AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 33


__ADS_3

Valery menunggu kedatangan Jeffry pagi ini, namun sudah hampir setengah jam pria itu tak kunjung menjemputnya. Valery menghela nafasnya. "Jeffry masih marah, pria itu sama sekali tak memahami perasaanku." ujarnya.


Valery mengambil kunci mobilnya dan berangkat sendiri menuju perusahaannya.


Sedangkan Jeffry masih tertidur di rumahnya, kepalanya sangat berat akibat ia mabuk semalam. Ia melihat jam di kamarnya. Seketika itu juga ia terbangun. "Sialan, aku terlambat menjemput Vale." ujarnya.


Jeffry memegang kepalanya yang sangat sakit lalu menuju kamar mandi. Dengan cepat ia bersiap siap dan segera menuju rumah Valery. Lagi lagi Jeffry melihat jam tangannya, ia sudah terlambat satu jam. Ia menghubungi Valery, namun wanita itu tak mengangkat ponselnya. Sesampainya ia di rumah Valery, sekuriti mengatakan nyonyanya sudah berangkat. Jeffry memutar mobilnya menuju perusahaan Valery.


*****


Valery sedang mengadakan meeting bersama beberapa staff, bagian keuangan melaporkan pemasukan dan pengeluaran bulan ini.


"Jadi pendapatan kita hanya naik 2%?" tanya Valery.


"Ya bu Vale. Peminat berlian lebih menyukai berlian hijau daripada berlian merah." ujar salah satu staff.


Valery menghela nafasnya. "Harus kita apakan berlian merah ini untuk menarik perhatian?" tanyanya.


"Kita bisa bekerja sama dengan desainer ternama untuk menyematkan berlian kita ke pakaian mereka. Dan yang bisa melakukannya hanya ada 2 desainer. Tapi kendalanya adalah harga." jawab staff yang lain.


Valery memejamkan matanya. Kali ini ia sulit sekali berpikir. "Tara bisa kau berikan dokumen perencanaan padaku nanti. Aku pikir meeting kita sudah selesai sampai disini. Aku sedang tidak bisa berpikir sekarang. Jika aku menemukan solusinya, kita akan mengadakan meeting kembali." ujarnya.


Semuanya mengangguk setuju. Valery meninggalkan ruang meetingnya.


"Sepertinya bu Vale kurang sehat, apa ibu ingin ke dokter?" tanya Tara.


Valery menggeleng. "Tidak Tara terima kasih, aku hanya kurang tidur." jawabnya.


"Tapi wajah bu Vale sangat pucat. Apa ibu sudah sarapan?" tanya Tara lagi.


Valery kembali menggeleng.


"Oh ya ampun, aku izin sebentar membelikan bu Vale sarapan." ujar Tara lalu meninggalkan Valery.


Valery hanya melihat sekertarisnya yang sedikit berlari. Tara memang sangat perhatian padanya. Valery membuka pintu kantornya dan terkejut saat ada sosok pria yang menunggunya di dalam.


Pria itu langsung memeluknya. "Maafkan aku sayang, aku bangun kesiangan." ujar Jeffry.


Valery tersenyum. "Aku pikir kau marah. Tapi tubuhmu bau alkohol Jeff." ujarnya. "Apa kau semalam mabuk sehingga kesiangan?" tanyanya.


"Maaf sayang." jawab Jeffry menyesal.


Valery menghela nafasnya. "Apa perkataanku menyakitimu Jeff? Aku hanya butuh waktu menjalin hubungan denganmu." ujar Valery.

__ADS_1


Jeffry menarik Valery dan mencium wanita itu. "Aku menginginkanmu Vale, aku marah karena takut kehilanganmu." jawab Jeffry.


"Pria bodoh, aku tak meminta putus darimu. Aku hanya belum siap sekarang." ujar Valery.


Jeffry menariknya lagi, kali ini ia mencium Valery dengan hasrat yang menggebu gebu. Jeffry membuat Valery hampir kehabisan nafas. Untunglah Tara mengetuk pintu kantornya, jadi Jeffry melepaskannya.


"Masuk Tar." ujar Valery sambil merapikan dirinya.


Tara masuk dan terkejut saat melihat Jeffry. "Maaf bu Vale, aku mengganggu. Ini sarapannya." ujarnya seraya pamit keluar.


"Kau belum sarapan?" tanya Jeffry.


"Pagi ini ada meeting penting, jadi aku terburu buru ke kantor. Aku menunggumu setengah jam Jeff." jawab Valery.


"Maafkan aku sayang, aku benar benar salah." ujar Jeffry.


"Tidak apa apa, tapi bisakah kau berhenti minum alkohol demi aku?" tanya Valery.


"Akan aku usahakan sayang." jawab Jeffry dan menarik Valery agar duduk disebelahnya. Jeffry membuka makanan yang dibeli Tara lalu mulai menyuapinya.


"Aku bisa makan sendiri Jeff, nanti kau terlambat ke perusahaanmu." ujar Valery.


Jeffry menggeleng. "Aku tak ada meeting pagi ini. Aku bisa datang siang ke perusahaan. aku ingin bersamamu pagi ini." jawabnya.


"Kenapa?" tanya Valery.


"Kau sangat cantik sayang." jawab Jeffry.


"Ciiih... Kau suka sekali menggodaku." ujar Valery, ia mengambil sendok dari tangan Jeffry, kali ini ia yang menyuapi Jeffry. "Aku tahu kau juga belum sarapan. Buka mulutmu." pinta Valery.


Jeffry menarik tengkuk leher Valery dan mulai menciumnya dengan lembut. "Ini sarapanku." ujarnya di sela ciumannya. Valery kembali tak bisa bernafas saat Jeffry mulai memperdalam ciumannya. Jeffry menariknya lebih dekat dan terus menikmati ciuman itu.


Valery menarik diri saat nafasnya semakin memburu. "Ini kantor sayang, kita bisa melewati batas jika terus melakukannya." ujar Valery sambil mengatur nafasnya yang ngos ngosan.


Jeffry menempelkan keningnya pada Valery. "Tapi aku menginginkanmu Vale, aku ingin melewati batas itu." jawab Jeffry.


"Kau gila, aku sedang bekerja. Dan aku sedang menghadapi masalah." ujar Valery.


Jeffry menyipitkan matanya dan mulai serius. "Katakan sayang, aku akan membantumu." ujar Jeffry.


Dengan berat hati, Valery mulai mengatakannya pada Jeffry tentang kendala berliannya. Jeffry menggenggam tangannya dan mencium keningnya. "Serahkan padaku, aku akan membantumu." jawab Jeffry.


Valery terbelalak. "Dengan cara apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Nanti kau akan tahu sayang, baiklah sudah waktunya aku kembali ke perusahaan. Nanti siang kau akan tahu jawabannya." ujar Jeffry seraya bangun dari duduknya. "Aku akan menjemputmu. Bye..." sambungnya dan meninggalkan Valery yang masih kebingungan.


*****


Samuel menemukan alamat Sassy, ia tersenyum saat tahu wanita itu sudah kembali ke Indonesia. Samuel sedang menunggu Sassy keluar dari rumahnya. Dan ia sangat terkejut saat melihat wanita itu, ia sangat cantik dan kemungkinan Samuel bisa memanfaatkannya juga di ranjangnya.


Samuel mengikuti arah mobil Sassy, dan ia sangat terkejut saat wanita itu mengarah ke perusahaan Jeffry Sean. Samuel melihatnya dari kejauhan saat sekuriti berusaha mengusirnya.


Sebenarnya apa hubungannya dengan Jeffry Sean atau perusahaannya, mengapa wanita itu tak disambut dengan baik. gumam Samuel.


Samuel kembali mengikuti Sassy, wanita itu menuju taman kota.


Tuhan bersamaku, tak perlu waktu lama aku menemuinya. gumam Samuel lagi.


Ia turun dari mobilnya. dan menghampiri Sassy. "Sudah puluhan tahun, dan kau sangat cantik Sassy." ujar Samuel.


Sassy terkejut. "Kau siapa? Dan kau tahu darimana namaku?" tanya Sassy.


Samuel tertawa. "Tentu saja aku mengenalmu, kau wanita pembunuh 2 orang." jawab Samuel.


Sassy terbelalak dan wajahnya memucat. "Aa...apaa..maksudmu?" tanyanya tergagap.


Samuel menyebutkan plat nomor polisi mobilnya. "Pengendara mobil itu menabrak mobil orang lain, dan menyebabkan keduanya meninggal dunia." jawab Samuel.


Sassy semakin memucat dan berkeringat. Samuel menyentuh wajahnya. "Kau berubah pucat, apa kau sakit?" tanya Samuel mengejek.


"Kkkaauu...salah orang." jawab Sassy masih tergagap seraya ingin meninggalkan Samuel.


Samuel menahan tangannya dan menariknya hingga jatuh ke pangkuannya. "Tidurlah malam ini denganku sayang, maka kau akan aman. Aku tak akan melaporkanmu pada polisi." ujarnya.


"Lepaskan aku, kau gila..." bentak Sassy.


Samuel melepaskannya. "Terserah, aku saksi yang akan memberatkanmu, bahkan aku memiliki buktinya. Datanglah ke hotel POP kamar 232, aku tunggu kedatanganmu." ujar Samuel seraya meninggalkan Sassy.


Sassy menangis di kursi taman itu. "Bagaimana mungkin ada orang lain tahu tentang kejadian itu? Apa yang harus aku lakukan, papa tak mungkin bisa membantuku kali ini." gumamnya.


Sassy segera menuju mobilnya, ia akan mencoba menemui ayahnya. Ia berharap masih ada solusi lain untuknya.


*****


Happy Reading All...😘


Dukung, Like n Komen terus ya...

__ADS_1


__ADS_2