AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU

AKU MENCINTAI SUPIR TAMPANKU
Episode 48


__ADS_3

Di rumah sakit dan di ruangan Paul, Susi dan Ana sama sama terlihat panik. Valery menghampiri mereka.


"Ibu, Ana... Kalian tenanglah. Aku yakin Paul pria yang sangat kuat. Ia akan baik baik saja." ujar Valery.


Susi memeluk menantunya. "Kami benar benar takut Vale. Paul mengalami hal yang sangat buruk." ujar Susi.


"Dan lagi lagi semua salahku." sambung Ana.


Valery menggeleng. "Aku sudah mendengar ceritanya dari Jeffry. Kau tidak salah Ana, tapi kau malah sangat membantu penyembuhannya. Wajar saja jika Paul panik karena ingatannya kembali dengan tiba tiba. Aku yakin saat ia sadar, ia akan baik baik saja." ujarnya.


Semuanya bisa tenang, mendengar Valery berbicara. Beberapa jam kemudian, Ramon datang dan menjenguk Paul sambil memberikan kunci mobil Jeffry.


"Aku sudah menaruh mobilnya di rumahmu Jeff." ujar Ramon.


"Maaf aku merepotkanmu, lalu bagaimana kau bisa kemari?" tanya Jeffry.


"Tenang saja Jeff, aku masih sahabatmu. Dari rumahmu aku naik taksi ke perusahaan dan tentu saja aku kemari dengan mobilku." jawab Ramon.


Jeffry terkekeh. "Aku bertanya hal yang tidak penting Mon, maaf. Sekali lagi terima kasih." jawabnya.


Ramon mengangguk. "Bagaimana keadaan Paul?" tanyanya.


"Ia belum sadar setelah diberi obat penenang, jadi kami belum mengetahuinya." jawab Jeffry.


Mereka semua duduk di sofa didalam ruangan tersebut sambil menunggu Paul sadar. Sedangkan Valery, ia sangat sibuk dengan ponselnya. Ternyata ia menghubungi sahabat sekaligus dokter pribadinya yaitu dokter Andrew.


Valery menatap suaminya. "Jeff, apa aku boleh menemui dokter Andrew?" tanyanya.


Jeffry menyipitkan matanya. "Apa kau sakit sayang?" tanyanya.


Valery tertawa lalu menggeleng. "Aku sudah lama tak bertemu dengannya, ia juga sahabatku Jeff. Kebetulan malam ini ia sedang bertugas, boleh ya?" tanya Valery lagi.


"Ya Tuhan, tentu saja sayang. Aku pikir kau sakit. Itu yang membuatku panik. Apa perlu aku antar?" tanya Jeffry.


Valery menggeleng, ia tersenyum lalu mencium pipi Jeffry walaupun masih banyak keluarganya. "Aku pamit sebentar ya semua." pamitnya.


*****


Valery segera menuju ruang kerja dokter Andrew, kebetulan belum ada pasien. Jadi ia langsung bisa menemuinya.


"Apa kabar nona cantik dan pengantin baru, aku marah sekali kau tak mengundangku." ujar dokter Andrew.


Valery tersenyum. "Aku sangat baik dok, aku belum mengadakan acar resepsi. Tentu saja kau pasti aku undang." jawabnya.


"Benarkah?" tanya dokter Andrew lagi.

__ADS_1


Valery mengangguk.


"Apa kau merindukanku?" tanya dokter Andrew lagi.


Kali ini Valery tertawa. "Kau terlalu percaya diri dok, bagaimana kabar keluargamu?" tanyanya.


"Semuanya baik dan si kecil semakin aktif." jawab dokter Andrew.


"Syukurlah, aku rindu pada keluargamu. Terakhir aku menemui mereka saat putri keduamu baru lahir." ujar Valery.


"Dan itu sudah 2 tahun yang lalu." kata dokter Andrew. Lalu ia menatap tubuh Valery. "Kau gemukan Vale, apa kau sangat bahagia menikahi Sean?" tanyanya.


"Itulah mengapa aku datang kemari, akhir akhir ini ada yang aneh dengan perutku. Aku terus merasa lapar walaupun setelah makan. Aku takut ada sesuatu yang aneh pada diriku atau penyakit yang menakutkan." jawab Valery.


Dokter Andrew melihat ketakutan pada mata wanita itu. "Berbaringlah, aku akan memeriksamu. Aku yakin kau sangat sehat." ujarnya.


Valery mengangguk dan berbaring di tempat pemeriksaan. Dokter Andrew mulai memeriksanya dari denyut nadi, detak jantung sampai ke bagian perut Valery. Lalu ia tersenyum sangat bahagia membuat Valery terkejut.


"Ada apa?" tanya Valery penasaran.


"Kau salah menemui dokter nona cantik. Seharusnya kau menemui dokter kandungan." jawab dokter Andrew.


Valery menatap dokter Andrew, ia masih bingung dengan ucapannya. "Apa maksudmu? Aku masih tidak mengerti dok." tanyanya.


"Aku akan mengirimmu ke Dokter Fransiska, ia dokter kandungan. Dan penyebab kau terus lapar adalah karena tumbuhnya bayi yang ada di rahimmu. Jika aku tak salah menebak, kemungkinan usia kandunganmu sudah 3 minggu sekarang, memang masih sangat muda Vale." jawab dokter Andrew.


"Kau yakin kan?" tanya Valery lagi.


"Selamat ya Vale, kau akan menjadi seorang ibu. Dimana suamimu?" tanyanya.


"Jangan katakan padanya, ini akan aku rahasiakan. Aku akan jadikan kado terindah saat kami melakukan resepsi nanti." jawab Valery.


Dokter Andrew tertawa. "Baiklah nyonya Sean, aku serahkan padamu. Sekarang temuilah dokter Fransiska, ia sedang bertugas malam juga. Dan kendalikan rasa laparmu, aku takut kau berubah menjadi balon udara." godanya.


Valery tertawa. "Sialan... Kau suka sekali mengejekku tuan. Terima kasih, aku akan menemui dokter Fransiska sekarang." jawabnya.


Dokter Andrew mengangguk dan membiarkan Valery keluar dari ruangannya.


*****


Valery menatap ruang tunggu di depan ruangan dokter kandungan, pasiennya sangat banyak dan ia menatap beberapa wanita yang sudah terlihat bentuk perut hamilnya. Tak sadar Valery mengelus perutnya yang masih rata sambil tersenyum. Ia mengambil ponselnya menghubungi suaminya.


"Sayang, aku agak lama ya. Dokter Andrew banyak pasien, jadi aku masih menunggu." ujar Valery berbohong.


"Tentu sayang, asal kau tidak lupa jalan ke ruangan Paul." goda Jeffry.

__ADS_1


Valery tertawa. "Kau mengejekku. Sudah dulu ya, dah." ujarnya seraya mematikan ponselnya.


Maaf sayang, aku berbohong untuk memberimu kejutan. pikir Valery.


Satu jam kemudian, akhirnya giliran Valery masuk ke ruang dokter Fransiska. Dan benar dugaan dokter Andrew jika ia sedang mengandung usianya baru 3 minggu, rasa lapar adalah bawaan dari kandungannya.


"Beruntung untuk bu Vale tidak mengalami morning sickness, biasanya wanita yang mudah lapar akan mengeluarkan makanannya di pagi dan malam hari." ujar dokter Fransiska.


"Aku tidak mengalaminya atau belum bu dokter?" tanya Valery.


"Morning sickness akan dialami ibu hamil selama tri semester pertama bahkan ada juga yang mengalami sampai melahirkan. Dan ada juga yang tidak mengalaminya sama sekali. Itu tergantung bawaan bayinya. Anda perlu menjaga kandungannya karena usianya masih terlalu muda, walaupun nafsu makan anda tinggi tetapi tetap dijaga makanannya mana yang boleh dan tidak boleh di makan. Apalagi ini kehamilan pertama anda, kemungkinan akan lebih sulit menghadapinya." ujar dokter menjelaskan.


Valery mengangguk dan masuk ke ruang USG untuk melihat janin yang sedang tumbuh di rahimnya. Saat dokter memperlihatkan letaknya yang masih berupa gumpalan kecil, tak terasa air mata Valery kembali merebak. Ia sangat bahagia sekali, jika Jeffry mengetahuinya mungkin suaminya juga akan sangat bahagia.


Valery menerima resep obat dan juga foto hasil USG nya. Ia menyimpannya agar Jeffry tak mengetahuinya. Ia kembali ke ruangan Paul setelah menebus obatnya. Valery tersenyum saat memasuki ruangan, ia tak bisa menutupi kebahagiannya.


Jeffry menatap Valery namun ia marah saat melihat istrinya itu yang terus tersenyum.


"Maaf aku lama." ujar Valery.


Di ruangan sudah tidak ada Ramon lagi. Sedangkan Susi tertidur, hanya Ana yang masih terjaga di samping Paul.


"Kau sangat senang bertemu dokter Andrew, sampai kau tak bisa berhenti tersenyum." jawab Jeffry dingin.


"Tentu saja aku senang, aku sudah lama tak bertemu dengannya." jawab Valery.


Jeffry menatapnya tajam. "Apa sampai seperti itukah kau mengumbar senyumanmu Vale?" tanyanya.


"Kau kenapa Jeff, apa aku harus menangis saat masuk ke ruangan ini." jawab Valery.


"Terserahlah." ujar Jeffry lalu meninggalkan ruangan.


Valery menghela nafasnya, suaminya tidak tahu jika ia tersenyum karena anak yang ada dalam kandungannya saat ini. Ia menatap Ana yang terus menatapnya. Valery menaikkan alisnya dan tersenyum, ia menghampiri wanita itu lalu membisikkannya. Valery mengatakan semuanya tentang hasil pemeriksaannya.


"Selamat bu Vale." ujar Ana.


"Ssssttt... Jangan keras keras." ujar Valery.


Ana tersenyum. "Maaf, aku hanya terlalu ikut bahagia." jawabnya.


Valery mengangguk. "Ini rahasia kita ya, aku akan memberi Jeffry kejutan saat acara resepsi nanti. Sekarang Jeffry sepertinya cemburu dengan dokter Andrew." kata Valery.


Ana tertawa lalu mengangguk, ia ikut bahagia atas kabar kehamilan Valery.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...😘


__ADS_2