AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 16


__ADS_3

Satu minggu sudah sejak Jeffry meninggalkan Valery. Pria itu sama sekali tak ada kabar berita, membuat Valery semakin tak mempercayai pria manapun. Ia memutuskan untuk kembali mengendarai mobilnya sendiri, ia tak ingin mencari supir pengganti. Valery menyesali perbuatannya malam itu. Ia ingin menyerahkan keperawanannya pada Jefrry, ia pikir pria itu akan bertanggungjawab penuh atas apa yang mereka perbuat. Namun sebelum mereka melakukannya pun, Jeffry sudah menghilang tanpa jejak.


Sedangkan Jeffry selama seminggu sibuk mengurus adiknya di rumah sakit dan juga surat surat laporan kepolisian. Fakta baru yang mengejutkannya adalah Paul Sean berpacaran dengan sekertarisnya Ana sejak keduanya SMA, keduanya bersekolah di tempat yang sama. Yang lebih menjengkelkannya, Ramon mengetahui semuanya sejak lama.


Kecelakaan itu adalah kecelakaan tunggal akibat kelalaian Paul sendiri, ia mengendarai mobilnya setelah mengantar Ana pulang ke rumahnya. Mereka berkelahi dan membuat Paul marah. Paul tak bisa mengendalikan kecepatannya dalam keadaan emosi.


Ana ingin hubungan mereka diketahui oleh Jeffry Sean. Karena Paul belum siap mengatakan pada abangnya, akhirnya Ana mengancam putus darinya. Itu yang membuat Paul sangat marah, karena adiknya sangat mencintai Ana.


Jeffry sengaja tak menghubungi Valery, bukan karena ia tidak bertanggungjawab atas perbuatannya malam itu. Tapi ia hanya ingin menjelaskan semuanya pada Valery, tentang siapa ia sebenarnya dan tujuannya mendekati Valery, sampai masalah kecelakaan ini. Itu semua tidak bisa jika hanya lewat ponsel saja. Ia tahu Valery saat ini pasti sangat marah padanya.


Selama seminggu juga, Paul sama sekali belum sadar. Keadaannya memang sangat buruk membuat Jeffry sangat takut kehilangan adik satu satunya ini. Ana juga sering mengunjungi Paul atas izin Jeffry. Jeffry membiarkan keduanya berhubungan, jika memang itu bisa membuat Paul bahagia.


Saat ini Jeffry berada dikantornya, ia membiarkan Ana yang mengurus Paul di rumah sakit. Jeffry membuka laptopnya.


Lagi lagi pemberitahuan email masuk dari S, sudah ada 3 email masuk dari ibunya yang sama sekali tak pernah ia buka.


"Jeff, kau harus melihat dan mendengarkan ibumu. Kau harus mencari tahu kebenarannya, jangan sampai kau menyesal nanti. Kau sudah dewasa Jeff, bisa ataupun tidak. Kau harus menghadapi ibumu." ujar Ramon saat Jeffry terus menatap layar laptopnya.


"Kau tahu darimana aku sedang memikirkan wanita itu?" tanya Jeffry.


Ramon tersenyum. "Aku sangat memahamimu lebih dari belasan tahun Jeff." jawab Ramon.


"Wanita itu mengirimiku email lagi, apa ia tahu jika Paul kecelakaan." ujar Jeffry.

__ADS_1


"Mungkin saja Jeff, kecelakaannya berada di berita utama. Dan kemungkinan sampai keluar negri. Nama Paul Sean kemungkinan hanya adikmu saja." jawab Ramon.


Jeffry menghela nafasnya. "Aku belum siap menatap wajah wanita yang meninggalkan kami selama puluhan tahun Mon. Aku dan Paul sempat ingin mati karena kelaparan." kata Jeffry.


"Itu bukan kesalahan ibumu saja Jeff, tapi itu adalah kesalahanmu yang keras kepala tak mau memakai uang pemberian ibumu setiap bulan." ujar Ramon. "Bukalah emailnya, kau pelajari dengan benar. Email pertama pun, ibumu sangat memikirkanmu, sampai ingin bertemu denganmu pun meminta izin." sambungnya.


"Bagaimana urusan Samuel?" tanya Jeffry mengalihkan pembicaraan.


"Setelah kita menguasai sahamnya, ia sangat santai Jeff. Ia sama sekali tak menghubungiku maupun kantor. Aku bingung apa yang pria itu lakukan." jawab Ramon.


"Mungkin ia lelah dengan semuanya, ia tak dipecat dari perusahaannya sendiri saja, ia harusnya bersyukur." ujar Jeffry.


"Kau benar, tapi aku akan terus memperhatikannya Jeff. Aku tak ingin Samuel merencanakan sesuatu yang jahat padamu." kata Ramon.


"Terima kasih Mon, kau bukan hanya sahabatku tapi juga keluargaku. Tapi aku tak suka kau menyembunyikan sesuatu lagi dariku. Cukup masalah Paul saja." ujar Jeffry.


"Kacau dan aku tak tahu apakah wanita itu masih mau mendengarkan aku. Aku harus menyelesaikan semuanya lebih cepat Mon." jawab Jeffry.


Ramon menepuk pundak Jeffry. "Perjuangkan cintamu Jeff, dan aku berharap masalah ibumu juga selesai." ujar Ramon seraya meninggalkan Jeffry di ruangannya.


Jeffry kembali merebahkan tubuhnya di kursi kerjanya, ia memejamkan matanya sejenak, ia berpikir dengan keras. Baiklah, aku akan mengikuti saran Ramon. gumamnya.


Ia membuka email dari ibunya.

__ADS_1


EMAIL 1 :


Anakku sayang, Jeffry Sean. Ibu menantikan jawabanmu nak. Ibu semakin tua, ibu ingin kembali ke negara ibu. Tapi ibu tak bisa, karena kau masih tak mau mendengarkan ibu. Anakku Jeff, izinkan ibu menemuimu dan Paul. Ibu sangat merindukan kalian.


EMAIL 2 :


Anakku sayang, kau masih enggan membalas email ibu. Tapi tak apa apa nak, ibu akan sabar menantinya. Ibu ingin kembali ke Indonesia. Ibu sudah tidak ada siapa siapa lagi di Kanada. Suami ibu meninggal setahun yang lalu, ibu tak pernah memiliki anak selain kalian berdua. Anakku Jeff, ibu tahu tentang keberhasilanmu sebagai pengusaha. Tapi kau tenang saja, ibu takkan meminta apapun padamu nak. Ibu hanya ingin mengatakan semuanya sebelum ibu mati nak. Ibu mohon, izinkan ibu bertemu kalian.


EMAIL 3 :


Anakku Jeffry Sean, ibu sedang berada di pesawat sekarang. Ibu sudah tidak bisa menunggu jawabanmu lagi, setelah ada berita utama tentang kecelakaan yang terjadi pada Paul. Ibu tak mau menyesal seumur hidup ibu. Ibu akan memaksa menemui kalian berdua. Setelah kalian mendengarkan apa penjelasan ibu, kalian bisa memutuskan untuk memaafkan ibu atau tidak. Anakku Jeff, kau sudah dewasa sekarang nak. Ibu mohon kau bisa lebih bijaksana pada ibumu yang tua ini. Ibu akan mengirimmu email lagi setelah ibu sampai di Indonesia.


Jeffry Sean membelalakkan matanya, ibunya akan segera sampai di Indonesia. Apa yang harus ia lakukan, ia sama sekali belum siap menemui ibunya. Valery harus menolongnya, hanya wanita itu yang bisa membantunya. Ia sama sekali tak ingin menemui ibunya sendirian. Jantung Jeffry semakin berpacu dengan keras, perasaan takut bercampur amarah menjadi satu. Tapi bagaimana ia bisa meminta bantuan Valery, dalam keadaan hubungan mereka yang kurang baik saat ini.


Jeffry sangat frustasi, ia berteriak dengan keras di ruangannya. Ia tahu kantornya tak ada siapapun saat ini karena Ana sedang di rumah sakit. Jeffry menggenggam gelasnya dengan sangat keras hingga pecah berkeping keping, tangannya terluka namun ia tak perduli. Darah yang mengalir saat ini masih tak bisa meredamkan amarahnya.


Wanita yang telah membuangnya selama puluhan tahun, seenaknya saja ingin menemui mereka. Jeffry bangun dari duduknya, ia mengambil kunci mobil barunya. Ia ingin menemui Valery sekarang juga. Ia akan mengatakan semuanya. Dan Jeffry sangat berharap, wanita itu mau menerimanya dan membantunya keluar dari masalahnya saat ini.


Valery, aku mohon mengertilah keadaanku. Kaulah satu satunya harapanku saat ini. gumamnya.


Ia segera menancap gasnya dan menemui Valery Arnold.


*****

__ADS_1


Apakah Valery akan memaafkan Jeffry?


See you next time...😘😘😘


__ADS_2