Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
40. Pertemuan Terakhir?


__ADS_3

Ruangan yang tadinya tersusun rapi kini hancur berantakan. Meja kecil tempat Atasia duduk bahkan hancur menjadi debu.


Apalagi 4 remaja lainnya! Mereka terkena potongan kayu di  mana-mana, tapi mereka sama sekali tidak berani membuka mulut untuk mengeluh!


"Apakah perlu untuk mengangkat tangan sekeras itu?''


Kanaya ''...''


Di telah mengalami pasang surut emosi selama 25 tahun. Semua rasa sakit berkumpul menjadi satu.


Lalu pria berkepala babi ini dengan tanpa  beban mengatakan bahwa hidupnya selama ini hanyalah permainan surga dan takdir.


Maaf.


Kau bercanda dengan siapa?


Kanaya menatap Atasia dengan niat membunuh yang tidak di tutupi sama sekali. Jika mata bisa membunuh mungkin Atasia sudah mati ratusan kali.


Suasana terasa stagnan. Semua orang tegang dan mengencangkan sarafnya. Tapi...


''Tunggu! Bukankah itu berarti Little Kay sudah berumur puluhan tahun?'' Willy yang tidak pernah takut mati segera mencari pemukulan.


''...''


''Pfftt.'' Atasia mencoba menahan senyumnya sebanyak mungkin. ''Maaf, ini terlalu lucu. Aku tidak bisa menahanya.''


Melihat wajah hitam Kanaya, Willy hanya bisa menggaruk belakang kepalanya dan tersenyum minta maaf.


''Karena kekhasan jiwa dan takdirmu dan dengan bantuan pengorbanan jiwa orang tuamu, kau tidak memiliki kesadaran saat pertama kali kau lahir. Ah˜ bisa di sebut sebagai cangkang tanpa jiwa. Jadi umurmu masih muda. 25 tahun sejak kesadaranmu terbetuk.'' Atasia menjelaskan dengan murah hati.


Jean menyipitkan matanya. ''Kau masih lebih muda dari kami.''


''Bukankah umur kalian masih 20 tahun?'' Kanaya mengerutkan dahinya.


Di lihat dari wajah 4 binatang, itu memang masih terlihat seperti remaja di awal 20 tahunan.


''Little Kay ah˜ kau sangat murah hati dengan pujianmu.'' Willy tersenyum dari ujung pipi ke ujung lainya.


Bahkan Lou dan Lena yang sedari tadi hanya menjadi latar belakng juga tersenyum tipis.


Atasia yang tidak tahan melihat wajah idiot Kanaya, segera memberitahunya. ''Mereka berempat berumur hampir 30 tahun.''

__ADS_1


Kanaya ''...'' Dunia sedang bercanda kan?


Jean terkekeh kecil. ''Di Alam Atas, seseorang berumur 40 tahun dianggap baru memasuki fase dewasa. Di dunia ini sama saja dengan manusia umur 25 tahun.''


Kanaya ''...''


Entah sudah berapa kali dia terdiam. Informasi yang Kanaya dapat terlalu besar hari ini.


''Ada hal yang lebih penting yang harus aku sampaikan.''


Melihat wajah serius Atasia yang sangat jarang, semua orang segera menjadi serius.


''Kalian harus segera memperbaiki 2 Titik Paku yang terlepas. Dan juga selidiki markas sementara Tanah Hampa di dunia ini, firasatku mengatakan jika mereka sedang melakukan hal yang berbahaya.'' Dia selalu sangat mempercayai firasatnya. Dan kali ini kegelisahan yang dia rasakan terlalu kuat.


''Bagaimana kita bisa mengetahui titik paku?'' Seperti biasa, Willy selalu memplokamirkan diri.


Atasia tidak mengatakan apapun. Dia menyatukan tanganya, melantunkan mantra aneh dan melakukan beberapa segel tangan. Lalu sebuah liontin berbentuk tetesan air muncul di tanganya. Warna biru muda terlihat sangat ilusi, seolah tetesan air itu akan jatuh dan menghilang.


''Kalung ini bisa menuntunmu untuk menemukan titik paku.'' Setelah mengatakan halitu, Atasia berbalik dan pergi.


Jean tercengang sesaat.  ''Tuan Atasia, kemana kau akan pergi?''


"Mengembalikan tubuh ke tempat asalnya.''


...


Ruang rapat cabang Tanah Berkabut.


Manajer personalia tidak bisa tidak mengintip wajah dingin bosnya. Meskipun tidak terlihat berbeda dari biasanya, entah kenapa dia merasa jika bosnya saat ini dalam suasana hati yang buruk.


Semua Karyawan yang hadir dalam rapat dadakan ini memiliki konsesus yang sama.


Tidak boleh menyinggung bos besar sedikitpun!


Marvel memang dalam suasana hati buruk. Sudah beberapa hari dia tidak mendapatkan kabar dari gadis kecilnya. Dan dia memiliki firasat yang tidak mengenakkan. Kegelisahan di hatinya membuatnya ingin menghancurkan semua yang ada di depan matanya.


''Bubar.'' Tanpa mendengarkan lebih lanjut, Marvel mengusir semua orang.


Dia hanya ingin menenangkan dirinya.


Marvel mendesah tidak berdaya. Ini adalah pertama kalinya dia bingung karena seorang gadis kecil.

__ADS_1


Saat dia berusaha menenangkan kekerasan di hatinya, suara pintu terdengar jelas di suasana yang sepi. Saat Marvel akan memarahi idiot yang berani lancang di tempatnya, dia membatu begitu melihat siapa pelakunya.


Lalu dia tersenyum tidak berdaya. ''Apakah aku terlalu merindukanya hingga membuatku berhalusinasi?''


Kanaya ''...'' kenapa aku di kelilingi banyak makluk idiot?


''Ya, aku ilusi.'' Kanaya berbalik begitu saja  setelah mengucapkan kalimat itu, dia berencana meninggalkan pria otak babi yang menatapnya dengan bodoh.


Saat dia akan keluar dari ruangan, sebuah tarikan yang kuat membawanya ke dalam pelukan hangat yang familliar. Aroma teratai yang memabukan memasuki indra penciuamanya dengan lancang.


Marvel meletakan kepalanya di bahu gadis kecil yang sangat dia rindukan. ''Aku sangat merindukanmu.''


Mendengar suara rendah penuh keluhan ini, Kanaya melembutan hatinya. Dia mmengalami banyak masalah akhir-akhri ini hingga melupakan idiot besar di depanya.


Marvel tidak mengatakan sepatah katapun. Dia memeluk Kanaya semakin erat.


Kanaya juga menikmati moment langka bersama Marvel. Dia harus membersihkan para pembuat onar dari Tanah Hampa. Dan mereka pasti akan berpisah dalam jangka waktu yang lama.


Mungkin saja dia juga mati dalam pertempuran, Kanaya ingin menyimpan moment ini sebagai harta yang berharga di hatinya.


Ya, dia mengakui jika sudah jatuh hati pada Marvel. Tidak pasti kapan pria iidiot yang sedang memeeluknya ini berhasil merebut hatinya. Tapi dia tidak bisa mengungkapkanya. Toh, dia juga memiliki kemungkinan untuk kembali hidup sangat kecil. Dia tidak ingin menunda keehidupan pria idiot ini.


Apalagi masih ada identitas tersembunyi Marvel. Mungkin saja suatu saat dia akan kembali ke tempat asalnya dan jatuh cinta pada wanita lain yang lebih baik darinya.


Kanaya menggigit bibirnya dengan keras. Hingga dia merasakan bau karat dan amis yang tercium, Kanaya menyadari jika dia telah menggigit bibirnya hingga robek.


Marvel yang mencium bau darah samar segera melepaskan pelukanya. Melihat gadis kecilnya menundukan keepala, Marvel menyerngit. Ini tidak seperti gadis kecilnya sama sekali. Gadis kecilnya harus bangga dan sombong.


''Ada apa hm?'' Marvel mengangkat wajah Kanaya, dia segelera melihat bibir yang selalu tersenyum mencemooh saat ini penuh dengan darah.


Rasa sakit segera menyebar di hati Marvel. Dia ingin mencari kotak obat untuk mengobati cedera gadis kecilnya.


Kanaya menghentikan Marvel yang akan pergi. Dia menatap pria di depanya dengan kasih sayang yang tersembunyi. ''Aku akan pergi untuk melakukan misi penting. Dan mungkin tidak akan kembali dalam beberapa bulan.''


Marvel terdiam mendengar itu. Kegelisahan yang dia rasakan tadi semakin kuat. Dia merasa jika gadis kecilnya tidak akan pernah kembali.


''Apakah itu sangat penting?'' Marvel berusaha bertanya setenang mungkin.


Kanaya tidak berani meatap mata Marvel, dia menundukan kepalanya untuk menutupi rasa sakit di matanya. ''Sangat penting.''


Marvel tidak mengatakan apapun, dia hanya memeluk Kanaya erat, seolah ingin memadukan darah daging mereka menjadi satu.

__ADS_1


Apa yang tidak di ketahui Kanaya adalah pupil gelap Marvel berubah menjadi emas samar. Tidak ada fluktuasi sama sekali di pupil itu. Matanya setenang dan sedalam lautan.


Jika diperhatikan lebih dalam lagi, ada niat membunuh yang kuat yang tersembunyi dengan baik di dasar jurang.


__ADS_2