
Mereka menuju rumah sakit. Susi langsung ke ruangan rawat sedangkan Jeffry dan Valery menemui dokter yang menangani Paul Sean. Dokter mengatakan keadaan Paul sudah lebih baik. Hanya tinggal menunggu ia sadar saja, dari situlah baru bisa melihat keadaan saraf otak pasien. Yang ditakutkan dokter adalah pasien mengalami trauma dan amnesia akibat benturan kepala yang ia alami. Itu kemungkinan terburuknya, tapi mereka berharap Paul tidak mengalaminya.
Setelah selesai, keduanya menuju ruangan, disana Susi sedang berbicara pada Ana. Ana seperti sedang minta maaf atas apa yang terjadi pada Paul. Ana terkejut saat melihat Valery dan Jeffry masuk. Ia langsung berdiri.
"Santai saja Ana, aku takkan memakanmu." ujar Jeffry.
"Maaf pak, eh bang..." jawab Ana.
"Terima kasih Ana kau menjaga Paul hari ini. Ini adalah bu Susi, ibu kandungku. Wanita ini yang akan menjadi ibu mertuamu." goda Jeffry. Wajah Ana memerah.
"Jeff, kau suka sekali menggoda orang lain." ujar Susi. "Bagaimana? Apa kata dokter?" tanyanya.
"Keadaannya semakin membaik tapi ada kemungkinan terburuk jika Paul akan mengalami trauma dan mengakibatkan ia amnesia." jawab Jeffry.
Susi terkesiap, ia menutup mulutnya karena terkejut. Valery menepuk pundaknya. "Ibu tenanglah, itu hanya kemungkinan. Kita berharap Paul tidak apa apa." ujar Valery.
Susi mengangguk dan menatap putra bungsunya dengan sedih, begitu juga dengan Ana. "Kau juga bersabar Ana, Paul pasti akan mengingat semuanya." ujar Valery lagi.
Ana hanya menatap jauh ke arah kekasihnya yang masih terbaring, siap atau tidak Ana harus merelakan Paul jika pria itu tak mengingatnya.
"Jika kau ingin pulang tak apa apa Ana, kau beristirahatlah." ujar Jeffry.
Ana menggeleng. "Bisakah abang izinkan aku tetap disini?" tanyanya.
Jeffry mengangguk. "Silahkan, tapi jika kau lelah beristirahatlah. Kau juga harus mengurus pekerjaan besok." kata Jeffry. Ana kembali mengangguk.
"Bu, kami akan keluar sambil mencari makan malam. Ibu tak apa apa kan kami tinggal." ujar Jeffry pada ibunya.
"Silahkan nak, ibu ingin menemani Paul lebih lama." jawab Susi.
Jeffry mengangguk dan mengajak Valery keluar. "Kau mau mengajakku kemana Jeff? Ini masih sore." tanya Valery.
"Kita ke taman rumah sakit. Sebenarnya aku hanya ingin membiarkan ibu mengajak bicara Paul agar anak nakal itu cepat bangun. Sudah hampir sebulan ia terbaring Vale. Aku sungguh takut kehilangannya." jawab Jeffry.
Valery menggenggam tangannya. "Kau berpikirlah positif Jeff, masih ada aku yang akan menemanimu." ujar Valery.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, kau memang obat terbaikku." jawab Jeffry, Valery hanya tersenyum.
*****
Di sisi lain Sassy sedang mengantar ibunya check up kembali, saat itu ia sedang membayar administrasi. Lalu ia melihat sosok yang ingin sekali ia temui selama ini, Jeffry Sean sedang berjalan ke arahnya bersama seorang wanita. Geram dengan kemesraan keduanya, Sassy memiliki ide di kepalanya. Kebetulan ibunya masih di ruang dokter, jadi ia masih sempat menemui Jeffry.
"Jeff..." teriaknya. Ia sedikit berlari menghampiri Jeffry. "Ya Tuhan sayang, sulit sekali menemuimu." ujarnya sambil memeluk Jeffry.
Seketika itu juga Valery terkejut lalu melepaskan tangannya dari genggaman Jeffry.
"Kau apa apaan sih, main peluk saja. Lepas Sassy." bentak Jeffry.
Tapi Sassy tak mendengarkan permintaan Jeffry. Ia terus memeluknya dengan erat. "Aku merindukanmu sayang, terakhir kali kau masih marah padaku." jawab Sassy.
Valery terbelalak mendengar ucapan wanita itu. Lalu ia mempercepat langkahnya meninggalkan Jeffry.
"Tunggu Vale, sayang dengarkan aku dulu." teriak Jeffry sambil berusaha melepaskan pelukan Sassy. "Kau...apa apaan sih? Kau sudah gila, kau memeluk pria yang sudah memiliki kekasih." bentak Jeffry.
Sassy pura pura terjatuh. "Jeff, kau jahat sekali sih mendorongku." ujarnya, padahal Jeffry tak melakukannya sedikitpun. Semua tamu rumah sakit menatapnya. Terpaksa Jeffry membangunkan Sassy terlebih dahulu.
"Sayang apanya? Kau bukan siapa siapa, kau sudah gila Sassy. Tak bisakah kau berhenti menggangguku." bentak Jeffry.
"Aku tak mengganggumu Jeff, kau lupa kalau kau pernah menyukaiku." jawab Sassy.
"Itu dulu, tapi tidak sekarang dan seterusnya. Aku sudah ingin menikah dengan wanita yang aku cintai." bentak Jeffry lagi.
"Tidak bisa Jeff, aku lah cinta pertamamu. Kau tak bisa melupakan aku begitu saja." ujarnya sambil menangis.
Jeffry menatap sekitarnya yang melihat pertengkaran mereka. "Diamlah Sassy, aku tak melakukan apapun padamu. Mengapa kau menangis? Dasar wanita gila." bentak Jeffry lagi seraya meninggalkan Sassy.
"Tunggu Jeff, Jeff..." teriak Sassy tapi tak diperdulikan oleh Jeffry.
*****
Jeffry terus menghubungi Valery. Seharusnya ia bercerita tentang wanita gila itu sebelum hal ini terjadi, tapi ia lupa karena masalahnya dengan Susi. Wanita itu pasti sangat marah, karena ponselnya tak diangkat.
__ADS_1
Dimana kau Vale? gumam Jeffry.
Ia terus mencari sekeliling rumah sakit juga taman, tapi tak ada sosok yang ia cari. Jeffry kembali menghubunginya lagi, namun hasilnya tetap nihil. Jeffry masuk ke mobilnya, kemungkinan Valery mengambil mobilnya di rumahnya, karena tadi saat ke rumah sakit mereka bersama. Jeffry segera ke rumahnya. Ia berharap Valery masih berada disana.
Jeffry menancap gasnya lebih kencang, jika Valery naik taksi kemungkinan Jeffry bisa menyusulnya. Sepanjang jalan Jeffry tanpa henti menghubunginya.
Ayolah sayang, angkat ponselnya. Jangan seperti ini. gumam Jeffry lagi.
Benar saja setengah jam ia dalam perjalanan, ia melihat Valery baru keluar dari pintu gerbang rumahnya.
"Vale, tunggu sayang." teriak Jeffry. Tapi wanita itu tak menghentikan mobilnya.
Jeffry masuk lagi ke mobilnya dan berusaha mengejar Valery. Sepanjang jalan Jeffry terus menekan klaksonnya. Ia juga terus menghubungi ponselnya. Tapi wanita itu sangat marah padanya.
Ya Tuhan sayang, mengapa kau tak mau mendengarkan aku terlebih dahulu, angkat ponselnya sayang. geram Jeffry.
Jeffry terus mengikuti kekasihnya, ternyata ia mengarah ke rumahnya. Saat ada kesempatan, Jeffry menyalip mobilnya dan berhenti di depan mobil Valery, wanita itu seketika mengerem.
Jeffry turun dan menghampiri Valery. "Buka pintunya sayang, dengarkan aku dulu." ujar Jeffry. Ia berusaha mengintip jendela mobilnya. Jeffry sangat terkejut saat melihat Valery sedang menangis. "Sayang, aku mohon dengarkan aku dulu, itu tidak seperti yang kau pikirkan. Wanita itu gila, aku tak ada hubungan apapun dengannya." sambungnya lagi.
Sangat lama Jeffry menunggu Valery membuka pintu mobilnya, namun wanita itu tetap tidak mau melakukannya. Jeffry menghela nafasnya. "Vale, kau masih marah. Oke aku mengalah. Kau pulanglah, aku akan membeli makan malam buat ibu dan Ana. Nanti malam aku mengunjungi rumahmu. Aku mohon kau mau mendengarkan aku nanti malam. Aku akan menjelaskan semuanya. Aku pergi dulu sayang." ujar Jeffry.
Ia meninggalkan Valery yang masih marah padanya. Malam ini Jeffry berharap wanita itu mau mendengarkannya.
Wanita sialan itu selalu saja menggangguku. Hubunganku jadi runyam akibat ulahnya. gumam Jeffry sangat kesal.
Ia mencari makan malam dan kembali ke rumah sakit, lalu ia akan menemui Valery.
*****
Konflik lagi nih...😂😂😂
Biar ada bumbu cintanya ya guys...
Happy Reading...
__ADS_1
Jangan lupa like n komen ya...😘