
Sepanjang perjalanan tak ada satu pun yang berbicara, Jeffry maupun Valery sama sama terdiam. Keduanya terhanyut dalam pikiran masing masing. Sampailah mereka di rumah sakit pertamina. Jeffry memegang tangan Valery menuju ruang rawat Paul Sean.
"Inilah adikku Vale, namanya Paul Sean. Malam itu ia kecelakaan di tol Cipali setelah berdebat dengan kekasihnya." Jeffry tertawa. "Dan yang lebih lucu lagi, ternyata kekasihnya adalah sekertarisku sendiri. Dan aku sama sekali tidak mengetahuinya, abang macam apa aku ini."
Valery menggenggam tangan Jeffry. "Tenanglah Jeff, adikmu pasti sangat bangga memiliki kakak sepertimu. Aku yakin ia akan segera bangun."
"Terima kasih Vale, sebenarnya ada yang ingin aku katakan lagi. Ini tentang masa laluku. Aku benar benar butuh bantuanmu." ujar Jeffry.
"Katakanlah, aku akan membantumu jika aku bisa Jeff." jawab Valery.
"Tidak disini, aku tak ingin menambah beban Paul. Aku yakin ia bisa mendengar kita walaupun ia belum siuman." ujar Jeffry.
Valery mengangguk. "Terserah kau saja ingin bicara dimana. Aku siap mendengarkan."
"Vale, apa kau sudah memaafkanku dan mau menerimaku?" tanya Jeffry.
"Ada syaratnya." jawab Valery.
"Apapun itu, katakanlah." kata Jeffry.
"Apapun? Kau sangat berlebihan Jeff." ujar Valery.
"Aku serius Vale, apapun yang kau inginkan asal aku bisa mendapatkanmu. Aku akan melakukannya." jawab Jeffry. Wajahnya memang sangat serius.
"Baiklah, syaratku adalah kau jangan pernah mencintai orang lain selain diriku Jeff." kata Valery.
Jeffry tersenyum bahagia. "Itu jangan kau ragukan lagi Vale. Apapun yang terjadi, kau akan menjadi cintaku. Dalam hidupku, hanya kau saja. Bukan hanya sebagai kekasihku tapi juga sebagai pendamping hidupku."
Valery menyipitkan matanya. "Apa ini sebuah lamaran?" tanyanya.
Jeffry menggeleng. "Aku akan melamarmu di tempat yang indah Vale, bukan di rumah sakit."
Valery tertawa. "Aku hanya bercanda Jeff, sudahkah kau siap bercerita? Jika sudah, lebih baik kita ke taman rumah sakit." Valery mendekatkan diri pada Jeffry dan berbisik. "Sepertinya kekasih adikmu sudah datang, berkali kali ia mengintip."
"Benarkah?" tanya Jeffry terkejut.
"Sssstttt...kau ini...Ayo kita ke taman." ajak Valery.
__ADS_1
Jeffry mengangguk dan mengikuti Valery keluar. Benar saja Ana sudah ada di depan ruangan. "Mengapa kau tidak masuk Ana?" tanya Jeffry.
"Maafkan aku pak." jawab Ana.
"Panggil aku abang, seperti yang dilakukan Paul kalau sedang di luar kantor Ana." ujar Jeffry.
"Tapi..." kata Ana.
"Ikuti saja kemauan atasanmu Ana, salam kenal. Aku Valery Arnold." sapa Valery.
"Aku Ana bu Vale, anda pemilik..." jawab Ana tapi perkataannya dipotong Jeffry lagi.
"Ya benar, sudah sana masuk, aku ada perlu sebentar." ujar Jeffry seraya memegang tangan Valery dan meninggalkan Ana.
Ana terkejut dengan apa yang dilakukan Jeffry, ia akhirnya tahu atasannya memiliki kekasih yang sangat cantik dan tentu saja pemilik PT. Berlian Indah. Ia segera masuk ke ruangan Paul.
*****
Udara malam di taman rumah sakit sangat menenangkan keduanya. Bangku taman tersebut memang sangat cocok untuk keduanya berbicara. Valery juga melihat bintang bintang yang kebetulan hadir malam ini menemani mereka.
"Benar cantik sekali." jawab Valery.
"Bukan bintangnya, tapi kau Valery Arnold." jawab Jeffry.
Valery menurunkan pandangannya ke arah Jeffry. "Apa kau biasa menggoda wanita?"
Jeffry menggeleng. "Aku memang sering berkencan, tapi tidak dengan arti sebenarnya dan aku sama sekali tak suka menggoda wanita."
"Aku tak ingin kau melakukannya lagi, aku tak mau kau mengidap penyakit HIV." ujar Valery kesal, ia sangat tahu apa yang sering dilakukan pria pria.
"Aku takkan melakukannya lagi sayang, sebelum mengenalmu pun aku sudah berhenti lebih dari setahun." jawab Jeffry.
"Benarkah? Jadi seminggu yang lalu karena kau ingin melepaskan hasratmu yang sudah setahun lebih tak kau salurkan." ejek Valery.
"Hei...kau masih tak mempercayaiku sayang, aku benar benar menginginkanmu. Seandainya ini bukan rumah sakit, mungkin..." goda Jeffry.
"Tidak akan, kau nikahi aku dulu baru melakukannya. Aku tak mau kau meninggalkanku begitu saja." jawab Valery.
__ADS_1
"Maafkan aku Vale, aku memang salah. Tapi ini semua tak terduga Vale. Jadi kau mau menikah denganku?" tanya Jeffry.
"Tergantung seberapa pintar kau bisa mengambil hatiku." jawab Valery.
Jeffry mencondongkan tubuhnya ke arah Valery. "Apa sekarang aku belum bisa mengambil hatimu?"
Wajah Valery memerah, tentu saja pria itu sudah mencuri hatinya. "Jadi apa yang ingin kau ceritakan." Valery mengalihkan pembicaraan.
"Ini cerita yang sangat panjang, aku takut kau bosan mendengarnya. Tapi aku butuh bantuanmu Vale." jawab Jeffry.
"Iya, katakanlah Jeff. Aku akan mendengarkannya." ujar Valery.
Jeffry menarik nafas panjang. "Aku ditinggalkan ibuku sejak berumur 10 tahun, saat itu umur Paul baru 4 tahun, dan saat itu juga ayahku baru saja meninggal. Wanita itu meninggalkan kami demi menikahi pria bule dari Kanada. Dengan mudahnya ia meninggalkanku tanpa memperdulikan rengekanku. Aku bingung cara merawat Paul yang masih sangat kecil. Aku berusaha berdiri di kaki ku sendiri tanpa meminta bantuan orang lain. Bahkan uang yang setiap bulan dikirim wanita itu, sama sekali tak pernah kami sentuh. Aku pernah menjadi pengemis, pengamen dan pemulung. Kami pernah tidak makan Vale." Jeffry menarik nafasnya, ia menahan tangisnya. Valery menepuk pundaknya.
"Aku berusaha menjadi anak yang cerdas agar aku bisa mendapatkan beasiswa sekolah dari SMP sampai SMA. Bahkan aku juga mendapat beasiswa untuk kuliah. Aku berusaha dengan kemampuanku sendiri sampai akhirnya aku bisa membangun perusahaan sampai sebesar ini dan bisa menyekolahkan Paul sampai saat ini. Hanya satu teman yang bisa aku andalkan sejak SMP yaitu Ramon. Pria itulah yang bersamaku sampai sekarang Vale. Penderitaanku selama puluhan tahun masih membekas dihatiku. Setiap hari aku harus menghadapi mimpi buruk itu. Kau pernah mendengarku mengigau kan?" tanya Jeffry.
Valery mengangguk. Ia juga tak bisa menahan tangisnya saat Jeffry bercerita. Kehidupannya sama persis dengannya.
"Dan setelah puluhan tahun ini juga, setelah aku dan Paul bisa melewati segalanya. Wanita itu menghubungiku, ia ingin bertemu dan meminta maaf juga menjelaskan semuanya. Tapi ketahuilah Vale, aku tak ingin melihat wajahnya. Sejak hari itu aku sudah membuang seorang ibu dari hidupku. Tapi kemarin ia mengirim email padaku, bahwa ia sedang menuju Indonesia. Ia benar benar tak memikirkan perasaanku seperti apa menghadapinya Vale. Ia tahu jika Paul kecelakaan. Jadi ia memaksa kemari dan ingin menemui kami. Jeffry memejamkan matanya. Apa yang harus aku lakukan Vale?" tanyanya.
"Jeff, aku pernah mengalami kesulitan yang sama. Tapi bedanya orangtuaku meninggal karena kecelakaan. Tapi ibumu pasti memiliki alasan yang kuat, mengapa ia meninggalkanmu. Menurut pendapatku, temuilah dan dengarkan semua alasannya. Setelah itu kau bisa memutuskan, apa yang harus kau lakukan selanjutnya." jawab Valery.
Jeffry mengerjapkan matanya berkali kali agar air matanya tak tumpah. "Aku tak punya kekuatan untuk menemuinya Vale. Yang aku ingat hanya rasa sakit hari itu. Anak laki laki berusia 10 tahun harus hidup dengan beban membesarkan adiknya seorang diri. Meminta belas kasihan orang lain. Ya Tuhan, apakah seorang ibu tak memiliki perasaan apapun." akhirnya air mata Jeffry tumpah.
Valery memeluknya. "Keluarkan semuanya Jeff, jangan kau tahan." ujar Valery. Ia pun tak bisa menahan tangisnya juga. Sambil mengelus punggung Jeffry. Valery berkata. "Aku akan menemanimu menemuinya Jeff, aku akan memberi kekuatan itu untukmu."
Jeffry melepaskan pelukannya. Itulah yang ia inginkan dari Valery. "Kau mau membantuku?"
Valery mengangguk. Keduanya berpelukan kembali, beberapa menit kemudian keheningan panjang terjadi di taman. Keduanya larut dalam pandangan mereka ke langit yang dipenuhi bintang bintang.
*****
😭😭😭
Author buatnya saja ikut baper. Maaf ya para Readerku...
Happy Reading All...😘😘😘
__ADS_1