AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 34


__ADS_3

Siang itu Valery mendapat telpon dari desainer ternama, ia menawarkan kontrak dengan harga pasaran berlian pada umumnya. Valery sangat senang, dengan mudahnya Jeffry membantunya. Valery menyuruh Tara menyiapkan kontrak dengan desainer tersebut, lalu mengadakan meeting.


"Kita sudah mendapatkan solusinya. Dengan cepat aku bisa mendapatkan desainer ternama untuk berlian kita." ujar Valery pada seluruh staff.


"Bagaimana bu Vale bisa menghubungi desainer tersebut dalam waktu singkat?" tanya salah satu karyawannya.


"Itu tidak penting, yang jelas 2 hari lagi kita akan bertemu desainer tersebut dan menandatangani kontraknya." jawab Valery.


Semuanya bertepuk tangan karena sangat bahagia. Akhirnya semua sekarang tenang akan nasib perusahaan. Meeting pun diselesaikan dengan cepat. Valery menghubungi Jeffry.


"Terima kasih sayang, kau yang terbaik." ujar Valery.


"Aku senang bisa membantumu sayang, apa desainer sudah berbicara padamu?" tanya Jeffry.


"2 hari lagi kami sepakat menandatangani kontrak Jeff. Kau tidak memaksanya kan?" tanya Valery.


Jeffry tertawa. "Sejak kapan bisnis bisa dipaksakan sayang? Aku hanya menawarkan dan berhasil. Itu saja." jawabnya.


"Aku hanya takut kau menggunakan kekerasan Jeff." ujar Valery.


"Jeffry Sean memang sangat benci ditolak, tapi ia tak pernah memaksa. Begitu juga dengan hubungan kita. Aku tak akan memaksamu. Aku akan menunggu dengan sabar Vale." jawab Jeffry.


Valery tertawa. "Kau malah menghubungkan pembicaraan ini dengan hubungan kita. Apa kau sudah makan siang?" tanyanya.


"Aku akan ke rumah sakit sekarang, ada perubahan pada Paul. Sejak kedatangan ibu, Paul semakin semangat untuk bangun. Anak nakal itu sempat menggerakkan tangannya tadi pagi." jawab Jeffry.


"Benarkah? Itu kabar yang sangat bagus sayang, syukurlah. Aku masih banyak pekerjaan jadi aku tak bisa menemanimu." ujar Valery.


"Tak apa apa Vale, selesaikanlah pekerjaanmu terlebih dahulu. Tapi jangan lupa makan siang. Aku akan menjemputmu nanti." ujar Jeffry.


"Lalu bagaimana dengan mobilku?" tanyanya.


"Suruh pegawaimu mengantarkannya ke rumahmu. Aku memaksa menjemputmu sayang. Kau ingat kan aku masih supirmu." jawab Jeffry membuat Valery tertawa.


"Baiklah sampai jumpa nanti sore, bye." jawab Valery seraya mematikan ponselnya.


*****


Sassy merengek pada ayahnya yang sedang berada di kantornya. "Itu tidak akan terjadi sayang, kasus itu sudah ditutup." ujar Petter.


"Pria itu memiliki bukti pi, melihat penampilannya pria itu bukan orang biasa. Sassy harus bagaimana?" tanya Sassy.


"Kau temui pria itu, cari tahu siapa namanya." perintah Petter.

__ADS_1


"Aku menemuinya berarti aku harus melayaninya." jawab Sassy.


"Apa maksudmu?" tanya Petter terkejut.


"Pria itu akan merahasiakan semuanya jika Sassy mau tidur dengannya." jawab Sassy.


Petter malah tertawa. "Tidak semudah itu pria meminta wanita tidur bersama Sassy. Apalagi kalian baru pertama kali bertemu. Itu hanya ancamannya saja, ia ingin bertemu denganmu. Papi yakin ada hal lain yang pria itu inginkan." ujarnya.


"Lalu bagaimana jika pria itu benar benar ingin tidur denganku?" tanya Sassy.


"Maka papi akan mencarinya agar bertanggung jawab." jawab Petter.


Sassy terbelalak mendengar ayahnya bicara dengan santai. Sassy bukannya tak pernah tidur dengan pria, tapi pria kali ini tak ia kenal.


"Papi tak sayang Sassy lagi." ujarnya.


"Bukan itu sayang, tapi papi masih banyak pekerjaan yang harus papi urus. Kasus itu sudah lama, tak mungkin dibuka kembali. Percayalah pada papi." jawabnya seraya meninggalkan putrinya.


Sassy menghela nafasnya. Apa yang menjadi tebakannya benar, ayahnya tak akan membantunya. Terpaksa ia akan menemui pria sialan itu, ia tak ingin masuk penjara. Walaupun ayahnya mengatakan tak mungkin dibuka kembali kasusnya tapi ia tak 100% yakin pada perkataan ayahnya. Sassy meninggalkan kantor ayahnya.


*****


Hari semakin sore, Jeffry menjemput kekasihnya. Dan membawanya ke rumah sakit. "Kau yakin tidak ingin pulang dulu?" tanya Jeffry.


"Apa yang ingin kau lakukan di malam hari?" tanya Jeffry lagi.


"Aku ingin menyiapkan dokumen pengiriman berlian ke Paris. Besok sudah harus selesai." jawab Valery.


"Ya Tuhan Vale, kau juga perlu istirahat. Kau lupa saat kau jatuh sakit karena kelelahan." ujar Jeffry.


"Aku tahu Jeff, makanya aku tak bisa lama lama di rumah sakit. Aku takut mengerjakan itu sampai larut malam." jawab Valery.


"Bolehkah aku membantumu, bukan untuk meremehkanmu sayang, tapi agar cepat selesai saja." tanya Jeffry.


"Aku tak pernah meminta bantuan siapapun sejak membangun perusahaanku Jeff, kau boleh menemaniku tapi tidak untuk membantu." jawab Valery.


"Benarkah aku boleh menemanimu?" tanya Jeffry.


"Tentu saja, tapi tidak macam macam ya." jawab Valery.


"Tergantung aku bisa tidak berada didekatmu." goda Jeffry.


"Dasar pria gila." ujar Valery.

__ADS_1


Keduanya sampai di rumah sakit dan langsung ke ruangan Paul. Disana hanya ada Susi yang terus menggenggam tangan Paul.


"Ibu..." sapa Valery.


"Nak Vale, ibu pikir kau tak ingin kemari lagi karena putra ibu membuatmu kesal." jawab Susi sambil memeluk Valery.


"Aku susah payah membujuknya bu, dan bukan salahku tapi salah wanita gila itu." jawab Jeffry.


Susi tertawa. "Setelah Ana menceritakan semuanya, ibu sangat heran zaman sekarang masih ada saja wanita yang merendahkan dirinya karena cinta." ujar Susi.


"Jadi ibu sudah tahu, aku sudah bertemu dengan cinta pertamanya itu dan sangat cantik." ujar Valery.


"Kaulah cinta pertama dan terakhirku Vale. Dan kau benar, kau memang sangat cantik." kata Jeffry.


Susi tertawa lagi. "Ya Tuhan, kalian suka sekali berdebat. Ibu yakin putra ibu tak memiliki perasaan apapun pada Sassy. Dari matanya, terlihat dengan jelas kaulah wanita itu." ujarnya.


"Apa aku bilang, ibu saja percaya padaku." sambung Jeffry.


"Kau sangat senang mendapat pembelaan Jeff. Lalu bagaimana kabar Paul?" tanya Valery.


"Tadi pagi jari jarinya bergerak saat ibu mengajaknya berbicara. Ibu berharap malam ini atau besok, Paul bisa membuka matanya." jawab Susi bersedih.


Valery menepuk pundaknya. "Kalian harus bersabar, aku yakin Paul akan kembali bersama kalian. Paul terlihat sangat kuat." ujarnya. Susi mengangguk.


"Anak nakal ini sepertinya tak mau bangun, karena takut padaku. Ia menghancurkan mobil kesayanganku." ujar Jeffry, lalu ia mendekati Paul. "Hei anak nakal, aku sudah memperbaiki mobilnya, dan aku juga sudah memesan mobil yang kau sukai. Jika kau tak mau bangun maka aku tak jadi membelinya. Aku juga tidak akan marah padamu lagi, aku hanya ingin kau bangun. Kita bersama ibu lagi, berkumpul di rumah. Paul tak bisakah kau bangun sekarang? Aku ingin kau marah saat aku bangun kesiangan." sambungnya. Tak terasa airmatanya keluar lagi membuat Susi dan Valery ikut menangis.


Tangan Paul kembali bergerak, kali ini bahkan ia mengangkat jarinya lebih tinggi.


"Ya bangunlah sekarang, lalu kau boleh memilih warna mobil yang kau sukai. Kau kan tahu aku hanya baik sebentar. Jika kau masih saja tertidur, maka jangan harap aku membelikanmu mobil." ujar Jeffry membuat alat alat yang ada di tubuhnya berbunyi.


Semuanya panik, Jeffry segera memanggil dokter untuk memeriksanya. Dan syukurlah, suara alat itu karena detak jantung Paul lebih cepat karena berusaha merespon ucapan orang di sekitarnya. Dokter masih memeriksa keadaan Paul di dalam, semuanya masih menunggu di luar ruangan. Tak lama dokter itu pun keluar.


"Lebih baik jangan paksakan pasien untuk sadar, ini sudah bagus tapi yang kami takutkan malah serangan jantung akibat pasien memaksakan bangun lebih cepat." ujar dokter.


"Terima kasih dok." jawab semuanya. Dan dokter meninggalkan mereka.


Mereka kembali masuk ruangan, Jeffry memeluk Susi. "Dasar anak nakal, kau membuatku gila." ujar Jeffry. Matanya terlihat sedih saat menatap adiknya yang kembali tenang.


"Bu, aku akan mengantar Vale pulang. Ana sebentar lagi sampai, ia akan menemani ibu lagi disini." kata Jeffry.


Susi mengusap airmatanya yang tak bisa berhenti lalu mengangguk. Valery pamit pada Susi dan meninggalkan rumah sakit bersama Jeffry.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...😘


__ADS_2