Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
42. Totem


__ADS_3

Bang!


Ledakan terjadi begitu saja, Kanaya berlutut terengah-engah. Tubuhnya terasa sangat lemah. Dia melihat fluktuasi disudut yang di serangnya bergetar hebat, lalu muncul seorang wanita yang berpakaian aneh dari udara tipis.


''Kau gadis kecil juga memiliki kekuatan yang kuat.'' Wanita itu menutup setengah wajahnya dengan topeng, hanya menunjukan mulutnya yang berwarna merah darah, tersenyum sombong dan angkuh. ''Sayang sekali kau akan mati sebentar lagi.''


Kanaya menopang tubuhnya yang lemah dengan susah payah. ''Sayang sekali, hidup dan matiku tidak ada hubungannya denganmu. Wanita tua sepertimu juga memiliki kekuatan untuk sombong. Lebih baik memperhatikan payudaramu yang sudah mengendur.''


Wanita itu sepertinya marah karena perkataan Kanaya. Tanpa sepatah katapun dia melemparkan peluru api pada Kanaya dalam jumlah yang besar. Tidak memberinya waktu untuk menghindar sama sekali.


Tapi siapa Kanaya? Maaf, dia tidak akan membiarkan dirinya menerima berdiri diam saat ada yang memprovokasinya. Karena pertempuran pertama dengan anggota Tanah Hampa waktu itu, dia sekarang bisa menggunakan Energi Rohnya dengan lebih baik.


Kanaya memusatkan sebagian Energi Rohnya pada kedua kakinya, membuatnya menjadi lebih cepat bergerak untuk menghindari serangan peluru api yang intens. Tidak lupa untuk membuka mulut beracunnya. ''Hanya itu yang kau punya? Cih! Lemah!''


Wanita itu menyipitkan matanya kesal. Da menghentikn serangan peluru apinya, lalu menggumankan mantra elan dan menghilang begitu saja.


Ditempat yang tidak diperhatikan wanita itu, api hitam berbentuk benang menutupi seluruh lantai. Hanya saja karena dibungkus menggunakan asap hitam, benang yang menyala-nyala itu tersembunyi dengan baik. Tidak akan ada yang memperhatikannya jika tidak di lihat dengan seksama.


Kanaya memperhtikan sekelilingnya dengan cermat, saat dia merasakan fluktuasi yang sangat halus di belakangnya. Dengan senyum, Kanaya segera menghindar dari tempatnya berdiri. Dan tidak lama setelah dia pergi, wanita yang menghilang tadi muncul begitu saja di tempatnya berdiri dan melakukan tebasan dengan pedang.


Penyihir? Pedang? Kanaya sudah memiliki 70 hingga 80 persen tebakan di hatinya.


Meskipun dia sudah bisa menggunakan kekuatanya lebih mahir, Kanaya tahu di hatinya jika dia tidak bisa mengalahkan wanita di depannya. Apa yang harus dia lakukan saat ini adalah mengulur waktu. Dia yakin salah satu binatang itu akan menolongnya.


Mungkin karena kesal, serangan wanita itu menjadi semakin dan semakin ganas. Dia berganti dari serangan api jarak jauh dan serangan jarak dengan dengan pedang.

__ADS_1


Bang!


Kanaya merasa jika tubuhnya menabrak dinding dan akan hancur berkeping-keping. Rasa sakit di seluruh tubuhnya membuatnya semakin sadar jika satu kesalahan kecil akan merenggut nyawanya. Dia segera berdiri dengan lemah. Nafasnya sudah tidak stabil, tubuhnya sudah berlumuran darah dari ujung kepala hingga ujung kaki.


''Kau sudah tidak tahan lagi gadis kecil?'' Wanita itu menatap Kanaya degan merendahkan. ''Seekor semut akan tetap menjadi semut.''


''Semut hah? Hahaha˜.''


Wanita iu menyerngit melihat gadis kecil itu masih bisa tertawa.


''Kau lupa satu hal. Aku tidak pernah mengidentifikasi diriku sendiri sebagai semut.'' Kanaya tersenyum aneh, wajahnya terdistorsi menjadi gila. ''Hal paling salah yang kau lakukan seumur hidupmu adalah memprovokasiku. Aku tidak pernah menjadi orang dengan temperamen yang baik.''


Sebelum wanita itu mencerna apa yang di katakan Kanaya, senbuah tarikan yang kuat menarik tubuhnya hingga membentur dinding. Lalu tali sedingin es mengikat lehernya dengan erat, membuatnya sulit bernafas. Dia mencoba memotong tali itu menggunakan kekuatan sihirnya, tapi tidak berpengaruuh sama sekali.


Kanaya yang melihat perjuangan wanita itu, tersenyum lebih gila. Semua sel ditubuhnya berteriak dengan gembira.


Di laut kesadaran Kanaya, sebuah bola permata bergetar dengan keras. Didalam bola permata itu terlihat samar tanaman kecil berwarna hitam yang hanya memiliki dua daun. Bola permata itu di kelilingi oleh tali yang terdiri dari totem kuno dengan erat. Hanya saja saat ini totetm kuno itu memiliki tanda-tanda mengendur.


Wanita itu hanya bisa menatap ngeri gadis kecil yang auranya sudah berubah drastis. Tubuhnya di selimuti kabut hitam membuatnya terlihat lebih mengerikan.


Kanaya yang sudah kehilangan kesadaranya tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Dia hanya merasa ada suara di benaknya yang terus menerus berteriak, membuat kepalanya semakin pusing. Tubuhnya juga memiliki kekuatan yang sangat besar, kekuatan itu mengalir di seluruh pembuluh darahnya, memberontak seolah ingin keluar untuk melampiaskan.


Meskipun Kanaya tidak tahu perubahan mengguncang bumi apa yang dia alami, tapi wanita itu melihatnya dengan jelas!


Gadis kecil yang awalnya lemah tadi kini menjadi sangat mengerikan! Pupil matanya berubah menjadi ungu, sebagian besar wajahnya tumbuh sulur hitam yang berkedip seolah hidup. Rambutnya yang awalnya berwarna hitam murni kini berubah menjadi perak yang menyilaukan.

__ADS_1


Kanaya yang telah dikendalikan oleh Energi Rohnya berjalan selangkah demi selangkan menuju wanita yang sudah lemas karena kekurangan oksigen.


''Makhluk bodoh sepertimu juga berani melompat di depanku?'' Kanaya yang sudah kehilangan kendali kini mengulurkan tanganya pada wanita yang sudah pucat pasi.


Wanita itu terlalu takut saat ini, ini adalah pertama kalinya dia begitu dekat dengan kematian. Dia membuka mulutnya, mencoba mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar sama sekali.


Wajah Kanaya yang mempesona itu tersenyum semakin gila. Dia menyentuh pipi wanita didepanya, lalu dengan tawa yang menggelegar, tubuh wanita itu berubah menjadi debu.


Ini benar-benar kematian tanpa meninggalkan mayat sama sekali.


Kanaya mengambil kembali tanganya, dia menjilati jarinya seolah merasakan kenikmatan. Wajahnya yang jahat dan gila dipenuhi kepuasan. ''Hei! Ternyata ada satu lagi. Tch! Sangat pandai bersembunyi hm?''


Kanaya membalikan tubuhnya, dan dia melihat seorang pria yang sangat tampan dengan rambut panjang hingga menyeret lantai menatapnya dengan datar.


Atasia yang biasanya ceroboh memiliki wajah yang sangat dingin kali ini. Dia menatap Kanaya didepanya yang sudah kehilangan kesadaranya tanpa fluktuasi dimatanya.


''Sudah waktunya untuk berhenti.'' Suara itu sangat dingin menusuk tulang.


Kanaya memiringkan kepalanya, matanya berkedip lucu, tapi kegilaan di pupilnya meembuatnya terlihat lebih menyeramkan. ''Ah˜ Pria tampan. Bagaimana jika menjadi mainanku?''


Atasia tidak mengatakan apapun, dia muncul dibelakang Kanaya dalam sekejap, menutupi mata ungu itu dengan tanganya yang terbalut cahaya berwarna emas murni. Lalu tubuh itu jatuh begitu saja dipelukanya.


Kanaya yang kini memulihkan penampilanya, bersandar pada Atasia.


Menatap tubuh mungil dipelukanya, Atasia berfikir rumit. Kegelisahan muncul di hatinya, lalu dia mendesah tidak berdaya.

__ADS_1


''Aku tidak tahu apakah ini berkah atau kutukan.'' Atasia mengobati semua cedera Kanaya, dia juga merasakan totem yang menyegel kekuatan penghancur ini yang mulai mengendur.


''Gadis kecil, kau harus tumbuh secepat mungkin kau tahu? Jangan mengecewakan pengorbanan orang tuamu.''


__ADS_2