Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
08. Dia adalah poppy


__ADS_3

Setelah berfikir berhari-hari, akhirnya di sinilah Kanaya, berdiri didepan gedung antik dengan sejarah yang panjang.


Akhirnya Kanaya memutuskan untuk sekolah setelah beberapa pertimbangan untung dan rugi. Kanaya memiliki daya ingat yang kuat, dan dia yakin jika bisa mengikuti setiap ujian dengan baik. Dia akan mengambil tempat pertama disetiap ujian, dengan begitu dia akan mudah mengambil cuti untuk melanjutkan kehidupan ikan asinnya.


Dan hari ini adalah pendaftaran ulang Universitas Q. Kampus ini sudah berdiri selama beberapa dekade, mengumpulkan banyak reputasi.


Saat Kanaya sedang berjalan menuju ruang pendaftaran, sebuah suara tiba-tiba mengintrupsinya.


"Kanaya, bagaimana kau bisa ada disini?" Luke bertanya dengan nada keras dan kesal.


Beberapa orang langsung berkerumun mendengar itu, siapa yang tidak menyukai keributan? (Bahkan baby pun suka hehe)


Kanaya yang berfikir akan memiliki hari yang baik "..."


Menahan keinginannya untuk meninju protagonis pria, Kanaya berbalik menatap protagonis pria dan wanita di belakangnya.


"Kenapa aku tidak bisa disini? Kakekmu pemilik universitas?"


Luke menyerngit, sejak kapan Kanaya menjafi begitu berani. "Jangan salah paham. Aku hanya mengingatkanmu untuk kebaikanmu sendiri, aku tau ekonomimu sangat sulit. Jadi aku sedikit ragu apakah kau bisa membayar uang kuliah."


"Bukankah kau sudah sangat jelas siapa yang membuat ekonomiku menjadi sulit? Jika kau takut aku tidak mampu membayar uang kuliah, lalu kau bisa melunasi hutangmu padaku. Jangan lupa bahwa kau memiliki hutang padaku sebanyak 1,2 miliyar."


Setelah Kanaya selesai bicara, kerumunan langsung menjadi ramai. Bahkan ada yang dengan terang-terangan menunjuk Luke.


'Sangat tidak tahu malu. Bukankah dia memiliki harga diri seorang pria?'


'Menjijikan. Melakukan hal-hal buruk dengan kedok kebaikan. Tch!'


'Memang, zaman sekarang moral adalah hal yang langka.'


Julia yang selama ini diam tidak tahan lagi, "Nona ini, apakah kau harus sangat agresif? Luke hanya berniat baik." dengan wajah yang polos dan senyum murah hati, Julia langsung merebut niat baik banyak orang.


"Niat baiknya adalah dengan menyodok titik sakitku? Maaf tapi hatiku yang rapuh tidak mampu menerima niat baik yang mengerikan itu." Kanaya menjawab dengan tenang.


Tapi hatinya tidak tenang sama sekali! Saat Julia membuka mukutnya untuk berbicara tadi, Kanaya merasakan sebuah aura yang mengelilingi Julia. Apakah ini halo protagonis? Kanaya berfikir dalam hati.

__ADS_1


Tapi bahkan jika tebakanya benar lalu apa? Mungkin surga terdengar hebat, tapi segala sesuatu yang tercipta pasti memiliki seperangkat aturan. Setelah yakin jika dia tidak akan mati dengan sambaran petir didetik berikutnya, Kanaya membuang semua kekhawatirannya.


"Apakah kamu salah paham denganku? Luke dan aku hanya berniat baik padamu. Kenapa kau menentang kami dimana-mana." Julia tersenyum tidak berdaya, seolah Kanaya adalah gadis yang tidak masuk akal sama sekali.


"Sudahlah. Dia selalu seperti ini, jangan merendahkan dirimu sendiri untuknya. Kamu sangat berharga oke?" Luke memegang tangan Julia dengan erat, sedangkan Julia membalas Luke dengan senyum manis.


Kanaya mengamati semua orang dengan tenang, melihat hampir semua orang berbalik mendukung Protagonis pria dan wanita, hatinya akan keluar karena kegembiraan. Bukankah surga akan menentangnya? Lalu ayo lihat, antara dia dan surga siapa yang akan menang. Semakin dekat dengan kematian, semakin bahagia dia!


"Kau meninggalkan otakmu dirumah? Dari awal pria bodoh ini yang menghentikanku. Dari awal juga kalian yang mencari masalah denganku, dan kalian memiliki wajah untuk mengatakan bahwa aku tidak masuk akal? Kepalamu berisi lumpur hah?" Kanaya mengucapkan fakta dengan tenang.


Semua orang langsung tersadar, melihat itu Kanaya langsung paham jika ternyata metode surga untuk membantu protagonis adalah dengan hipnotis ringan.


Maaf tapi nona tua ini juga pandai dalam hal hitnotis! Yah meskipun belum setingkat tak terkalahkan, tapi itu sudah cukup untuk menangani hipnotis skala kecil.


Julia yang tidak memiliki pilihan lain hanya bisa meneteskan air mata. "Kenapa kau menentang kami dimana-mana? Apa kami memiliki salah padamu?" wajahnya yang murni dan rapuh semakin terlihat menyedihkan, membuat senua orang akan dengan sukarela membuatnya berhenti menangis.


Kanaya "..." bukankah terbalik?


Sebelum Luke memiliki waktu mengatakan sepatah katapun, Kanaya memotongnya terlebih dahulu.


"Kau masih balita? Bahkan balita tidak serapuh dirimu."


"Otakmu dimakan babi? Kalian ini makluk asing jenis apa? Dari yang aku tau manusia dilahirkan dengan akal sehat dan hati nurani, sedangkan kalian bahkan tidak memiliki salah satunya."


"Bahkan lalat pun malu melihat betapa tidak berotaknya kalian."


Hening. Semua orang menundukan wajah karena malu. Kalimat itu menampar wajah mereka hingga bengkak. Siapa yang menyangka gadis manis ini memiliki mulut yang sangat beracun?


"Kami hanya untuk kebaikanmu." Julia masih belum mau mengalah.


"Kau orang tuaku? Kau membiayai hidupku? Hak apa yang kau miliki untuk mengatur hidupku?"


"Kanaya jangan seper-"


"Jangan lupa kau masih memiliki hutang besar padaku. Aku ingin kau mengembalikanya dalam waktu sebulan. Jika kau tidak membayar aku akan menyebarnya di internet. Lihat apakah kau masih memilki wajah untuk keluar rumah."

__ADS_1


Kanaya berjalan menuju Julia dan Luke dengan tenang, lalu dengan cepat menendang Luke sejauh 3 meter. Kanaya juga meninju wajah Julia hingga bengkak.


Kerumunan langsung berseru. Terlalu ganas! Tidak bisa memprovokasi iblis besar dimasa depan! Ini adalah keputusan semua orang.


Setelah melakukan perkerjaan dengan baik, Kanaya akhirnya tersenyum lebar. "Nah dengan begini hati kecilku baru merasa puas."


Kanaya pergi setelah itu, kerumunan langsung membelah jalan untuknya. Tidak mampu menyinggung iblis besar! Benar-benar tidak mampu! Kanaya tidak tau jika dia sudah memilki nama panggilan baru.


Saat berjalan pergi, Kanaya etah sengaja atau tidak melirik jendela lantai teratas gedung sebelah barat.


Bibirnya tersenyum penuh arti, entah apa yang dia pikirkan.


...


"Gadis kecil itu melihat kami?" David bertanya dengan ragu.


"Jika dia benar melihat kami kemampuanya pasti sangat luar biasa. Ketua bagaimana jika kita merekutnya?" Sean menimpali.


Marvel menatap kepergian Kanaya dengan mata hitamnya yang sedalam lautan. Membuat siapapun tidak bisa menebak apa yang dia pikrikan.


"Dia adalah poppy." Marvel berkata dengan smaar.


"APA?!" Sean dan David bertanya dengan serempak. Mata mereka melotot penuh kejutan dan ketidakpercayaan.


"Tidak mungkin, berapa umurnya, meskipun kemampuanya baik bukan berarti dia adalah poppy kan." Sean menyerngit.


David mengangguk setuju.


Tanpa menjelaskan apapun Marvel memberi perintah dengan tenang, "selidiki dia."


Meskipun Sean dan David memiliki banyak pertanyaan, tapi mereka tidak mengataknya dengan keras. Setelah penyelidikan bukankah semuanya akan terungkap?


Sedangkan Marvel menatap kejauhan tanpa titik fokus.


Gadis kecil siapa dirimu? Kejutan apalagi yang kau miliki? Seberapa jauh kau bersembunyi?

__ADS_1


Marvel juga memiliki banyak pertanyaan dibenaknya. Gadis kecil itu seperti ekor kucing yang menyapu hatinya. Rasa penasaran ini membuat gatal dimana-mana.


__ADS_2