Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
33. Rumit


__ADS_3

Kanaya terbangun dari mimpinya. Menggosok pelipisnya yang sakit, bertanya-tanya apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


Dari kata-kata Atasia, identitasnya dan identitas Marvel akan sangat membantu mereka mengisi keosongan dalam kurangnya kekuatan.


Melirik jam di hpnya yang menunjukan pukul 4 pagi, dia bangun dan keluar dari kamarnya. Hari ini karena kelelahan secara mental, Kanaya memutuskan untuk bermalam di rumah Marvel.


Kanaya masih ingat dengan jelas wajah yang selalu tanpa ekspresi itu cemberut dan menunjukan keluhan dimana-mana karena dia menolak untuk tidur di kamar yang sama. Kanaya sangat tidak berdaya saat itu, dia ingin marah dan tertawa pada saat yang sama.


Bayangkan seorang pria dengan tubuh jakung dan otot dimana-mana bertindak centil dan manja. Dampak visualnya sangat meledak. Bahkan Kanaya yang mengaku tidak memiliki hati tergerak oleh tatapan Marvel, tidak sabar untuk segera mengambilkan bintang untuknya.


Tapi dengan sedikit kewarasan yang tersisa, Kanaya menolak Marvel dengan tegas. Bagaimanapun mereka belum menjalin hubungan. Kanaya juga tahu jika hal yang mudah di dapat juga mudah di buang.


Kanaya mengetuk kamar Marvel. Kamar yang dia tinggali berada di sebelah kamar utama. Jadi hanya perlu beeberapa langkah untuk sampai ke kamar marvel.


Dan Marvel yang memiliki kewaspadaan tinggi bahkan saat sedang tidur langsung membuka matanya saat mendengar sedikit suara. Dengan orak pintarnya, dia segera tahu jika yang mengetuk pintunya pasti gadis kecilnya.


Dengan rasa penasaran, marvel membuka pintu.


Dan Kanaya yang melihat penampilan Marvel saat membuka pintu segera kaku membatu. Ledakan hormon pria yang kuat memasuki pengelihatanya tanpa peringatan.


Dada yang kuat dan kokoh dengan dua titik mencurigakan, garis halus delapan kotak yang tersusun rapi dan tulang putri duyung  memanjakan mata. Proporsi segitiga terbalik sebanding dengan model dunia. Apalagi Marvel sekarang hanya memakai celana katun pendek, membuat otot lengan dan kakinya terlihat sangat jantan.


Melihat gadis kecil di depanya terdiam, Marvel memiliki niat nakal untuk pertama kalinya. ''Apakah gadis kecilku puas dengan apa yang kumiliki?''


Kanaya segera tersadar setelah mendengar suara Marvel. Dia merasakan sengatan hangat di wajahnya. Kanaya yakin wajahnya sudah sangat merah sekarang.


''Apa yang kau lakukan dengan tidak tahu malu?'' Kanaya melotot marah, menyembunyikan hatinya yang sudah berdebar.


''Aku tidak keberatan kau melihatku lagi beberapa kali.'' Marvel menyandarkan tubuhnya ke kusen pintu. Mengembangkan ekornya seperti buruk merak.


''Aku memiliki sesuatu yang penting yang harus di bicarakan! Berhenti bermain-main!''


Melihat Kanaya yang serius Marvel segera menyingkar sifat main-mainnya. Bagaimanapun dia memiliki ukurannya sendiri.

__ADS_1


Marvel menyuruh Kanaya masuk ke kamarnya. Dia sendiri segera memakai pakaian agar lebih enak diapandang saat berbincang.


Kanaya baru pertama kali ini memasuki kamar Marvel. Seperti orangnya, kamar marvel sangat minimalis. Dengan warna hitam putih yang sangat monoton, hanya ada satu tempat tidur, satu lemari pakaian dan satu kamar mandi. Ada meja kecil di dekat kepala tempat tidur. Selain itu tida ada barang tambahan lain.


''Aku bertemu Atasia lagi.'' Kanaya duduk di kasur Marvel sembarangan. Tidak memiliki kesadaran sebagai tamu sama sekali.


''Apa yang kalian bicarakan?'' duduk di sebelah gadis kecilnya, Marvel melingkarkan tanganya di pinggang ramping Kanaya. Dan menyandarkan kepalanya di leher jenjang itu, menghirup aroma memabukkan yang hanya milik gadis kecilnya.


Kanaya menjambak rambut Marvel. Menarik kepala babi yang tidak tahu aturan itu. Tatapan mereka bertemu, dan hanya beberapa detik Kanaya mengalihkan pandanganya dengan canggung.


'Pria bau ini menggunakan kecantikanya lagi untuk merayuku!'


Melihat tatapan Marvel yang menyedihkan, Kanaya hanya bisa menahan hidungnya dan membiarkan Marvel melakukan apa yang dia mau.


Merasakan kompromi gadis kecilnya, Marvel tidak bisa menahan senyum di matanya. Sepertinya dia sekarang tahu bagaimana mendapatkan kesejahteraan untuk dirinya sendiri mulai sekarang.


''Atasia mengatakan Joker masih hidup.''


Marvel mengeratkan pelukannya pada Kanaya. Matanya jatuh kepusaran lubang tak berujung. Suaranya serak menahan kekerasan yang mungkin meledak kapan saja. ''Masih hidup?''


''Ya, dan ternyata masalah Death Poker lebih rumit dari yang kita kira.'' lalu Kanaya menceritakan semua detail informasi yang diadapat dari mulut Atasia.


Tapi dia menyembunyikan sebagian informasi. Seperti identitas dan asal usul mereka berdua. Ini belum waktunya untuk mengekpos semuanya, Kanaya takut jika masalah bertambah runyam jika ada informasi yang tidak sengaja bocor.


''Keberuntungan? Energi roh? Surga? Tanah Hampa?'' saat mendengar istilah ini entah kenapa Marvel merasakan getaran yang berasal dari jiwa.


Awalnya saat pertama kali Kanaya mengatakan tentang Alam Semesta, dia hanya menganggapnya sebagai kebetulan. Tapi kebetulan terjadi dua kali berturut-urut. Apakah ini masih di sebut kebetulan?


Marvel meletakan tanganya di dadanya, merasakan detak jantung yang berdebar-debar. Bukan karena kegembiraan atau ketakutan, lebih seperti sesuatu yang berasal dari jiwanya ingin melompat keeluar.


Kanaya yang menyadari jika Marvel terdiam segera membalikan badan. ''Apa yang terjadi? Apakah ada yang tidak nyaman?'' Kanaya bahkan juga meletakkan tanganya di dada Marvel, tentunya dia juga merasakan debaran jantung Marvel yang tidak normal.


Mengamati warna pupil Marvel, Kanaya menemukan perubahan yang sangat halus. Tidak akan terlihat jika tidak diperhatikan dengan seksama.

__ADS_1


Pupil Marvel yang awalnya berwarna gelap sekarang memiliki beberapa riak. Benang yang sangat halus berwarna emas itu berenang di kedalam pupil Marvel.


Meihat jika Marvel akan kehilangan kendali, Kanaya segera memeluk pria itu. Mengusap punggungnya dengan lembut.


Marvel yang merasakan kehangatan di sekitarnya segera sadar. Dia memeluk gadis kecilnya kembali dengan lebih erat. ''Aku merasakan perasaan yang sangat aneh. Seolah ada kekuatan agresif yang ingin keluar dari jiwaku.''


''Paman.'' Kanaya mengangkat wajah Marvel, menatap pria yang lebih tua di depanya dengan seksama. ''Ada sesuatu yang tidak bisa ku beri tahu sekarang. Tapi aku bersumpah jika aku tidak akan pernah menyakitimu.''


Menatap Kanaya yang sangat serius, Marvel mengerutkan bibirnya, mengangguk pada gadis di peukanya. ''Aku percaya padamu.''


''Kau tidak takut aku menusukmu dari belakang?'' Kanaya mengangkat alisnya, apakah semudah itu mendapatkan kepercayaan salah satu pemimpin Tanah Berkabut?


''Tidak.'' mebenamkan wajahnya di leher Kanaya, Marvel melanjutkan dengan ringan. ''Aku percaya pada kekuatanku sendiri. Aku bisa mengurungmu terlebih dulu jika kau berniat menyakitiku.''


Kanaya menahan kedutan di bibirnya. Dia baru tahu jika pria bau ini juga sangat narsis. ''Siapa yang memberimu kepercayaan diri sebesar itu? Wajahmu sangat tebal?''


''Diriku sendiri.'' Marvel menjawab Kanaya dengan sangat percaya diri dan tegas.


Sebenarnya perkataan Marvel tidak sepenuhnya salah. Bagaimanapun dia memiliki posisi yang sangat tinggi sekarang. Keberadaanya mampu mengguncang sebuah negara besar. Semua orang berlomba-loma untuk meenyenangkanya. Kepercayaan diri Marvel bukanya tidak berdasar.


''Aku akan tidur di sini.''


Marvel yang merasa salah dengan segera mengangkat kepalanya. Menatap gadis kecil di pelukanya. ''Katakan sekali lagi!''


''Kau tuli?'' Kanaya mengalihkan pandanganya. Meskipun sudah sering mendengar hal-hal berbau dewasa, sebenarnya dia adalah perawan tua yang bahkan belum pernah bergandeng tangan dengan lawan jenis.


Memastikan jika pendengaranya tidak salah, Mavel segera menggendong Kanaya dan meletakanya di tempat tidur dengan hati-hati. Melepas kaosnya, hanya menyisakan celana katun pendek.


Lalu naik ke tempat tidur dan membawa tubuh mungil itu kedalam pelukanya.


Dua detak jantung yang berdebar terdengar di ruangan yang sunyi. Kanaya yang tidak tahan dengan rasa malunya segera menyembunyikan wajahnya di dada bidang Marvel.


Dan Marvel yang akhirnya memeluk kekasihnya sepenuhnya merasa penuh kebahagiaan. Hatinya terasa hangat seolah telah mendapatkan hal yang sangat penting.

__ADS_1


__ADS_2