Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
46. Titik Paku Pertama 2


__ADS_3

Kanaya hanya bisa melihat tanpa daya ketika Jean menakut-nakuti orang sebelum membuatnya pingsan. Bukankah baik jika langsung melumpuhkanya? Apakah pikiran buruknya telah naik level?


''Kau sudah cukup bermain?'' Lou bertanya pada Jean yang tersenyum seperti kucing yang berhasil mencuri ikan.


Mereka berempat telah berteman sejak berusia 15 tahun, dan Jean adalah yang paling berperut hitam. Tersenyum dipermukaan dan melakukan hal-hal buruk di belakang, dia hanyalah harimau yang tersenyum. Siapapun yang menyinggungnya, pasti akan kehilangan sepotong besar daging.


Jean menarik kembali kegilaanya, menjadi pria bangsawan yang ramah tamah. ''Tidak apa-apa, hanya sedikit bermain.''


''Baiklah, ayo kita masuk kedalam, aku ingin tahu seperti apa Titik Paku yang katanya sangat penting itu.'' Willy melingkarkan tanganya pada leher Lena, untuk pebedaan jenis kelamin, siapa yang peduli? Dimata Willy, Lena tidak berbeda dari pria berotot di luar sana.


Dan Lena? Dia terlalu malas menanggapi otak babi yang sayang sekali menjadi temannya.


Kanaya memimpin jalan untuk masuk, dia menyebarkan kabut hitam di sepanjang dinding untuk mencari kamera pengintai dan menonaktifkanya. Maaf, tapi dia tidak mau jika besok wajahnya akan terpapang di internet dengan tajuk utama berwarna merang terang.


Setelah melewati beberapa belokan, mereka menemukan penjaga yang sedang berpatroli, sebelum Kanaya membuka mulutnya, Jean sudah mengangkat tanganya terlebih dulu.


Melihat 2 penjaga yang tergeletak bgitu saja, Kanaya mengangkat sudut mulutnya. Perasaan kerja sama diam-diam ini membuatnya dalam suasana hati yang baik, mungkin bukan hal buruk untuk bekerja sama dengan empat binatang buas di belakangnya? Selain memiliki sedikit penyakit otak, mereka tidak buruk dimana-mana.


Kenaya melanjutkan jalanya, entah ilusi atau hanya perasaanya saja, semakin dia berjalan masuk semakin besar penindasan yang dia rasakan.


Tita-tiba sebuah perisai cahaya terbentuk di depanya. Kanaya menatap Lou di belakanngnya. ''Titik Paku adalah hal penting yang menopang aturan dunia, jadi pasti memiliki kekuatan yang besar. Hanya saja dimata orang biasa, jangankan melihat titik paku, mereka bahkan tidak merasakan penindasan sedikitpun. Hanya mereka yang mengolah energi roh yang bisa merasakan penindasan Titik Paku. Semakin kami dekat kami dengan Titik Paku, semakin besar pula penindasanya. Apalagi kekuatanmu adalah yang terlemah dianatar kami, penindasan yang kau rasakan adalah yang terbesar.'' Lou menjelaskan dengan lembut.


Kanaya mangangguk menanggapi penjelasan Lou, tekad dihatinya semakin besar untuk menjadi lebih kuat sesegera mungkin.


Setelah beberapa belokan lagi, Kanaya melihat pintu kecil di  depanya dan langsung mendorongnya. Didepanya adalah ruang pameran musium, semua fosil tua disusun rapi di dalam kotak kaca.

__ADS_1


''Little Kay, orang-orang di duniamu sangat aneh, mereka bahkan mengumpulkan tulang belulang untuk di pamerkan.'' Willy tidak bisa tidak berkomentar.


Meskipun di alam atas banyak tulang di lelang di rumah lelang, tapi itu hanya tulang binatang roh yang kuat yang bisa digunakkan sebagaai bahan senjata ataupun ramuan obat. Untuk mengumpulkan belulang tidak berguna sebanyak di depanya, Willy baru pertama kali melihatnya. Tiga binatang lainya juga mengangguk diam-diam, setuju dengan apa yang Willy katakan.


Kanaya tidak bisa menahan kedutan dibibirnya. ''Ini adalah bukti peradaban dunia, bukti jika maklhuk yang sekarang hanya tersisa tulang ini pernah ada.'' Dia melihat tulang dinausaurus didepanya yang tersusun rapi. ''Dahulu kala hewan besar ini adalah yang menguasai dunia dan menjadi puncak rantai makanan, tapi sekarang hanya tersisa tulang belulangnya saja. Saat ini manusia menjadi penguasa dunia, mungkin di masa depan manusia juga punah dan digantikan oleh makhluk lan.''


Mendengar penjelasan gadis di depanya, Willy tidak bisa tidak mengamati rangkaian tulang berbentuk hewan besar yang mendominasi ini dan dia menemukan fluktuasi yang aneh di bawahnya. Lalu dia memusatkan matanya pada fluktuasi aneh dengan energi rohnya dan terlihat sebuah permata transparan seukuran kepalan tangan orang dewasa. ''Hei! Lihat, apakah itu Titik Paku?''


Yang lain juga memperhatikan permata transparan itu, apalagi Kanaya yang merasakan liontin yang di berikan Atasia bergetar hebat. Dia melepas kalung liontin di dadanya, dan liontin itu segera terbang menuju permata transparan dengan cepat, tidak memberi Kanaya kesempaan untuk bereaksi.


Boom!


Ledakan cahaya terjadi saat liontin dan permata transparan bertabrakan, lima remaja itu jatuh berlutut. Penindasan yang dirasakan terlalu besar, apalagi Kanaya yang terlemah diantara mereka, dia sudah memutahkan seteguk darah. Perisai cahaya yang dibuat oleh Lou tidak membantu sedikitpun.


Sedangkan lainya masih dalam kondisi yang lebih baik. Setidaknya mereka hanya merasakan penindasan yang membuat mereka berlutut terengah-engah tanpa rasa sakit.


Tidak ada yang memperhatikan saat liontin dan permata transparan bergabung, ledakan cahaya berwarna warni terus berganti. Permata yang awalnya transparan dan kusan itu kini dikelilingi oleh cahaya warna-wani yang menyilaukan.


Entah sudah berapa lama penindasan itu berlangsung. Setelah permata itu berubah sepenuhnya, liontin tetesan air memisahkan diri dari permata yang sekarang sangat mempesona. Semua penindasan juga surut dalam kisaran yang normal.


Kanaya yang sudah basah oleh keringat berbaring dilantai tanpa peduli dengan citranya. ''Bajingan itu, Atasia, aku pasti akan mencincangnya ribuan kali!''


Yang lain tidak berani mengatakan sepatah katapun. Bagi mereka, Atasia adalah pemimpin Tanah Suci sehingga masih memiliki beberapa prestase. Jadi mereka tidak berani meremehkannya, apalagi dengan cerobohnya mengutunya dengan kata-kata kasar. Itu juga alasan mereka berempat mengaggumi gadis kecil ini yang berani menyerang pemimpin Tanah Suci.


''Tidak perlu menggunakan mantra penyembuhan, kau sudah bekerja keras dengan perisai cahaya.'' Melihat Lou akan megucapkan mantra penyembuhan, Kanaya se4ggera menghentikanya. Mereka hanya kelelahan bukanya sekarat.

__ADS_1


Melihat Kanaya masih bisa menceramahinya, Lou menarik tanganya kembali. ''Baik. Lalu beristirahat saja dulu disini sebentar.''


''Jika aku ingat benar, Titik Paku kedua yang akan kita kunjungi berada di lereng tebing.'' Setelah Jean mengatakan itu, semuanya diam membatu.


''Tidak. Aku menarik kembali kata-kataku.'' Kanaya berkata dengan datar. ''Aku tidak akan mencincangnya ribuan kali. Aku akan langsung meledakan otak babinya.''


Ditempat yang aman seperti musium saja sudah sanggat merepotkan. Apalagi di lereng tebing.


Ha ha.


...


Ribuan mil jauhnya, seorang pria seindah lukisan sedang berdiri diam. Didepanya sedang berlutut makluk aneh.


Mereka berada di sebuah tempat yang di kelilingi lava yang menyala-nyala. Warna merah itu beriak seolah hidup.


Atasia yang akan membunuh makluk yang sedang gemetaran di depanya, bersin. ''Sial! Siapa yang mengutukku di belakng?''


Memikirkan satu-satunya orang yang berani menyerangnya, Atasia menekan mulutnya agar tidak tertawa terbahak-bahak. Dia mengangkat tanganya dan seberkas cahaya melesat menuju siluman serigala di depanya.


''Gadis kecil itu pasti sudah memikirkan seribu cara untuk menyiksaku.'' Atasia tersenyum memikirkannya.


Alvin yang melihat tuanya berbicara sendiri, bergedik ngeri.


'Ternyata tuan adalah seorang masokis?'

__ADS_1


__ADS_2