
Samuel menatap Sassy yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Entah mengapa ia mengatakan akan bertanggung jawab jika wanita itu hamil. Baru kali ini ia menginginkan seorang wanita lagi dan lagi. Miliknya sekarang pun kembali menginginkannya lagi, padahal wanita itu sudah sering melakukannya mungkin.
Samuel mendekati Sassy dan memeluknya dari belakang. "Sudah berapa kali kau tidur dengan pria?" tanyanya.
Sassy berbalik menatapnya. "Kau siapa ingin tahu masalah pribadiku?" tanya Sassy.
Samuel memegang kedua pipinya dengan satu tangan. "Apa malam ini kau ingin tahu siapa aku." jawab Samuel lalu mencium bibirnya.
Sassy berusaha menghindar dengan memalingkan wajahnya. "Apa kau pikir aku wanita yang hanya jadi pelampiasan nafsumu." bentak Sassy.
Samuel kembali memegang pipinya dengan kasar. "Kau pun menikmatinya beberapa jam yang lalu, mengapa kau begitu kasar Sassy?" geramnya.
"Aku harus kembali ke rumah sekarang, berikan semua buktinya." pinta Sassy.
Samuel melepaskannya lalu tertawa dengan keras. "Kau pikir semudah itu, ada syarat lain yang aku inginkan." ujarnya.
"Apa maksudmu? Syarat lain, itu bukan perjanjian kita." bentak Sassy.
"Aku belum melakukan janji sebenarnya Sassy, yang aku inginkan bukan hanya tubuhmu di ranjang. Tapi juga tubuhmu untuk menggoda pria lain. Aku mencintai seorang wanita tapi ia di rebut pria lain. Dan aku ingin kau menghancurkan hubungan mereka. Barulah aku akan membuang semua bukti itu." ujar Samuel.
Sassy terbelalak. "Apa maksud dari semua ini Sam? Kau bilang jika aku hamil kau akan bertanggung jawab, tapi kau malah menginginkan wanita lain." jawabnya.
Samuel kembali tertawa. "Ya Tuhan kau wanita bodoh, aku akan bertanggung jawab atas anakku. Hanya itu yang akan aku lakukan." bentaknya.
Sassy menampar wajah Samuel dengan keras. "Kau pikir aku wanita murahan, aku melakukan ini karena aku takut masuk penjara. Kau memanfaatkan kelemahanku dan ya Tuhan...jahat sekali kau Sam." ujar Sassy seraya menangis.
Samuel mengelus pipinya yang lumayan sakit akibat tamparan wanita itu, entah mengapa ia merasakan sakit hati saat melihat Sassy menangis. Tapi ia tak akan tergoda dengan air matanya, tujuannya adalah Valery. Samuel mendorong Sassy ke ranjang. "Berani sekali kau menamparku." ujarnya lalu kembali memaksa wanita itu melayaninya. Karena itulah yang ia inginkan. Miliknya butuh sarang kenikmatan kembali.
Sassy meronta dan berontak dengan memukul dada Samuel. Namun kekuatan tubuh Samuel membuatnya tidak berdaya. Dengan kasar pria itu menyatukannya kembali. Dan yang bisa dilakukan Sassy adalah menangis histeris.
*****
Ponsel Jeffry berdering, ia masih menikmati pelukan kekasihnya yang tertidur pulas. Ternyata ibunya menghubunginya. Pelan pelan Jeffry bangun dari tempat tidur dan menjauhi Valery agar wanita itu tak terbangun.
"Halo bu." jawab Jeffry.
"Nak ada kabar baik sayang, Paul tersadar." ujar Susi.
Jeffry membelalakkan matanya. "Puji Tuhan bu, benarkah anak nakal itu bangun." tanya Jeffry masih tidak percaya.
__ADS_1
"Benar Jeff, adikmu sudah sadar. Tapi..." ujar Susi sedih.
"Tapi apa bu..." tanya Jeffry.
"Ada apa Jeff?" tanya Valery yang terbangun mendengar suara Jeffry.
"Ya Tuhan sayang, maafkan aku membangunkanmu. Ini telpon dari ibu." jawab Jeffry. "Halo bu, tapi apa? Apakah Paul baik baik saja?" tanya Jeffry lagi.
"Paul sudah baik baik saja, tapi ia tak mengenali Ana. Yang ia tanyakan selalu abangnya. Dan ia juga bilang sudah tidak memiliki ibu. Paul mengalami traumatic dan amnesia retrograde. Ia hanya mengingat masa kecilnya. Cepatlah kemari Jeff." jawab Susi sambil menangis.
Jeffry terbelalak, ia mematikan ponselnya dan menatap Valery. Ia tak mungkin kembali meninggalkan kekasihnya.
Melihat kebimbangan pada Jeffry, Valery kembali bertanya. "Jeff, katakan padaku ada apa dengan Paul?"
"Paul tersadar tapi ia mengalami traumatic dan amnesia retrograde. Ia tak mengingat kejadian yang baru, yang ia ingat hanya masa lalu nya. Aku harus ke rumah sakit, tapi..." jawab Jeffry ragu.
"Pergilah sayang, aku baik baik saja. Ibumu membutuhkanmu. Aku tak bisa menemanimu karena nyeri." ujar Valery jujur. Karena memang ia merasakan nyeri pada bagian miliknya.
Jeffry memeluk dan menciumnya. "Maafkan aku sayang, seharusnya aku bertanggung jawab atas perbuatanku. Tapi lagi lagi aku harus meninggalkanmu." ujarnya merasa bersalah.
"Ssssttt...aku baik baik saja sayang. Aku bisa mengatasinya." jawab Valery.
Valery memakai piyama tidurnya, tubuhnya begitu sakit dan nyeri pada beberapa bagian tertentu. Ia juga menarik seprai yang kotor akibat bercak darahnya. Dengan pelan pelan Valery mengganti seprai nya. Lagi lagi ada rasa sakit yang membuatnya mengernyit dan menahannya agar Jeffry tak khawatir.
Pria itu keluar dari kamar mandinya dan sudah memakai pakaian dengan rapi. "Apa yang kau lakukan Vale, tak bisakah kau diam dan tidur." ujar Jeffry sambil mendekatinya.
Jeffry mengusap keringat yang keluar dari wajah Valery. "Sayang, apakah sangat sakit?" tanyanya lembut dan Valery mengangguk.
Jeffry menggendongnya dan membaringkan Valery dengan lembut di ranjangnya. "Jangan melakukan apapun saat aku pergi. Aku janji akan kembali setelah semuanya sudah baik baik saja." pinta Jeffry.
"Kau jangan pikirkan aku sayang, aku baik baik saja. Aku akan tidur, kau selesaikan saja urusanmu." jawab Valery.
Jeffry mencium keningnya. "Aku akan membawa kunci rumahmu, aku akan cepat kembali. Tidurlah, jangan kemana mana. Jika kau melakukannya, maka aku akan menghukummu." ancam Jeffry.
Valery mengangguk, lalu Jeffry meninggalkannya menuju rumah sakit.
*****
Jeffry berlari ke ruangan setelah sampai di rumah sakit dan mendapati Paul yang terus mencarinya. "Paul, ini abang." ujar Jeffry mendekatinya.
__ADS_1
"Bang Jeff." teriak Paul sambil memeluk abangnya. "Abang sudah makan kan, abang tidak jadi pengemis lagi kan. Aku takut abang dipukuli preman lagi." sambungnya.
Semuanya terkejut bahkan Susi dan Ana terus menangis.
"Kau anak nakal, tentu saja abang sudah punya pekerjaan. Kita bisa makan enak setiap hari. Kau tidak akan kelaparan lagi Paul." jawab Jeffry.
"Wanita tua ini aneh sekali, mengakui dirinya sebagai ibu kita. Kita kan sudah tidak memiliki orang tua. Mereka semua sudah meninggal kan bang." tanya Paul.
Jeffry menatap Susi yang terus saja menangis. "Abang dulu berpikir ibu sudah meninggal, tapi ternyata ia masih hidup. Dan wanita ini benar ibu kita." jawabnya.
"Aku tidak mengingat apapun bang, lalu siapa wanita itu." tunjuk Paul pada Ana.
"Apa kau sama sekali tak mengenalinya?" tanya Jeffry dan Paul menggeleng. "Abang sudah memiliki pekerjaan yang layak, dan ini Ana sekertaris abang." jawab Jeffry.
"Wah abang berbohong, kapan abang memiliki pekerjaan dan sekertaris. Paul masih ingat kita masih mengemis dan mengamen di jalanan." ujar Paul.
Tak lama dokter masuk dan menjelaskan semuanya pada keluarga. "Tapi ini bersifat sementara." ujar dokter. "Jika saatnya tiba, ia akan kembali dan mengingat semuanya. Mohon kalian bersabar menghadapinya, jangan membuatnya tertekan." sambung dokter.
Semuanya mengangguk, lalu dokter meninggalkan mereka.
"Sekarang tidurlah Paul, ini sudah sangat larut." perintah Jeffry. "Dan sementara ibu yang akan menjagamu, setelah kau sehat abang akan menjelaskan semuanya." ujarnya.
Paul mengangguk dan memejamkan matanya. Jeffry membawa Susi dan Ana keluar.
"Kalian berdua bersabarlah, kalian dengarkan apa kata dokter. Ini hanya sementara, Paul akan kembali lagi setelah sembuh total. Sementara yang ia ingat saat masa kami sulit. Ibu, jangan menyalahkan diri sendiri. Ini semua salahku, bersabarlah dan terus berdoa pada Tuhan. Dan Ana, maafkan atas semuanya." ujar Jeffry.
Keduanya mengangguk mencoba mengerti semua cobaan ini.
"Aku masih ada urusan, tolong jaga Paul. Besok pagi aku akan kemari lagi setelah mengantarkan Valery. Dan bu, kami akan segera menikah setelah Paul sembuh nanti." ujar Jeffry.
Susi terkejut. "Vale sudah setuju?" tanyanya senang. Dan mendapat anggukan dari putranya. "Ya Tuhan syukurlah, selamat sayang." sambungnya.
"Selamat bang, semoga kalian selalu diberkahi Tuhan." ujar Ana.
"Amien. Terima kasih Ana." jawab Jeffry lalu ia pamit meninggalkan rumah sakit.
Vale aku kembali, aku tahu kau pasti sangat kesakitan sekarang, aku akan bertanggung jawab atas semuanya. gumamnya sambil menuju rumah kekasihnya lagi.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘