AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 24


__ADS_3

Valery semakin mendekati Susi, ia merindukan ibunya sendiri. Seandainya ibunya masih hidup, mungkin umurnya hampir sama dengan ibu Jeffry. Dengan ragu Valery memegang pundak wanita itu. Susi mendongak, matanya sangat sedih. Valery duduk di samping wanita itu.


"Ibu perkenalkan namaku Valery Arnold. Aku kekasih Jeffry Sean. Jeffry sudah menceritakan semuanya tentang masalah kalian, maaf bu hati Jeffry masih sangat terluka, ia membutuhkan waktu. Dan tadi ia sangat terkejut. Kalian sudah lama tidak bertemu kan." ujar Valery.


Susi kembali menangis. "Aku memang salah nak, aku bisa kembali setelah puluhan tahun. Itupun karena suamiku sudah meninggal. Jika ia masih hidup, aku tak mungkin bisa menemui mereka. Sebelum aku mati, aku ingin sekali Jeffry dan Paul mendengarkan alasanku meninggalkan mereka. Aku tahu, rasa sakit itu pasti masih membekas di hatinya."


Valery memeluk Susi. Ia berusaha menenangkan wanita itu. "Aku tak tahu alasan dibalik semua ini, tapi perasaanku mengatakan kau adalah ibu yang sangat baik untuk mereka. Beri Jeffry waktu lagi bu, aku akan berusaha meyakinkannya untuk berbicara denganmu. Aku janji akan membuatnya bisa menghadapimu."


Susi tersenyum di sela tangisnya. "Ya Tuhan, putraku sangat beruntung memiliki kekasih sepertimu. Wanita cantik dan berhati sangat baik. Aku sangat tenang Jeffry bisa bersamamu." ujarnya.


"Ibu tinggal dimana sekarang?" tanya Valery.


"Masih di hotel nak. Mau kemana lagi." jawab Susi.


"Berapa lama ibu akan tinggal disini?" tanya Valery lagi.


Susi kembali sedih. Ia ingin selamanya, tapi tak mungkin ia bisa terus menerus tinggal di hotel. Jika Jeffry bisa memaafkannya, mungkin ia akan menjual semua aset aset dari suaminya di Kanada. Tapi jika sebaliknya, mungkin ia akan tinggal di Kanada saja.


Melihat keraguan pada wanita itu, Valery sangat tahu apa yang dipikirkannya. "Tinggallah bersama Vale bu, tapi ini rahasia. Sampai Jeffry siap bertemu dan berbicara dengan ibu." ujarnya.


Susi terkejut dengan permintaan Valery. "Tidak nak, ibu akan merepotkanmu." jawabnya sambil menggeleng.


Valery cemberut. "Aku merindukan ibuku sendiri. Melihat ibu kerinduanku berkurang, tak bisakah anda menjadi ibuku. Aku tinggal sendiri di rumah yang sangat besar, aku kesepian bu." ujarnya sedih.


Susi kembali terkejut. Ia menggenggam tangan Valery. "Aku sangat senang bisa menjadi ibumu nak, anggap saja aku sekarang adalah ibumu. Tapi aku tak ingin merepotkanmu."


"Bu, itu ide yang sangat baik. Ibu tinggal di rumahku akan mempermudah ibu melihat Jeffry setiap hari, karena ia mengantar dan menjemputku. Ibu mau kan melihatnya." rayu Valery.


Mata Susi berbinar binar, ia akan mudah melihat putranya walaupun akan sembunyi sembunyi. Valery yakin ibunya sekarang akan setuju dengannya. Dan benar saja wanita itu akhirnya mengangguk. "Jika tak merepotkan, ibu setuju."


"Sore nanti aku akan menjemput ibu di hotel. Ini kartu namaku, ibu bisa mengirim alamat ke nomor itu. Sekarang biarkan Jeffry dan Paul berdua saja. Lebih baik ibu kembali ke hotel. Maaf aku bukan bermaksud mengusir ibu." ujar Valery.


Susi mengangguk, lalu menghela nafasnya yang berat seraya meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


Valery kembali kedalam ruangan. Ia melihat Jeffry masih menunduk sambil memegang kepalanya. Valery mendekatinya. "Jeff..." panggilnya.


Jeffry mendongak, ternyata pria itu sedang menangis. Ini pertama kalinya ia melihat pria itu mengeluarkan airmatanya. Valery langsung memeluknya. "Ya Tuhan, jangan menangis Jeff. Aku tahu apa yang kau rasakan. Tapi jangan seperti ini, aku sakit melihatmu menangis Jeff."


Jeffry tak bisa berkata apapun, rasanya sangat sakit baginya. Wanita itu sangat ia rindukan selama puluhan tahun, walaupun ia membencinya. Tapi melihat wanita itu semakin tua dan rapuh, menambah rasa sakit yang ia rasakan. Jeffry mengira wanita itu akan hidup bahagia, tapi ternyata wanita itu dipenuhi rasa kesedihan yang mendalam. Jeffy bisa melihat semua itu dari wajahnya tadi.


"Jeff, aku sudah menyuruhnya kembali ke hotel. Tenangkanlah hatimu sayang, kau harus kuat. Lihatlah Paul masih membutuhkanmu. Cepat atau lambat kau harus menyelesaikan ini." ujar Valery masih memeluknya.


"Aku merindukannya Vale." ujar Jeffry seraya tangisnya kembali pecah.


Valery terkejut dengan pengakuan Jeffry. Ia melepas pelukan Jeffry. "Mengapa kau menjaga harga dirimu jika kau merindukan ibumu Jeff. Mengapa kau tak memeluknya dan mengatakan itu semua."


Jeffry menggeleng. "Aku masih membencinya, walau dalam hatiku sangat merindukannya. Ini pertama kalinya aku menangis, aku sangat malu sebagai seorang pria. Aku terkesan sangat cengeng Vale. Maaf."


Valery kembali memeluknya. "Menangislah di depanku kapanpun kau mau Jeff, kau bukan cengeng tapi kau memiliki hati. Setidaknya kekasihku memilikinya."


Jeffry mengambil nafas dalam dalam. "Aku terlalu banyak menyita waktumu. Kau akan terlambat meeting. Aku akan mengantarmu kembali ke kantor." ujar Jeffry. Ia menghapus sisa sisa air matanya.


Jeffry menggeleng. "Jangan membantahku Vale, ayo kita berangkat." lalu ia mendekati Paul. "Paul, bangunlah...ibu kita sudah kembali." ujarnya lalu membawa Valery keluar.


Jeffry mengantarkan Valery kembali ke perusahaan. "Jam berapa aku menjemputmu?" tanya Jeffry.


Valery menggeleng. "Aku pulang sendiri, ada urusan yang harus aku selesaikan Jeff." jawabnya.


"Urusan apa dan dengan siapa?" tanya Jeffry lagi.


"Maaf aku tak bisa memberitahumu, ini masalah pribadiku sayang. Suatu saat aku akan menceritakannya." jawab Valery.


"Tidak membahayakan kau kan? Aku tak ingin kau dalam bahaya Vale. Hubungi aku kalau ada apa apa." ujar Jeffry.


Valery mengangguk. Beberapa menit kemudian mereka sampai di perusahaan. Jeffry mencium kening Valery. "Hati hati Jeff, konsentrasi menyetir. Jangan memiliki pikiran macam macam." pinta Valery.


"Tentu sayang, kau juga hati hati. Kabari aku jika urusanmu sudah selesai." jawab Jeffry lalu ia meninggalkannya.

__ADS_1


*****


Sassy masih menunggu di parkiran perusahaan PT. Sean Permata. Ia yakin sosok Jeffry Sean akan muncul dihadapannya. Tapi ia sudah menunggu selama 2 jam.


"Sialan, sulit sekali mengetahui siapa dirimu Jeff." gumamnya. "Aku harus bersabar, hari ini aku harus menemukannya." sambungnya pada diri sendiri.


Setengah jam kemudian ia melihat mobil mewah berhenti di depan pintu masuk perusahaan. Sekuriti menyambutnya dan membukakan pintu mobil tersebut. Samar samar pria itu terlihat dari kejauhan. Sassy menyipitkan matanya, ia berusaha melihat pria itu dengan jelas. Penasaran dengan sosok itu, Sassy keluar dari mobilnya. Pria itu cepat sekali masuk ke perusahaannya.


"Jeff...Jeffry Sean..." teriak Sassy.


Pria itu menoleh dan tatapan mereka bertemu, benar saja Jeffry Sean adalah pemilik perusahaan itu. Tapi pria itu malah menghilang dari pandangannya. Sassy segera mengejarnya. Namun ditahan oleh sekuriti.


"Anda tidak diperbolehkan masuk nona." ujar sekuriti.


"Kenapa? Aku teman atasan kalian." bentak Sassy.


"Sayangnya atasan kami tidak mengenali anda. Jadi kedepannya anda tak bisa kemari atau kami akan melaporkan anda ke polisi." ancam sekuriti itu.


"Sialan, mana mungkin atasanmu tak mengenaliku. Aku Sassy cinta pertamanya saat SMA." ujarnya percaya diri.


Sekuriti itu tertawa. "Dasar wanita gila, silahkan anda pergi." bentaknya.


Sassy marah, ia dihina untuk kedua kalinya. "Aku akan mengingat wajahmu, jika aku menikah dengan atasanmu. Pertama yang aku lakukan adalah memecatmu." bentaknya seraya meninggalkan perusahaan itu.


Di lain sisi, Jeffry sangat terkejut dengan kehadiran Sassy. Wanita itu mengetahui keberadaannya. Sebisa mungkin ia akan menghindarinya.


*****


Have Fun Guys...


See you next time...


😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2