AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 29


__ADS_3

Setengah jam setelah mereka saling melepas kerinduan dan tangisan. Terjadi keheningan yang panjang diantara mereka. Jeffry Sean duduk di tepi ranjang, ia masih menundukkan kepalanya. Sedangkan ibunya duduk di sisi lain ranjang, ia juga sama masih menundukkan kepalanya. Valery yang tak tahan melihat keheningan tersebut, berusaha memecahkan suasana.


"Kalian menyiksaku, aku kelaparan." ujar Valery.


Keduanya mendongak menatap Valery. Akhirnya mereka tertawa bersama. "Ya Tuhan, aku lupa kekasihku hobi makan." ujar Jeffry.


"Aku tidak begitu, tapi ini sudah lewat jam makan siang." jawab Valery.


"Biar ibu yang masak makan siang, ini pertama kalinya ibu akan memasak buat putra ibu setelah puluhan tahun, apa kau masih ingin memakan masakan ibu?" tanya Susi pada Jeffry.


Jeffry mengangguk. "Tapi tak perlu repot bu, ada pembantu yang sedang menyiapkan makan siang." jawab Jeffry.


"Apa kau tidak merindukan semur ayam buatan ibu?" tanya Susi lagi.


Jeffry menelan ludahnya. Belum makan saja ia sudah membayangkannya. Memang itulah makanan kesukaannya. Valery baru tahu makanan yang Jeffry sukai, melihat ekspresi dari wajah pria itu Valery tahu seberapa inginnya ia memakannya.


Susi tertawa melihat wajah putranya. "Aku akan ke dapur sekarang." ujarnya.


"Aku ikut." ujar Valery. "Kau cuci muka sana, wajahmu sangat buruk. Aku malas melihatnya." goda Valery pada kekasihnya.


"Kau akan aku hukum lagi Vale. Kemari kau." ujar Jeffry.


Valery menjulurkan lidahnya dan meminta bantuan Susi. "Bu...putramu nakal." ujar Valery manja.


Susi tertawa lagi. "Jeff, wajahmu memang kusut." ujar Susi membela Valery.


Valery kembali menjulurkan lidahnya. "Apa aku bilang." sambungnya.


Sebelum Jeffry membalas ia segera menuntun Susi ke arah dapur. Jeffry menghela nafasnya saat melihat keduanya berlalu keluar dari kamarnya. Ada sesuatu yang lepas dari hatinya. Beban yang selama ini ia rasakan telah hilang. Ada kelegaan saat semuanya telah terungkap. Belum terlambat ia membahagiakan ibunya.


Jeffry masuk ke kamar mandinya dan membersihkan wajahnya. Benar kata ibu dan kekasihnya, wajahnya sangat buruk akibat tangisan yang ia keluarkan tadi. Beberapa menit kemudian ia keluar dan duduk di ruang santai sambil menunggu keduanya sedang sibuk di dapur. Kali ini Jeffry teringat adiknya, ia berharap Paul bisa menerima Susi kembali.


*****


Satu jam kemudian, Valery menjemputnya. Pria itu memejamkan matanya di sofa. Valery memeluknya dari belakang dan mengecup pipinya. "Sudah waktunya makan, aku lapar." bisiknya


Jeffry tersenyum ia memegang tangan Valery dan membalikkan wajahnya. Jeffry mencium bibirnya. "Aku ingin memakan dirimu." jawab Jeffry.


"Kau nakal, cepatlah ibu sudah menunggu." ujar Valery.


"Baik sayang, kau semakin hari semakin bawel saja." jawab Jeffry.


"Ya sudah cari sana yang tidak bawel." kata Valery kesal.


"Aku sedang memikirkannya." ejek Jeffry.

__ADS_1


"Jeff..." teriak Valery sambil memukul lengannya, Jeffry tertawa dan mengecup hidungnya.


Keduanya menuju meja makan, tanpa disuruh Jeffry langsung memakan semur ayam dengan lahapnya. Keduanya membelalakkan mata melihat Jeffry seperti orang kelaparan.


"Pelan pelan nak, ibu tak memintanya." ujar Susi.


Jeffry tersadar dengan tingkahnya dan berhenti. "Ini sangat enak." jawabnya.


"Aku yang lapar atau kau yang kelaparan." ujar Valery sambil terkekeh.


"Makan sayang, cobalah masakan ibu." perintah Jeffry.


"Aku sudah kenyang melihatmu makan." jawab Valery.


"Baiklah, kalau kau ingin makan yang lain. Tunggu setelah aku makan." goda Jeffry sambil mengedipkan matanya.


Wajah Valery memerah. "Jeff, kau gila." jawab Valery lalu menendang kaki Jeffry.


"Aw...sakit sayang..." kata Jeffry.


"Hei...sudah kalian malah berdebat di meja makan, ayo kita makan dengan tenang." pinta Susi.


Keduanya mengangguk dan mereka menikmati makan siangnya dengan tenang. Setelah mereka selesai, Jeffry mengajak mereka ke ruang santai.


*****


Susi menatapnya penuh kasih sayang. "Tidak ada yang perlu dimaafkan Jeff, ibu lah yang bersalah." jawab Susi.


Jeffry menggeleng. "Jeffry yang bersalah, aku tak memahami pengorbanan seorang ibu kepada anak anaknya. Harusnya aku mencari tahu kebenarannya setelah aku mulai dewasa, tapi aku memang bodoh." ujarnya.


Susi menggenggam tangan Jeffry. "Lupakanlah, sudah saatnya memperbaiki semuanya." Susi menggenggam tangan Valery juga. "Ia gadis yang tepat buatmu Jeff, ibu merestui kalian." sambungnya.


Jeffry merangkul Valery. "Wanita yang cantik luar dan dalam bu, walaupun aku harus menjadi supir untuk mendapatkannya." jawab Jeffry sambil tertawa.


"Aku mencintai supir tampanku." jawab Valery membuat semuanya tertawa.


"Bu, tinggallah disini. Urus kami seperti dulu. Paul juga masih ingin merasakan kasih sayang seorang ibu." pinta Jeffry.


Susi kembali menangis. "Ibu merasa bersalah pada adikmu Jeff, Paul masih sangat balita saat ibu meninggalkannya. Dan sekarang mengapa putra bungsu ibu belum bangun juga. Apa ia akan baik baik saja?" tanyanya.


Jeffry menenangkan ibunya. "Datang dan suruh anak nakal itu bangun, aku yakin ia mau mendengarkan ucapan ibu. Paul sudah memiliki kekasih, namanya Ana. Ia sekertaris Jeffry." ujarnya menjelaskan.


Susi terbelalak. "Benarkah? Kapan ibu bisa bertemu dengannya?" tanya Susi.


"Sekarang pun ibu bisa bertemu, kita ke rumah sakit. Ana ada disana menjaga Paul." jawab Jeffry. "Tapi ibu mau kan tinggal bersama kami lagi." tanya Jeffry lagi.

__ADS_1


Susi mengangguk. "Ibu sangat mau, setelah Paul sembuh mungkin ibu harus kembali ke Kanada. Tapi bukan untuk meninggalkan kalian lagi, ibu hanya ingin mengurus penjualan rumah dan properti peninggalannya. Lalu kembali lagi untuk selamanya disini." ujarnya.


"Untuk apa ibu jual? Apa ibu suatu saat tidak merindukan negara tersebut. Bagaimanapun selama puluhan tahun pria itu bersama ibu." ujar Jeffry.


Susi menggeleng. "Ibu tidak pernah mencintainya sedikitpun Jeff, sampai ia meninggal pun ibu tak pernah merasa kehilangannya. Ibu tak tahu jika ia meninggalkan hartanya untuk ibu termasuk perusahaannya, tapi ibu akan menjual semuanya. Ibu ingin melupakan Kanada dan kenangannya disana." jawab Susi.


"Apa ibu perlu bantuanku untuk mengurusnya?" tanya Jeffry.


Wajah Susi terlihat senang. "Apa kau mau membantu ibu nak?" tanya Susi.


"Ya Tuhan, tentu saja bu. Aku akan membantu apapun yang menyangkut tentang ibu. Ibu tenang saja, ada ahli yang akan menjual properti terbaik. Ia adalah sahabat Jeffry namanya Ramon Jacob. Pria yang selama ini selalu berada di sisi Jeffry, saat suka maupun duka." jawab Jeffry.


"Terima kasih Tuhan, kau mengirim orang orang baik di dekat putraku." ucap Susi bersyukur.


Valery hanya menyimak obrolan mereka. Tapi ia tak ingin kehilangan Susi. 2 hari selama Susi tinggal bersamanya, ia sangat nyaman. Jadi saat Susi akan tinggal bersama Jeffry maka ia akan kesepian kembali. Jeffry memperhatikan wajah kekasihnya yang tiba tiba terlihat sedih.


"Ada apa sayang?" tanya Jeffry.


"Ah...tak apa apa." jawab Valery datar.


"Jangan menghindari pertanyaanku Vale, aku tahu ada sesuatu yang sedang kau pikirkan." ujar Jeffry.


Valery menghela nafasnya. "Aku akan kesepian lagi, karena ibu akan tinggal bersamamu." jawabnya sedih.


Keduanya terbelalak. Mereka lupa perasaan Valery. "Maukah kau tinggal denganku?" tanya Jeffry.


Sontak Valery terkejut. "Kau gila, tentu saja tidak." jawab Valery.


"Agar kau tidak kesepian sayang." kata Jeffry lagi.


"Benar nak, tinggallah bersama kami disini." ujar Susi.


Valery menggeleng. "Tidak sebelum kami menikah bu." jawab Valery.


"Aku akan segera menikahimu." ujar Jeffry.


"Aku tak mau." jawab Valery.


Jeffry terbelalak. "Apa maksud jawabanmu itu?" tanyanya.


"Aku tidak mau kalau kau melamarku seperti ini." jawab Valery.


Jeffry bernafas lega, ia tadi sangat terkejut. "Ya Tuhan, aku akan melamarmu dengan layak sayang, kata kataku tadi hanya meyakinkanmu saja. Kita tak perlu berlama lama untuk menikah." ujarnya.


Valery tersenyum, ia mengangguk. Dan kebahagiaan mereka pun semakin bertambah.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...😘


__ADS_2