AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 8


__ADS_3

"Hai nona cantik, aku Samuel." ujar pria itu saat Valery masuk dan menemuinya.


"Jadi kau yang menghubungiku?" jawab Valery. "Aku Valery." ujarnya.


"Aku sudah tahu. Ya benar akulah yang menghubungimu." jawab Samuel.


"Jadi apa yang kau ketahui tentang orangtuaku?" tanya Valery.


"Hei...sabar nona. Kita baru saja bertemu. Kau temani aku minum terlebih dahulu." jawab Samuel.


"Maaf aku sangat sibuk, dan aku tak pernah minum alkohol." jawab Valery.


"Jika kau tak bersedia, maka aku juga berhak menolak bercerita." ujar Samuel.


Valery terkejut. "Baiklah aku temani, tapi aku pesan lemon tea saja."


Samuel mengangguk dan memanggil pelayan. "Lemon tea satu." ujarnya sambil mengedipkan matanya.


Samuel sudah merencanakan sesuatu. Ia membayar pelayan untuk mencampur minuman yang Valery pesan dengan obat perangsang. Beberapa menit kemudian, minuman Valery datang.


"Minumlah, dan santai saja nona. Aku tak akan berbuat jahat. Aku hanya ingin bercerita lebih santai denganmu." ujar Samuel.


Valery mulai meminum lemon tea nya. "Jadi apa kau tahu mengapa kecelakaan itu terjadi?" tanya Valery.


Samuel mengangguk. "Aku sangat tahu siapa pelakunya. Hari itu aku berada di lokasi kejadian." ujar Samuel mulai menjelaskan.


Valery mulai mengerjapkan matanya. Kepalanya tiba tiba pusing dan badannya terasa sangat panas. Keringatnya mulai keluar. Samuel memperhatikan wanita cantik itu dan tersenyum licik.


*****


Diantara keramaian kelab ternyata dari awal Valery masuk Jeffry sudah mengikutinya dan langsung menghubungi Ramon untuk membantunya.


Beberapa menit yang lalu...


"Mon, Vale dalam bahaya. Aku tak bisa membantunya karena yang ia temui Samuel. Ia akan mengenaliku. Aku berada di kelab malam Golden Dragon." ujar Jeffry dan mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban Ramon.


Samuel adalah pria nakal nomor satu. Pria itu memang sering kali membuat lawan jenisnya berakhir di ranjangnya. Melihat dari sikap Valery yang mulai tak tenang. Tebakan Jeffry 100% benar, pria itu sudah mencampur sesuatu kedalam minuman Valery.


*****


"Kau baik baik saja nona?" tanya Samuel.

__ADS_1


Valery mengangguk, tapi ia semakin merasa sangat panas. Samuel mulai mendekatinya.


"Hei bung, jangan sentuh wanita itu." ujar Ramon yang sudah berada diantara mereka.


Samuel terkekeh. "Bukankah kau asisten Jeffry Sean? Dimana pria itu?" tanya Samuel.


"Kau tak perlu tahu dimana atasanku. Tapi jangan sentuh wanita ini jika kau tidak ingin berurusan dengan Jeffry Sean." ancam Ramon.


Samuel justru tertawa terbahak bahak. Suaranya terdengar diantara musik yang keras di kelab tersebut. "Memang apa hubungannya wanita ini dengan pria sialan itu?" tanya Samuel.


Tangan Ramon melayang ke wajahnya. Membuat Samuel tersungkur ke lantai. Ramon memberi tanda pada Jeffry agar segera membawa Valery pergi. Jeffry segera masuk. Ia membawa Valery yang semakin bertingkah aneh. Ramon menghalangi tubuh Valery di depan Samuel, agar pria itu tak melihat Jeffry.


"Bangunlah...kau yang pria sialan bukan atasanku Jeffry Sean. Kau memanfaatkan keadaan dan ingin melakukan hal yang tidak tidak kan pada Valery." bentak Ramon.


Samuel bangun terhuyung. "Apa hubungannya denganmu hah?" bentak Samuel sambil melayangkan tinjunya, namun dengan sigap Ramon menangkisnya dan menghajarnya kembali. Samuel memang sudah sedikit mabuk jadi ia tak mampu melawan Ramon.


"Cukup sudah, jika kau ingin menuntutku datanglah ke perusahaan PT. Sean Permata besok." ujar Ramon pada Samuel yang sedang mengerang kesakitan.


Tentu saja Samuel tidak akan pernah berani melawan Jeffry Sean. Ia akan kehilangan bisnisnya jika sampai berurusan dengannya. Ramon meninggalkan Samuel dan menuju parkiran.


*****


"Cepatlah bawa pulang Valery, kau tahu kan cara mengobatinya." ujar Ramon pada Jeffry.


"Rendam tubuhnya di bak mandi menggunakan es batu." jawab Ramon.


Jeffry mengangguk dan segera membawa Valery pulang kerumahnya. Di dalam mobil Valery terus menggeliat. "Jecko panas, tolong aku." ujarnya.


Jeffry mempercepat mobilnya. "Bertahanlah Vale." jawabnya.


"Aku tak bisa, aku sudah tak tahan." ujar Valery lagi. Ia mulai membuka baju kerjanya.


"Vale hentikan." bentak Jeffry. Namun Valery terus melucuti bajunya di dalam mobil.


"Sialan." ujar Jeffry yang melihat tubuh Valery nyaris bertelanjang, hanya bra dan celana dalam putih yang menutupi tubuh itu. "Kau mencoba kesabaran imanku Vale." Jeffry menepikan mobilnya di tempat sepi. Ia pindah ke kursi penumpang dan mulai menutupi tubuh Valery dengan kemejanya.


Valery mencoba menepiskan baju yang berusaha Jeffry pakaikan. "Tolong aku Jecko. Sangat panas." ujarnya. Tiba tiba Valery menarik leher Jeffry dan mulai menciumnya. Jeffry membelalakkan matanya. Valery tak melepaskan bibir Jeffry. Wanita itu terus saja mencium dan menggigit bibir Jeffry.


Jeffry melepaskan tangan Valery dari lehernya. "Tenanglah Vale." Jeffry segera kembali ke bangku supir ia mempercepat mobilnya lagi.


"Jecko...tolong aku...panas...aku ingin...Jecko." teriak Valery sambil berusaha melepas kemeja Jeffry lagi.

__ADS_1


Jeffry tak memperdulikannya. Sampailah di rumah Valery. Jeffry membopong tubuh Valery sampai ke kamarnya. Valery terus menggeliat diatas ranjang. Ia menarik Jeffry hingga jatuh diatasnya. Valery mulai menciumi Jeffry kembali. Awalnya Jeffry berusaha menolaknya, namun akhirnya ia menyerah karena ia pun menginginkannya.


"Jangan salahkan aku Vale, ini kau yang memaksaku." ujar Jeffry lalu ia mulai mencium Valery. Valery menikmati setiap sentuhan Jeffry. Jeffry mulai melucuti baju Valery. Namun kesadarannya mulai datang.


"Ya Tuhan, sialan...Apa yang aku lakukan?" teriak Jeffry pada dirinya sendiri. Ia segera bangun dan menutupi tubuh Valery. Ia menggendong Valery ke kamar mandi dan meletakkannya di bak mandi.


"Jecko..aku tak tahan." ujar Valery.


"Maaf yang aku lakukan tadi Vale, bersabarlah." Jeffry mulai menyiram tubuh Valery. Ia segera mengambil es batu yang ada di dalam kulkas dan segera kembali ke kamar mandi. Wajah Valery semakin merah.


Samuel sialan, seberapa banyak yang kau masukkan kedalam minumannya. pikir Jeffry.


Valery mulai tenang, dan akhirnya tertidur di dalam bak yang dingin. Jeffry segera mengangkat tubuh Valery dan menyelimutinya lalu ia membopongnya dan meletakkannya di ranjang kembali. Jeffry memandangi wajah Valery. Hampir saja aku menodaimu dalam keadaan seperti itu Vale. Aku sudah melihat seluruh tubuhmu yang indah ini, entah apa kau bisa memaafkanku, pikirnya.


Jeffry mengambil baju ganti Valery dan mulai memakaikannya. Ia membiarkan Valery tertidur dan meninggalkannya.


*****


Sepanjang perjalanan, Jeffry terus mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia ingin menodai Valery seperti itu. Tapi ia pria normal, wajar saja jika tergoda dengan rayuannya. Namun bagaimanapun Valery tidak sadar. Ia yang jahat telah memanfaatkan situasi.


Ponselnya berdering, ia menepikan motornya. Ramon yang menghubunginya. "Dimana kau Jeff?" tanya Ramon.


"Aku dijalan, sebentar lagi sampai rumah." jawab Jeffry. "Ada apa?" tanyanya.


"Aku hanya penasaran, apa kau mampu menangani wanita yang sedang terangsang?" tanya Ramon menggoda.


"Terima kasih perhatianmu Mon, dan aku berhasil membuatnya kedinginan di bak mandi." jawab Jeffry.


"Apa? Jadi kau melakukan pilihan kedua." ujar Ramon lalu ia tertawa. Jeffry menjauhkan ponselnya.


"Terus saja kau mengejekku Mon, aku takkan memanfaatkan keadaan wanita seperti itu." bentak Jeffry.


"Oke...oke...aku menyerah. Kau memang pria baik Jeff. Tapi aku yakin ponakan kecilmu berkata sebaliknya." ejek Ramon.


Ramon benar, sampai saat ini pun ponakannya masih memberontak. "Aku sudahi, masih dijalan." ujar Jeffry seraya mematikan ponselnya.


Jeffry kembali memacu motornya dan kembali ke rumahnya. Ia langsung masuk kamar mandi setelah sampai di rumahnya untuk mendinginkan ponakan kecilnya.


*****


Happy Reading All...😘😘😘

__ADS_1


See You Next Time...


__ADS_2