Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
18. Kau miliku


__ADS_3

"Aku hanya mengatakanya sekali. Jadi ingat baik-baik. Aku menyukaimu dan berniat mengejarmu." Marvel menekankan setiap kata yang dia ucapkan. "Aku akan memberimu waktu. Tapi aku tidak menerima penolakan."


Marvel menatap mata Kanaya dengan sangat fokus, seolah menembus jiwa yang paling dalam. Mata Marvel seakan-akan bisa melihat semua  pikiran Kanaya.


Dan Kanaya? Maaf tapi otaknya yang jenius mengalami lag saat ini. Wajahnya penuh ketidakpercayaan.


"Aku hanya menganggapmu sebagai kakak  laki-lakiku." ucap Kanaya datar. Bertanya-tanya racun mematikan mana yang tidak sengaja di telan Marve.


Mendengar itu Marvel mengangkat alisnya ringan. Matanya seperti lautan jurang yang curam, membuat Kanaya tidak bisa menebak apa yang di pikiran pria tampan di depanya.


Melihat Kanaya yang menunjukan tampang idiot, Marvel tidak tahan lagi. Tangan besarnya menggenggam leher Kanaya, menggunakan  sedikit kekuatan untuk mendorongnya agar lebih dekat denganya. Dan Kanaya yang tau apa yang terjadi selanjutnya mengangkat tangan kanannya, berusaha menjatuhkan Marvel.


Marvel langsung menangkap tangan kanan Kanaya,  menyatukan kedua  tangan Kanaya, memenjarakanya dengan satu  tangan lainaya yangg menganggur. Mengunci gerakan atas Kanaya tanpa titik gerak sedikitpun.


Kanaya menatap kedua tanganya dengan tidak percaya, ini adalah pertama kalinya dia  tertangkap seperti ini. Sebelumnya dia selalu menang dalam pertempuran, dan dia tidak menyangka akan ditangkap oleh pria di depanya dengan mudah.


''Kau menangkapku?'' tidak percaya dengan apa yang dia rasakan, Kanaya mencoba menyerang dengan kakinya, dan tentu saja Marvel menahanya dengan mudah.


Melihat bahwa gadis cantik di depanya melotot karena tidak bisa memukulnya, Marvel dalam suasana hati yang baik. Kemarahanya tadi juga menghilang begitu saja. Bagaimanapun memang dia yang salah, mereka baru bertemu belum lama ini. Jadi itu wajar saja jika Kanaya terkejut dengan pendekatanya yang mendadak.


''Baby, aku bisa memberimu waktu untuk berfikir. Tpi aku tidak akan melepaskanmu.''


Kanaya bergidik mendengar suara rendah Marvel. Apalagi dia adalah seorang wanita dengan kontrol suara, dia akan secara otomatis memiliki niat baik dengan seseorang yang memiliki suara yang bagus.


Melihat Kanaya kehilangan fokusnya lagi mata Marvel penuh senyuman. Pupil yang biasanya acuh kini bermekaran seperti musim semi. Glester es yang telah membeku selama ribuan tahun akhirnya mencair.


Melepaskan genggamanya dari Kanaya, Marvel duduk di samping Kanaya.


''Kau milikku Kay.'' Marvel berkata dengan tegas, suaranya menunjukan tekat yang kuat.


Kanaya yang akhirnya mendapatkan kembli fokusnya, menatap Marvel seperti melihat orang gila. ''Otakmu baik-baik saja?''


Marvel menahan agar sudut mulutnya agar tidak naik, tapi matanya yang penuh senyum menunjukan bahwa hatinya memang dalam suasana yang bahagia.


''Sangat baik.''


Kanaya menunjukan tatapan tidak percaya, ''kerusakan otak juga termasuk penyakit. Aku dengan baik hati menyarankanmu pergi ke dokter.''

__ADS_1


Marvel tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya berdiri dari duduknya dan di bawah mata waspada gadis kesayanganya, Marvel mengulurkan tanganya yang berdosa. Mengacak-acak rambut panjang Kanaya. Lalu pergi dengan suasana hati yang baik.


Mata Kanaya terbuka lebar, menatap tidak percaya ke arah kepergian Marvel.


''Marvel kau baji**an!!!''


Di luar rumah, Marvel yang mendengar teriakan Kanaya berjalan dengan santai.  Berfikir dengan sedikit menyesal bahwa rambut Kanaya sangat halus. Dia seharusnya menyentuh beberpa kali lagi.


Dan Kanaya tidak tahu jika Marvel akan menyentuh rambutnya di setiap kesempatan di masa depan. Dan dia tidak bisa menyingkirkan cakar berdosa itu sampai kapanpun.


...


Setelah Kanaya berdiam lama mencerna informasi besar tadi, akhirnya dia menerima kenyataan bahwa kakak laki-lakinya akan berubah menjadi pelamarnya.


Tapi untuk masalah menerima hubungan tersebut atau tidak... Heh, memangnya dia peduli? Biarkan pria itu menggantung beberapa kali lagi. Kanaya yakin dia akan lelah sendiri nantinya.


Dan jika pria sok itu masih belum menyerah juga, bukankah harga tiket pesawat sangat murah?


Kanaya sangat benci dimana suasana hatinya sangat buruk. Karena dia tidak beruntung maka dia harus menyeret orang lain untuk sial juga.


'Kira-kira siapa yang harus sial saat ini?'


...


Setelah membuka pintu Sean melihat salah satu anak buahnya yang bertugas di departemen keuangan menatapnya dengan cemas. ''Gawat! Darurat tingkat lima!''


Sean mengerutkan keningnya, ''bicaralah dengan bahasa manusia.''


''Seseorang menerobos keamanan dan mengutak atik keuangan kami!''


Tanpa memberi jawaban Sean langsung berlari ke kantor keuangan, meninggalkan karyawan kecil yang malang.


Saat sampai di kantor departemen keuangan Sean langsung bertaya masalah rincinya tanpa basa-basi.


Leo, sebagai kepala keuangan masih tercengang saat ini. ''Aku tidak tahu apa yag terjadi. Semua laporan keuangan tiba-tiba berantakan dan bahkan rekening perusahaan juga hilang.'' Suaranya sangat membosankan, menandakan suasana hatinya yang kacau balau saat ini.


Saat Leo selesai berbeicara, pintu ruang kantor terbuka lagi. Menampakan sosok pria muda yang tampan.

__ADS_1


''Tidak perlu cemas. Dia bukan musuh kami.'' Alen mencoba meringankan pikiran berat semua orang.


Tapi siapa yang tahu jika kalimatnya bahkan lebih menambah beban pikiran.


''Jika bukan musuh lalu siapa? Apakah ada organisasi lain yang mencoba menyerang kami? Tapi dengan prestase Tanah Berkabut tidak akan ada orang bodoh yang berani menyerang dengan terang-terangan.''


Alen ''...'' jika orang itu adalah orang bodoh, lalu aku idiot?


Alen menghembuskan nafasnya kasar, mencoba menghilangkan niat untuk menendang kepala Leo.


Sean yang dari tadi mengamati reaksi Alen akhirnya membuka mulut, ''kau mengenalnya.'' Itu adalah kalimat pernyataan bukan pertanyaan.


''Kau juga mengenalnya.'' Alen mengangkat baunya acuh. Sangat santai seolah masalah keuangan Tanah Berkabut tidak penting sama sekali.


Sean mengangkat alisnya mendengar jawaban Alen. Memikirkan beberapa hal yang berkaitan dengan masalah saat ini.


Setelah beberapa saat Sean menatap Alen tidak percaya. ''Jangan bilang...'' Sebagai tangan kanan Marvel, Sean masih memiliki beberapa ketrampilan berfikir.


''Ya, dia adalah Poppy.''


Semua orang yang mendengar itu membelalak tak percaya. Semenjak insiden virus tingkat tinggi, semua pengelola Tanah Berkabut tidak ada yang tidak mengenal Poppy. Bahkan seorang petugas kebersihan juga sudah mendengar nama Poppy beberapa kali.


''Apa yang dia lakukan saat ini?'' Sean tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak bertanya.


Alen menata pintu, ''Kau bisa bertannya padanya.''


Setelah Alen meengucapkan kalimat itu, pintu ruangan terbuka dari luar. Marvel yang sudah kembali menjadi gunung es besar menatap semua orang yang melihatnya tanpa ekspresi.


Mengabaikan semua tatapan penasaran yang di lemparkan padanya, Marvel berjalan dan duduk di kursi utama. Melihat layar laptop yang menampilkan masalah keuangan Tanah Berkabut saat ini dengan tenang.


Leo berdekip dengan usil, ''Kau memprovokasi Poppy?''


Marvel tidak mejawab pertanyaan Leo, dia mengamati layar di depanya dengan seksama.


'Gadis kecil itu benar-benar marah saat ini. Jenis yang sulit untuk di bujuk.'


Dan semua orang yang beradda di ruangan itu menatap tidak percaya pada marvel. Bagaimana bisa mereka melihat ekspresi memanjakan di wajah batu bos besar? Itu pasti ilusi.

__ADS_1


Melihat kembali pada wajah Marvel yang masih acuh tak acuh, mereka berpikir dengan tenang.


En, itu pasti ilusi.


__ADS_2