Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
10. Apakah ini suka?


__ADS_3

Setelah melihat seorang gadis kecil membunuh manusia tanpa berkedip, jiwa Rafael melayang entah kemana. Mentalnya benar-benar terkejut. Anak buahnya bahkan ada yang pingsan.


'Iblis besar ini tolong jangan terlalu ganas oke? Kami pria besar sebenarnya memiliki hati yang lemah lembut. Jantung kami tidak tahan oke?!'


Semua pria itu meraung dalam hati, tapi wajah mereka semakin pucat. Siapa yang akan percaya gadis dengan wajah ramah dan patuh ini akan membunuh manusia semudah memotong tahu? Mereka lebih percaya jika bumi itu datar! Tapi fakta ada didepan mata mereka saat ini. Bahkan mayat itu masih memiliki tubuh yang hangat.


Kanaya yang melihat itu sangat tidak berdaya, itu hanya membunuh beberapa makhluk bodoh, bagaimana jika nanti terjadi pertempuran nyata? Apakah mereka akan takut hingga kencing di celana? Berapa umurmu ah?!


"Bukankah aku sudah bilang tadi, mereka adalah seorang penjahat jadi tidak perlu merasa kasihan."


Salah satu pria itu yang belum bisa mengatasi psikologinya, melihat Kanaya dengan linglung mengatakan sepatah kata, "leluhur... "


Kanaya yang mendengar itu tidak bisa menahan kedutan mulutnya. Dia baru berusia 25 tahun bukan 1000 tahun. Wajahnya masih sangat cantik oke?!


Setelah beberapa saat Kanaya akhirnya mengajak mereka pergi. Para pria itu berjalan dengan saling mendukung. Saat sudah keluar dari pabrik wajah mereka menunjukan kelegaan yang ekstrim, seolah mereka akhirnya bebas dari neraka.


Sedangkan Rafael yang sudah mengumpulkan sedikit jiwanya tiba-tiba membeku. Mengingat saat dia dengan sembrononya mengkorupsi uang Kanaya.


'Rafael ah! Siapa yang memberimu keberanian?! Kau tidak sabar untuk mati?!


Rafael tidak sabar untuk membalikan waktu dan menampar wajah sombongnya berkali-kali. Saat Rafael sedang berurusan dengan rasa malunya, Kanaya yang memperhatikan Rafael tidak tahan untuk tidak menggodanya.


Jadi Kanaya berjalan menuju Rafael dan menepuk pundak nya dengan murah hati. "Tidak apa-apa, semua orang pasti memiliki masa dimana otak mereka di makan babi. Aku sudah memaafkanmu tidak perlu berterima kasih."


Rafael "..." apakah sudah terlambat untuk membuang wajah ini ke sungai?


Rafael yang malang.


...


Sedangkan itu dikamar hotel yang mewah dua tubuh telanjang sedang berpelukan. Pria itu mengelus kepala Julia yang bersandar di bahunya.


Tubuh mereka penuh dengan tanda merah dimana-mana. Menunjukan bahwa pertempuran tadi sangat intens. Bahkan masih tercium bau yang sangat kuat.


"Sayang sampai kapan kami terus seperti ini? Aku sangat ingin menunjukan ke semua orang jika kamu hanyalah miliku." pria itu bertanya pada Julia, wajahnya dipenuhi rasa sakit.


Julia memandang pria itu dengan sayu, "maaf aku tidak bisa putus dengan Luke. Apakah kau menyalahkanku? Aku tidak keberatan mengakhiri semuanya. Jack kau bisa mencari wanita yang lebih baik dariku."


Jack memandang Julia dengan tidak percaya, "bagaimana kau bisa mengatakan itu padaku? Baby, aku hanya mencintaimu oke?" menangkup wajah mungil Julia.


"Tapi aku kasihan padamu Jack." Air mata Julia menetes, "kau adalah pria yang baik, Jack kau berhak mendapatkan kebahagiaanmu. Kau harus berkencan dengan wanita yang baik juga, tidak sepertiku yang sangat kotor ini."

__ADS_1


"Shutt... Aku tidak akan membiarkan siapapun menghinamu, bahkan dirimu sendiri. Aku mencintaimu, dan aku akan melakukan apapun untuk bersamamu. Kau paham?" Jack bertanya dengan lembut, sambil menghapus air mata Julia.


"Jack kau sangat baik, bagaimana aku bisa sangat beruntung menjadi wanita yang kau cintai." Julia tersenyum manis.


"Nah, malaikatku hanya bisa tersenyum bahagia. Jangan menangis lagi oke?"


Julia mengangguk semangat, Jack memeluk Julia dengan erat. Jika bukan karena beberapa pakaian yang berserakan dimana-mana, adegan itu pasti lebih romantis.


...


Kanaya yang sudah sampai di apartemen mewahnya saat ini sedang memikirkan hal yang mengganjal. Tadi saat Kanaya membunuh beberapa penjaga, arus hangat tida-tiba mengalir di tubuhnya. Sangat nyaman seolah dia berendam di mata air panas. Dan dia juga merasa jika ada tangan tak terlihat yang membantunya.


Kanaya sudah beberapa kali membaca novel fantasi, dan dia juga sudah menebak dengan samar. Tapi jawaban ini terdengar sangat mustahil.


Jika yang membantunya adalah surga, lalu siapa yang membantu protagonis beberapa hari yang lalu?


Jika dia membunuh semua orang jahat apakah dia akan terus mendapatkan roh keberuntungan?


Apa yang terjadi jika dia membunuh protagonis?


Lalu yang mana surga yang asli?


Atau bahkan bukan surga yang membantunya?


Lalu siapa dia?


Semua pertanyaan itu berputar diotak Kanaya. Membuatnya sangat pusing.


...


Dan di tempat lain Marvel juga sedang bergulat dengan pikiranya.


Tadi setelah cctv terputus, David dan Sean akhirnya percaya jika Poppy adalah Kanaya.


"Ketua kapan kau akan merekut Poppy?" David bertanya pada Marvel.


Sean menambahkan, "ya, pasti banyak kelompok yang ingin merekut poppy, jadi kami harus bertindak cepat."


"Aku tidak berniat merekut Poppy." Marvel menjawab dengan datar.


Sean dan david tidak percaya mendengar jawaban Marvel.

__ADS_1


"Ketua lalu kenapa kau sangat memperhatikan Poppy? Hanya karena dia memiliki ketrampilan yang baik? Ketua ini bukan sifatmu sama sekali." Sean tidak bisa tidak bertanya, jika bukan karena ingin merekut Poppy lalu apa? Atau-


"Ketua kau menyukainya?" David bertanya dengan tidak percaya.


Apakah Marvel menyukai Kanaya? Dia juga tidak tahu. Dia hanya merasa gadis kecil itu selalu bisa membuat hatinya gatal. Dia secara tidak sengaja akan memperhatikanya tanpa dia sadari.


Apakah ini suka? Lalu alasan apa yang membuatnya menyukai Kanaya? Apakah hanya karena mereka berdua memiliki pola pikir yang sama? Atau karena ketrampilanya yang tidak dapat di prediksi?


...


Marvel berencana menemukan jawabannya sekarang juga. Jadi dia berencana menuju kediaman Kanaya. Tapi siapa yang sangka saat dia baru membuka pintu dia melihat gadis kecil yang memenuhi pikirannya.


Kanaya sedang duduk diatas kap mobil didepan pagar rumah Sean. Saat melihat Marvel keluar, Kanaya melambaikan tanganya dengan senyum lebar.


Marvel menekan jantungnya yang berdetak cepat seolah akan keluar dari dadanya. Jadi, apakah dia benar-benar menyukai gadi kecil ini?


Marvel berjalan menuju Kanaya dengan tenang, meskipun pikiranya bergerak liar tapi wajahnya masih tetap tanpa ekspresi, dia sudah terbiasa menyembunyikan perasaanya.


"Kenapa kau kesini?" Marvel bertanya dengan lembut, membuat suaranya yang seperti cello semakin terdengar sexy.


Kanaya mengangkat alisnya ringan, "tentu saja mengagih hutang."


"Aku tidak pernah berhutang padamu."


"Kau menonton pertunjukanku tadi."


Marvel akhirnya ingat kalimat yang dikatakan Kanaya sebelum menembak cctv tadi. "Apa yang kau mau?"


"Aku ingin memasuki tanah berkabut kan?"


"Hanya itu?"


Kanaya memiringkan kepalanya seolah berfikir. Tapi dia tidak tahu jika gerakan kecilnya membuat pria didepanya berpikir liar.


"Ya hanya itu untuk saat ini. Jika ada hal lain aku akan mencarimu lagi."


"Kau hanya datang mencariku saat membutuhkanku saja?"


"Jika tidak? Kau pikir kau sangat penting?"


Menahan senyum dimatanya, Marvel tidak menjawab pertanyaan Kanaya. Perjalanan Marvel untuk mengejar istrinya masih sangat... sangat panjang.

__ADS_1


__ADS_2