian dan yang paling penting ia sangat bertanggung jawab. Baru beberapa hari aku mengenalnya. Aku sudah merasa nyaman. Haaaah...sudahlah, mungkin aku yang berlebihan. pikir Valery, lalu ia akhirnya terlelap.
Ia menyelesaikan makan malamnya, lalu ia mulai sibuk dengan ponselnya. Ia membuka beberapa email lewat ponselnya, karena tak mungkin ia membawa laptop dan membongkar jati dirinya pada Valery sekarang. Ada email dari Ana tentang beberapa bisnis berliannya, dan juga email dari Ramon tentang Samuel.
Jeffry membacanya satu per satu hingga matanya sangat lelah. Lalu ia terkejut saat melihat satu email dari seseorang tak dikenal, inisial S. Ia membukanya, matanya terbuka dengan lebar.
Dear anakku Jeffry Sean...
Jeffry keluar dari emailnya, ia segera mematikan ponselnya. S adalah Susi, artinya tadi dari ibunya yang sudah puluhan tahun meninggalkannya, bagaimana wanita itu bisa tahu alamat emailnya. Sialan... pikir Jeffry.
Ia merebahkan dirinya di sofa, namun ia tak bisa memejamkan matanya. Ia terus saja membalik balikkan tubuhnya. Email tadi sangat mengganggunya. Ia tak ingin membacanya, tapi ia sangat penasaran. Suara gemerisik tubuhnya di sofa membuat Valery terbangun.
"Apa kau sulit tidur Jeck?" tanya Valery.
"Ya Tuhan, maafkan aku Vale telah membangunkanmu. Tidurlah lagi, aku akan mencari udara segar." ujarnya seraya meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Valery terkejut dengan sikap Jeffry yang tiba tiba dingin. Tapi matanya kembali lelah dan tertidur kembali.
*****
Jeffry berada di taman rumah sakit, ia menikmati langit malam yang indah, pikirannya masih berkecamuk, antara membuka email itu atau tidak. Dengan helaan nafasnya yang berat, akhirnya Jeffry membuka ponselnya. Tangannya mulai gemetar. Ia membuka email itu, matanya terpejam sejenak lalu meyakinkan hatinya kembali.
Dear anakku Jeffry Sean,
Apa kabar putraku, dengan susah payah akhirnya ibu bisa menemukan alamat emailmu. Putraku... ibu tahu kau masih sangat marah pada ibumu ini. Tapi ibu ingin sekali saja bertemu denganmu. Ibu merindukan kau dan Paul. Sudah saatnya ibu menjelaskan semuanya, mengapa ibu meninggalkan kalian berdua.
Putraku, apa uang yang selalu ibu kirim kau terima dengan baik, apa kalian makan dan hidup dengan baik di Indonesia? Putraku, ibu ingin sekali bertemu kalian berdua. Ibu mohon sayang, jika kau membaca email ibu, tolong balas email ibu ini.
Ibu yang selalu menyayangi kalian. SUSI.
Air mata Jeffry tak terasa mengalir, sungguh mudah bagi ibunya mengatakan semua itu.
Uang yang kau kirimkan pada kami selama bertahun tahun, tak pernah kami sentuh sedikitpun. Dan kau merindukan kami setelah puluhan tahun, lalu kemana saja kau saat kami membutuhkanmu dulu. Kami tak butuh uangmu. Kami hanya butuh sosokmu yang akan melindungi kami. Setelah kau meninggalkan kami hari itu, kami sudah tak menganggapmu sebagai ibu. Jadi jangan harap kau bisa menerima balasan dariku. gumam Jefrry.
Jeffry memejamkan matanya sejenak, ia mulai menenangkan pikirannya dan menghapus air matanya. Lalu kembali ke ruangan Valery.
Jeffry menatap wanita cantik itu yang sedang tertidur lelap.
Vale apakah kau bisa membantu hidupku yang kacau ini, aku memiliki segalanya. Tapi aku tak memiliki kasih sayang, apa kau bisa memberikan itu padaku. gumam Jeffry dalam hatinya.
Ia menyentuh pipi Valery, ia mencium keningnya. Untuk kedua kalinya Jeffry menciumnya, namun wanita itu tak pernah mengetahuinya.
Jeffry kembali ke sofa nya dan mulai merebahkan dirinya. Ia berusaha melupakan kejadian hari ini. Matanya mulai lelah dan akhirnya ia bisa tertidur juga.
*****
Happy Reading All...
Biasanya Author tak bisa up di hari libur, tapi hari ini Author memberi bonus satu episode buat kalian semua...
__ADS_1
Happy weekend guys...😘