
Hari yang ditunggu tunggu oleh Valery akhirnya datang juga, mereka akan berangkat berbulan madu menggunakan jet pribadi untuk pertama kali. Baru pertama kali Valery mengunjungi jet pribadi hadiah dari Jeffry. Dan ia sangat mengagumi apa yang diberikan suaminya itu. Susi dan Paul mengantar mereka ke bandara. Setelah mereka pulang nanti Susi, Paul dan Ramon akan berangkat ke Kanada untuk mengurus aset yang akan dijual Susi.
Mereka semua berpisah, Jeffry dan Valery sudah berada di dalam jet pribadi mereka. Valery terus mengagumi isi dalam pesawat tersebut.
"Apa kau sangat menyukainya?" tanya Jeffry.
"Tentu saja sayang, ini sangat luar biasa. Terima kasih untuk hadiahmu." jawab Valery.
Pilot, co Pilot dan 2 Pramugari masuk ke kabin mereka. "Ini pilot dan 2 pramugari kita Vale. Mereka yang akan menjaga dan merawat pesawatmu." ujar Jeffry.
"Hai nyonya Sean, selamat datang di pesawat anda sendiri. Aku Anthony pilot anda, ini Marcus co Pilot anda dan ini Celly dan Kanya pramugari anda." ujar Anthony.
"Hai juga terima kasih atas sambutan kalian. Aku akan mengandalkan kalian selama perjalanan ini." jawab Valery.
"Tentu saja nyonya Sean dengan senang hati kami melayani anda dan juga tuan Sean. Ini penerbangan pertama kita, maka lebih baik kita berdoa sekarang." pinta Anthony.
Mereka semua berdoa bersama sebelum take off atau mengudara menuju Korea Selatan. Setelah selesai akhirnya perjalanan di mulai. Pramugari senantiasa melayani Valery dan Jeffry sebelum akhirnya Valery tertidur karena kelelahan.
*****
7 jam perjalanan akhirnya mereka sampai di bandara International Incheon. Mereka melakukan transit sebelum akhirnya menuju kota Busan, tujuan utama bulan madu Valery dan Jeffry. Keduanya sudah sampai pukul 4 sore, Jeffry mengajak istrinya ke hotel berbintang yang sangat mewah di kota tersebut. Jeffry memang sudah menyiapkan semuanya dengan matang agar Valery tak kecewa.
"Ya Tuhan, ini tempat yang paling cantik suamiku." ujar Valery mengagumi hotel dimana mereka akan tinggal selama seminggu penuh.
"Aku akan melakukan apapun yang terbaik untukmu sayang, tapi beristirahatlah sekarang sebelum kita makan malam. Aku tak ingin terjadi sesuatu pada anak kita." ujar Jeffry.
Valery mengangguk. "Tapi aku akan beristirahat setelah membereskan barang barangnya." jawab Valery.
Jeffry menggeleng lalu mengangkat istrinya dan menidurkannya di ranjang. "Diamlah disini, jika kau masih mengantuk maka tidurlah. Serahkan semuanya padaku Vale." katanya.
Valery hanya bisa menghela nafasnya. Begitulah Jeffry setelah mengetahui ia hamil, tak ada satu pun pekerjaan yang boleh dikerjakannya. Ia memejamkan matanya karena tak ada satu pun yang bisa ia lakukan.
Jeffry membereskan semua barang barang yang mereka bawa. Setelah selesai ia menatap istrinya yang kembali terlelap, selera makan Valery akhir akhir ini mulai berkurang. Istrinya tak lagi sering makan, tapi justru itu membuat Jeffry khawatir. Walaupun dokter Fransiska bilang itu tak apa apa, karena nafsu makannya adalah bawaan bayi, jadi suatu saat akan hilang dengan bertambahnya usia kandungan.
__ADS_1
Jeffry ikut merebahkan dirinya di samping Valery, lalu ia ikut terpejam karena selama perjalanan Jeffry sama sekali tak bisa tidur.
*****
Di Indonesia, Ramon sibuk mengurus 2 perusahaan sekaligus bersama Ana. Selama Jeffry tak ada maka ia yang harus bertanggungjawab atas perusahaan. Ramon tak ingin mengecewakan Jeffry Sean yang telah memberinya kepercayaan penuh padanya.
Ramon menatap meja Ana yang dipenuhi dokumen. "Kau baik baik saja?" tanya Ramon.
"Ah, tentu saja pak Ramon." jawab Ana.
"Jangan memaksakan diri Ana, kau juga akan menjadi bagian keluarga Sean. Aku tak ingin menyiksamu." ujar Ramon.
"Aku selalu bekerja profesional pak. Aku akan memisahkan kehidupan pribadi dengan pekerjaan, maka untuk hal ini aku akan bekerja keras selama pak Jeffry tak ada." jawab Ana.
Ramon tersenyum. "Aku tahu kau memang pekerja yang sangat baik Ana. Bagaimana hubunganmu dengan Paul Sean?" tanya Ramon.
"Kami semakin baik. Paul mungkin akan semakin sibuk mengurus kuliahnya, mengingat ia sebentar lagi wisuda. Aku harap ia berhasil dan bisa membantu pak Jeffry di perusahaan." jawab Ana.
Ana mengangguk. "Tentu saja pak, aku akan sekuat tenaga untuk membantunya. Dan ada juga Tara yang akan membantu juga. Sekertaris bu Vale sangat cerdas." jawab Ana lagi.
"Baiklah, aku percaya padamu. Aku akan ke perusahaan Valery sekarang. Lebih baik kau tak usah lembur Ana. Paul suka sekali menggangguku jika kau lembur." ujar Ramon.
Ana tertawa. "Paul adalah pria yang tak sabaran. Terima kasih pak Ramon dan selamat bekerja." ucapnya.
Ramon hanya mengangguk dan meninggalkan Ana di kantornya.
*****
Jeffry terbangun, sudah waktunya makan tapi mereka ketiduran bahkan belum mandi setelah sampai. Jeffry membangunkan Valery, tapi istrinya tak bergeming. Jeffry mulai menciumi istrinya dan menggelitiknya sehingga Valery terkekeh.
"Bangun sayang, apa kau tidak lapar." tanya Jeffry.
Valery mengangguk dengan malas. "Aku sangat lelah, tidur adalah cara terbaik tapi aku juga lapar Jeff." jawab Valery.
__ADS_1
Jeffry menarik Valery hingga terduduk. "Kita mandi dulu." ujarnya sambil mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi.
"Kau gila sayang, aku bisa jalan sendiri." ujar Valery.
Jeffry tak menghiraukannya, setelah sampai di kamar mandi ia menyiapkan bak mandi besar dengan air hangat, mengingat udara di Korea Selatan sangatlah dingin. Jeffry melucuti bajunya hingga telanjang lalu menghampiri istrinya dan mulai melucuti pakaian Valery. Keduanya tak memakai apapun sekarang.
Jeffry menatap tubuh istrinya yang semakin berisi dan menatap perutnya yang mulai buncit.
"Kau tahu, aku semakin mencintaimu Vale." ujarnya seraya menciumi tubuh Valery hingga membuat Valery kehabisan nafas.
Jeffry membawa Valery ke bak mandi besar itu lalu mulai mencumbunya disana. Jeffry meremas kedua payudara yang membesar itu dan memainkan ujungnya dengan jarinya dengan lembut. Valery terus mendesah dan menggeliat. Jeffry membalikkan tubuh istrinya dan mendudukkan Valery diatasnya. Ini pertama kalinya mereka bermain didalam bak mandi. Jeffry segera menyatukannya, keduanya saling mendesah dan meneriakkan namanya masing masing.
Jeffry mempercepatnya hingga Valery merasa akan meledak sekarang. "Aku tak bisa menahannya sayang." bisik Valery sambil memeluk suaminya.
Jeffry tahu mereka akan mencapai klimaks bersama, ia memainkannya dengan kecepatan yang lebih sambil memeluk Valery. Dan desahan kenikmatan keduanya pun terdengar menggema di kamar mandi. Keduanya mengatur nafas mereka hingga teratur kembali.
"Apa aku menyakitimu dan anak kita?" tanya Jeffry.
Valery menggeleng. "Kau melakukannya dengan lembut, aku dan anak kita baik baik saja." jawab Valery.
Jeffry membangunkan Valery menuju shower. "Kita akan terlambat makan malam jika terus di kamar mandi, walaupun aku ingin lagi dan lagi. Tapi aku tak ingin membuatmu dan anak kita kelaparan." ujarnya.
Valery tertawa. "Kau memang gila jika sudah menyangkut hubungan intim Jeff."
"Itu karena hanya kau yang bisa membuatku seperti ini." jawab Jeffry.
Keduanya membersihkan diri dan bersiap siap untuk makan malam di restoran hotel tersebut. Lagi lagi Jeffry sudah menyiapkan sesuatu istimewa disana untuk istrinya.
*****
Happy Reading All...😘
Maaf atas keterlambatan up, Author sakit lagi...🙏😭
__ADS_1