AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 13


__ADS_3

Jeffry terpejam di sofa, ia sangat mengantuk dan tentu saja lelah karena pagi sampai sore ini, ia hanya terdiam menunggu Valery di rumah sakit. Beberapa jam kemudian ia terbangun karena mendengar suara langkah kaki. Dengan mata yang masih berat Jeffry membukanya perlahan. Ternyata dokter Andrew sedang memeriksa Valery.


"Selamat sore pak Jecko." sapa Andrew.


"Sore juga dok, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Jeffry.


"Sudah lebih baik pak. HB dan trombositnya kembali normal. Terima kasih kau masih menjaganya." ujar Andrew.


"Sudah menjadi tugasku dok. Vale nyenyak sekali jika sudah tidur." kata Jeffry.


"Obat yang aku berikan memang membuatnya mengantuk. Aku sengaja agar ia tidak terus menerus bekerja. Kau akan tahu seberapa keras hatinya Vale soal pekerjaan. Aku mengenalnya sudah hampir 7 tahun. Aku sangat tahu, arti perusahaan baginya." Andrew menjelaskan.


Jeffry mengangguk. "Tadi pagi ketika ia terbangun, ia langsung meminta keluar dari sini. Tapi untungnya aku bisa merayunya. Jujur aku sebagai supir tidak sopan. Tapi Vale tidak keberatan. Jadi aku berani untuk mendekatinya." jawab Jeffry. "Aku menyukainya, dan menyamar sebagai supir agar dekat dengannya." bisiknya.


Andrew tersenyum. "Aku tahu, aku bukan pria bodoh. Berjuanglah...walaupun tidak akan mudah." ujarnya. "Bangunkan Vale jika sudah waktunya makan malam, aku tak ada tugas malam ini. Jadi aku akan pulang, tolong jaga ia Jeck." pinta Andrew.


Jeffry mengangguk lagi. "Tenang saja, aku akan menjaganya dok." jawab Jeffry lalu dokter Andrew meninggalkan ruangan.


Jeffry mendekati Valery yang masih tertidur. Ia mengelus rambut Vale lalu memberanikan diri mencium keningnya. Setelah itu ia duduk disamping Valery dan kembali tertidur.


*****


"Jangan pergi ibu...jangan tinggalkan kami..."


Valery terbangun karena suara teriakan Jeffry. Jeffry sedang bermimpi dan terus memanggil ibunya. Valery berusaha membangunkannya. Ia melihat begitu banyak keringat yang dikeluarkan supirnya.


"Jeck...Jecko...sadarlah...bangun..." ujar Valery.


Jeffry terkejut, nafasnya ngos ngosan. "Sial aku mimpi itu lagi." gumamnya dalam hati.


"Maaf Vale aku membangunkanmu." ujar Jeffry.


"Kau mimpi buruk ya? Kau baik baik saja?" tanya Valery.


Jeffry mengangguk. "Aku ke kamar mandi sebentar." ujarnya seraya meninggalkan Valery.


"Apa yang terjadi padamu Jecko, mengapa kau begitu ketakutan tadi. Wajahmu pucat dan berkeringat. Apakah ibumu meninggalkanmu. Ia tadi bilang jangan tinggalkan kami, jadi kau memiliki saudara kandung." pikir Valery.


Sedangkan Jecko mencuci mukanya berkali kali, ia mencoba mendinginkan pikirannya. Ia bingung mengapa akhir akhir ini sering memimpikan ibunya. Dan kali ini ia bermimpi dan mengigau di depan wanita yang ia sukai.


Jeffry menghela nafasnya dengan frustasi. Tubuhnya dipenuhi peluh membuat bajunya menjadi lengket. Ia menghubungi Ramon.


"Bisakah kau ke rumah sakit dengan membawa baju gantiku Mon, aku berkeringat karena lagi lagi mimpi sialan ini datang lagi." pinta Jeffry.


"Kau tertidur di rumah sakit, dan bermimpi itu lagi." tanya Ramon.

__ADS_1


"Begitulah." jawab Jeffry datar.


"Aku akan mengabarimu, jika sudah sampai parkiran." jawab Ramon seraya mematikan ponselnya. Ramon memang sudah tahu seperti apa mimpi Jeffry. Pria itu selalu dihantui ibunya sejak baru masuk SMP.


Jeffry keluar dari kamar mandi. Ia melihat Valery yang terus memandanginya. "Ada yang aneh?" tanya Jeffry.


"Kau pulang saja, aku baik baik saja sendiri. Kau supirku bukan pengasuhku." ujar Valery.


Jeffry menggeleng. "Aku tak memiliki pekerjaan apapun di rumah, jadi lebih baik aku menemanimu. Apa kau yang merasa terganggu atas kehadiranku?" tanyanya.


Valery menggeleng. "Tentu saja tidak, hanya saja aku takut kau yang kerepotan Jeck."


"Tidak apa apa Vale. Aku keluar sebentar ya, aku ingin mencari baju ganti. Ini sangat lengket. Saat aku kembali, kau bersiaplah makan malam." ujar Jeffry.


"Aku bisa menyuruh Tara membelikan baju untukmu Jeck, kau tak perlu keluar." ujar Valery.


"Tidak, aku tak ingin merepotkan sekertarismu. Hanya sebentar." kata Jeffry lalu meninggalkan Valery sebelum wanita itu menjawab.


*****


"Jadi bos mu seorang wanita kaya?" tanya Sassy membuat Jeffry terkejut.


"Apa yang kau lakukan di depan pintu kamar ini?" tanya Jeffry.


"Baiklah. Aku tinggal ya." kata Jeffry.


"Tunggu Jeff, sejak di restoran tadi. Kau mulai menghindariku." ujar Sassy.


"Kenapa?" tanya Jeffry.


"Aku bilang kau menghindariku." jawab Sassy.


Jeffry tersenyum. "Itu hanya perasaanmu saja Sassy, untuk apa aku menghindarimu. Kita kan teman SMA."


"Kau jangan berpura pura Jeff, aku tahu saat SMA kau menyukaiku kan? Siswa mana yang tak tahu kenyataan itu." ujar Sassy membuat Jeffry terkejut.


Jeffry tertawa. "Kau sangat percaya diri Sassy, aku tak pernah menyukaimu. Mungkin saat itu aku sedang bercanda dengan temanku dan siswa lain mendengarnya, lalu mereka menyebarkan gosip yang tidak perlu." jawab Jeffry lalu meninggalkan Sassy yang tercengang.


Jeffry menghembuskan nafasnya dengan keras. Ia sangat malu mendengar kata kata Sassy, mengapa wanita itu bisa tahu tentang perasaannya dulu. Walaupun perasaannya sekarang sudah berubah, namun dulu ia pernah menyukai wanita itu dan menganggapnya sebagai cinta pertamanya.


Jeffry menggelengkan kepalanya. Ia tak mau memikirkan Sassy lagi, Valery lah yang harus ia pikirkan sekarang. Jeffry menunggu Ramon di parkiran rumah sakit, beberapa menit kemudian Ramon tiba dan memberikan bajunya.


"Maaf aku terlambat, aku mengambil baju di rumahmu terlebih dahulu dan menghadapi pertanyaan Paul tentangmu. Tapi tenang saja, aku mengatakan kau bekerja karena ada masalah sedikit tentang perusahaan." ujar Ramon.


"Terima kasih Mon, kau memang yang terbaik. Tapi kau bawa kaos kan bukan kemeja?" tanya Jeffry.

__ADS_1


Ramon mengangguk. "Paul mengomel kalau itu baju miliknya."


Jeffry tertawa. "Aku belum sempat ke toko baju, jadi aku membeli kaos Paul."


"Kau merampoknya Jeff, jika memang membeli harusnya secara baik baik. Tapi kau mengambil tanpa persetujuannya, lalu memberi uang ganti rugi padanya." jawab Ramon.


"Dasar anak sialan. Ia suka sekali mengadu padamu." ujar Jeffry kesal.


Kali ini Ramon yang tertawa. "Adikmu lebih dekat denganku, karena kau sangat kejam padanya."


"Aku melakukan yang terbaik Mon, semua itu untuk kebaikannya." jawab Jeffry.


"Terserah kau sajalah. Kau memang keras kepala. Lalu bagaimana pujaan hatimu?" tanya Ramon.


"Valery baik baik saja, justru aku yang kurang baik." jawabnya.


Ramon menyipitkan matanya. "Kau masih memikirkan mimpi burukmu?"


Jeffry menggeleng. "Kau masih ingat Sassy? Wanita yang aku sukai saat SMA."


"Tentu saja aku ingat, apa kau menemukannya? atau ada kabar terbaru darinya." tanya Ramon penasaran.


Jeffry mengangguk membuat Ramon terkejut. "Wanita itu masih lajang, dan ada di rumah sakit ini menemani ibunya yang sedang sakit. Entah mengapa justru aku terganggu dengan kehadirannya." jawabnya.


"Sassy ada disini? Bagaimana ini kebetulan Jeff." ujar Ramon tak percaya. "Ini membahayakan identitasmu di depan Valery. Jika wanita itu mengatakan semuanya bagaimana."


"Aku tak perduli soal identitasku, karena Sassy percaya aku hanya seorang supir pribadi." jawab Jeffry.


Ramon membelalakkan matanya. "Wanita itu bodoh, ia tak tahu kau pemilik perusahaan besar. Yah wajar sih, semua orang hanya tahu nama pemilik perusahaan. Mereka tak tahu seperti apa wajahmu. Kau selalu mencekal dan mengancam setiap media yang menyebarkan fotomu."


Jeffry menggeleng. "Tidak semua orang Mon, ada satu orang di rumah sakit yang mengetahui siapa diriku. Aku juga bingung darimana ia tahu. Pria itu seorang dokter pribadi Valery. Dokter Andrew namanya, tapi aku cukup senang ia mendukungku menjaga Valery."


Ramon terkejut kembali. "Sungguh hari ini hari yang melelahkan buatmu Jeff." ejeknya.


Jeffry menendang kaki Ramon sebagai kebiasaannya. "Aku mau beli makan malam, karena aku janji pada Vale akan kembali saat makan malam. Kau mau ikut?" tanya Jeffry.


Ramon menggeleng. "Aku akan pulang menemani istriku makan. Bersenang senanglah, sampai jumpa besok jika kau bisa ke perusahaan."


Jeffry mengangguk dan membiarkan Ramon pulang meninggalkannya. Sedangkan Jeffry membeli makan malam untuk dibawa ke rumah sakit.


*****


Happy Reading All...😘😘


Semoga kalian selalu bahagia. Aamiin...

__ADS_1


__ADS_2