
Rafael dan anak buahnya menatap pada gadis di depanya dengan membelalak. Mulutnya yang terbuka lebar mampu menampung sebutir telur. Wajah mereka menunjukan ekspresi ketidakpercayaan yang ekstrim.
Siapa yang akan memberi tahu mereka jika bos besar ternyata tidak hanya hebat dalam perkelahian dan senjata, tapi juga mahir dalam hal peretasan. Sebagai 'orang biasa' mereka tidak memiliki apa-apa lain selain mengagumi.
Tidak menyalahkan mereka untuk ini. Bagaimanapun tidak ada jenius sesat selama sepuluh ribu tahun.
Dan Kanaya yang tenggelam dalam dunianya sendiri tidak menyadari jika dianggap sesat oleh anak buahnya.
Saat ini Kanaya bisa membayangkan bagaimana sibuknya tim Tanah Berkabut karena ulanya. Dengan seriangai nakal di bibir sexynya, Kanaya mengetikan beberapa baris kode lagi.
Menekan tombol enter, sebuah jendela kecil muncul di sudut layar. Menampilkan sebuah ruangan yang ramai dengan orang. Dan Kanaya dengan mudah mengunci sesosok pria yang sangat menonjol.
Pria itu duduk di kursi utama, dengan sebuah laptop di depanya yang manampilkan grafik keuangan. Di balut dengan setelan tiga potong yang menonjolkan bentuk tubuhnya. Dengan bahu lebar dan pinggang sempit, ini hanyalah gantungan baju alami. Pria itu selalu bisa menjadi fokus dimanapun dan kapanpun.
Mungkin memperhatikan mata panas yang melihatnya, Marvel menoleh. Menatap langsung ke arah kamera pengintai. Dan Kanaya yang dipisahkan oleh layar dan kabel jaringan merasa tatapan Marvel menembus halangan tak terlihat.
Marvel yang bisa menebak siapa yang memata-matai dirinya, melembutkan ekspresinya. Bibirnya bergerak samar, menggumankan beberapa patah kata.
'My lovely little fox...'
Kanaya merasa lamban sejenak. Entah kenapa dia merasakan perasaan yang sangat halus, tapi dia sendiri tidak tau apa artinya.
''Bos apakah kau kekurangan seorang murid?''
Tiba-tiba sebuah suara mengintrupsi kecanggungan di udara. Memecah gelembung merah muda di sekitar Kanaya.
Kanaya yang akhirnya mengingat beberapa batang tauge di belakangnya menoleh. Menghadapi banyak pasang mata yang sangat bersemangat. Ini seperti seorang musafir yang meemukan oasis.
Kanaya ''...'' apa yang kau lakukan menatap ku seperti seekor monyet?
Seorang pria tinggi dengan wajah bayi berteriak dengan penuh semangat. ''Aku sangat baik. Ketrampilanku berada di tingkat menengah keatas. Meskipun tidak bisa di bandingkan dengan peretas tingkat dunia, tapi juga menonjol diantara ribuan peretas lainya."
Jovan tidak sabar meletakkan emas di wajahnya. Dengan gila-gilaan mempromosikan dirinya sendiri.
__ADS_1
Untuk menyembah seorang guru yang sangat hebat seperti bos besar, harga diri sudah tidak ada artinya. Bisakah kau membeli sebuah ilmu langka dengan sedikit harga diri? Jovan diam-diam menjawab tidak.
Kanaya "..." kapan aku mengatakan akan mengambil seorang murid?
Dan Rafael yang merasa prestasenya sebagai wakil ketua hampir hilang, mencoba mendapatkan kembali wajahnya. "Tidak bisakah kalian sedikit tenang? Jangan bertindak seolah belum pernah melihat jenius. Itu memalukan oke?"
Semua orang "..." bukankah kau juga sama?
Kanaya "..." setidaknya singkirkan senyum konyolmu agar sedikit lebih meyakinkan.
Kanaya tidak bisa berkata-kata lagi. Untuk pertama kalinya dia menyesali mengambil sekelompok keterbelakangan mental ini menjadi anak buahnya.
Tanpa memperhatikan asisten konyolnya, Kanaya menatap Jovan, seorang peretas kecil di geng. "Apa yang membuatmu ingin menjadi muridku?"
"Tentu saja karena kau sangt jenius. Kau hampir bisa segalanya. Kau mnguasai banyak ilmu dalam usia muda. Masa depanmu pasti akan terus melambung keatas. Dengan menjadi muridmu, aku pasti akan mendapatkan sorotan juga. Hanya orang dengan penyakit otak yang tidak ingin menjadi muridmu. Kau bisa... '' Jovan tidak sabar mengatakan semua jenis pujian. Dia bahkan merasa pengetahuanya dalam bahasa sangat minim.
Suasana berada dititik tertinggi, tidak ada yang memperhatikan keanehan Kanaya.
Tapi tubuhnya yang sekarang hanya berusia 18 tahun. Dengan ilmu yang tersimpan diotaknya, tidak heran jika orang lain menganggapnya jenius.
Tapi Kanaya tetaplah Kanaya, rasa malu tadi hanya mampir di hatinya tidak lebih dari 3 detik.
Kanaya bangkit dari duduknya. Berjalan keluar ruangan dengan santai. ''Aku akan mengajarimu. Aku tidak membutuhkan seorang murid.''
Meninggalkan sekelompok laki-laki yang sedang kesetanan.
...
Kanaya meningkatkan kewaspadaanya ke tingkat tertinggi. Entah bagaimana dia terbangun di kehampaan. Dia merasa melayang menuju satu arah lurus. Sekelilingnya berwarna hitam pekat, Kanaya bahkan tidak bisa melihat jari-jarinya.
Tidak di ketahui berapa lama Kanaya melayang, setitik cahaya muncul di kejauhan. Titik cahaya itu semakin dan semakin membesar.
Lalu tanpa ada peringatan sedikitpun, cahaya tersebut menabrak pengelihatan Kanaya. Membuat Kanaya memejamkan matanya karena terlalu silau.
__ADS_1
Setelah menyesuikan matanya dengan cahaya yang terang, Kanaya membuka mata perlahan.
Di depanya adalah lautan bunga yang sangat luas. Terdapat sebuah paviliun dengan nuansa campuran kuno dan modern. Beberapa hewan kecil yang memiliki bentuk aneh berkeliaran dengan riang. Dan Kanaya tidak bisa memastikan apa jenis hewan itu.
Pintu paviliun terbuka dengan derit. Kanaya yang mendengar itu langsng mengencangkan sarfanya, siap bertarung kapan saja.
Seorang keluar dari paviliun. Dia memiliki rambut panjang yang berkilau hingga mata kaki. Jubahnya yang berwarna putih bersih terlihat sangat suci. Wajahnya terlihat buram, membuat Kanaya tidak bisa membedakan apakah dia laki-laki atau perempuan.
Seperti menyadari tatapan Kanaya, 'sosok misterius' menoleh dimana Kanaya berdiri. Entah ilusi atau bukan, Kanaya merasa tatapan 'sosok misterius' itu melembut setelah melihatnya.
''Siapa dirimu?'' Kanaya tidak tahan untuk tidak bertanya.
'Sosok miterius' itu tidak menjawab secara langsung, melangkah perlahan menuju Kanaya. Meembuat Kanaya menatapnya dengan waspada.
'Dia' berhenti berjalan menyadari keanehan Kanaya. "Tidak perlu takut gadis kecil. Aku bukan orang jahat.'' suaranya seperti oriole, membawa kesejukan alam, mengaburkan suara pria dan wanita.
Tapi maaf, fokus Kanaya selalu melenceng. ''Tidak ada orang jahat yang menulis di wajahnya jika dia adalah orang jahat.''
Tanpa merespon ejekan Kanaya, 'dia' mengangkat tanganya dengan ringan. Sebuah cahaya yang sangat lemah seperti kunang-kunang muncul tiba-tiba. Kanaya yang melihat itu mengecilkan pupilnya.
Meskipun wajahnya masih tenang, tapi pikiran Kanaya sudah berpikir dengan cepat cara menyelamatkan diri. Satu-satunya kesimpullan yang di dapat Kanaya adalah bahwa makhluk di depanya bukanlah manusia. Entah dia hantu, roh, jiwa, dewa ataupun iblis.
Dan tanpa senjata satupun Kanaya merasa presentase kemenanganya adalah nol. Menyadari betapa berbahaya situasi ini untuknya, Kanaya mengerutkan keningnya dengan samar.
Cahaya kecil itu seolah memiliki kesadaran diri. Itu terbang menuju Kanaya. Dan Kanaya yang seharusnya menghindar tetap diam di tempat saat ini. Bukanya dia tidak mau menyelamatkan diri, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.
Kanaya hanya bisa memperhatikan cahaya yang tidak di ketahui apa itu terbang menuju kearahnya. Memasuki dahinya dengan arogan.
Kanaya yang merasa kepalanya sangat berat hanya bisa melihat tanpa daya saat pemandangan di depanya memudar. Membuat Kanaya kembali di telan kegelapan.
Di sebuah kamar tidur yang sederhana, seorang gadis cantik yang sedang tertidur pulas terduduk tiba-tiba. Matanya memancarkan cahaya yang rumit.
Sebuah informasi muncul di otaknya. Membuat Kanaya menyadari bahwa alam semesta lebih luas dari yang dia kira.
__ADS_1