AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 9


__ADS_3

Valery mengerang diranjangnya. Kepalanya sangat sakit, padahal ia tak minum alkohol. Saat ia ingin turun dari ranjangnya, ia terkejut melihat tubuhnya yang hanya memakai baju tanpa bra dan celana dalam. Valery mulai mengingat ingat kejadian semalam.


"Ya Tuhan...apa yang aku lakukan." ujarnya membelalakkan matanya. Yang ia ingat hanya saat membuka bajunya sendiri di dalam mobil. Ia tak mengingat saat ia berciuman atau menarik Jeffry. "Jecko...pria itu melihat tubuhku." teriaknya di kamar.


Valery langsung bangun dan masuk ke kamar mandinya. Ia menggosok tubuhnya sambil mencoba berpikir apalagi yang telah ia lakukan. "Haaaaaaahhhh..." teriaknya frustasi. Ia sama sekali tak mengingat apapun setelah itu.


"Baiklah aku akan menanyakannya pada Jecko". pikirnya.


Valery memakai setelan kerjanya berwarna hitam, lalu ia segera ke meja makan untuk sarapan yang dibuatkan mbok Karmi. "Pagi non Vale." sapa pelayannya.


"Pagi juga mbok, sudah sehat kah?" tanya Valery.


"Alhamdulillah non." jawab mbok Karmi.


"Puji Tuhan mbok sudah sembuh, jaga kesehatan terus mbok. Kalau mbok sakit, Vale ikut sedih. Oh ya mbok, semalam mbok tahu tidak bagaimana aku bisa pulang." tanya Valery.


"Ya tahu lah non, non Vale berteriak panas terus, dan juga den ganteng yang menggendong non ke kamar." jawab mbok Karmi.


"Apa? digendong? Kenapa aku berteriak panas?" tanya Valery tak percaya.


"Non makan apa sih kok ngamuk seperti itu?" tanyanya.


"Ya ampun mbok, memalukan sekali. Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Valery lagi.


Mbok Karmi menggeleng, ia tidak tahu karena memang ia akan pulang ke rumahnya. "Tidak tahu non, den ganteng lama di kamar non. Jadi mbok pulang saja. Den ganteng itu pacar non Vale ya."


"Duh si mbok ikh, yang mbok maksud itu namanya Jecko, ia cuma supir Vale mbok." jawab Valery.


Mbok Karmi terkejut. "Duh si non, masa ganteng gitu supir sih, mending jadiin suami aja non. Cocok banget dengan non Vale kok."


Valery hanya tersenyum. Suara deruman motor terdengar diluar. "Itu den gantengnya mbok Karmi datang." tapi tiba tiba wajah Valery berubah menjadi panas, bagaimana ia bisa menghadapi Jecko sekarang, memalukan sekali buatnya.


"Vale...sudah siapkah?" teriak Jeffry.


"Mbok suruh den ganteng masuk, ia pasti belum sarapan." perintah Valery.


Mbok Karmi menurut dan membuka pintu rumahnya. "Den ganteng, disuruh non Vale sarapan." ujarnya.


"Katakan tidak mbok, aku sudah sarapan di rumah." jawab Jeffry berbohong. Ia sangat takut jika Valery mengingat semuanya. "Dan namaku Jecko mbok."


"Non Vale tidak suka ditolak den, dan mbok akan terus panggil den ganteng. Habisnya den Jecko memang sangat ganteng." ujar mbok Karmi.


"Baiklah." jawab Jeffry sambil mengikuti mbok Karmi ke meja makan. "Pagi Vale." sapa Jeffry.


Valery tersedak makanannya, ia terus terbatuk saat terkejut mendengar suara Jecko. Jeffry segera menghampiri Valery dan berusaha menepuk punggungnya sambil memberinya minum.


"Kau ini, makan pelan pelan. Jangan sampai tersedak." ujar Jeffry. Menyadari akan tangannya yang refleks, ia menariknya dengan cepat. "Maaf Vale, jika aku kurang sopan." sambungnya.


"Tidak apa apa Jeck, duduklah sarapan." pinta Valery.


Jecko menggeleng. "Maaf, tapi aku sudah sarapan." jawabnya.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, ayo kita berangkat." ujar Valery seraya bangkit dari duduknya.


Jeffry memandangi penampilan Valery hari ini. Wanita itu sangat cantik memakai setelan hitam yang cocok dengan kulit putihnya.


"Ada yang ingin aku tanyakan Jeck. Cepatlah." ujar Valery.


"Baik Vale." jawab Jeffry tergagap. Ia kembali mengingat kejadian semalam. Jeffry menelan ludahnya. Ia siap ditampar hari ini. Jeffry membuka pintu penumpang, namun Valery menolak.


"Aku duduk di depan, banyak sekali yang ingin aku ketahui tentang kejadian semalam." kata Valery sambil menggigit bibirnya.


Jeffry mengangguk dan membukakan pintunya. Setelah beberapa menit mereka dijalan.


Valery berdeham, ia minta perhatian Jeffry. "Kau tahu apa yang terjadi. Aku hanya mengingat sedikit setelah aku merasa pusing dan panas setelah meminum lemon tea." Valery memulai pembicaraan.


"Jangan gampang percaya pada orang Vale, pria itu mencampur minumanmu dengan obat perangsang. Ia bermaksud ingin melecehkanmu. Untungnya aku mengikutimu sampai dalam kelab." jawab Jeffry.


"Lalu? Apa yang terjadi setelah itu?" tanya Valery lagi.


Jeffry menepikan mobilnya. Lalu ia menatap Valery. "Apa kau benar benar tidak mengingatnya?" tanya Jeffry, Valery menggeleng. "Aku hanya membawamu pulang Vale, tidak ada apa apa."


"Kau bohong Jeck. Aku ingat membuka seluruh pakaianku disini. Katakanlah apa yang aku lakukan Jeck. Aku tak ingin merasa bersalah seumur hidupku." ujar Valery.


"Kau janji tidak akan memecatku." kata Jeffry.


"Aku yakin, ini kesalahanku. Jadi untuk apa aku memecatmu. Aku hanya ingin tahu saja." jawab Valery.


"Baiklah aku akan mengatakannya. Kau membuka seluruh pakaianmu di dalam mobil, kau terus berteriak panas dan ingin. Maaf Vale, aku melihat semuanya. Aku menepikan mobilku dan mencoba memakaikan kemeja yang aku bawa padamu. Kau memberontak dan...dan...." ujar Jeffry.


"Dan..." Jeffry memejamkan matanya. "Jangan dibahas, itu kau lakukan karena tak sadar." jawabnya.


"Dan? Ayolah Jeck. Apa aku melakukan sesuatu padamu?" tanyanya lagi.


Jeffry menghela nafasnya dengan keras. "Dan kau menciumku dan menggigit bibirku, lihatlah hasil perbuatanmu." ujar Jeffry sambil memperlihatkan memar di bibirnya.


Valery terkesiap. "Ya Tuhan, itu tidak mungkin. Jeck maafkan aku, lalu apa yang terjadi setelah itu?"


"Tidak ada, aku hanya memacu mobilnya semakin cepat dan membawamu pulang. Kau ingin mengulanginya lagi, tapi kau tenang saja Vale. Aku tak pernah memanfaatkan situasi seperti itu. Aku mengikuti perintah temanku untuk menyirammu dengan air dan es batu. Maafkan aku, aku terpaksa menyentuhmu untuk mengganti baju basahmu sebelum kau masuk angin." lanjut Jeffry.


Valery memejamkan matanya. "Ya Tuhan, ini memalukan sekali. Walaupun kau menyentuhku. Tapi terima kasih kau membantuku Jeck."


"Jadi kau tidak marah dan memecatku." kata Jeffry.


"Bagaimana aku melakukan pada orang yang menolongku Jeck, aku pernah membaca tentang obat seperti itu. Jika saja aku bertemu pria lain. Mungkin aku sudah berakhir dengan kehilangan keperawananku." jawab Valery.


Jeffry tersenyum, secara tidak langsung Valery mengumumkan padanya bahwa ia masih suci. "Terima kasih Vale, kita berangkat sekarang sebelum terlambat." ujar Jeffry.


Valery mengangguk. Tapi pikirannya terus berkecamuk. Bagaimana pria tampan ini sama sekali tak menyentuh dan memanfaatkan situasi. Sungguh keberuntungan luar biasa bagi Valery. Mereka sudah sampai di perusahaan.


"Hari ini aku tak pergi kemanapun Jeck. Jemput aku jam 5 sore, kau boleh pergi atau menungguku. Terserah padamu." ujar Valery.


Jeffry mengangguk, ini kesempatannya kembali ke perusahaan.

__ADS_1


*****


Jeffry benar benar kembali ke perusahaan. Ia sampai di kantornya.


"Pagi pak Jeff." sapa Ana.


"Pagi juga Ana. Jadwalku?" tanya Jeffry.


Ana menjelaskannya pada Jeffry.


"Aku yang akan berangkat meeting dan menemui klien sampai jam 2, setelah itu serahkan jadwalku pada Ramon. Aku harus pergi jam 4 sore nanti." ujar Jeffry.


"Baik pak. Kopi biasa pak?" tanya Ana.


"Ya, terima kasih Ana." jawab Jeffry.


Seperti biasa Ana membuatkan kopi hitamnya. Tak lama Ramon mengetuk pintu kantornya. "Masuklah." perintah Jeffry.


"Syukurlah kau disini, ada masalah dengan berlian hijaunya Jeff." ujar Ramon panik.


"Kau tenanglah dulu, ada apa?" jawab Jeffry.


"Ada yang mencampur bahan batu berlian asli yang sudah dihancurkan dengan bahan yang belum diketahui. Dan produksinya gagal, karena hasilnya terlalu bersih. Berlian asli kalah dengan campurannya." Ramon menjelaskan.


"Apa?" bentak Jeffry. "Kita ke lokasi sekarang." ujarnya.


Ramon mengikuti Jeffry keluar dari kantornya. "Ana, batalkan jadwalku hari ini." perintah Jeffry.


"Baik pak." jawab Ana.


Jeffry masuk ke mobilnya diikuti Ramon, menuju pabrik pembuatan berlian milik PT. Sean Permata.


Beberapa jam kemudian. Jeffry masuk ke ruang laboratorium, tempat analisis kandungan yang menghancurkan berlian hijau tersebut. "Apa yang kalian temukan?" tanya Jeffry.


"Didalam bahan baku berlian telah tercampur Titanium Carbide, kami tidak tahu mengapa ini terjadi. Karena tak mungkin batu itu tercampur dengan bahan tersebut, hanya ada jawabannya yaitu ini perbuatan disengaja pak." ujar penganalisis.


"Baik, kirimkan laporan kalian padaku. Mon kita ke ruang cctv." perintah Jeffry.


"Baik pak." jawab Ramon.


Di ruang cctv, ada beberapa kamera yang sudah di retas, namun ada kamera rahasia yang diletakkan Jeffry disana. Pengawas cctv segera membuka rekaman seharian kemarin. Ramon dan Jeffry membelalakkan matanya. Benar saja ada seseorang masuk kesana. Dan melakukan sesuatu seperti mencampur bahan berlian asli.


"Zoom." perintah Jeffry.


"Ini salah satu karyawan kita pak." ujar pegawai pengawas cctv.


"Cari orangnya sampai ketemu. Aku akan membunuhnya." ancam Jeffry.


Ramon segera memerintahkan beberapa orang untuk membawa karyawan tersebut. Bodohnya ia masih bekerja di pabrik. Sangat mudah bagi Jeffry untuk menyelidikinya.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2