AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
BONUS PART I


__ADS_3

Selama satu minggu setelah acara resepsi pernikahan Jeffry dan Valery. Jeffry sangat melebihi Susi, ia lebih over protektif pada Valery. Apalagi setelah ia sering membaca artikel dimana kehamilan tri semester pertama sangat rentan janin keguguran.


Segala hal dilakukan Jeffry untuk melayaninya seperti putri raja, membuat Valery semakin risih. Suaminya bahkan tidak membiarkannya sedikit pun ikut andil dalam perusahaan. Jeffry ingin membatalkan bulan madu mereka ke Korea Selatan, karena takut Valery kelelahan. Tapi Valery bersikeras untuk tetap berangkat sampai ia merajuk selama 2 hari, dan akhirnya besok mereka akan tetap berangkat berbulan madu.


"Apa kau masih marah? Jangan lakukan itu Vale, ingatlah anak kita. Mereka akan marah padaku jika membuat ibunya marah." ujar Jeffry.


"Baguslah kalau begitu, biar saja anak kita tahu jika ayahnya over protektif pada ibunya." jawab Valery.


Jeffry tertawa. "Kau kan tahu, aku hanya mengkhawatirkan istriku dan anak kita." jawabnya.


"Kau lupa saat periksa ke dokter Fransiska, khawatir itu boleh tapi jangan berlebihan. Kau bisa membuatku stress." ujar Valery.


"Maaf sayang, sudah jangan marah lagi. Besok kan kita berangkat. Dan kau juga sudah mengemas barang barangmu kan." tanya Jeffry.


Valery mengangguk. "Aku sudah selesai, walaupun kita jadi berangkat tapi kau tetap saja membuatku kesal." jawabnya.


Jeffry memeluk Valery. "Apa yang harus aku lakukan agar kau tak marah lagi?" tanyanya.


Valery menatap wajah suaminya. "Kau yakin ingin menuruti permintaanku." jawabnya.


Jeffry mengangguk. "Apapun sayang, aku akan berusaha mengabulkannya."


"Baiklah, lakukan permintaanku sekarang." jawab Valery sambil menarik suaminya ke dapur. "Buatkan makanan yang paling enak, dan itu dari tanganmu." pintanya.


Jeffry terbelalak. "Bagaimana caranya, aku tak pernah memasak." jawabnya.


Valery menghela nafasnya, wajahnya kembali di tekuk. Ia ingin meninggalkan suaminya tapi Jeffry menahannya dan memeluknya dari belakang. "Jangan marah, aku akan melakukannya. Tunggulah di ruang makan." ujar Jeffry.


Wajah Valery kembali berseri seri. "Baiklah chef Sean, aku tunggu." ujarnya seraya meninggalkan suaminya.


Jeffry membuka kulkas dan melihat bahan yang tersedia. Ia membuka google cara memasak bahan yang tersedia di dapur tersebut. Dan ia mendapatkan tutorial memasak mie goreng ayam ala rumahan. Jeffry terus mengikuti caranya dan akhirnya ia berhasil melakukannya.


Susi terkejut saat memasuki dapur, ia seperti melihat pesawat pecah. "Ya Tuhan apa ini Jeff." ujarnya.


Jeffry tertawa. "Ini ulah menantumu yang ingin aku memasak bu." jawabnya.


"Ya ampun, bukan berarti kau harus menghancurkan dapur ini. Lalu apa yang kau buat?" tanya Susi.


Jeffry mengangkat piringnya, Susi mencium bau gosong masakan itu. "Kau akan membunuh menantu dan cucuku Jeff." ujar Susi.

__ADS_1


"Aku tak meracuninya bu, ini masakan yang aku bisa." jawab Jeffry.


Valery tiba tiba tertawa dibelakang mereka. "Ya Tuhan, suamiku apa yang kau lakukan?" tanyanya sambil menggoda.


Jeffry memberengut tapi Valery menarik piring yang ada ditangannya.


"Jadi ini hasil masakan suamiku?" tanyanya sambil mencicipinya.


"Ya Tuhan, Vale kau bisa sakit perut." ujar Susi.


"Aku tak meracuni istri dan anakku bu, aku hanya memasak atas permintaan Vale." jawab Jeffry.


"Tapi itu gosong nak." ujar Susi lagi.


Valery tak perduli dengan perdebatan mereka, yang ia rasakan masakan suaminya sangat lezat di mulutnya sampai ia menghabiskannya.


"Ya Tuhan, kapan kau memakannya. Kau membuangnya kan?" tanya Jeffry sambil mencari cari makanan itu ke kotak sampah dan tempat lainnya.


Valery tertawa. "Aku membuangnya kesini." jawabnya sambil menunjukkan perutnya yang mulai sedikit buncit.


Jeffry dan Susi sama sama terkejut lalu keduanya tertawa bersamaan. "Ibu lihat kan, menantumu ini menggemaskan." ujar Jeffry.


"Ibu berlebihan, aku tak akan sakit perut. Sayang, bisakah kau buat satu porsi lagi." tanyanya pada Jeffry.


Kali ini Jeffry tertawa terbahak bahak membuat tubuhnya bergetar. "Tentu sayang, aku akan membuatnya jika kau menyukainya." jawab Jeffry.


"Tapi tidak gosong seperti tadi dan ingat setelah selesai bereskan dapur." ujar Susi lalu membawa menantunya keluar dari dapur.


Jeffry menghela nafasnya lalu kembali memasak. Apapun keinginan Valery ia akan menurutinya, asal wanita yang ia cintai itu bisa bahagia.


*****


Paul mulai sibuk mengejar ketertinggalan kuliahnya, ia tak ingin gagal di tahun ini. Ia harus membantu kakaknya di perusahaan dan tentu saja agar segera menikahi Ana. Wanita yang 2 tahun lebih tua darinya, namun tak menyurutkan hatinya untuk mencari yang lebih baik dari Ana. 2 tahun adalah target mereka untuk menikah, dan Paul harus membuktikan pada kekasihnya jika ia mampu menghidupi dan membahagiakannya.


Paul kini tinggal di rumah Valery, karena kakak iparnya ingin memberikan rumah itu padanya dan Ana. Sedangkan Valery tetap tinggal bersama ibunya di rumah kakaknya Jeffry. Paul kini diberi kebebasan oleh Jeffry untuk mandiri. Ia bahkan sudah bebas menggunakan mobil yang diberikan oleh kakaknya untuk mengantar jemput Ana. Walaupun banyak sekali nasehat yang diucapkan Jeffry dan ibunya.


Paul menyelesaikan kuliahnya dan segera ke perusahaan untuk menjemput Ana. Sesampainya disana sudah pukul lima sore, dan Ana masih belum keluar dari kantornya. Hari ini abangnya tak ada sampai minggu depan karena cuti untuk bulan madu bersama istrinya. Paul masuk ke perusahaan itu dan mendapat sapaan dari seluruh karyawannya.


"Kapan kau akan memandangku, jika berkas di depanmu begitu banyak." ujar Paul.

__ADS_1


Ana terkejut dan mendongak, kekasihnya sudah ada di depannya. "Kapan kau sampai?" tanyanya.


"Baru saja, jadi kau lembur hari ini?" tanya Paul.


Ana menggeleng. "Sebentar lagi pulang, kau tak mengabariku dulu. Aku tak tahu jika kau menjemputku sekarang." jawabnya.


"Jam kuliahku sudah selesai, jadi aku langsung kemari. Aku lapar Ana, bisakah kau sudahi pekerjaanmu?" tanya Paul lagi.


"Sabar Pau, aku bisa di pecat abangmu." jawab Ana.


"Ia tak akan berani, kau bukan hanya sekertarisnya tapi juga calon adik iparnya." ujar Paul.


"Aku harus memisahkan masalah pribadi dengan pekerjaan Pau. Tunggu sebentar lagi." ujar Ana.


"Beri aku kecupan agar aku tak bosan." pinta Paul.


"Ini kantor Pau." ujar Ana malu.


Paul cemberut tapi akhirnya Ana mengecup bibirnya sekilas. "Dasar manja." ujarnya.


Paul menarik Ana dan mencium bibirnya lagi. "Aku mencintaimu Ana." ujarnya.


"Aku juga mencintaimu." jawab Ana.


Paul masuk ke ruang kantor Jeffry dan merebahkan tubuhnya di sofa sambil menunggu Ana selesai bekerja.


Satu jam kemudian Ana selesai dan mendapati kekasihnya sedang tertidur di sofa. "Pau, waktunya pulang." bisiknya.


Paul mengerjapkan matanya. "Apa sudah selesai?" tanyanya.


Ana mengangguk. "Ayo kita makan, katanya kau lapar." ujarnya.


Paul mengangguk dan bangun dari tidurnya. "Aku lebih ingin memakanmu sekarang." goda Paul.


"Hentikan, ini kantor. Ayo cepat..." ujar Ana sambil menarik lengan Paul.


Keduanya keluar dari perusahaan untuk makan malam bersama.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...😘


__ADS_2