AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 27


__ADS_3

Akhir pekan adalah waktu yang ditentukan Jeffry Sean bertemu ibunya. Setelah menerima balasan dari Susi, bahwa ia bersedia menemui Jeffry di rumahnya. Dengan sekuat hati ia mempersiapkan dirinya berhadapan langsung dengan wanita yang pernah meninggalkannya puluhan tahun yang lalu.


Jeffry bahkan mengatakannya pada Paul adiknya yang masih terbaring di rumah sakit. Adiknya masih betah memejamkan matanya, luka dikepalanya memang sangat parah. Jeffry berharap adiknya bisa secepatnya bangun. Ia ingin menceritakan semua yang sedang ia alami saat ini.


Jeffry menghubungi Valery. "Pagi sayang, kau tidak ada pekerjaan kan hari ini? Kau mau menemaniku kan?" tanya Jeffry.


"Pagi juga sayang, tentu hari ini untukmu." jawab Valery.


"Baiklah aku akan menjemputmu." ujar Jeffry.


"Tidak Jeff, aku akan kesana dengan mobilku. Kau menunggu saja di rumah." jawab Valery, karena ia yang akan membawa Susi ke rumah Jeffry.


"Kau yakin tidak ingin aku jemput?" tanya Jeffry.


"Iya aku yakin, sudah santai saja. Aku akan ke rumahmu jam 10. Aku bersiap siap dulu ya." jawab Valery.


"Baiklah sayang, aku akan menunggumu. Kau hati hati di jalan." ujar Jeffry.


"Baik sayang, sampai jumpa." kata Valery seraya mematikan ponselnya.


Valery menatap Susi yang terus menggenggamkan tangannya sendiri. Wanita tua itu terlihat sangat gugup. Valery mendekatinya. "Ibu baik baik saja kan?" tanya Valery.


Susi mengangguk. "Apakah putraku akan menerimaku kembali sebagai ibunya atau aku akan diusirnya setelah tahu apa alasan sebenarnya aku meninggalkan mereka?" ujarnya.


Valery menggenggam tangan Susi. "Apapun yang akan terjadi, aku akan melindungi ibu. Jadi jangan khawatir, aku akan membuat Jeffry bisa memaafkan ibu." Valery meyakinkannya.


Susi mengangguk. "Terima kasih nak Vale, ibu bisa lega dan tenang jika sudah berbicara denganmu." jawabnya.


"Bersiaplah, sudah waktunya kita berangkat. Aku yakin Jeffry juga sedang cemas sekarang." ujar Valery.


Susi berdiri, ia masuk ke kamarnya begitu juga dengan Valery. Beberapa menit kemudian keduanya sudah siap berangkat menuju rumah Jeffry Sean.

__ADS_1


*****


Tepat pukul 10 pagi Valery sampai di rumah Jeffry Sean, ini pertama kalinya Valery mengunjungi rumah kekasihnya. Rumah pria itu lebih besar dari rumah Valery. Rumah yang begitu megah dan cantik padahal penghuninya 2 pria lajang. Penjaga rumah Jeffry sepertinya sudah tahu akan kedatangannya. Pria itu langsung membukakan pintu gerbangnya.


Valery turun dari mobilnya, dan menuntun Susi ke arah pintu. Jeffry membukakan pintunya, tapi ia terbelalak melihat Valery membawa wanita itu. Jeffry mundur beberapa langkah dan menatap tajam kekasihnya.


"Bisakah kau persilahkan kami masuk terlebih dahulu." ujar Valery.


Jeffry memberi jalan agar keduanya masuk, Susi masih tak mampu menatap putranya. Setelah Valery membiarkan Susi duduk. Valery kembali menatap Jeffry, ia menaikkan alisnya.


"Aku perlu bicara padamu." ujar Jeffry pada kekasihnya.


Valery mengangguk dan mengikuti Jeffry masuk ke ruangan berbeda. Ia tahu, apa yang akan Jeffry tanyakan padanya. Ia sudah siap jika kekasihnya marah padanya.


Jeffry berhenti dan berbalik menatap tajam Valery. "Kau tahu apa yang mau aku katakan Vale, aku butuh penjelasan." ujarnya dingin.


"Aku yang membawanya kemari, dan penjelasan apa yang mau kau dengar Jeff." jawab Valery masih enggan mengatakan yang sebenarnya.


"Hanya itu, apa kau tidak ingin mengatakan yang sebenarnya." kali ini suara Jeffry semakin tajam.


Jeffry tertawa, tapi tawanya sangat menakutkan. "Kau cerdik sekali mempermainkan perasaanku Vale. Aku mencarinya kemana mana, aku pun sudah mengatakannya padamu. Kau malah menyembunyikannya dariku. Kau buat aku terlihat semakin bodoh. Pantas saja kau tidak ingin aku menjemputmu tadi pagi, itu karena kau bersamanya dari rumahmu." bentak Jeffry.


"Jeff, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin membantu kalian. Ibumu setiap pagi melihatmu menjemputku, itu yang ia inginkan melihat putranya setiap hari. Dan aku hanya ingin ia di dekatku karena pertama kali aku bertemu dengannya aku teringat sosok mendiang ibuku." jawab Valery.


"Kau benar benar tak bisa ditebak Vale, kau mempermainkan perasaanku, seharusnya hari itu kau mengatakan yang sebenarnya. Orang yang aku lihat dibalik jendela rumahmu, wanita itu kan? Kau sangat pandai berbohong Vale." bentak Jeffry lagi.


"Itu semua tidak penting sekarang, bukankah tujuanmu membawanya kemari ingin menyelesaikan masalah kalian berdua. Kau boleh marah dan menghukumku nanti tapi setelah kau selesaikan masalahmu. Aku tak ingin membuatnya menunggu. Bertemu denganmu saja, ibumu sangat ketakutan. Kau sekarang malah berteriak dan membentakku." Valery berbalik marah. "Jika kau ingin aku pergi dari sini, aku akan pergi." sambungnya seraya berbalik.


Jeffry menarik tangannya. "Kau mau kemana? Aku belum selesai Vale." ujar Jeffry, kali ini suaranya merendah.


"Aku tak tahu jika kekasihku tak bisa menahan emosinya di depanku, aku hanya ingin membantumu tapi kau..." bentak Valery.

__ADS_1


Namun ucapannya langsung dibungkam oleh ciuman Jeffry. Pria itu menariknya dan langsung mencium bibirnya. Setelah Jeffry puas melakukannya, ia melepaskan Valery.


"Itu hukuman buatmu karena telah membohongiku." ujar Jeffry, lalu ia menarik tengkuknya lagi dan mencium Valery lebih lembut. "Dan ini hukumanmu karena telah membuatku terlihat bodoh." sambungnya.


Valery memukul dadanya. "Kau pria kasar, aku sangat kesal." ujarnya.


"Maafkan aku sayang, aku sangat terkejut saat kau masuk bersamanya. Dan aku sangat bingung apa yang harus aku lakukan. Tubuhku bergetar saat melihat wajahnya." jawab Jeffry.


Valery memeluknya. "Aku ada disini bersamamu Jeff, aku akan mencoba menenangkan suasana hatimu." ujarnya.


Jeffry membalas pelukannya. "Terima kasih sayang, maaf aku tadi membentakmu. Aku benar benar terkejut dengan pengakuanmu. Seharusnya aku berterima kasih karena kau telah merawatnya." kata Jeffry.


"Aku benar benar ingin kalian berdua berbaikan, aku yakin ada kesalahpahaman yang harus diselesaikan antara kalian berdua. Itulah mengapa aku membawa ibumu ke rumahku. Aku juga merasa nyaman di dekatnya." jawab Valery.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan Vale, aku masih takut menghadapi kenyataannya." tanya Jeffry.


"Suka ataupun tidak, terima ataupun tidak. Kau harus mendengarkan ibumu sampai akhir Jeff. Paul juga membutuhkannya, adikmu selama ini tumbuh tanpa tahu seperti apa ibunya. Aku berharap kali ini kau bisa membiarkan ibumu merawat Paul." jawab Valery.


"Itu tergantung alasan yang akan aku dengar Vale, jika aku tak bisa memaafkannya, maka aku pun tak akan membiarkannya menyentuh Paul." ujar Jeffry.


Valery mengangguk. "Aku serahkan semua keputusan padamu, aku tak akan ikut campur dengan urusan kalian. Aku hanya ingin menjadi obat penenang untukmu." kata Valery.


Jeffry mengeratkan pelukannya. "Kau memang sudah menjadi obat penenang untukku, sejak aku mengenalmu, aku yakin kau bisa menjadi pendampingku. Wanita yang cantik luar dan dalam." ujarnya sambil mengecup puncak kepala Valery.


"Kita terlalu lama disini, kasihan ibumu." ajak Valery pada Jeffry.


Jeffry menghela nafas beratnya. Ia harus siap sekarang. Ia mengangguk dan mengikuti Valery menemui Susi.


*****


Happy Reading All...😘😘

__ADS_1


Eps selanjutnya siapkan tissue ya...


😂😂😂


__ADS_2