Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
32. Identitas Marvel


__ADS_3

Atasia menatap kosong pada Kanaya. Dia berdiam kaku membatu, tanganya masih menggantung mempertahankan posisi memegang cangkir.


Meminum tehnya, Kanaya mengamati reaksi Atasia dengan penuh minat. Awalnya dia hanya bertanya karena tebakan belaka, siapa yang tahu jika Atasia bereaksi sangat Keras. Tebakanya tentunya benar?


''Uhuk!'' Atasia memalingkan wajahnya dengan hati nurani yang bersalah. ''Apa yang kau tanyakan? Bukankah dia laki-laki IQ rendah yang sedang mengejarmu?''


''Jika ingin membohongiku sebaiknya belajar beberapa tahun lagi agar tidak terlihat idiot.''


Atasia berdecih kesal. ''Aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Tapi aku jamin jika perasaanya padamu tulus.'' Dia harus meminta imbalan pada gunung es besar nanti karena telah membantu mengejar istrinya.


Kanaya mengangkat alisnya ringan. Seseorang yang mampu membuat Atasia berbicara untuknya tentunya harus memiliki posisi yang lebih tinggi? Siapa yang berada di atas pemimpin organisasi yang mengelola ribuan dunia? Dewa? Iblis? Atau maklhuk lainya?


Atasia yang sudah membersihkan jubahnya yang kotor karena tumpahan teh menuangkan secangkir teh baru untuk dirinya sendiri. Saat dia ingin menyeruput tehnya, perasaan dingin yang menggigit merasuki punggungnya. Seolah roh jahat mengintai di kegelapan dan bersiap membunuhnya kapan saja.


'Idiot mana yang ingin mencari mati? Tidak tahu siapa aku?'


Merasa Pria flamboyan di depanya bergetar samar, Kanaya mengambil kembali niat membunuhnya. Bagaimanapun pria bunga ini masih berguna untuk saat ini.


''Jadi bagaimana aku bisa menghancurkan Death Poker?''


Mendengarkan pertanyaan Kanaya, Atasia akhirnya ingat tujuanya memanggil Kanaya ke dalam dunia kesadaranya. Atasia bedehem sejenak. ''kau tahu Julia?''


Kanaya menatap Atasia seperti idiot. ''Bukankah kau selalu memata-matai semua tindakanku?''


''Itu juga untuk memastikan keselamatanmu oke?'' Atasia segera memberi tahu kanaya titik fokusnya. ''kau harus menyerap keberuntungan yang sudah dicuri oleh anggota Tanah Hampa. Saat kekuatanmu sudah cukup besar, kau baru bisa menghadapi Joker secara langsung. Meskipun Joker saat ini tidak berada di duniamu, tapi dia meninggalkan potongan kesadaranya di suatu tempat.''


Cara terbaik menghadapi organisasi besar adalah dengan memegang hidup pemimpinya terlebih dahulu. Dengan begitu anggota yang tidak memiliki pemimpin dan tidak bisa mengkomando akan segera berantakan.


Gadis cantik yang acuh itu mengangkat alisnya. ''Hanya itu saja?''


Menahan kedutan dibibirnya, pria flamboyan yang keindahannya telah melampaui gender itu memutar matanya. Tindakan kasar itu membuat wajahnya yang mempesona lebih menakjubkan. ''Aku juga memiliki aturan oke? Jika aku terlalu ikut campur, surga akan menghukumku. Hanya saja karena alasan tertentu, surga mengizinkanku untuk memberi sedikit bantuan.''

__ADS_1


Mendengar kata surga, Kanaya menyipitkan matanya. Dia kira surga hanya mengatur tentang kesadaran dunia. Tapi sepertinya semuanya lebih rumit dari yang diakira.


Kanaya merasa jika masalah yang dia alami semakin rumit dan semakin banyak orang terlibat.


Awalnya dia hanya ingin membalaskan dendam orang tuanya. Tapi entah kenapa sekarang dia memiliki tugas untuk mempertahankan dunia. Apakah dia adalah seorang pahlawan? Memikirkan saja Kanaya sudah bergedik jijik.


Apa itu pahlawan? Maaf tapi dia tidak tertarik dengan julukan anjing itu.


Tunggu! Setelah memikirkanya dengan hati-hati, Kanaya menemukan sesuatu yang luar biasa yang dia abaikan. ''Siapa aku sebenarnya? Identitasku sebelumnya pasti sangat tinggi bukan?''


Atasia menata gadis kecil yang tidak memiliki rasa takut ini. Menatap keatas dan kebawah dengan keterkejutan. ''Kau baru menyadarinya sekarang?''


''Aku benar-benar memiliki identitas lain?'' kali ini Kanaya yang tercegang.


Apa yang sebenarnya terjadi?


''Aku tidak bisa memberi tahumu sekarang. Aku terikat oleh aturan.'' atasia merentangkan tanganya. Tersenyum tidak berdaya seolah menghadapi anak nakal yang di sengaja. ''Jangan bermain trik. Aku tidak akan mengatakan sepatah katapun.''


Untuk pertama kalinya Kanaya mempertanyakan kehidupan. Apa yang sebenarnya terjadi? Dia tidak sabar untuk terbang ke hadapan surga dan meninjunya untuk memaksa surga memutahkan mulutnya.


Kanaya menata Atasia dengan sangat fokus. Membuat pria yang selalu ttersenyum sembrono itu meras sedikit tidak nyaman. ''Bagaimana aku bisa betemu dengan surga?''


Atasia tercengang mendengar pertanyaan Kanaya. Dia secara tidak sengaja mengatakan hal yang tidak boleh dikatan dalam kondisi tidak sadar. ''Bahkan suamimu harus melalui prosedur yang sangat rumit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bertemu surga. Kau gadis kecil memiliki keberanian sebesar gunung. ''


''Jadi, siapa Marvel sebenarnya?'' Kanya menyipitkan matanya.


Mata Atasia membulat lebar. ''Kau menipuku! Kau gadis kecil tidak berperasaan!''


''Muntahkan!'' Aura Kanaya segera berubah menjadi suram. Mata yang acuh itu juga penuh kegelapan. Pupilnya berubah menjadi hitam pekat, diwarnai dengan nyala api berwarna hitam yang berkobar.


Atasia yang melihat itu segera membuka mulutnya. Jangan sampai Kanaya membangunkan warisan jiwanya dan memperburuk keadaan. ''Tunggu! Ki-kita bisa berbicara dengan damai. Tidak perlu menggunakan kekerasan oke?''

__ADS_1


Kanaya menurunkan kelopak matanya, menyembunyikan kilatan aneh yang melintas dimatanya.


Melihat Kanaya yang tenang, Atasia menghela nafas lega. ''Aku benar-benar tidak bisa memberi tahumu saat ini. Jika aku melanggar aturan Marvel akan segera di keluarkan dari dunia dan dunia akan hancur karena tidak bisa menahan ledakan kekerasan kekuatan Marvel. Kau akan tahu saat waktunya tepat.''


''Kapan waktu yang tepat?'' kanaya bertanya dengan suara rendah. Tadi dia bertaruh dengan identitasnya yang lain yang tidak dia ketahui.


Dan ternyata hasilnya lebih bagus dari yang dia kira. Sesaat tadi dia merasakan jiwanya bergetar, hanya saja seperti ada sebuah tali yang mengikatnya.


Reaksi Atasia juga memperkuat dugaanya. Tentunya identitasnya yang lain sangat tinggi?


''Tidak tahu. Mungkin saat kalian sudah melakukan sesuatu yang tidak cocok untuk anak-anak? Atau mungkin saat kalian sudah menyelesaikan misi? Atau saat sudah keluar dari dunia? Siapa yang tahu.'' Atasia menggelengkan kepalanya dengan acuh. Dia sudah kembali keperilakunya yang sembrono dan bebas kendali.


Atasia menatap gadis kecil di depanya dengan main-main. ''Sebenarnya aku bisa memberi 'sedikit bantuan' padamu. Hanya saja tidak ada makan siang gratis di dunia ini.''


''Kau ingin aku membantumu mencarikan gadis kecil yang lemah lembut?'' berfikir aku tidak bisa membuatmu infark miokard*?


^^^*memutahkan darah karena kemarahan yang ekstrim. ^^^


Atasia ''...'' Tulangmu keras bukan? Karena menyadari jika dirimu memiliki santo pelindung, kau berani menunjuk hidungku bukan?


''Atau kau lebih menyukai tipe yang dingin dan acuh? Atau tipe yang handal di tempat tidur? Yang berdada besar dan bokong sintal? Atau yang memiliki wajah loli dan menggemaskan?'' Kanaya menambahkan bahan bakar ke dalam api, sangat takut jika api yang diaciptakan tidak cukup besar.


''Tuan ini berdiri diatas semua makhluk! Dengan jentikan jari Tuan ini bisa membuat semua wanita beertekuk lutut! Tuan ini tidak membutuhkan bantuanmu seorang gadis kecil tanpa pengalaman!'' Atasia melotot marah. Dia merasa harga dirinya sebagai pria tampan telah di injak-injak. Jika bukan karena Marvel, dia mungkin sudah memotong gadis kecil yang tidak tahu betapa tingginya langit ini menjadi seribu keping.


Kanaya menatap lututnya lalu menatap Atasia dengan kosong.


Atasia ''...'' Jangan berfikir aku tidak bisa melihat tatapan menghinamu!


Terengah-engah, Atasia mengingatkan dirinya sendiri berulang-ulang jika gadis bau di depanya tidak bisa terluka sedkitpun di tanganya. Bagaimanapun dia tidak bisa mengalahkan gunung es besar di belakangnya.


Bagaimana cara membuat gadis menyebalkan diam? Menunggu online! Sangat mendesak!

__ADS_1


__ADS_2