
Ramon terkejut, dengan cepat ia mendapat kabar dari orang suruhannya. Tebakannya memang tepat, Sassy adalah penyebab kecelakaan orang tua Valery. Dan Samuel mengetahui semuanya, lalu baru menemukan wanita itu setelah bertahun tahun karena Sassy memang kabur ke luar negeri.
Ramon tersenyum lagi dengan prilaku Samuel yang menukar buktinya dengan tubuh Sassy. Wanita itu frustasi dan nekad bunuh diri, sekarang ia koma.
Haruskah aku mengatakan semua ini pada Jeffry? Tidak, tidak...ini akan menjadi kado buat pernikahan mereka besok, aku akan mengatakannya setelah acara sakral mereka selesai. pikir Ramon.
Ramon melanjutkan pekerjaannya, ia mulai tenang karena tugas yang diberikan oleh Jeffry Sean sudah selesai dengan sangat cepat. Ramon sangat bangga pada dirinya sendiri.
*****
Jeffry menghubungi Valery ketika sore sudah menjelang. Ia ingin kekasihnya ikut menjemput Paul dari rumah sakit.
"Halo sayang, masih sibuk kah?" tanya Jeffry.
"Sebentar lagi ada meeting dengan desainer dari Paris, ia berminat pada gaun berlian kami." jawab Valery.
Jeffry menghela nafasnya. "Jadi kau tak bisa menemaniku ya?" tanya Jeffry lagi.
"Maafkan aku sayang, ini klien sangat penting. Aku lembur juga hari ini, kau tidak marah kan?" ujar Valery.
"Tentu saja tidak sayang, ya sudah tak apa apa. Kau silahkan lanjutkan pekerjaanmu, aku akan menjemput Paul sekarang." ujar Jeffry. "Nanti malam aku akan menjemputmu, kita harus ke gereja melihat persiapan pernikahan kita besok." sambungnya.
"Oh ya ampun aku hampir lupa. Baiklah, kau hati hati Jeff." jawab Valery.
"Iya sayang, kau juga." jawab Jeffry seraya mematikan ponselnya.
Jeffry menghela nafasnya, ia ingin sekali Valery menemaninya. Tapi pekerjaannya tak bisa ia tinggal, ini yang Jeffry takutkan jika mereka sudah menikah. Jeffry ingin sekali menyatukan perusahaan mereka agar istrinya nanti hanya fokus pada rumah tangganya saja. Jeffry mengambil kunci mobilnya lalu keluar.
"Ana, aku akan membawa Paul pulang. Kau yakin tidak ingin melihatnya?" tanya Jeffry.
Ana menggeleng tapi wajahnya terlihat sangat sedih.
"Sebenarnya semakin kau menjauh, maka Paul akan semakin melupakanmu Ana. Aku pikir seharusnya kau dekat dengannya agar ia terus mengingatmu." ujar Jeffry.
"Tapi itu sangat menyakiti hatiku. Bukannya aku lari darinya, aku hanya ingin menunggu." jawab Ana.
Jeffry menghela nafasnya. "Terserah kau saja Ana." jawab Jeffry. "Aku pergi sekarang, jika pekerjaanmu sudah selesai kau boleh pulang." sambungnya.
Ana hanya mengangguk dan membiarkan Jeffry pergi begitu saja.
*****
Susi sudah membereskan semua barang barang Paul. Walaupun Paul masih tak mengenalinya dan selalu berkata ibunya sudah meninggal tapi Susi tak pernah meninggalkan putranya itu. Ia bahkan mengatakan mau menjadi suster yang merawat Paul di rumah. Jadi pada akhirnya Paul menyetujuinya. Paul juga sudah banyak berbicara dengan Susi.
Jeffry akhirnya sampai dan menjemput mereka. "Apa semuanya sudah siap?" tanya Jeffry.
"Abang terlalu lama." jawab Paul.
"Aku juga bekerja Paul." jawab Jeffry.
__ADS_1
"Abang benar benar tidak mengemis lagi kan?" tanya Paul.
"Abang sudah berapa kali mengatakan padamu, abang sudah memiliki pekerjaan lain." jawab Jeffry lagi.
"Baiklah, ayo kita pulang... Paul sudah bosan di rumah sakit." ujar Paul.
Jeffry mengangguk dan mengajak keduanya pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan Paul sangat cerewet, ia terus menanyakan darimana abangnya dapat mobil dan bisa menyetir. Tapi untunglah ada ibunya yang mencari alasan untuk menenangkan hati Paul.
Ketika sampai di rumah besar itu pun ia kembali bertanya.
"Ini dimana bang, rumah siapa ini?" tanya Paul, karena yang ia ingat hanya saat mereka tinggal di pemukiman warga yang kecil.
"Ini rumah bu Susi, kau kan tahu akan dirawat dengannya jadi lebih mudah ke rumahnya kan." jawab Jeffry.
"Aku baru tahu jika bu Susi adalah wanita yang sangat kaya raya, Paul sangat senang bisa tinggal di rumah mewah ini." ujar Paul yang membuat Susi kembali terisak.
Jeffry menepuk pundak ibunya agar tenang. Ia membawa Paul ke kamarnya.
"Inilah kamarmu Paul." ujar Jeffry.
Paul terkejut, semua barang di dalam kamar itu adalah barang kesukaannya. "Mengapa bu Susi tahu barang barang ini, kapan kalian menyiapkannya. Dan foto foto apa ini." tanya Paul saat melihat foto fotonya di dinding, padahal itu ulahnya sendiri.
"Kau tak usah banyak tanya Paul, kau harus beristirahat dan jangan merepotkan ibu, maksudku bu Susi." ujar Jeffry.
Paul mengangguk. "Baik bang, Paul janji takkan mengganggu bu Susi." jawabnya.
Jeffry mengelus kepalanya. "Anak pintar, sekarang abang akan membantu bu Susi menyiapkan makan malam." ujar Jeffry seraya meninggalkan kamar Paul.
"Apa ibu tidak akan menganggu kalian? Selama ini ibu tak pernah berada disamping kalian." tanya Susi.
"Omong kosong, semuanya sudah berlalu bu, kau ingat kan aku mengatakan apa. Kau adalah ibu kandung kami. Aku yang sudah melakukan kesalahan selama ini, jangan pernah berpikir akan meninggalkan kami lagi." jawab Jeffry.
Susi kembali menangis dan memeluk Jeffry kembali. "Ibu tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi nak, lalu bagaimana persiapan pernikahanmu? Bagaimana dengan Paul?" tanya Susi.
Jeffry tersenyum. "Persiapannya sudah selesai bu, tentu saja ibu dan Paul harus hadir. Paul akan aku jelaskan nanti malam soal pernikahan ini." jawab Jeffry.
"Syukurlah jika sudah selesai, ibu ikut bahagia atas pernikahanmu nak." ujar Susi.
"Lebih baik ibu beristirahat sekarang, ayo ikut aku." ajak Jeffry.
Jeffry mengajak ibunya ke kamar orang tua yang selama ini selalu ia siapkan. Dan akhirnya kamar tersebut benar benar terpakai.
"Ini terlalu berlebihan nak." ujar Susi.
"Tidak, ini biasa saja. Bagaimana bisa berlebihan? Semuanya milik ibu sekarang." jawab Jeffry.
Susi hanya bisa mengangguk, air matanya kini berubah menjadi air mata kebahagiaan.
"Jeffry akan menjemput Vale malam ini sambil membeli makan malam, jadi ibu tak perlu memasak. Beristirahatlah yang cukup agar ibu selalu sehat dan bisa terus menjaga Paul disini." ujar Jeffry lagi.
__ADS_1
Susi kembali mengangguk. "Berangkatlah dan hati hati nak, bagaimanapun kau dan Vale adalah calon pengantin." ujar Susi.
"Baik bu, dah." jawab Jeffry seraya meninggalkan rumah untuk menjemput Valery.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, saat Jeffry sampai di kantor Valery. Dan ternyata kekasihnya belum kembali dari meeting. Jeffry berusaha menghubungi Valery namun ponselnya mati.
Ya Tuhan, dimana kau Vale. tanyanya dalam hati.
Jeffry menghubungi Tara, sekertaris itu pun tak bisa dihubungi. Ia sangat frustasi, tapi ia mencoba terus menunggu kekasihnya sampai akhirnya ia terlelap di kantor Valery.
Dua jam berlalu, sekuriti mengatakan Jeffry berada di dalam kantornya. Valery segera menuju ke kantor dan menemukan kekasihnya terlelap di sofa. Valery tersenyum sambil mendekati Jeffry.
"Dasar pria bodoh, kau tak menunggu kabar dariku." ujarnya sambil mengelus pipi Jeffry.
Tiba tiba Jeffry menarik tangannya dan menjatuhkan Valery ke sofa, Valery sekarang berada dibawah Jeffry. "Kau yang bodoh membuatku menunggu sayang." ujar Jeffry.
"Hei, apa yang kau lakukan Jeff. Masih ada Tara diluar. Kau pura pura tidur, lepaskan aku." bisiknya.
"Aku tidak perduli, aku menunggumu dua jam. Aku benar benar tidur sampai aku terkejut mendengar suara pintu terbuka, aku yakin kau kembali jadi aku memanfaatkan situasi." jawab Jeffry.
"Maaf sayang, aku tak tahu jika meetingku bakal molor." ujar Valery menyesal.
"Kau tahu, aku sampai mengirim makan malam buat ibu dan Paul. Aku berjanji pada mereka akan makan malam bersamamu, tapi ternyata diluar rencanaku." ujar Jeffry.
"Maaf Jeff." jawab Valery.
"Ini hukumanmu." ujar Jeffry seraya menunduk dan mencium bibir Valery sampai ia puas.
Valery menghentikannya. "Jeff, nanti Tara masuk." ujarnya.
Jeffry tertawa lalu melepaskan kekasihnya. "Pengantinku, seharusnya kau sudah beristirahat. Tapi malah kau masih bekerja. Ayo kita pulang sekarang. Besok adalah acara sakral kita. Berapa banyak yang kau undang ke gereja?" tanya Jeffry.
"Hanya Tara, aku ingin mengundang seluruh karyawan saat acara resepsi kita saja." jawab Valery.
Jeffry mengangguk. "Besok aku akan menjemputmu menuju gereja Santa Maria. Sekarang lebih baik kita pulang lalu beristirahat." ujarnya.
Valery mengangguk. "Baiklah suamiku." jawab Valery.
Jeffry terkejut. "Apa kau bilang tadi?" tanyanya.
"Tidak ada siaran ulang." jawab Valery, ia berlari kecil menuju keluar ruangan. Jeffry hanya bisa tertawa melihatnya.
"Tara sudah waktunya pulang." ujar Valery.
"Baik bu, hati hati." jawab Tara. "Jaga pengantinmu pak Jecko." goda Tara membuat semuanya tertawa.
Mereka kembali ke rumah masing masing untuk beristirahat, karena besok adalah hari yang sangat penting bagi keduanya.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...😘