
Paul mengantarkan Ana, Ana terus memberinya petunjuk jalan ke rumahnya karena Paul melupakannya. Tapi beberapa kali Paul mengatakan pernah ke arah jalan ini, ini dan ini. Ana bukan senang, ia malah takut Paul memaksakan diri mengingatnya dan membuatnya sakit. Jadi sepanjang perjalanan, Ana hanya mengangguk menanggapi perkataan Paul.
Satu jam sudah mereka di jalan, tepat pukul 5 sore mereka sampai.
"Jadi ini rumahmu." ujar Paul sambil menatap sekeliling rumah wanita itu.
Ana mengangguk. "Kau mau masuk?" tanyanya.
"Bagaimana orang tuamu?" tanya Paul.
"Orang tuaku ada di kampung Pau. Aku tinggal bersama mbok Arum." jawab Ana.
Paul mengangguk. "Jika aku tak menganggu, aku ingin melihat isi rumahmu." ujar Paul.
Ana mengangguk lagi dan membawanya masuk ke rumahnya. Rumah Ana memang sangat minimalis, namun tetap terkesan mewah. Wanita itu memang terlahir dari keluarga yang cukup berada, namun tak sekaya keluarga Sean tentu saja. Paul masuk dan menatap dalam rumah itu, beberapa kali ia merasa pusing dan kepingan kepingan ingatannya mulai muncul.
Keringat dingin mulai keluar dari kepalanya, Ana memperhatikan Paul yang semakin pucat. "Pau, kau kenapa?" tanya Ana panik. Ia segera menyuruh Paul duduk dan memanggil mbok Arum untuk membawa minum.
Mbok Arum melihat Paul dan terkejut. "Den Paul, sudah lama mbok tidak ketemu. Den Paul sehat kan?" tanyanya.
Paul menatap mbok Arum lalu mengangguk. "Kita pernah ketemu ya?" tanya Paul sambil tertawa. "Seberapa banyak ingatanku yang hilang Ana?" tanyanya lagi.
"Pau, jangan memaksakan diri. Pelan pelan saja. Aku yakin, kau pasti akan sembuh." jawab Ana.
Paul menenggak minumannya, ia berusaha menenangkan dirinya. "Sepertinya aku tidak sehat hari ini, sebaiknya aku pulang saja." ujarnya.
"Kau yakin bisa pulang sendiri, aku panggil supir pengganti ya." ujar Ana.
Paul menggeleng. "Tidak Ana, aku baik baik saja." jawabnya lalu mencium kening Ana. "Aku akan mengabarimu setelah sampai di rumah." ujarnya.
"Janji ya, kau akan mengabariku." ujar Ana.
Paul mengangguk. "Pasti Ana." jawabnya.
"Hati hati Pau, konsentrasi berkendara. Jangan mengebut dan jangan melakukan kebodohan lagi." pesan Ana.
Paul hanya melambaikan tangannya. Ia kembali ke rumahnya memasuki tol Cipali yang pernah ia lalui saat kecelakaan. Saat itu ada mobil yang menyalakan lampu tembak mobilnya dan seperti de javu kali ini ia kembali menerima lampu tembak mobil orang lain. Seketika itu juga Paul mendapat ingatan ingatan yang begitu menyakitkan.
Ia mengerang kesakitan karena kepalanya berdenyut saat ingatan itu mulai masuk ke pikirannya. Ia segera menepikan mobilnya sebelum terjadi yang tidak diinginkan. Kepalanya kembali berdenyut, ia mengingat kembali saat pertengkarannya dengan Ana terjadi lalu ia mengendarai mobilnya dengan kencang dan terjadilah kecelakaan hebat yang membuatnya amnesia.
Tubuhnya berkeringat dan tangannya mulai bergetar hebat, ia mengingat semuanya sekarang. Ia mengambil ponselnya dengan tangan bergetar, ia tak sanggup mengendarai mobilnya saat ini. Ia menghubungi Jeffry Sean.
"Bang, Paul takut." ujarnya sambil menangis, seluruh tubuhnya kini bergetar hebat.
"Dimana kau Paul, katakan pada abang. Apa yang terjadi?" tanya Jeffry panik.
__ADS_1
"Aku berada di tol Cipali, dimana aku pernah mengalami kecelakaan. Aku mengingat semuanya, dan aku tak sanggup mengendarai..."
"Tunggu disitu." potong Jeffry.
Jeffry segera mengambil kunci mobil lamanya, mobil yang sudah diperbaiki setelah kecelakaan. Ia menuju tol Cipali, dengan perasaan yang sangat takut. Jeffry semakin menambah kecepatannya. Satu jam ia menuju ke jalan tol tersebut dan melihat mobilnya ada di pinggiran bahu tol Cipali.
Jeffry turun dan membuka pintu mobil Paul, adiknya sedang menangis. Tubuhnya bergetar hebat. "Paul, kau baik baik saja kan? Ini abang." ujarnya panik.
Paul mendongak lalu menatap abangnya penuh ketakutan. Paul turun dari mobilnya dengan tubuh yang sangat lemah.
"Kita ke rumah sakit." ujar Jeffry sambil menuntun adiknya ke mobilnya.
Jeffry segera menghubungi Susi dan Ana agar segera ke rumah sakit, keduanya terdengar sangat panik tapi Jeffry sudah meyakinkan bahwa Paul baik baik saja. Jeffry juga menghubungi Ramon agar segera mengambil mobilnya yang tertinggal di tol Cipali.
Sampailah ia di rumah sakit, dokter segera menangani Paul. Beberapa jam kemudian Ana dan Susi sampai, mereka semua sangat panik.
"Tidak apa apa, Paul hanya ketakutan." ujar Jeffry.
"Ini salah aku lagi bang, maaf." ujar Ana.
Jeffry menggeleng. "Justru ini kabar baik Ana, Paul sudah mengingat semuanya." jawab Jeffry.
Dokter keluar dari ruangan. "Pasien hanya terkejut dan panik, aku sudah menyuntikkan obat penenang. Rasa traumanya akibat kecelakaan tentu masih ada, buat pasien lebih tenang. Dan sepertinya ia sudah mengembalikan semua ingatannya." ujar dokter tersebut.
"Terima kasih dok." jawab Jeffry. "Kalian dengar kan, Paul baik baik saja. Aku belum mengabari Vale. Kalian jagalah Paul, aku akan menjemput istriku dulu." ujarnya.
*****
Sudah jam 9 malam, istrinya belum juga keluar. Akhirnya Jeffry yang masuk ke perusahaannya, mereka semua menyapa Jeffry dengan hormat, Jeffry langsung ke kantornya dan mendapati Tara masih juga sibuk.
"Ssssttt, biar aku saja yang masuk." ujar Jeffry agar Tara tak memberitahu kedatangannya.
Jeffry masuk ke kantornya dan melihat istrinya dengan setumpuk dokumen di depannya. "Apa kau menyuruh suamimu menunggu sampai pagi sayang?" tanya Jeffry.
Tentu saja Valery terkejut. "Ya Tuhan, kau mengagetkanku. Memang jam berapa ini?" tanyanya.
Jeffry tertawa. "Tentu saja sudah sangat larut sayang, apa kau tidak lapar?" tanyanya.
"Kau lihatlah di meja. Semuanya bekas makanan." jawab Valery.
Jeffry menatap meja itu dan terbelalak. "Apa semua karyawan yang lembur kau aja makan bersama disini?" tanyanya.
"Kau mengejekku sayang, itu semua aku yang makan sendiri." jawab Valery.
"Kau yakin itu semua kau yang habiskan?" tanya Jeffry lagi, ia masih tak percaya walaupun Valery memang hobi makan tapi tak pernah menghabiskan begitu banyak makanan.
__ADS_1
Valery mengangguk. "Aku memang yang memakannya." jawabnya.
"Baiklah, hentikan pekerjaanmu, kita pulang sekarang." pinta Jeffry.
Valery menatap dokumen yang masih sangat banyak. "Aku akan membakar dokumen itu jika kau tak menurut Vale." ancam Jeffry.
"Baiklah tuan Sean, kita kembali. Tapi kita mampir ke mini market ya." ujar Valery.
Jeffry mengangguk dan menggandengnya keluar dari kantor.
"Tara, besok kita lanjutkan. Kau bisa pulang." ujar Valery.
Tara mengangguk. "Baik bu, hati hati dijalan." jawabnya.
"Kau juga Tara." ujar Jeffry.
Keduanya meninggalkan perusahaan menuju mini market. "Ada yang mau kau beli?" tanya Valery.
"Belikan aku kopi." ujar Jeffry. "Kau mau beli apa?" tanyanya.
Valery malah tertawa lalu keluar dari mobilnya membuat Jeffry bingung. Ia hanya menatap istrinya dari mobil. Beberapa menit kemudian Valery keluar membawa 2 gelas minuman berisi kopi dan teh hijau kesukaannya lalu beberapa cemilan dan roti.
"Hei sayang, kau tak berniat membuat tubuhmu semakin melar kan?" goda Jeffry.
"Diamlah, aku kelaparan." jawab Valery membuat Jeffry heran.
"Di meja tadi bekas makanan yang kau makan, sekarang kau bilang kelaparan." ujar Jeffry sambil menggelengkan kepalanya.
Valery hanya tertawa mendengar kata kata suaminya. "Kita mau kemana? Ini bukan arah ke rumah." tanyanya.
"Kita ke rumah sakit sayang, Paul sakit." jawab Jeffry.
Valery tersedak. "Paul sakit? Kenapa kau baru mengatakannya?"
"Kau makan pelan pelan Vale. Maaf aku tadi tak ingin membuatmu khawatir." ujar Jeffry lalu ia menceritakan kejadiannya.
"Ya Tuhan, kau hampir membuatku ketakutan. Syukurlah, semoga ia benar benar pulih saat terbangun nanti." ujar Valery, ia melanjutkan makannya.
Jeffry mengangguk dan membawanya menuju rumah sakit.
Aku akan diam diam memeriksakan diri ke dokter saat di rumah sakit, aku pun merasa aneh dengan rasa laparku yang setiap jam menghantui perutku. Aku tak ingin Jeffry mengetahui penyakitku terlebih dahulu. pikir Valery.
*****
Happy Reading All...😘
__ADS_1
Dukung, like n komen terus ya...
Terima kasih...🙏🙏🙏